The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 42 - Love & Tragedy



Flashback kejadian 5 tahun yang lalu. Pesta pernikahan keluarga Cesare-Berlusconi. Dua minggu sebelum peristiwa penembakan di Liebel Corp.


Mendengar perkataan aneh Maximus, Giovanni memalingkan mukanya dan ia mulai beranjak pergi. "Aku sama sekali tidak berminat untuk mendengar bercandaanmu yang aneh, Max!"


Badan Giovanni yang sedang bergerak menjauhi Maximus berhenti, ketika terdengar pertanyaan dari pria di belakangnya itu. "Kenapa kau tidak bisa percaya, kalau aku benar-benar serius pada adikmu, Gio? Apakah sebegitu br*ngseknya diriku, sampai kau sama sekali tidak mau mempertimbangkan aku sebagai pasangan adikmu? Atau kau punya alasan lainnya?"


Masih tidak berbalik, Giovanni menjawab pertanyaan itu dengan berat hati. "Maximus, kau itu teman baikku. Meski kau memang orang yang aku anggap br*ngsek, tapi kau tetaplah temanku. Aku mungkin masih bisa sedikit tutup mata dengan kelakukanmu sebagai playboy. Tapi ada satu hal yang sama sekali tidak bisa berubah, sampai kapanpun."


Kata-kata Giovanni terasa seperti sembilu di hati Maximus, tapi pria itu tetap tersenyum samar. "Apakah karena aku seorang Berlusconi?"


Ada jeda sebelum akhirnya Giovanni menganggukkan kepalanya. "Ya. Keluarga Liebel tidak akan pernah mau untuk dikaitkan dengan keluarga Berlusconi. Terutama bila hal itu menyangkut ikatan pernikahan."


Menyadari kalau Maximus tidak menjawab dirinya, Giovanni akhirnya perlahan berbalik menghadapnya. Tampak Maximus meneliti gelas champage-nya dan akhirnya meneguknya. Tatapan mata ungu itu terlihat jauh entah kemana ketika akhirnya ia berpaling pada Giovanni kembali. "Tapi keluargamu menjodohkan dia dengan Amadeo. Bagaimana kau menjelaskannya?"


Kali ini, bibir Giovanni tersenyum miring. "Keluarga Liebel terpaksa menerimanya, karena hal ini dilontarkan langsung oleh ayahmu, Giuseppe Berlusconi. Kau tahu sendiri, sekali Giuseppe menitahkan sesuatu maka setiap orang harus melakukan perintahnya. Apalagi saat ini, keluarga Liebel sedang mempertimbangkan kerja sama dengan keluarga Berlusconi."


Kepala Maximus kembali berpaling ke samping. "Rumah Sakit dari Liebel Corp.? Kalian belum menemukan investor yang mau menanamkan uangnya?"


Temannya menggeleng sambil menggertakan giginya. "Keluarga Berlusconi adalah satu-satunya yang mau menanamkan modalnya sejauh ini."


Rumah sakit Liebel Corp. saat ini memang di ujung kebangkrutan. Bukan karena rumah sakit itu tidak laku, tapi ada seekor tikus di dalam sana yang telah menggerotinya dari dalam. Dan hal ini baru diketahui setelah Giovanna dan Giovanni melakukan investigasi dan audit secara mendalam. Setelah adanya restrukturisasi, ternyata rumah sakit itu sangat butuh suntikan dana segar dari luar. Dan cukup sedikit investor yang tertarik, mengingat bisnis rumah sakit terkadang berisiko terutama bila tidak memiliki backing yang kuat.


Dan tawaran dari Giuseppe cukup menggiurkan dengan pembagian 50-50 untuk keuntungan bersihnya. Namun dalam prosesnya, tiba-tiba ide untuk menjodohkan kedua anak mereka terlontar begitu saja dan keluarga Liebel tidak mungkin menolaknya mentah-mentah, tanpa membuat pria tua itu tersinggung.


Keluarga Liebel menerima usulan itu, tapi bukan berarti mengabulkannya dengan senang hati. Menerima tawaran bisnis dari Giuseppe Berlusconi saja, sudah membuat mereka muak karena terpaksa menjilat ludah sendiri. Tapi hal ini harus dilakukan, demi hajat hidup para karyawan yang masih bekerja di sana.


