The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 19 - I don't want to be your brother



Dona memperhatikan ekspresi Anthony yang tampak tenang mendengar pertanyaan itu. Pria itu tampak menyesap kopinya pelan sebelum meletakkan mug-nya ke atas meja. Rautnya tampak sedikit berfikir.


"Hmm... Hari Jumat ya? Ya. Mungkin saja ada temanku yang menginap di hari itu."


Sekarang ekspresi Dona tampak khawatir. "Kamu yakin?"


Kedua mata Anthony mengerjap cepat dan tampak heran. "Memangnya kenapa kamu menanyakannya?"


Wanita itu menarik nafasnya dalam sebelum menjelaskan. "Sekitar jam 02.00 pagi, aku mendengar ada seseorang yang datang ke apartemen. Ketika mengintip, aku melihat ada seorang pria tinggi yang sedang berdiri di depan apartemenku. Gerak-geriknya sedikit mencurigakan, karena ia cukup lama menatap ke arah apartemenku. Tapi akhirnya dia sepertinya masuk ke unitmu."


Kali ini, kedua alis Anthony berkerut dalam. "Kamu yakin melihatnya masuk ke apartemenku?"


Kepala Dona mengangguk dengan yakin. "Aku memang tidak melihatnya langsung. Tapi aku mendengar suara pintu dibuka dan ditutup dari arah unitmu, persis seperti kalau kamu membuka dan menutup pintu."


Anthony tampak terdiam sejenak. Badan dan rautnya terlihat kaku. "Apakah kamu melihat jelas orangnya?"


Terdengar d*sah nafas Dona yang berat dan ia menggeleng pelan. "Tidak. Pria itu mengenakan masker dan kacamata. Ia juga memakai topi sehingga wajahnya tersembunyi. Yang aku tahu hanyalah badannya tinggi besar. Hampir mirip seperti dirimu. Tadinya aku mengira itu kamu, tapi sepertinya bukan."


"Kenapa kamu yakin kalau itu bukan aku?"


"Entahlah. Dia seperti kamu, tapi juga tidak seperti dirimu. Memangnya kamu sendiri tidak ingat pulang jam berapa ke apartemenmu hari Jumat kemarin?"


Pria itu terlihat menggaruk-garuk kepalanya saat ini. "Sejujurnya, hari itu aku baru pulang dari Italia. Saat sampai di sini, aku cukup bingung dengan perbedaan waktu keduanya. Masalahnya di hari aku pulang, ada juga temanku yang menginap di sini. Jadi aku tidak yakin, siapa orang yang kamu lihat malam itu."


Penjelasan itu tampak cukup masuk akal bagi Dona. Ia terlihat mengangguk-angguk sebelum bertanya kembali. "Memangnya temanmu punya tubuh yang mirip denganmu?"


Tampak Anthony mengangguk sekali. "Sangat mirip. Nama belakang kami bahkan sama."


Informasi itu membuat kedua alis Dona berkerut. "Memiliki nama belakang yang sama? Jangan katakan kalau nama temanmu adalah..."


"Maximus Bass. Kalau tidak salah, kamu bekerja di MB Company kan? Kalau benar, berarti dia adalah boss besar dari tempatmu bekerja, Dona."


Informasi ini membuat Dona sangat terkejut. "Kamu mengenal Maximus Bass?"


Rasa tidak percaya dari wanita di depannya ini membuat Anthony terkekeh pelan. "Kenapa? Tampangku memang kurang meyakinkan ya, kalau aku memiliki kenalan seorang pengusaha hebat?"


Kata-kata Anthony membuat Dona merasa tidak enak. Ia sama sekali tidak bermaksud membuat pria itu tersinggung. "Bukan begitu. Kamu jangan tersinggung. Hanya saja-"


Tanpa diduga, tangan besar pria itu menepuk-nepuk kepala Dona dan mengusapnya. Hal yang dilakukan oleh Anthony membuat Dona membeku. Kenangan dari kakaknya yang selalu mengusap kepalanya penuh kasih sayang perlahan memenuhi benaknya.


Tanda sadar, kedua mata Dona memperhatikan pria di depannya lebih intens. Usia pria ini dengan usia kakaknya jika masih hidup tidak berbeda jauh. Anthony lebih tua 2 tahun dari Gio. Dona membayangkan, jika pria ini sempat bertemu dengan kakaknya, mungkin mereka bisa menjadi teman akrab.


Harapan yang kosong itu membuat kedua matanya berair tanpa bisa ditahannya.


"Dona...?"


Merasakan tangan Anthony yang mengusap pipinya pelan, kedua mata Dona mengerjap cepat. Dengan malu, ia memundurkan mukanya yang sedikit memerah karena kenangan emosional. "Hem..."


