The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 18 - New Year



Suara lembut itu membuat bulu kuduk Maximus meremang. Perlahan, ia berbalik dan berhadapan dengan seorang wanita bertubuh cukup mungil.


Wanita itu mengenakan gaun pesta berwarna biru gelap metalik. Lengan gaunnya sedikit pendek dan berkerah V sopan. Panjang gaunnya sampai ke mata kaki yang ditutupi oleh sepatu pestanya yang berwarna silver. Kedua telinganya dihiasi oleh sepasang anting berlian kecil. Ia tidak membawa apapun kecuali tas pesta kecil yang berwarna sama dengan sepatunya.


Tampak rambut cokelat terangnya disanggul dengan jalinan kepangan Perancis yang rumit. Beberapa untaiannya jatuh ke leher jenjang dan keningnya yang mulus dengan indahnya, membuat penampilannya terlihat anggun dan sedikit seksi. Terdapat hiasan bunga hidup berwarna biru di sanggulnya.


Selama beberapa saat, Maximus terpesona dengan penampilan wanita di depannya. Terutama karena kedua mata cokelat terang wanita itu yang tampak bersinar cerdas, dengan tambahan hidung mungil dan bibir berwarna merah muda. Kedua pipinya pun terlihat merona cantik saat ini.


Sepertinya wanita ini terlihat sedikit... mabuk...?


Tampak wanita itu sedikit sempoyongan ketika berdiri di depannya, membuat Maximus refleks memegang pinggang si mungil agar ia tidak jatuh. Kedua tangan wanita itu mencengkeram lengan atas Maximus sebagai tempat sandarannya saat ini.


"Anda tidak apa-apa?" Maximus menggunakan bahasa Jerman pada wanita ini, karena tadi mendengarnya berbicara dengan bahasa tersebut.


"Hem... Yah... Hem..."


Kedua mata cokelat indahnya berkedip cepat. Tampak jelas wanita ini berusaha keras untuk mengembalikan kesadarannya. Rahangnya mengeras dan cuping hidungnya mengembang. Ia berusaha menarik nafas dalam.


Kembali wanita itu bertanya lagi, tapi kali ini menggunakan bahasa Italia. "Hem... Boleh saya meminta permen dari Anda?"


Alis Maximus berkerut dalam. Tidak banyak kenalan wanitanya yang multilingual seperti wanita di depannya ini. Bahkan aksennya terdengar seperti seorang native speaker untuk kedua bahasa yang digunakannya.


Meski sedikit bingung dengan permintaannya, tapi pria itu akhirnya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak permen mint-nya. Ia menyodorkannya pada wanita itu yang menerimanya dengan antusias. Dan melihat posisi berdirinya yang masih belum cukup stabil, maka pria itu masih tetap memegang pinggang wanita asing ini dengan cukup erat.


Kaki wanita itu masih bergerak-gerak maju-mundur, membuat Maximus berusaha menahannya yang menjadikan tubuh keduanya semakin mendekat dan akhirnya menempel. Kedua tangan wanita itu masih sibuk membuka kotak permen Maximus yang tampak masih bergeming di tempatnya.


"Kau butuh bantuan?" Pelan pria itu bertanya dengan menggunakan bahasa Inggris. Ia sangat ingin tahu respon dari wanita mabuk di depannya ini.


Kepala itu mengangguk-angguk lucu, dan ia mendongak memandang mata ungu Maximus. Bibir mungilnya terlihat cemberut dan wanita itu menjawab pertanyaannya dengan bahasa Inggris yang sangat sempurna. "Ya... Kotaknya bandel... Tidak mau terbuka... Tolong dibuka..."


Permintaan itu membuat bibir Maximus tersenyum kecil. Ia pun meraih kotak itu dan menunduk pada wanita yang masih menempel di tubuhnya. Iseng pria itu berkata dengan bahasa Perancis. Ia kembali ingin tahu mengenai seberapa jauh kemampuan berbahasa asing wanita mungil ini. Entah kenapa. "Peluk badanku. Aku tidak mau kau terjatuh nanti."


Tampaknya wanita itu telah mencapai batasannya. Perkataan Maximus membuatnya terlihat bingung dan ia kembali menggunakan bahasa Jerman, seperti pertama kali. "Maaf... Kau bilang apa tadi? Aku tidak begitu fasih berbahasa Perancis..."


Jawaban to the point itu membuat Maximus terkekeh pelan. Ia menyukai wanita ini.


Pria itu kembali mengulangi permintaanya dengan menggunakan bahasa Italia dan tidak membutuhkan waktu lama, kedua tangan mungil wanita itu sudah melingkari pinggangnya dengan erat. Tampak ia menyurukkan kepalanya di d*da bidang Maximus dengan nyaman.


Ketika pria itu akhirnya berhasil membuka kotak permennya, ia bukannya menyorongkannya pada wanita itu, tapi malah mengambil sebutir permen mint-nya. Pria itu menempelkannya ke bibir wanita di pelukannya ini dan berkata cukup lembut. "Buka mulutmu, mungil..."


Perkataan itu membuat si mungil membuka mulutnya dan mengemut permen langsung dari tangan pria itu. Tubuh Maximus bergetar pelan saat merasakan kelembutan dan kehangatan dari bibir wanita di pelukannya.


Warna amber yang ada di kedua mata pria itu terlihat lebih bercahaya dan pupilnya perlahan mulai membesar. Tangan Maximus masih berada di kedua bahu si mungil ketika terdengar seruan seorang pria dari arah ballroom di dalam, yang teredam oleh suara petasan kembang api di luar secara tiba-tiba. Menandakan waktu sudah tengah malam dan pergantian tahun telah terjadi.


