
Lamunan Maximus mengenai masa lalunya terputus dengan kehadiran Giuseppe di ruang makan itu.
"Tuan besar telah hadir." Kembali Alfredo memberikan pengumuman dan langsung membantu Giuseppe untuk dapat duduk di kursi makan utama. Sang kepala rumah tangga pun memberi tanpa pada para pelayan untuk mulai menyajikan hidangan makan malam.
"Selamat malam semua. Maaf aku sedikit terlambat."
"Selamat malam, papa." Serentak ketiga anaknya dan juga menantunya menjawab. Keempatnya berdiri sejenak untuk menyambut kedatangan sang Tuan Rumah.
Selama beberapa saat, mereka makan dalam keheningan. Dan ketika para pelayan menyajikan makanan penutup, barulah sang kepala keluarga berbicara.
"Aku yakin, kalian semua tahu mengapa aku meminta kalian berkumpul hari ini."
Tampak keempat orang di depannya mengangguk singkat, membuat Giuseppe tersenyum. Memandang Maximus, pria tua itu kembali berkata. "Terkecuali Maximus, aku meminta kalian semua berperilaku sesuai dengan martabat dari keluarga Berlusconi. Dan ingat, ini adalah kesempatan kita untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga Bianchi. Sangat sulit mendapatkan akses ke mereka, tanpa adanya perayaan yang besar-besaran seperti besok."
Duo-mafioso menganggukkan kepalanya. Mereka sangat tahu misi yang harus dilakukan besok.
"Dan ingat, jangan membicarakan mengenai masalah bisnis secara langsung pada Timothy Bianchi. Pria itu sangat tidak suka acaranya diganggu. Dan kalau kalian ingat, atasan pria itu pun akan hadir di sana. Kalau tidak salah namanya Damian Bale, pengusaha dari Inggris. Segera lakukan pendekatan pada pria itu, karena dikatakan kalau dialah satu-satunya orang yang akan didengar oleh Timothy Bianchi."
Kembali duo-mafioso menganggukkan kepalanya. Melihat kalau Maximus hanya diam, Giuseppe pun sedikit menegurnya. "Maximus? Kau dengar kataku tadi?"
Maximus mengangguk pelan. Tatapannya polos. "Saya dengar. Tapi kata papa tadi, kalau pembicaraan ini tidak berlaku untukku makanya saya merasa tidak harus menjawab."
Kembali mendengar kata-kata anaknya yang menyebalkan tapi sangat benar itu, Giuseppe menggenggam pisau makannya dengan kencang. Giginya sedikit bergemeretak. "Aku sangat-sangat ingin melemparkan pisau ini ke jidatmu, Maximus! Tapi aku tidak bisa, karena apa yang kau katakan itu memang benar. Kau memang anak yang sangat kurang ajar!"
Anak ketiganya itu terkekeh pelan. "Jangan begitu, papa. Kasihan Alfredo nanti yang harus membereskan kekacauan yang dibuat papa."
Menekan pelipisnya, Giuseppe berkata pelan. "Apa kau tidak ingin menjalin hubungan bisnis dengan mereka yang akan hadir besok, Maximus? Banyak tamu penting di sana yang mungkin bisa kau dekati nantinya."
Tampak pria berambut tembaga itu tersenyum lebar. "Tidak perlu, papa. Karena saya sudah mengenal satu-satunya orang yang memang ingin kujumpai di sana dan kami sudah membuat janji temu."
Kedua alis Giuseppe terangkat tinggi, demkian pula Amadeo dan juga Alessandro. Satu-satunya yang tampak tidak peduli hanyalah Nicolette, yang sama sekali tidak mengerti dan tidak mau terlibat dengan pembicaraan para lelaki. Percakapan bisnis membuatnya sangat bosan.
