
Bunyi dering bel pelan di pintu membuat Dona langsung bergegas membuka pintunya. Tampak Anthony berdiri di sana dengan tas ranselnya. "Selamat malam. Maaf, aku sedikit terlambat."
Menarik tangan pria itu untuk masuk, Dona langsung menutup pintunya. "Tidak masalah. Aku baru selesai memasak popcorn. Kamu duduklah di sofa dulu, aku akan menyusul."
Sambil berjalan, Anthony meletakkan tasnya di lantai dekat pintu. "Kamu yakin tidak mau dibantu?"
Tersenyum, Dona menggeleng. "Sebentar lagi selesai. Kamu duduk saja di sana dan pilihlah filmnya."
Terlihat cengiran di bibir pria itu. "Kalau begitu aku akan memilih filmnya. Romantis?"
Kedua mata Dona berputar malas, dan ia pun kembali ke pantry dapur. "Terserahlah."
Anthony terdengar terkekeh dan pria itu segera membenamkan b*kongnya di sofa empuk Dona. Ia pun segera memilih-milih film yang ada dan mengambil salah satunya. Sepertinya film ini cukup menarik. Pria itu baru saja menyetel kaset video itu ketika Dona menghampirnya dan membawa nampan.
Sedikit berdiri, Anthony meraih nampan itu dan meletakkannya di meja kopi. Tampak dua minuman kopi hangat, popcorn dan cemilan lain yang berkalori tinggi. Inilah yang dibutuhkannya saat ini.
Dona pun duduk di sebelah pria itu dan mengambil gelasnya. "Film apa ini?"
"Hum... Sepertinya cerita tentang seseorang yang memiliki kekuatan untuk melintasi waktu. Semacam kisah cinta tapi dalam versi time travel begitu."
Tidak lama, keduanya pun larut dalam film yang sedang ditayangkan di TV. Tampak Dona sedikit terpengaruh dengan adegan di film, ketika tokoh pria mencium sang tokoh wanita dengan lembut.
"Ah... Romantis..." Tanpa sadar wanita itu memekik. Ia lupa sama sekali dengan kehadiran seorang pria di sebelahnya yang mengangkat salah satu alisnya.
"Meh! Aku kira tadinya kamu hanya suka film dengan genre action, thriller dan horror saja. Ternyata kamu juga masih seorang wanita, Dona."
Sadar dengan kelakukannya, muka Dona memerah seperti tomat dan wanita itu langsung memukul-mukul lengan pria di sebelahnya dengan gemas. Kelakuan Anthony semakin lama semakin menyebalkan. Persis seperti kakaknya dulu yang sangat sering menggodanya.
Sambil tertawa, keduanya bercanda di sofa dan tanpa sadar posisi keduanya menjadi saling menempel. Tubuh Anthony terbaring di sofa dengan Dona yang ada di atasnya. Menyadari situasi yang cukup int*m keduanya terdiam dan dengan canggung Dona akan bangkit, namun tangan besar Anthony menahannya.
Kedua telapak tangan Dona menekan d*da Anthony yang keras. Wanita itu dapat merasakan debaran jantung pria itu yang menjadi lebih cepat, sejalan dengan debarannya sendiri sekarang.
Mata gelap pria itu menjadi lebih sayu dan perlahan, tangan besarnya mengusap pipi Dona dengan lembut. Pandangan pria itu turun ke arah mulut wanita itu dan terpaku di sana.
Nafas Dona terasa lebih cepat saat ini. Dalam posisi sedekat ini, ia dapat memperhatikan wajah pria itu yang terpahat sempurna di bawahnya. Dona dapat melihat getaran pelan dari bulu mata Anthony yang lentik ketika pria itu kembali menatap matanya. Mulutnya yang seksi pun tampak sedikit terbuka.
Tiba-tiba situasi yang tadinya romantis berubah ketika pria itu melontarkan pertanyaan yang sangat konyol dengan mata yang bersinar jenaka. "Mau mencoba adegan romantis seperti di film tadi? Mumpung situasinya sudah sangat mendukung sekarang."
"Apa!?" Dona memekik pelan ketika merasakan kedua tangan Anthony memeluk erat pinggangnya.
Dengan konyol, pria itu memanyunkan bibir merahnya dan mengarahkannya ke mulut Dona. "Cium aku."
