
Kepala pria itu meneleng ke samping. Pipinya terlihat sangat merah. Bukannya marah, tapi bibir Anthony malah menampilkan senyuman saat ini. "Kenapa kamu marah? Bukannya kamu yang ingin menyentuhku tadi? Kalau kamu mau, aku juga bisa menjadi pria yang liar dan kasar di tempat tidur..."
Kali ini, tatapan Dona yang nanar melihat pria itu. Sama sekali tidak terbersit dalam benak Dona, kalau ia akan melihat sosok Anthony yang saat ini ada di depannya. Ia seperti tidak mengenali pria itu lagi. Kemana pria yang lembut dan ramah itu? Kenapa sekarang yang ada di hadapannya adalah pria yang br*ngsek!?
Mengambil kesempatan dalam ketertegunan Dona, Anthony mendorong wanita itu dengan kasar dan memepet tembok di belakangnya. Tubuh besarnya menahan Dona sehingga tidak bisa bergerak. Kembali ia menarik tangan Dona dan akhirnya benar-benar memaksa wanita itu untuk merogoh isi pakaian dalamnya.
Kepala pria itu menengadah tinggi ketika merasakan jari-jemari Dona menyentuh kulit halus asetnya yang saat ini sudah sangat menegang di bawah sana. Menggeram, ia menggerakkan tangan Dona untuk bergerak naik-turun dan mengelusnya dengan kasar. "Arghhh... Dona... Dona... Kamu nikmat sekali, mungil..."
Kedua mata wanita itu terlihat nanar dan berair saat ini. Pandangannya entah mengarah kemana. Hatinya serasa ter*mas sakit, entah karena apa. Kepala pria itu yang menunduk di sebelahnya, membuat telinga Anthony tepat berada di ujung mulutnya. Terasa d*sah nafas pria itu yang kasar dan sangat panas.
Sambil menutup matanya, Dona bergumam di telinga pria itu. "Anthony Bass. Aku sangat membencimu. Sampai m*ti pun, aku tidak akan pernah mencintaimu."
Barulah tampaknya kata-kata itu bisa membuat pria yang sedang g*la itu, untuk menghentikan aksinya. Anthony akhirnya melepaskan tangan wanita itu dan mundur perlahan. Kepalanya meneleng ke samping. Pria itu sama sekali tidak mau memandang Dona. "Pergilah sekarang."
Tanpa mau menatap pria itu lagi, Dona langsung keluar dari apartemen itu. Dan sebaiknya, secepat mungkin ia juga keluar dari kehidupan pria itu. Kali ini, Dona merasa kalau Anthony adalah pria yang cukup berbahaya. Ternyata, ada sisi-sisi pria itu yang sama sekali belum diketahuinya dan membuatnya sangat terkejut.
Insting Dona yang cukup kuat mengatakan kalau masih banyak hal yang disembunyikan oleh pria itu darinya. Kepercayaannya pada Anthony menurun drastis saat ini.
Sampai apartemennya, Dona langsung menghubungi Michele.
"Halo, Miki. Bagaimana persiapannya? Semua sudah siap?"
Memandang tangannya yang tadi mengelus aset pribadi lelaki itu, Dona menggigit bibirnya dan langsung membuka bajunya kasar. Ia pun melangkah ke kamar mandi. Tampak cermin di depannya memantulkan bayangan tubuhnya yang polos saat ini.
"Ya. Semua sesuai dengan rencana saja. Tidak ada yang berubah. Oh ya, Michele. Aku mau minta tolong padamu. Apakah kau punya semacam obat tidur? Yang disuntikkan?"
Peristiwa barusan membuat Dona menutup kedua matanya. Ia cukup shock dengan perilaku pria tadi yang sama sekali tidak disangkanya.
"Bukan untuk aku sendiri, kamu jangan khawatir. Hanya untuk jaga-jaga saja. Kamu tahu sendiri kalau aku jadi sedikit paranoid sejak kejadian itu."
Salah satu tangannya mengusap rambutnya yang berwarna hitam. "Aku hanya membutuhkan dosis yang bisa membuat tidur sekitar setengah hari, apakah ada?"
Tampak wanita itu akhirnya menganggukkan kepalanya. "Aku akan mengambilnya besok di kotak pos. Kalau begitu, besok malam aku akan menemuimu di dermaga XYZ seperti biasa. Dan Michele, terima kasih banyak sudah mau membantuku sampai sejauh ini."
Kedua mata Dona menutup erat dan ia pun menutup ponselnya. Semua sudah pada tempatnya. Ia hanya tinggal menjalankannya sesuai dengan rencananya. Tapi kenapa ia merasa sedih? Kenapa ia merasa kecewa dengan perlakuan Anthony tadi? Kenapa ia merasa patah hati?
