The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 29 - Too precious to hold on...



Salah satu kamar hotel bintang 5 di kota SH, Cina.


Bersender santai, tampak Maximus menekan ponselnya ke telinganya. Ia tampak menghubungi seseorang.


Tidak lama, panggilan yang ditunggunya pun dijawab. "Halo, Brasco. Aku sudah mengirimkan file dari calon para investor Cina ke emailmu. Tolong kau cross check kebenarannya sehingga kalau lancar, senin depan nanti mereka akan melakukan kunjungan ke kantor kita di sana."


Terlihat jari-jari tangan kirinya memainkan dengan lincah bola-bola besinya. "Benar. Lakukan dengan cara itu juga. Aku tidak mau terjadi seperti dulu lagi. Kalau ada indikasi money laundry atau permainan lain di dalamnya, langsung kau black list saja. Aku sama sekali tidak mau berhubungan dengan para pebisnis yang bermain dengan cara seperti itu."


Pria itu akhirnya bangkit dan berjalan ke jendela yang ada di sana. "Dan cek juga, Brasco. Apakah mereka ada hubungan dengan CBG. Aku juga tidak mau bisnisku terkait dengan keluarga Berlusconi secara langsung. Cukup uangku mengalir untuk keluarga Cesare saat itu saja, demi menjaga hubungan baik."


Tiba-tiba, Maximus merasakan sedikit tusukan di bahu kirinya dan membuatnya sedikit mengernyit. Hal ini membuatnya menyimpan bola-bola besinya dan memindahkan ponselnya ke bahu kanannya. Ia pun sedikit memijat bahu kirinya dengan perlahan dan melakukan gerakan memutar, seperti yang diajarkan mentornya padanya dulu. Sepertinya suara erangan pelan itu terdengar oleh Brasco tadi. "Aku tidak apa, Brasco. Oh ya, mengenai data-data Liebel, apakah sudah ada petunjuk?"


Merasakan sakitnya sudah mereda, Maximus mengembalikan posisi ponselnya.


"Ya. Aku sudah menduga hal itu. Tapi aku yakin, Liebel punya tim pengacara sendiri Brasco, meski mungkin sekarang para personelnya sudah banyak yang diganti. Sepertinya kau harus menggunakan jasa seseorang untuk melakukannya. Aku tidak ingin kau menghabiskan banyak waktu untuk melakukan penyelidikan, sampai menelantarkan perusahaan."


Kedua matanya sedikit bergerak-gerak dan Maximus kembali berkata. "Tidak. Jangan gunakan orang biasa. Kau bisa menggunakan orang yang aku rekomendasikan. Dia sudah tahu garis besar kasus ini. Aku akan mengirimkan nomor kontaknya pada dirimu. Kasus ini bukan kasus biasa, Brasco. Kasus yang terkait dengan mafia, maka harus diselesaikan dengan cara mafia juga."


***


Di salah satu apartemen, kota NY. Amerika. Jam 18.30.


Dona baru saja melangkahkan kakinya untuk keluar dari lift dan dengan malas menuju unitnya. Meski sudah terbiasa menghadapi si medusa Green tapi tetap saja, mood-nya hari ini sepertinya menjadi sedikit buruk. Ia sangat butuh sesuatu yang bisa membuat semangatnya naik lagi, tapi tidak tahu apa.


Ketika ia hampir mencapai unitnya, langkahnya menjadi terhenti. Perlahan, Dona merasakan perasaan lega luar biasa yang mulai mengalir dari d*danya dan menyirami tubuhnya. Ia seperti seorang pengelana yang terdampar di padang gurun panas, yang pada akhirnya menemukan oase-nya.


Pemandangan yang ada di depannya membuat Dona merasakan hal itu. Dan tanpa bisa ditahannya, matanya berkaca-kaca saat ini. "Anthony...?"


Panggilan pelan itu membuat pria yang tadinya berdiri membelakanginya menjadi berbalik. Tampak seraut wajah yang sangat dirindukan Dona, sedang tersenyum cerah saat ini. "Dona! Kebetulan sekali."


Masih tidak percaya, Dona melangkah pelan menghampiri pria yang masih berdiri itu. Tampak lelaki itu menenteng tas ransel dan juga koper kecil di sampingnya. Sepertinya ia baru saja akan membuka pintu kamarnya ketika Dona menyapanya tadi.


"Kamu baru datang?"


Kepala pria itu mengangguk riang. "Ya. Pesawatnya sedikit delay tadi karena cuaca. Tumben, kamu pulang tidak terlalu malam hari ini? Pekerjaanmu lancar?"


Kedua mata Dona mengerjap mendengar pertanyaan yang ringan, tapi sebenarnya sangat berarti bagi dirinya itu. Tanpa bisa ditahannya lagi, Dona menubrukkan dirinya ke badan besar di depannya dan memeluknya sangat erat. Dona sangat merindukan pria ini. Ia sangat membutuhkan kehadiran orang ini.


