
"Alessandro sudah pergi?"
Tanpa menoleh, Giuseppe tahu siapa yang berada di belakangnya. Pria tua itu mengangguk. "Ya."
Belum mendengar apapun dari arah belakangnya, Giuseppe kemudian berbalik. Tatapan matanya terlihat keras dan tajam. "Bagaimana denganmu? Apakah kau akan tetap mempertahankan wanita itu?"
Tampak Amadeo menegak minuman kerasnya. Rautnya sangat kesal. "Seharusnya papa tanyakan itu pada Maximus. Dialah yang membuat aku menikahi wanita murahan itu!"
"Aku yakin Maximus akan memahaminya, terutama karena kau pun telah menikahinya selama 5 tahun ini. Tidak ada alasan apapun bagi Maximus untuk tetap memerasmu menggunakan skandal itu, Amadeo. Sekarang semua tergantung padamu, apakah kau akan tetap mempertahankannya atau melepasnya."
Masih belum mendapatkan jawaban dari anaknya, Giuseppe semakin mendesaknya.
"Terus terang, meski isterimu dari keluarga Cesare dan kita terikat dalam bisnis tapi aku tidak pernah menyukainya. Saat dia bertunangan dengan Maximus pun aku menerimanya, hanya karena kau yang mengusulkannya dan Maximus pun menerimanya begitu saja. Tapi wanita itu sama sekali tidak berguna Amadeo, selain sebagai pembuat masalah. Karena kau pun tahu pasti kalau kita keluarga Berlusconi, tidak akan pernah melakukan cara murahan Cesare demi mendapatkan kesepakatan bisnis."
Tatapan Giuseppe berubah menjadi redup menatap Amadeo. "Anakku, kau tahu kalau aku menyayangimu. Aku tidak mau kau terjebak dalam situasi yang membuatmu tidak bahagia. Kalau kau memang tidak mencintainya, maka lepaskan saja dia sebelum terjadi skandal lain yang memalukan keluarga. Kau pun tahu, kalau aku tidak akan pernah mencampuri kehidupan pribadi kalian jika memang tidak perlu."
Pria tua itu pun melangkah mendekati anaknya dan menepuk bahunya pelan. Rautnya menghadap ke depan dan tidak menatap Amadeo sama sekali. "Aku akan berusaha untuk tutup mata untuk hal yang kau lakukan pada keluarga Liebel, karena itu adalah keputusanmu sendiri sebagai CEO CBG Italia. Tapi kalau kau sampai melakukan sesuatu yang mempermalukan keluarga atau berpotensi membuat klan Berlusconi hancur maka aku akan melakukan tindakan tegas, Amadeo. Dan kau pun tahu, kalau kau hampir menyentuh batas itu."
Kali ini tangan Giuseppe mer*mas bahu Amadeo kencang. "Keluarga mafia sudah mulai bergerak. Kau hati-hatilah karena aku sudah tidak bisa membantumu lagi. Keputusan ada di tanganmu."
Setelah itu, Giuseppe pun meninggalkan anaknya yang masih membeku dengan gelas whiskey di tangannya.
Barulah lama setelah Giuseppe meninggalkan ruangan, Amadeo beranjak dari posisinya dan langsung ke kamar tidurnya. Ketika masuk, ia melihat Nicolette yang sedang duduk di sofa dan membaca majah fashion.
Memandang isterinya, Amadeo tampak mengevaluasi wanita di depannya ini. Nicolette Cesare adalah wanita yang anggun dan cantik. Ia seksi sesuai dengan kelasnya, membuatnya terlihat elegan dan tidak murahan. Amadeo awalnya murni tertarik padanya tapi ketika mengetahui kalau wanita itu adalah aset tersembunyi Cesare, akhirnya membuat ketertarikan pria itu hilang tanpa bekas.
Ia mungkin seorang playboy, tapi ia sama sekali tidak mau menjadikan seorang barang bekas menjadi bagian dari keluarganya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk itu.