"Memangnya, siapa orang yang kau kenal di sana?" Terdengar suara kasar Alessandro bertanya. Pria itu sebenarnya cukup penasaran dengan bisnis adiknya, yang katanya cukup berkembang di Amerika.
"Damian Bale."
"Apa!? Kau mengenal Damian Bale!?" Kali ini suara melengking Amadeo yang terdengar. Pria itu sangat kaget kalau Maximus mengenal orang yang sangat ingin dijumpainya sejak lama itu. Sudah cukup sering Amadeo membuat janji temu dengan Damian Bale, tapi pria itu sangat sulit untuk ditemui karena ia juga memiliki bisnis di Indonesia. Mereka tidak pernah menemukan waktu yang tepat untuk berjumpa.
Amadeo memiliki ambisi untuk mengembangkan bisnisnya ke dunia property. Dan menjalin kerja sama dengan Damian Bale adalah langkah yang dirasa tepat, karena nama pria itu sudah cukup dikenal di Eropa dan ia juga memiliki kaitan dengan keluarga Bianchi yang sangat berpengaruh.
"Ya. Aku beruntung dapat menjumpainya beberapa kali di konferensi bisnis yang tidak pernah kau hadiri, Amadeo. Aku juga pernah beberapa kali bertemu dengannya saat berkunjung ke Inggris."
Informasi dari Maximus membuat Giuseppe mendelikkan matanya pada Amadeo. "Aku ingin berbicara nanti denganmu, Amadeo. Dan juga denganmu Alessandro, karena aku baru mendengar mengenai perpisahanmu dengan Isabelle dari keluarga Brambilla."
Kedua anak tertuanya tampak tertunduk dalam dan menjawab lirih. Mereka sangat tahu akan mendapatkan komentar dan nasihat yang sangat pedas dari ayahnya nanti. "Baik, papa..."
Pembicaraan di ruang makan pun dilanjutkan kembali secara singkat, sampai akhirnya Giuseppe menyuruh kedua anak lelaki kembarnya untuk masuk ke ruang kerja. Pria tua itu menoleh pada anak bungsunya. "Maaf, Maximus. Tapi aku harus berbicara dulu dengan kakak-kakakmu. Kalau kau mau, kau boleh pulang sekarang dan terima kasih untuk kehadiranmu."
Kedua mata ungu Giuseppe memandang intens anak lelakinya dan ia mengangguk. "Pulanglah sekarang dan istirahatlah. Semoga kau cepat sehat kembali, Maximus."
Sebelum Maximus dapat memberikan jawaban apapun, ayahnya telah berbalik dan memasuki ruangan kerja yang tertutup itu. Bibir Maximus tersenyum samar. Ia sangat tahu kalau ayahnya memperhatikan dirinya, meski kata-katanya ketus dan ia pun telah dikeluarkan dari akta keluarga.
Ia sangat tahu kalau dirinya tidak akan pernah dipecat sebagai anak. Bagi Giuseppe Berlusconi, Maximus Antonio Berlusconi atau pun Maximus Bass akan tetap menjadi anaknya.
Baru saja ia memakai mantelnya dan akan memanggil Brasco, Maximus mendengar panggilan dari arah belakangnya. "Max? Bisa kita bicara dulu?"
Tanpa berbalik pun, Maximus tahu siapa orang yang ada di belakangnya. Dan saat ini, ia sangat malas dan tidak memiliki mood untuk menghadapi wanita itu. "Maaf, Nicolette. Tapi aku sudah cukup lelah hari ini."
Tidak menyerah, Nicolette masih mencobanya lagi. "Max. Kau tentu sangat tahu bagaimana sepak terjang Amadeo selama ini. Aku sudah tidak tahan dengan pernikahan ini. Apakah kau tidak bisa membantuku?"
Masih berkutat dengan syal yang melingkari lehernya, pria itu mengikatnya asal. Ia juga mulai mengenakan sarung tangan kulitnya di kedua tangannya. Cuaca cukup dingin malam ini dan badannya yang ringkih mulai sedikit menggigil. Ia sebaiknya segera pulang.
