The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 31 - Confession



Bel yang pelan terdengar membuyarkan lamunan Dona. Kedua matanya mengerjap dan ia menunduk. Ternyata, dari tadi ia hanya memegang cangkir kopinya tanpa meminumnya.


Suara yang masih terdengar dari luar dan menyusul ketukan, akhirnya membuat Dona beranjak dari duduknya. Ia pun mengintip dari lubang pintu dan dapat melihat sosok Anthony yang sedang berdiri di depan pintunya. Menelan ludahnya, kedua mata Dona menutup erat dan ia menyenderkan telapak tangannya di pintu. Setelah beberapa kali menarik nafas, akhirnya ia membuka pintunya dan tersenyum lebar.


"Anthony."


Terlihat Anthony tersenyum cerah di depannya. Pria itu membawa sepiring roti yang mengepul panas. "Aku yakin kamu belum makan pagi. Mau coba resepku yang baru? Sekalian sebagai permintaan maaf, karena aku telah ketiduran tadi malam."


"Masuklah." Dona sedikit bergeser dan mempersilahkan pria itu untuk masuk ke dalam.


Sambil menutup pintunya pelan, Dona memperhatikan punggung Anthony yang tampak menghampiri meja makan kecil di sana. Hatinya menjerit. Betapa inginnya Dona memeluk pria itu dengan erat. Baru kali ini setelah kejadian 5 tahun yang lalu, ia sangat menginginkan untuk bisa dekat dengan seseorang lagi.


Ia mengerjapkan matanya yang mulai terasa basah. Meraih tisu di dari meja kopi, Dona mengelap ingusnya pelan. Mukanya sedikit memerah saat ini.


"Dona?"


Panggilan serak dan berat itu datang dari arah depannya dan Dona mendongak. Anthony terlihat berdiri di depan meja makan dan sedang memandangnya intens. "Dona? Kamu tidak apa-apa?"


"Tidak. Memangnya kenapa?"


Jawaban yang terdengar santai itu membuat Anthony sedikit menatap curiga wanita di depannya. "Kamu yakin? Kamu terlihat seperti habis... menangis...?"


Pertanyaan ragu-ragu itu membuat Dona terkekeh pelan. Ia sedikit berdehem. "Maaf. Tapi tadi alergiku kambuh sebelum kamu datang. Jadinya aku terlihat seperti menangis."


Melihat tampang pria itu yang tampak masih belum mempercayainya, Dona menepuk lengan atas Anthony pelan dan langsung duduk di meja makan.


Dona sebenarnya ingin memeluk Anthony, tapi ia takut menjadi terlalu dekat dengannya secara emosional. Ia berencana untuk pergi jauh sebentar lagi, dan tidak mau kalau Anthony sampai mencurigainya. Dona tidak mau terlalu menyakiti hati lelaki ini. Ia ingin pergi dengan meninggalkan kenangan yang indah.


Wanita itu berusaha memasang tampang yang sangat antusias ketika melihat roti di depannya. Dan kue itu memang tampak sangat lezat dan menggiurkan.


"Apa yang kamu buat kali ini?" Ketika mendongak, sudah tidak tersisa raut kesedihan di wajah Dona. Ia terlihat cerah ceria dan wajar seperti biasanya, membuat Anthony tersenyum lega.


Pria itu akhirnya duduk di depannya dan mulai menjelaskan. "Ini resep baruku. Belum aku jual di toko. Aku ingin kamu mencobanya dulu. Bahan-bahannya adalah..."


Selama beberapa menit, mereka mengobrol ringan tentang kue dan masakan sambil menikmati roti buatan pria itu. Mengambil potongan kedua, Dona akhirnya sedikit menyender di kursinya dan menatap pria di depannya dengan cukup intens.


"Aku ingin bertanya padamu."


Tampak pria itu menyesap kopinya pelan dan meletakkan kembali cangkirnya ke meja. "Mengenai apa?"


"Maximus Bass."


Meneliti tampang wanita di depannya, Anthony sedikit menarik nafasnya pelan. "Apa yang mau kamu tanyakan mengenai dia?"


Bibir Dona tersenyum samar. Entah mengapa, tapi Anthony merasa kalau perilaku dan ekspresi Dona seperti kembali ke beberapa bulan yang lalu. Sedikit menjauh dan menjaga jarak. Ada apa dengan wanita ini?


Jari-jemari Dona yang mungil mengetuk-ketuk cangkir kopinya. Sejenak, Anthony terpana memandang jari-jari itu. Dona selalu menjaga kukunya selalu pendek dan bersih. Meski ia tampak melakukan perawatan dengan kukunya, tapi sangat terlihat kalau wanita itu menyukai sesuatu yang praktis.


Ketika melihat jari-jari itu berhenti bergerak, barulah Anthony mengangkat pandangannya dan mereka saling bertatapan. Keduanya menatap dalam diam dan keheningan. Seperti berusaha saling menyerap sosok masing-masing di depannya.


"Anthony?"


Konsentrasi pria itu yang masih entah di mana, membuat tatapan Anthony terlihat seperti melamun dan ia menjawab dengan nada yang mengambang. "Ya...?"


"Apakah Maximus Bass tampan?"


"Kenapa kamu menanyakan itu? Kamu tertarik padanya?"


Ekspresi pria di depannya membuat Dona terkekeh. Ia malah balik bertanya. "Memangnya kenapa kalau aku menanyakan hal itu. Kamu marah?"


"Hem. Tidak. Aku hanya heran, kenapa para wanita sangat suka menanyakan mengenai fisik seorang pria? Apakah mereka memang begitu? Selalu menilai seseorang dari fisiknya? Atau kantongnya?"