Melirik Maximus, baru kali ini Giovanni melihat temannya terlihat murung. Ia sedikit mendekat pada pria itu dan berkata pelan. "Dan kau harus tahu Max, kami juga tidak pernah menginginkan adikku bersama dengan kakak tirimu itu. Jika aku harus memilih, maka lebih baik aku memilih dirimu saja."


Tampak Maximus mengerjapkan kedua mata ungunya dan menatap Giovanni intens. "Maksudmu... Ahhh... Aku ingat sekarang... Ya. Ya. Aku juga berfikir kalau kalian sedikit licik saat itu..."


Kedua alis Giovanni terangkat tinggi dan tampak jenaka. Bibirnya tersenyum miring. "Aku sama sekali tidak paham maksudmu, Maximus."


Terkekeh pelan, Maximus meletakkan gelasnya di pinggiran tembok balkon. "Mendandani seorang wanita seperti seorang gadis kecil? Aku sangat tahu apa yang sedang kalian lakukan saat itu, Giovanni."


Perkataan itu membuat Giovanni sedikit terkejut. "Kau tahu?"


"Kebetulan aku sedang makan siang dengan Nicolette di tempat yang sama. Dan ketika melihat penampilan adikmu saat itu, aku sangat tahu kalau Amadeo akan langsung menolaknya. Kau pun tahu selera Amadeo. Pria itu menyukai seorang wanita yang seksi dan anggun. Tipikal wanita dewasa. Seperti Nicolette."


Menyadari kata-kata terakhir Maximus yang bersayap, Giovanni menatap pria itu dengan ingin tahu. "Terus terang, kata-katamu tadi mengandung banyak arti, Max. Aku sangat mengenal dirimu. Jangan katakan kalau kau merencanakan perjodohan keduanya, hanya agar kau bisa lepas dari Nicolette."


Kembali terkekeh, Maximus berkata sangat santai. "Aku hanya mengembalikan barang yang dipinjamkan sementara oleh Amadeo padaku. Tentu saja, aku tidak akan pernah menyimpan barang yang bukan milikku."


Kedua mata cokelat gelap Giovanni mengerjap cepat. "Jadi, memang benar kalau kau yang...."


Bersender santai ke pagar pembatas, Maximus menatap Giovanni masih sambil tersenyum malas. "Kau sangat tahu, kalau aku tidak suka dib*dohi siapapun, Gio. Apalagi ketika tahu kalau kakakku itu juga telah meminta Capriati untuk ikut serta dalam permainan kotornya. Apakah salah, kalau aku melemparkan kembali bola panas yang telah diberikannya pertama kali? Dan dengan menggunakan tekniknya sendiri?"


Giovanni menggeleng pelan dan sedikit menelan ludahnya. "Kau bermain dengan penuh resiko, Maximus. Kau tahu sendiri kalau duo-mafioso adalah pendendam. Jika Amadeo sampai tahu hal ini, aku tidak bisa membayangkan hal yang akan dilakukannya nanti. Pria itu seolah sudah jatuh, tertimpa tangga pula."


"Dia sama sekali tidak tahu kalau telah ditolak oleh keluarga Liebel. Dan sekarang, dia harus menikahi seorang wanita yang jelas-jelas seorang p*lacur kelas atas... Aku yakin, hal ini benar-benar telah menghancurkan harga dirinya yang sangat besar seperti gunung itu..."


Kekehan Maximus membuat Giovanni mau tidak mau tersenyum, meski kata-katanya tadi sangat kasar. Ia sangat suka dengan pembawaan temannya yang santai tapi sebenarnya serius. Kadang ia sendiri tidak tahu yang dipikirkan oleh Maximus, tapi setelah berteman selama bertahun-tahun, sedikit banyak ia cukup bisa mengenali perilaku temannya ini dan mengimbanginya.


