The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 11 - One of The Berlusconi



Flashback satu tahun lalu. Di salah satu gedung cabang CBG di kota NY, Amerika. Jam 22.30.


Terlihat seseorang yang tergesa-gesa keluar dari gedung perkantoran yang sangat tinggi itu. Tidak disadarinya, bahwa seseorang telah mengintainya sejak ia berada dalam gedung itu. Terdengar langkah-langkah kakinya yang cepat dan terburu-buru untuk menghampiri mobilnya yang terparkir di pelataran depan gedung tersebut.


Memasuki mobilnya, pria tersebut terlihat berkeringat sangat banyak dan pandangannya nanar. Ia tampak sangat ketakutan saat ini. Dan dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Tu- Tuan Berlusconi... Sa- Saya telah mendapatkannya. Saya akan menemui Anda di tempat yang bi- biasa."


Mendengarkan sejenak jawaban orang di seberangnya, kepala pria itu mengangguk. "Baik, Tuan. Saya mengerti. Saya akan segera ke sana sekarang."


Setelah mematikan ponselnya, pria itu langsung menghidupkan mobilnya dan pergi dari lokasi. Tidak lama, tampak sebuah motor berwarna gelap yang mengikutinya dalam jarak yang cukup aman. Situasi jalan yang masih cukup ramai, membuat si pengemudi mobil sama sekali tidak sadar telah diikuti. Apalagi saat itu memang tampak ada beberapa pengendara motor lainnya, membuatnya tidak bisa membedakan satu dengan lainnya secara jelas.


Beberapa saat kemudian, pria itu telah sampai di lokasi. Ia memutuskan untuk berhenti sedikit jauh dan memarkirkan mobilnya di salah satu pelataran yang tampak sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30. Hampir tengah malam.


Pria di dalam mobil masih belum keluar. Ia masih duduk dengan kedua tangan mencengkeram kemudinya erat. Ia sama sekali tidak suka situasi ini, karena lokasi ini bukanlah tempat pertemuan mereka biasanya. Selama ini, sebiasa mungkin ia menghindari pertemuan di tempat yang sepi seperti ini.


Ia cukup tahu keluarga Berlusconi. Mereka adalah keluarga pendendam, dan mereka bukanlah tipe orang yang takut untuk mengotori tangan mereka sendiri jika memang diperlukan.


Menelan ludahnya, ia sebenarnya tidak mau melakukan ini. Tapi situasi memaksanya dan s*alnya, orang itu pun mengetahui kelemahannya. Sepertinya ini pertukaran yang cukup adil. Ia akan memberikan informasi yang ada di dalam saku mantelnya, sebagai ganti dari kedudukan yang akan didapatnya nanti.


Mengeraskan hatinya, pria itu akhirnya keluar dari mobilnya. Secara perlahan, ia mulai melangkahkan kakinya menuju salah satu lorong yang cukup gelap. Menunggu orang yang akan dijumpainya.


Tidak jauh dari sana, tampak si pengendara motor memarkirkan kendaraannya di sekitar semak-semak. Membuka helm full face-nya, ia mengenakan penutup kepala berwarna hitam. Setelah memastikan situasi di sekitarnya, barulah ia turun dari motornya dan perlahan mengikuti orang di depannya.


Langkah-langkah kakinya yang terbalut jins hitam dan sepatu boots terdengar ringan. Hal ini membuatnya hampir tidak menimbulkan suara yang membuat pria tadi curiga.


Dan tidak membuang waktu, ketika melihat situasinya cukup sepi, si pengendara motor langsung menyerang orang yang masih menunggu di lorong dengan brutal. Penuh kemarahan, orang itu menghajar wajah pria tersebut beberapa kali dan mencengkeram kerah kemejanya.


Ketika wajah mereka berdekatan, barulah pria itu mengenalinya dan matanya bersinar ketakutan.


"Ka- Kau..."


"Sepertinya kau telah salah memilih lawan, Matteo..."


Kembali ia menghajar pria malang tersebut dan langsung mencekik lehernya dengan menggunakan seutas tali tipis berbahan khusus. Si pengendara motor berdiri di belakang pria tersebut dan menarik kencang tali yang sedang melilit leher pria itu.


"Erghhh...!"


Mulut si pengendara motor berada di telinga si pria dan berbisik pelan. "Aku tidak akan memb*nuhmu, Matteo... Aku tidak sudi mengotori tanganku untuk sampah seperti dirimu ini..."


Setelah itu, ia pun langsung memberikan gerakan kuat di talinya yang membuat Matteo pingsan. Setelah pria itu luruh ke tanah, barulah si pengendara motor memeriksa saku mantel orang itu dan menemukan yang dicarinya. "Dasar kau pencuri kecil..."


Memastikan kalau ia sudah memusnahkan senjata yang digunakannya tadi, si pengendara motor bangkit dari posisinya. Ia cukup lengah dan tidak menyadari, bahwa orang yang ditunggu oleh pria yang pingsan itu telah datang dan sudah berada di lorong itu.