Yang dilakukan Dona membuat tubuh Anthony mundur dan menabrak pintu apartemennya di belakang. Kedua tangan pria itu berada di bahu mungil Dona dan mengusapnya pelan. "Dona? Kamu tidak apa-apa?"


Wajah Dona terbenam dalam d*da Anthony dan kepalanya menggeleng pelan. "Aku ingin memelukmu."


Beberapa saat mereka berpelukan dan Anthony sadar mereka masih di lorong, ketika ada penghuni lain yang lewat di depan mereka. Meski tidak ada yang usil, tapi pria itu tetap tidak nyaman dengan situasi ini. "Hem, Dona. Mungkin lebih baik aku masuk dulu..."


Tidak diduga, kepala Dona semakin menyuruk ke d*da pria itu yang hangat dan membuat jantung Anthony berdebar lebih kencang. Sepertinya dia harus segera mandi air dingin. Sekarang juga!


"Boleh aku main ke tempatmu?"


Cukup lega karena itu berarti Dona akan melepaskan pelukannya yang mulai membuat tubuhnya panas-dingin, tapi hati Anthony mencelos saat mendengar kelanjutannya. "Aku masih ingin memelukmu..."


Anthony ingin menolak permintaan itu. Ia tidak bisa mempercayai kontrol dirinya sendiri bila terlalu dekat dengan wanita itu secara fisik saat ini. Kebutuhan lahiriahnya sudah terlalu sangat besar dan kehadiran Dona nanti, malah membuatnya takut untuk bertindak liar dan menyakiti wanita itu.


"Dona... Aku kira itu bukan ide baik sekarang. Aku akan mengunjungimu nanti kalau kamu-"


Perkataan Anthony terhenti ketika ia merasakan basah di bajunya yang merembes ke d*da telanjangnya. Bahu wanita di pelukannya ini sedikit bergetar, menandakan ia sedang menangis. Tidak tega, akhirnya Anthony mengusap bahu Dona pelan dan membawanya masuk ke dalam apartemennya. Dan untungnya, h*srat yang tadi sangat liar pada wanita ini, entah mengapa perlahan menyurut dan hilang.


Mungkin karena ia terlalu mencintainya sehingga melihat kondisi perempuan itu yang tidak baik, membuat tubuhnya memberikan respon untuk melindunginya.


Posisi keduanya masih saling menempel ketika Anthony membawa mereka untuk duduk di sofa. Pria itu masih mengusap-usap bahu wanita di pelukannya sambil melamun. Dan pada akhirnya usapan itu perlahan pun berhenti, dan tangan Anthony hanya menempel di punggung Dona yang masih memeluknya.


Karena kelelahan, keduanya pun tertidur saat ini di sofa.


Tengah malam, Dona tiba-tiba terbangun. Ia baru saja bermimpi buruk dan ketika sadar, ia sedikit bingung. Tubuhnya terasa hangat dan saat menengadah, ia dapat melihat raut wajah Anthony yang tampak pulas di bawahnya. Kepala pria itu meneleng ke samping dan terdengar suara dengkuran halus dari hidungnya.


Menatap wajah pria itu, Dona dapat melihat gurat-gurat kelelahan di sana. Kantong mata Anthony terlihat lebih jelas dan tampak menghitam. Bibirnya yang biasanya berwarna merah sehat pun tampak pucat dan sedikit pecah-pecah. Ia terlihat sedikit sakit saat ini.


Khawatir dengan keadaan pria itu membuat tangan Dona naik untuk meraih wajahnya. Namun baru saja akan menyentuh pipi Anthony, wanita itu menghentikan gerakannya dengan kaku.


Kedua matanya terlihat nanar dan ketakutan saat ini. Mengingat mimpinya tadi, membuat kedua mata Dona memanas dengan sangat cepat.


Dengan sangat pelan, jari-jarinya mengusap alis tebal pria itu. Pandangan matanya yang masih nanar, menatap lekat raut wajah lelaki yang masih tampak sangat pulas di depannya.


Meski sakit, tapi hati Dona sudah mengambil keputusan saat ini. Ia tidak bisa melibatkan pria ini dalam kehidupannya. Ia tidak mau melibatkan Anthony dalam kehidupannya yang masih sangat kacau dan penuh ketakutan. Ia sama sekali tidak mau membuat pria ini bernasib sama seperti orang-orang sebelumnya.


Matanya yang cokelat meneteskan air mata, ketika Dona akhirnya sedikit menyurukkan kepalanya di ceruk leher pria itu. Sambil menghirup wangi yang disukainya, Dona berbisik sangat lirih dengan menggunakan bahasa Jerman. "Anthony Bass... Aku menyayangimu..."


Setelah mengatakan itu, Dona langsung bangkit dan keluar dari apartemen itu pelan. Dan ia juga sudah memutuskan, untuk keluar dari kehidupan pria itu untuk selamanya.


Pria itu terlalu berharga untuk dipertahankan. Kehidupan Anthony Bass terlalu berharga bagi Dona. Ia tidak mau kehilangan satu-satunya pria, yang telah membuat hidupnya kembali berwarna beberapa bulan ini.