"Kalau kau memang tidak tahan lagi, lebih baik kau membicarakannya dengan Amadeo langsung atau dengan ayahmu. Karena sepertinya aku bukanlah orang yang tepat untuk memberikan nasihat padamu sekarang ini, Nicolette."
Pria itu baru saja menekan nomor Brasco di ponselnya, ketika tiba-tiba Nicolette membalikkan tubuhnya dengan kasar. Kondisi Maximus yang memang sedang lemah, membuatnya tidak berdaya ketika wanita itu mendorongnya ke belakang. Ia baru memberikan reaksi ketika wanita itu akan mencium mulutnya.
Kedua mata Maximus melotot dan entah kekuatan dari mana, pria yang sedang sakit itu balas mendorong Nicolette dan dengan cukup keras, melayangkan tamparan pada pipi mulus wanita itu yang membuat Nicolette menjerit kencang dan jatuh ke lantai. Tubuh Maximus yang sempoyongan segera ditopang oleh Brasco yang tiba-tiba muncul di depannya.
Mata Maximus menyala nyalang saat memandang wanita yang masih jatuh bersimpuh di bawahnya. Suara seraknya sangat dingin ketika mendesis tajam. "Jangan. Pernah. Kau. Menyentuhku."
Keributan kecil itu tampak memancing para pria untuk keluar dari ruangan kerja Giuseppe dan Amadeo yang melihat isterinya terduduk di lantai sambil memegang pipinya, langsung menunjuk Maximus dengan mengunakan jarinya. "Apa yang telah kau lakukan, Maximus!? Kau telah menampar isteriku!?"
Pria yang sedang kalap itu langsung mengeluarkan pistolnya yang tersembunyi di pinggang jasnya dan menodongkannya dengan bengis pada adiknya sendiri. "Kau memang cari m*ti! Kali ini aku akan benar-benar memb*nuhmu, kau anak h*ram!"
Mencegah terjadinya pertumpahan darah di rumahnya, Giuseppe segera menengahi. "Hentikan, Amadeo! Tidak boleh ada satu pun orang yang menodongkan senjata di rumahku sendiri. Segera sarungkan pistolmu!"
Tampak Amadeo ingin membantah perintah itu, tapi geraman rendah dari ayahnya akhirnya membuat pria itu menyimpan kembali senjatanya.
Melihat suasana sudah sedikit tenang, tatapan Giuseppe berpaling pada anak bungsunya. Posisi Maximus yang sedikit membungkuk dan ditopang oleh Brasco sangat jelas mengindikasikan, kalau anaknya ini sedang sakit dan cukup parah. Nafasnya pun terdengar berat dan ia terengah. Mukanya sedikit memerah.
"Apa yang terjadi tadi, Maximus?"
Kepala Maximus sedikit mendongak, untuk membantunya bernafas. "Wanita murahan ini ingin menciumku, papa. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran untuk tidak sembarangan menyentuhku lagi, karena ia telah memiliki suami sekarang."
Berpaling menatap Amadeo, Giuseppe berkata. "Kau lihat? Sebaiknya kau beri pelajaran pada isterimu ini Amadeo, kalau kau tidak ingin malu nantinya."
Tidak terima, Amadeo kembali menunjuk Maximus dan berkata sangat marah. "Papa! Bisa jadi Maximus berbohong! Mereka pernah berpacaran selama beberapa bulan, dan aku yakin kalau Maximus masih menyukai Nicolette! Sampai saat ini!"
Kepala Maximus mulai berputar karena suara-suara yang ribut di sekelilingnya. Ia menoleh pada Brasco dan berkata lemah. "Brasco... Bawa aku... ke rumah... sakit..."
Dan setelah itu, di hadapan semua orang. Maximus Antonio Berlusconi pun pingsan.