"Kau siapa?"


Langsung mengenali si tamu tidak diundang, si pengendara motor langsung membalikkan badan dan s*al bagi dirinya, orang baru tersebut cukup sigap untuk langsung menghadiahinya dengan sebutir timah panas yang bersarang di bahunya.


Sambil menahan sakit, ia berusaha untuk pergi dari lokasi dan segera menuruni jembatan yang ada di sana. Dengan bergelantungan pada batu-batu bata yang licin di bawah, ia berusaha menyembunyikan diri dalam kegelapan malam. Untungnya situasi yang gelap menyamarkan darahnya yang sedikit jatuh tadi, membuat orang baru tersebut sulit untuk mencari jejaknya.


Setelah memastikan barang-barangnya aman, pria itu menyenderkan kepalanya di dinding batu. Ia merasakan nafasnya mulai memberat dan matanya berkunang-kunang. Pandangannya masih sempat menangkap sebuah speedboat yang mulai mendekati lokasinya.


Tidak kuat lagi, pria itu pun terpeleset dari pijakannya dan langsung meluncur ke bawah dengan kepala lebih dulu. Saat menghantam permukaan air yang dingin, ia langsung merasa pusing dan untungnya, dinginnya air justru membuat kesadarannya kembali.


Masih berusaha untuk menghela tubuhnya ke atas, ia menggerakkan kaki dan tangannya dengan lemah. Ia masih dapat melihat sosok seseorang yang memperhatikannya dari speedboat yang semakin mendekatinya, dan hanyalah gelap yang ada di matanya sekarang.


Saat terbangun, ia berada dalam kamar yang sempit tapi cukup bersih.


"Kau sudah bangun?"


Pertanyaan yang dilontarkan dengan kasar itu membuatnya langsung terduduk di tempat tidur. Gerakan yang tiba-tiba itu membuatnya meringis sakit, ketika merasakan perih dan pedih di bahu kanannya yang saat ini berbalut perban cukup tebal. Denyutan yang menyakitkan sangat terasa di area tersebut, membuatnya mer*mas lengannya sendiri dengan kuat.


"Argh...!"


Merasa ada orang yang berdiri di depannya, pria itu mendongak. Terlihatlah sosok seorang pria yang berambut cokelat gelap, berumur sekitar 40 tahun. Wajahnya sama sekali tidak ramah.


"Si- Siapa kau...?"


Pria tidak ramah itu hanya mendengus dan kembali memandangnya tajam.


"Tidak penting siapa aku, karena aku tahu siapa dirimu. Kau seorang Berlusconi kan?"


Pria yang ditanya tidak menjawab dan balas memandang pria tidak ramah itu dengan sama tajamnya.


"Aku tanya sekali lagi. Siapa kau ini? Dan kenapa aku bisa berada di sini?"


Si pria berambut cokelat malah tertawa sinis dan mengangkat kedua bahunya yang bidang. Tampak kedua tangannya berada dalam saku celana jinsnya.


"Ternyata memang benar. Keluarga Berlusconi adalah keluarga yang sombong dan tidak tahu berterima kasih. Aku baru saja menyelamatkanmu dari kem*tian. Apakah kau sadar itu?"


Pernyataan itu membuat pria yang ada di tempat tidur terdiam. Pancaran matanya berubah, tidak setajam tadi. Keduanya hanya menatap dalam diam selama beberapa saat.


Tampak kedua mata cokelat si pria tidak ramah mengamati orang di depannya. Pria yang terluka itu memiliki rambut berwarna merah, cenderung tembaga. Kulitnya sedikit terang untuk ukuran orang Italia. Badannya bugar dan berotot. Hal yang bisa membuatnya mengenalinya hanyalah kedua matanya yang berwarna ungu.


"Kau seorang Berlusconi tapi sekaligus, tidak menunjukkan ciri khas yang kuat dari keluarga itu..."


Kedua alis pria itu yang tebal terlihat berkerut. Ia tampak mengusap-usap dagunya yang mulai berjanggut dan matanya memancarkan sinar pengenalan, ketika ia akhirnya menyadari sesuatu.


"Ah... Aku tahu siapa dirimu, kawan."


Tahu identitasnya sudah ketahuan, pria berambut tembaga itu langsung berusaha bangkit dari posisinya dan mulai mengenakan kemejanya yang tergeletak di sana. Kata-kata selanjutnya dari si pria tidak ramah, membuatnya menghentikan kegiatannya sejenak.


"Kau adalah si pemberontak dalam keluarga. Satu-satunya orang yang pernah berani menantang keluarga mafia dalam dunia bisnis. Kau, si anak h*ram..."


Menelan ludahnya, pria berambut tembaga itu menoleh pada si pria tidak ramah yang sedang menampilkan senyum miringnya.


"Maximus Antonio Berlusconi. Atau, aku harus memanggilmu Maximus Bass?"