Amadeo Berlusconi adalah seorang pemain wanita. Ia adalah pria b*jat yang akan meniduri tiap wanita yang mendekatinya. Hal ini dilakukan sebagai cara untuk membuktikan diri kalau ia adalah pria sejati. Sosoknya yang lembut dan halus, tampak membuat semua orang meragukan kejantanannya. Dari kecil.
Meski kembaran Alessandro, tapi adiknya itu jauh lebih maskulin dari dirinya. Amadeo sendiri tidak pernah bisa merasa iri terhadap saudaranya karena mengakui, kalau Alessandro lebih segalanya dari dirinya sendiri. Adik kembarannya itu pria yang tampan dan cerdas. Tubuhnya tinggi dan berotot, membuat banyak wanita tertarik padanya yang sayangnya, ditanggapi dengan dingin oleh saudaranya yang seperti patung itu.
Kesempatan itu digunakan oleh Amadeo untuk mendekati wanita-wanita yang menyukai Alessandro dan meniduri mereka semua, sebagai tempat pelampisan rasa frustasinya. Dan ia cukup merasa puas dengan keadaan ini, karena ia sendiri menerima posisinya yang jauh lebih lemah dari adiknya.
Tapi, ia sama sekali tidak bisa menerima saat kehadiran Maximus turut membuat rasa inferior-nya semakin meningkat. Adik bungsunya itu juga dianugerahi fisik yang sempurna, bahkan menurutnya lebih sempurna dibanding mereka berdua. Rambutnya yang berwarna tembaga pun turut membuat adik terkecilnya itu jauh lebih menarik, dibanding para keturunan Berlusconi yang berambut gelap.
Dan yang lebih menjengkelkan Amadeo, darah panas Skotlandia yang mengalir di tubuh Maximus membuat pria itu jauh lebih lincah dan bahkan berani mendobrak adat keluarga. Amadeo dan Alessandro dibesarkan dengan cara yang konvensional tapi karena karakter Maximus yang liar, ayahnya itu akhirnya memberikan kebebasan lebih pada anak bungsunya. Hal ini semakin lama membuat Amadeo semakin iri. Rasa iri itu semakin berkembang menjadi rasa dengki, dan akhirnya benci.
Sampai menyentuh titik tertinggi saat ia berusia 19 tahun, ia pun merencanakan untuk mencelakai adiknya itu secara fatal untuk pertama kalinya. Dan ia tidak pernah menyesalinya, meski kegagalan selalu menyertainya setiap kali ia melakukannya berkali-kali. Amadeo baru akhirnya berhenti, saat Maximus akhirnya benar-benar pindah dari Italia dan menjauhi kehidupannya.
Ketika itulah Amadeo Berlusconi merasa cukup aman dari ancaman seorang Maximus Berlusconi, sampai takdir mereka berselisih lagi karena keluarga Liebel dan juga Nicolette Cesare.
Kedua mata Nicolette mengerjap pelan. Wanita itu akhirnya menurunkan majalahnya pelan, tapi masih tetap memegangnya di tangannya. "Apa maksudmu, Amadeo?"
"Apakah kau bahagia dengan pernikahan ini?" Amadeo kembali menanyakannya. Tampak wajah halus pria itu tidak berekspresi saat ini.
Sangat jarang Nicolette dan suaminya berkomunikasi. Mereka hampir tidak pernah berbicara untuk hal-hal yang seperti ini, karena memang pemikiran dan minat yang dari awal berbeda jauh. Amadeo memiliki pemikiran untuk mengembangkan bisnis keluarga, sama seperti Alessandro. Sedangkan Nicolette sama sekali tidak tertarik untuk membicarakan hal itu, karena keluarga Cesare sendiri lebih banyak mencekoki Nicolette untuk menjadi seorang wanita yang sempurna dan dapat memuaskan para lelaki.