Dona, kau sudah tahu sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu. Dan kau juga tahu kenapa kau harus pergi karena itu. Lupakan Anthony! Lupakan pria m*sum itu!
Setelah puas memaki dirinya, ia pun melangkah ke shower dan menyiram tubuhnya dengan air hangat. Sambil melamun, ingatannya melayang ke peristiwa tadi dan kedua pipinya menjadi sangat merah.
Oh Tuhan! Ternyata, rasanya seperti itu rupanya...
Kau t*lol!? Kau sangat t*lol! Dia bukan seperti wanita lain yang telah memberikan service padamu, id*ot!? Dia wanita baik-baik, wanita yang sangat kau cintai selama ini! Bagaimana kalau dia jadi ketakutan padamu karena hal tadi!? Kau id*ot! Kau benar-benar lelaki id*ot!?
Sepanjang malam itu, Anthony merutuki keb*dohannya berkali-kali.
Tapi sampai kapanpun, pria itu tidak pernah menyesali perbuatannya tadi. Karena kejadian tadi, hanyalah pemetik dari rentetan kejadian lain yang sangat berpengaruh pada kehidupannya nanti.
***
Flashback kejadian 5 tahun yang lalu. Pesta pernikahan keluarga Cesare-Berlusconi. Dua minggu sebelum peristiwa penembakan di Liebel Corp.
Seorang pria berambut hitam tampak menepuk bahu pria lain yang saat ini sedang berdiri menyender di balkon sambil meminum gelas champagne-nya. "Yo. Maximus!"
Panggilan itu membuat Maximus berbalik dan tersenyum. "Giovanni. Ternyata kau datang?"
Giovanni terkekeh pelan. Meminum champagne-nya, tatapan pria itu tampak meneliti ketika memandang pria di depannya. "Kau tidak apa?"
Kepala Maximus kembali berpaling dan menatap pemandangan di bawahnya. Tampak Nicolette yang cantik sedang berfoto-foto dengan gembira bersama para teman wanitanya yang juga berasal dari kaum elite. Pertemanan yang semu dan mengandung unsur bisnis di baliknya.
Sambil memutar-mutar gelas di tangannya, Maximus malah balik bertanya tanpa berpaling sama sekali. "Menurutmu bagaimana?"
Giovanni menyender membelakangi pagar pembatas, menghadap Maximus di depannya. Kedua bahunya terangkat ringan. "Aku melihat hal yang sama sekali berbeda dari yang diberitakan. Kau sama sekali tidak terlihat sedih, Maximus."
Masih sambil menatap temannya yang masih belum mengalihkan pandangan pada pemandangan di bawah, Giovanni melanjutkan. "Apa kau pernah mencintai Nicolette?"
Pada akhirnya Maximus berpaling menatap Giovanni. Ia juga menegakkan tubuhnya yang berbalut jas pesta mahal. Kedua mata ungunya menatap tajam pria di depannya, meski bibirnya menyunggingkan senyum. "Aku tidak pernah mencintai Nicolette. Hubungan kami murni berdasar bisnis. Dan kau sangat tahu siapa sebenarnya wanita yang kucintai, Giovanni."
Mendengar itu, Giovanni mendengus kasar. "Tidak. Kau tidak mencintainya, Maximus. Kau hanya terobsesi padanya saja. Percayalah padaku, perasaan itu akan segera menghilang saat kau bertemu wanita lain yang jauh lebih cantik dan seksi darinya. Aku sangat tahu seleramu, kawan."
Tatapan tajam Maximus masih tidak berubah, meski Giovanni tidak tahu artinya. "Jadi, sampai sekarang pun kau masih tidak mau mempertimbangkan aku?"
Balas memandang pria itu, kedua mata cokelat gelap Giovanni memancar tajam. "Tidak akan pernah. Sampai m*ti pun, aku tidak akan pernah mengizinkannya. Kau sebaiknya melupakan saja obsesimu itu."
Maximus menatap gelas di tangannya, dan bibir merahnya bergumam pelan. "Apa kau tahu, Gio? Awalnya, aku mungkin memang terobsesi padanya karena belum pernah bertemu dengan wanita seperti dirinya. Tapi bukan berarti rasa obsesi itu tidak akan berubah menjadi cinta, Giovanni..."
Kedua alis Giovanni berkerut dalam. Ia mulai tidak suka cara Maximus berbicara. Pria di depannya ini mulai membuatnya takut. "Hentikan, Maximus! Aku sama sekali tidak suka arah pembicaraan ini dan kau pun tahu, kalau aku tidak akan pernah memberikan lampu hijau padamu."
Perlahan, mata ungu Maximus naik dan kembali menatap Giovanni. "Darimana kau tahu kalau selama ini aku hanya terobsesi padanya, Giovanni?"