Kepala Dona meneleng saat menatap pria di depannya. "Bukannya itu pertanyaan yang wajar? Bukannya kalian para pria juga suka melakukannya? Seperti wanita, kalian juga suka bergosip tentang seseorang di belakangnya? Terutama bila menyangkut apakah wanita itu seksi atau tidak. Apa aku salah?"


Mulut Anthony monyong ke depan dan dia menggerutu. "Sok tahu!"


Kali ini, Dona terbahak-bahak. Ia sangat suka dengan raut Anthony saat ini yang terlihat lucu. Kelakuan pria ini benar-benar persis seperti kakaknya.


Melihat perilaku Dona yang seperti sudah kembali biasa, membuat Anthony tersenyum. Ia pun mencubit hidung mungil wanita itu dan berkata pelan. "Teruslah tertawa seperti ini, Dona. Kamu lebih cantik tertawa dibanding cemberut seperti tadi."


Kekehan Dona perlahan berhenti dan ia memegang pergelangan tangan Anthony dengan lembut. Wanita itu masih memegang tangan kanan lelaki itu dan menggenggamnya dengan kedua telapakannya. Tampak mata wanita itu mengamati jari-jemari pria itu dengan intens.


"Tanganmu cantik, Anthony."


"Aku sebenarnya ingin berterima kasih atas pujianmu tapi sepertinya kata 'cantik' akan kurang tepat, kalau kamu mau mengatakannya pada seorang pria, Dona." Kembali terdengar nada kesal dari pria itu yang membuat Dona terkekeh keras lagi. Hati wanita ini menghangat. Anthony benar-benar bisa membuat mood-nya yang tadinya rusak, kembali baik.


Tangan Dona masih mengamati jari-jari Anthony dan kemudian membuka telapakannya. Ia menyatukan kedua telapak tangan mereka dan meneliti perbedaan ukurannya yang sangat jauh. Tangan pria itu sangat besar saat disandingkan dengan tangannya yang berukuran jauh lebih kecil.


"Tanganmu besar sekali." Dona mengingat saat ia menyatukan telapakannya dengan Gio, perbedaannya tidak sejauh ini. Tapi memang sepertinya tinggi Anthony sedikit melebihi tinggi kakaknya.


Tersenyum jahil, Anthony mendekatkan tubuhnya pada Dona. Kedua telapak tangan mereka masih menyatu dengan siku bertumpu di atas meja. "Kamu mau tahu sesuatu rahasia? Yang hanya diketahui para pria?"


"Hem? Apa itu?" Pandangan polos Dona membuat Anthony semakin ingin menggodanya.


"Katanya semakin besar telapak seorang pria, maka asetnya pun akan mengikuti. Jadi kalau kamu mau memilih suami, maka pilhlah pria dengan ukuran tangan yang besar. Seperti aku ini."


Entah mengapa, kata-kata m*sum dari pria di depannya bukannya membuat Dona marah. Kedua pipinya malah memerah dan ia tidak bisa menahan matanya untuk tidak turun, dan menatap bagian bawah tubuh Anthony yang tertutup meja. Ia menelan ludahnya keras ketika bayangan liar mulai menghampiri otaknya.


Reaksi Dona yang tidak terduga malah membuat Anthony menjadi gugup. Tadinya ia mengira wanita itu akan menggerutu dan memukulnya, tapi kedua pipinya yang merona menunjukkan sebaliknya. Hal ini membuat asetnya yang tadinya tertidur tenang, mulai menggeliat untuk bangun.


Dan situasi ini membuat pria itu tidak bisa menahan mulutnya. "Mau melihatnya?"


"Huh?" Tatapan Dona naik ke kedua mata Anthony yang gelap. Pipi wanita itu masih merona cantik.


Jari-jari Anthony yang tadinya terbuka, perlahan mengusap telapak wanita di depannya dan menautkannya. Pandangan matanya tampak intens ketika menatap wanita itu. "Kamu mau melihat milikku? Hanya padamu, Dona. Hanya denganmu, aku rela kalau kamu mau melakukan apapun padaku..."


Perkataan Anthony yang seperti pernyataan cinta membuat keduanya sejenak tertegun. Pria itu baru sadar telah mengungkapkan perasaannya pada wanita di depannya ini, dan ia langsung menarik tangannya. Dengan canggung Anthony berdiri dan memandang wanita yang masih duduk itu. Tampak Dona menunduk menatap meja. Pipi yang tadinya memerah cantik sudah menghilang. Ekspresi wanita itu seperti tampak shock dan ketakutan sekarang.


Dalam hati, Anthony merutuki keb*dohannya. Ia terlalu terburu-buru dalam mengambil langkah dan malah membuat Dona tidak nyaman seperti ini. Pria itu tidak mau merusak hubungan mereka yang sudah akrab selama ini. Ia rela untuk menunggu wanita itu, sampai Dona benar-benar siap untuk menerimanya sebagai sosok seorang pria dan bukan pengganti kakaknya lagi.


"Dona."


Suara serak yang sangat lembut itu membuat Dona mengerjapkan mata dan mendongakkan kepalanya. Tampak Anthony memandangnya sangat lembut dari atas dan bibirnya tersenyum kecil. Pria itu mengusap kepalanya pelan.


"Dona. Aku serius dengan perkataanku tadi. Kamu pikirkanlah. Aku akan menunggumu, sampai kamu siap."


Tubuh Anthony membungkuk dan bibir merah pria itu mengecup ubun-ubunnya. Telapak tangannya kembali mengusap kepala Dona dan menepuknya ringan. "Aku pulang dulu."


Ketika sosok Anthony sudah menghilang di balik pintu, setetes air mata mengalir di pipi Dona. Pandangannya terlihat sangat nanar saat ini. Sepertinya, ia memang harus sesegera mungkin pergi dari sini!