Anthony dapat meraba nadi di leher Dona berdenyut kuat. Terasa pula tenggorokan wanita itu bergerak naik-turun ketika ia menelan ludahnya susah payah. Ia dapat merasakan kalau wanita di depannya ini sedang berusaha menahan tangisnya dengan sekuat tenaga. Hal ini membuat Anthony mengusap bahu mungil itu dan mer*masnya lembut. "Dona? Apa rencanamu hari ini?"


Pertanyaan ringan itu akhirnya membuat Dona mendongak. "Huh? Rencana hari ini?"


"Ya. Aku baru saja membeli sebuah film lucu. Sebenarnya film lama, tapi lumayan kalau kamu butuh hiburan. Kalau kamu mau, kita bisa menontonnya sekarang dan aku akan membuat popcorn."


Tawaran itu membuat Dona mengerjapkan matanya. Sudah kesekian kali, pria di depannya ini mengucapkan hal yang sangat ia butuhkan, tanpa ia harus mengatakannya secara langsung. Semakin lama, Dona merasa Anthony semakin menjadi pengganti bayangan kakaknya yang telah berpulang.


Pemikiran ini membuat hati wanita itu menghangat dengan sangat cepat, dan matanya kembali berair. Gio, apakah boleh kalau Anthony menggantikan sosokmu?


Melihat mata Dona yang kembali memerah, Anthony menangkup kedua pipi wanita itu dan mengangkatnya pelan. "Hey, hey... Ada apa denganmu hari ini?"


Kali ini, Dona menatap pria itu sambil tersenyum samar. Ia memegang salah satu pergelangan tangan pria itu yang masih menangkup pipinya. Perlahan, ia melepaskan kedua tangan Anthony dan menangkupnya di atas meja. Wanita itu mulai merasa bersyukur dengan kehadiran pria besar ini dalam kehidupannya yang tadinya muram dan penuh ketakutan.


Kedua tangan Dona semakin menggenggam erat tangan Anthony yang besar dan hangat di atas meja. Matanya yang tadinya menunduk mengamati jari-jari mereka yang saling bertautan, akhirnya perlahan naik dan menatap kedua mata gelap Anthony yang terlihat teduh.


"Anthony..."


"Ya...?"


Bibir Dona menampilkan senyum penuh rasa terima kasih yang sangat cantik. "Anthony... Aku berterima kasih kamu telah mau menjadi temanku. Kalau kamu mau tahu, kamu sangat mengingatkanku pada sosok kakakku yang telah meninggal..."


Tampak kedua mata pria itu bergerak-gerak menatap Dona, tapi mulutnya tidak berkata apapun.


"Apakah kamu mau mengabulkan satu permintaanku? Sebagai seorang teman?"


Jakun pria itu terlihat naik-turun dengan cepat. "Memangnya apa permintaanmu?"


Pipi Dona terlihat memerah, dan ia kembali menundukkan kepalanya. "Apakah kamu mau..."


Pikiran Anthony saat ini bergolak sangat hebat. Pria itu sangat tahu permintaan yang akan dikemukakan oleh Dona, dan ia sama sekali tidak menyukainya. Ia sama sekali tidak mau menjadi sosok pengganti kakak bagi wanita itu. Ia ingin menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih penting dan tidak tergantikan.


Anthony ingin menjadi pria yang dicintai oleh Dona. Karena ia juga sangat mencintai wanita ini.


Tapi tampaknya, takdir memang berkata lain. Perkataan Dona selanjutnya, benar-benar membuat harapan Anthony pupus dengan sangat sempurna.


"Apakah kamu mau menjadi kakak lelakiku, Tony?"


Ekspresi pria itu sama sekali tidak terbaca saat ini tapi di dalam, hatinya sangat hancur. Gumpalan rasa cinta yang telah remuk-redam sebelum sempat mekar, bercampur-aduk dengan rasa bersalah yang besar dan kuat. Hal ini membuat pria itu sejenak membeku dalam duduknya. Ia sangat takut berkata-kata. Ia sangat takut kalau berbicara, maka ia akan mengeluarkan perasaannya.


Seumur hidupnya, ia sama sekali tidak pernah memperlihatkan perasaannya. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya. Bahkan, banyak orang yang menganggapnya sebagai seseorang yang dingin dan sadis dalam melakukan sesuatu. Ia bahkan tidak meneteskan setitik air mata pun ketika ibunya meninggal.


Tapi kali ini hanya karena satu kalimat itu, Anthony merasa nyawanya telah terenggut kasar dari tubuhnya. Dan hal ini membuatnya ingin menangis untuk pertama kali dalam hidupnya.


Giovanni... Apakah ini hukuman yang kau berikan padaku? Apakah kau akan menghukumku dengan cara seperti ini? Bahkan sampai m*ti pun, kau tetap tidak rela adik kesayanganmu untuk menjadi milikku...