"Dalam mimpimu!" Dengan gemas, Dona mendorong wajah pria itu dengan telapak tangannya dan menekannya ke bawah, hingga terbenam di sofa yang empuk. Ia kemudian membenarkan posisinya dan kembali duduk dengan sempurna. Ketika melihat layar TV, wajahnya menjadi kecewa.
"Yah! Filmnya sudah habis!"
"Kamu bisa menontonnya lagi nanti." Cukup merasa sedih karena penolakan itu, Anthony sengaja melihat jam tangannya dan ternyata waktu sudah cukup malam.
"Sebaiknya aku pulang sekarang. Sudah terlalu malam dan besok, kamu juga harus bekerja."
Dona yang baru sadar pun langsung melihat jam di dinding. "Oh! Kamu benar."
Terlalu tergesa berdiri dari duduknya, membuat Dona tersandung kaki panjang Anthony dan membuat wanita itu jatuh kembali menimpa pria itu. Dan kali ini, bibir keduanya menempel dengan sempurna.
Kejadian ini membuat h*rat Anthony naik dengan sangat cepat dan tanpa memberikan kesempatan pada Dona untuk bereaksi, pria itu langsung mel*mat dalam bibir mungil wanita di atasnya. Dona yang kaget berusaha untuk mendorong d*da pria itu yang ternyata sama sekali tidak bergeming.
Wanita itu menelan ludahnya ketika pria itu semakin dalam menciumnya dan mulai meng*lum lidahnya yang merah muda. Tampak Anthony sedang tenggelam dalam euforia yang melingkupinya, membuatnya tidak sadar dengan yang sedang dilakukannya.
Barulah ketika kedua tangan besar itu menyusup ke dalam baju Dona dan mulai mer*mas kedua asetnya, wanita itu segera menarik rambut Anthony dan sedikit menamparnya.
"Anthony!"
Tamparan pelan itu langsung mengembalikan kesadaran Anthony. Pria yang masih terengah itu tampak kaget ketika melihat posisi tangannya yang berada di dalam baju Dona. Ia segera menariknya dan beringsut mundur, menjauhi tubuh wanita itu. Tatapan matanya terlihat nanar.
"Ma- Maafkan aku..."
Tatapan Anthony yang terlihat nyalang saat ini membuat Dona sedikit bingung. Pria itu tampak linglung dan sangat merasa bersalah, membuat Dona sedikit tidak enak karena telah menamparnya tadi.
"Tony..."
"Maafkan aku, Dona."
Anthony segera berbalik dan meraup tasnya. Tubuh pria itu terlihat gemetar ketika membuka pintu dan langsung menutupnya sedikit kencang. Kejadian yang cepat ini membuat Dona hanya dapat terpaku di tempatnya. Ia masih cukup terkejut dengan peristiwa ini.
Sementara itu di apartemennya, Anthony kembali menyiram tubuhnya dengan air dingin di kamar mandinya. Dan kali ini, ia berdiri masih dengan pakaian lengkap di bawah pancuran air deras di atasnya.
Terburu-buru ia melepas pakaiannya, dan tampaklah penyebab dari semua kejadian tadi. Benda itu tampak masih keras dan sedikit memerah saat ini, membuat Anthony mulai merasa nyeri karena tidak tersalurkan.
Menekan kedua tangannya di tembok kamar mandinya, ia membenamkan kepalanya di antara kedua bahunya. Tidak tahan lagi, ia menyerah dan tangan-tangannya pun akhirnya melakukan tugasnya kembali seperti waktu itu. Ia sedikit berteriak ketika mendapatkan pelepasannya.
Merasa frustasi, Anthony menyenderkan punggungnya di dinding ubin dan mend*sah.
Ia tidak tahu, apakah ia masih akan tetap dapat bertahan dari setiap godaan wanita itu. Sudah terlalu lama tubuhnya berpuasa dari kenikmatan wanita, dan badannya mulai merasa haus saat ini. Ia sangat haus akan sentuhan wanita, tapi ia ingin agar hanya wanita itulah yang menyentuhnya sekarang.
Pria itu menutup kedua matanya. Dengan adanya peristiwa ini, ia sebenarnya ingin menjauh darinya. Tapi jika mengingat waktu-waktu pencariannya selama 5 tahun ini, ia sama sekali tidak mau membuang waktu berharganya. Sudah terlalu lama ia kehilangan orang yang dicarinya.
Meski hanya satu menit saja tapi Anthony masih tetap ingin bersama dengannya, walaupun itu berarti menyakiti dirinya sendiri.
Ia masih ingin bersama dengan dirinya dan memenuhi janjinya...