Kejadian dengan Maximus beberapa waktu yang lalu cukup membuat Nicolette kapok untuk macam-macam lagi. Awalnya ia menyangka kalau Maximus tidak akan memukulnya, karena ia cukup yakin pria itu masih menyukainya. Tapi ternyata pikirannya salah sama sekali. Pria berambut tembaga itu tetaplah dingin seperti dulu, dan masih menganggapnya sebagai wanita p*lacur.
Dan setelah kejadian tamparan itu, Amadeo tampak semakin jijik padanya dan tidak pernah menyentuhnya lagi sama sekali. Meski bersyukur dapat terhindar dari kekasaran suaminya dalam berhubungan int*m tapi tetap saja Nicolette yang terbiasa dengan kehangatan dari para pria, mulai merindukan sentuhan dari lelaki.
Wanita itu sendiri bingung dengan keinginannya, antara ingin mempertahankan pernikahan ini atau meminta perpisahan dari Amadeo. Keduanya bukan merupakan pilihan yang menyenangkan bagi dirinya.
Jika ia berpisah dari suaminya, maka ia akan menjadi wanita yang terbuang. Status janda akan selalu melekat padanya dan tidak akan pernah memberikan image yang baik pada dirinya. Tapi jika ia tetap di sisi Amadeo, ia juga cukup tersiksa dengan kondisinya. Nicolette tidak seputus-asa itu untuk mengeruk materi dari suaminya, karena ia sendiri cukup kaya. Ia sebenarnya lebih membutuhkan sentuhan dan kasih sayang yang tulus dari seseorang, dan ia tidak mendapatkannya dari suaminya.
"Kenapa kau menanyakannya?"
Kedua mata Amadeo memandang tajam padanya. "Kalau kita bercerai, apakah kau setuju?"
Nicolette terdiam sejenak dan ia lebih menegakkan tubuhnya. "Kenapa?"
"Tidak ada gunanya mempertahankan pernikahan ini. Aku masih ingin bebas dan dengan adanya dirimu, kebebasanku menjadi terkekang. Aku juga yakin kau masih ingin coba mengejar Maximus, bukan?"
"Tapi, bagaimana dengan skandal yang dikatakan Max dulu-"
"Aku akan membicarakannya langsung dengan Maximus. Kalau kau setuju, aku akan segera mengurusnya dan seharusnya dalam waktu dekat secara hukum negara, kita sudah bukan suami-isteri lagi. Kau setuju?"
Sama sekali tidak ada nada penyesalan atau kesedihan dalam suara Amadeo, yang entah mengapa membuat hati Nicolette sedikit merasa tertusuk. Sebegitu tidak berartinya-kah dirinya selama ini?
Kepala Nicolette tertunduk dan ia menjawab pelan. "Terserah kau saja. Aku akan mengikuti maumu."
Kali ini, tampak sedikit senyuman miring di bibir Amadeo dan nadanya terdengar lega. "Bagus."
Pria itu akhirnya berbalik dan hampir membuka pintunya ketika Nicolette memanggilnya, dan bertanya lirih. "Apakah kau pernah mencintaiku, Amadeo? Setidaknya, menyukai aku?"
Terdengar dengusan dari hidung pria itu dan sedikit menoleh, Amadeo menjawab dingin. "Ternyata, kau ini memang wanita yang b*doh dan hanya pintar saat berhubungan s**s saja, Nicolette. Aku menyayangkan karena kau adalah wanita yang sangat cantik. Dan menjawab pertanyaanmu tadi, tidak. Aku tidak pernah mencintaimu. Sama sekali. Dan untuk menyukaimu? Kau tidak memiliki sesuatu yang cerdas di kepalamu untuk aku dapat menyukaimu sedikit pun."
Pintu yang tertutup di belakang punggung Amadeo ditatap Nicolette dengan pandangan nanar. Ini adalah kedua kalinya ia mendengar seorang lelaki memberikan komentar yang hampir mirip. Pertama Maximus dan sekarang, Amadeo. Apakah dia memang serendah itu di mata para lelaki?
Kedua tangannya yang masih memegang majalah gemetar. Wanita itu benar-benar terguncang saat ini.