Cahaya-cahaya warna-warni bertebaran di langit-langit yang gelap diiringi dengan suara letusan kembang api dan petasan yang bergantian, membuat suasana terasa romantis saat ini. Kedua insan itu tampak saling bertatapan dan tanpa diduga, si mungil menarik kepala Maximus dan mencium pipinya mesra.


***


Kembali ke masa sekarang.


Pagi itu sekitar jam 10.00, terdengar ketukan pelan di pintu apartemen Anthony. Terlihat Dona berdiri dengan gugup. Di tangannya ada sepiring kue bole yang ia masak sendiri tadi. Meski ini kedua kalinya ia mendatangi apartemen pria itu, tapi tetap saja ia merasa gugup karena ini adalah pertama kalinya ia berinisiatif untuk mengunjunginya.


Ketika terbangun pagi tadi, ia sadar kalau Anthony telah memindahkannya ke tempat tidur. Meski mengantuk tadi malam, tapi ia masih cukup ingat aktivitasnya terakhir kali sebelum akhirnya ia tertidur pulas. Mereka masih berada di sofa dan menonton film. Pria itu bahkan mencuci bersih piring bekas makannya tadi malam, membuat Dona semakin merasa tidak enak.


Wanita itu menelan ludahnya dan baru akan mengetuk kembali, ketika pintu itu perlahan terbuka. Tampak rambut Anthony acak-acakan dan muka pria itu yang kusut. Ia seperti tidak tidur semalaman karena bawah matanya yang terlihat menghitam. Kedua mata gelapnya berbinar cerah saat melihat siapa yang datang.


"Dona!"


Antusias, tangan Anthony menarik pinggang Dona untuk langsung masuk ke dalam apartemennya. Kedua tangan besarnya yang ada di bahu wanita itu, mengarahkannya ke ruang makan. Pria itu refleks mencium kepala bagian belakangnya cepat sebelum melesat ke kamar tidurnya. "Aku mau mandi dulu. Kamu jangan keman-mana ya. Sepuluh menit lagi aku keluar!"


Dona masih berdiri mematung di ruangan itu beberapa saat. Wanita itu masih cukup kaget dengan respon Anthony yang sepertinya kelewat bersemangat untuk menyambutnya. Berusaha menenangkan debaran jantungnya yang terasa mulai liar, ia meletakkan kuenya ke atas meja.


Ia akhirnya memutuskan mencari pisau dapur untuk memotong kue itu. Membuka-buka laci meja dapur Anthony, ia akhirnya menemukan yang dicarinya. Dengan tenang, wanita itu mulai memotong kue bolunya menjadi bagian-bagian kecil dengan rapih. Selesai melakukan tugasnya, Dona langsung mencuci pisaunya dan kembali duduk di kursi untuk menunggu Anthony mandi.


Suasana di dalam apartemen pria itu sangat tenang. Hanya terdengar suara pelan percikan air yang berasal dari kamar tidur Anthony yang tertutup. Kedua mata Dona meneliti satu demi satu barang-barang yang ada di sana, dan ia pun baru teringat sesuatu yang sangat ingin ditanyakannya pada pria itu kemarin.


Tidak lama, Anthony keluar dari kamar tidurnya. Tampang pria itu jauh lebih segar saat ini. Wajahnya cerah dan senyumnya sumringah. Rambutnya yang sedikit basah disisir ke belakang. Ia langsung menuju patry pembuat kopi di meja dapurnya.


"Aku senang kamu datang hari ini, Dona. Aku butuh kopi. Kamu mau minum kopi?"


Sambil tersenyum samar, Dona mengangguk kecil. Ia menunggu Anthony membuat kopinya dengan tenang, sampai akhirnya pria itu meletakkan kedua mug di atas meja makannya. Ia pun akhirnya duduk bergabung dengan Dona di meja makan dan mulai meminum kopinya.


Melihat kue yang tersaji, kepala pria itu mendongak dan memandang Dona dengan gembira. "Apa yang kamu bawa untukku hari ini?"


Sedikit tersenyum bangga, Dona menyorongkan kue hasil buatannya. "Sebagai rasa terima kasihku untuk tadi malam. Kue bolu. Buatanku. Cobalah."


Dengan wajah yang sangat sumringah, Anthony mengambil satu potongannya dan mengunyahnya. Kepalanya mengangguk-angguk kecil. "Kuemu sangat enak!"


Melihat pria di depannya makan dengan lahap, hati Dona merasa hangat. Baru kali ini, ia memasakkan kembali sesuatu untuk seseorang. Wanita itu menunggu sebentar sebelum akhirnya melontarkan pertanyaannya dengan cukup hati-hati.


"Hem... Anthony... Sebenarnya, ada yang ingin aku tanyakan padamu dari kemarin."


Masih sambil mengunyah, Anthony mendongak memandang wanita itu. Ia kemudian meminum kopinya untuk membantunya menelan lebih cepat, ketika melihat ekspresi Dona yang terlihat cukup serius.


"Memangnya apa yang mau kamu tanyakan, Dona? Sepertinya cukup serius?"


Dona terlihat menggigit-gigit bibirnya dan akhirnya bertanya. "Beberapa hari yang lalu, sekitar hari Jumat malam Sabtu. Apakah ada temanmu yang datang menginap?"