Sedikit kasihan dengan pria itu, akhirnya Giovanni ingin mengetahui lebih dalam mengenai motif Maximus terhadap adiknya. Setidaknya, jika ia merasa bila intensi pria itu tulus dan kuat, mungkin ia bisa mempersuasi orang tuanya nanti. Karena bagaimana pun, Giovanni melihat kalau Maximus adalah tipikal pria yang baik dan bertanggungjawab. Ia juga sepertinya pria yang setia, mengingat Maximus sangat menjaga semua komitmen yang sudah dibuatnya, baik kecil maupun besar.


"Max. Kali ini, aku ingin agar kau dapat menjawab pertanyaanku dengan sangat serius. Tidak ada bercanda lagi. Apakah kau bisa?"


Maximus sangat tahu topik apa yang akan ditanyakan Giovanni. Pria itu kembali menegakkan tubuhnya dan dengan tegap menghadap temannya. Posturnya tampak mantap dan tegas. "Tanyakanlah."


"Sejak kapan kau menyukai adikku?"


"Sejak pesta pergantian tahun, beberapa bulan lalu."


"Dan kenapa kau sampai menyukainya?"


Sejenak, Maximus terdiam. Dan ketika menjawab, Giovanni dapat melihat sinar di kedua mata ungunya. "Adikmu wanita yang unik. Dia pemarah tapi juga pemaaf. Dia reaktif tapi juga sangat perhitungan. Dia cerdas tapi b*doh untuk soal percintaan. Selama mengamatinya beberapa bulan ini, semakin lama aku semakin menyukainya. Dan aku bukan hanya menyukainya Giovanni, aku mencintainya. Karena sampai detik ini, hanya adikmulah satu-satunya wanita yang pernah aku pertimbangkan untuk menjadi isteriku."


Penjelasan Maximus membuat kedua mata cokelat Giovanni bergerak-gerak terharu. Baru kali ini, ada pria yang cukup berani untuk menyukai adiknya. Giovanna adalah wanita yang keras dan juga pemarah. Ia juga sangat cerdas, sehingga lelaki b*doh bukanlah kriterianya meski setampan apapun.


Sudah cukup banyak pria-pria lajang yang dijodohkan padanya dan belum ada satu pun yang menarik minatnya, termasuk Amadeo Berlusconi. Giovanna bahkan menganggap Amadeo pria yang berfikiran cukup dangkal dan juga sedikit b*doh, karena cenderung melihat segala sesuatunya dari penampilan luarnya saja.


Melihat Giovanni yang tampak tersentuh dengan perkataannya, Maximus tersenyum lebar. "Jadi? Apakah pidatoku tadi cukup memberikan kesan padamu?"


Mendengus kasar, Giovanni tersenyum sinis pada temannya yang sepertinya tidak pernah serius ini. "Jangan terlalu lama bermimpi, Maximus. Karena saat bangun, kaulah yang akan sakit sendiri nanti."


"Aku hanya yakin, Giovanni. Jodoh tidak akan lari ke mana. Dan aku yakin, kalau adikmu adalah jodohku."


Kedua teman dekat itu masih melanjutkan berbincang-bincang ringan. Mereka sama sekali tidak sadar, kalau ada seseorang yang telah mendengar pembicaraan keduanya tanpa sengaja dari tadi, dan merasa sangat marah saat ini.


Dari balik tembok yang tebal, Amadeo Berlusconi tampak mengepalkan kedua tangannya erat sampai urat-uratnya menonjol keluar. Kedua mata ungunya bersinar mengerikan, ketika gigi-giginya menyeringai. Gemuruh kemarahan dalam d*danya, perlahan mulai berkumpul dan membentuk kebencian luar biasa dalam dirinya. Tidak ada yang bisa mempermalukan duo-mafioso tanpa mendapatkan balasannya!


Dan keluarga Liebel serta adik tirinya itu, harus menerima balasan yang menyakitkan karena sudah berani membuatnya menjadi bahan tertawaan dari rekan-rekan bisnisnya!?


Dengan perlahan, Amadeo meninggalkan lokasinya dan benaknya langsung menyusun rencana yang sangat menyeramkan guna membalaskan dendamnya.


Itu adalah pertemuan terakhir Maximus dengan Giovanni. Dua minggu kemudian, ia mendengar kabar mengenai penembakan seluruh keluarga Liebel. Dan melihat metode yang digunakannya, Maximus langsung tahu siapa pelakunya.