
Kantor MB Company, kota NY. Amerika.
"Maximus?"
Pertanyaan yang diucapkan dengan halus itu, membuat Maximus langsung mengetahui siapa yang menghubunginya saat ini. "Amadeo? Tumben kau meneleponku?"
Meski mereka keluarga, tapi tidak ada yang saling menyimpan nomor telepon di ponsel tiga bersaudara itu. Satu-satunya yang masih tersimpan di ponsel ketiganya dengan menggunakan nama kontak yang benar, hanyalah nomor ayah mereka.
"Ada yang ingin aku diskusikan. Penting. Apakah kau ada waktu?"
Kedua alis Maximus berkerut. Tangan kirinya yang tadinya sedang menulis sesuatu berhenti di udara. Tidak biasanya Amadeo seperti ini. "Kau di NY sekarang?"
"Ya. Ada pertemuan tadi dengan partner dari Amerika. Aku masih ada di restoran XS, di jalan K. Apakah kau bisa datang ke sini sekarang?"
Maximus menyenderkan tubuhnya ke belakang dan bibirnya tersenyum sinis. "Maaf. Tapi aku harus menolaknya, kakakku sayang. Aku sudah kapok dengan usahamu untuk membuatku keracunan makanan, beberapa kali. Jika kau memang mau menemuiku, maka aku yang akan menentukan tempatnya."
Terdengar kekehan halus dari seberang. Kekehan seorang iblis. "Baiklah. Terserah kau saja. Jam berapa kau bisa menemuiku, kalau begitu?"
Melirik jam di tangan kanannya, pria itu sedikit berfikir sebelum akhirnya memutuskan sesuatu. Ia masih harus memberikan beberapa instruksi dulu pada Brasco kalau mau menemui Amadeo sekarang. "Aku dapat menemuimu sekitar 2 jam lagi. Aku akan meneleponmu lagi untuk memberitahukan tempatnya."
"Baiklah. Aku akan menunggumu." Dan Amadeo pun mematikan sambungan teleponnya.
Jari-jari Maximus yang panjang mengetuk-ketuk di atas meja. Apa mau orang itu?
Tidak mau membuang waktu, Maximus menekan interkom di mejanya dan memanggil asistennya. Tampak Brasco memasuki ruangan dan terlihat tab di tangannya. "Tuan Bass? Ada perlu dengan saya?"
"Bagaimana progress para programmer? Apakah sudah ada ide yang menarik?"
Brasco tampak mengotak-atik tab di tangannya. "Colt sudah memberikan beberapa ide tapi sayangnya, itu masih merupakan modifikasi dari beberapa ide yang tidak terpakai dulu. Thomas juga demikian. Sampai sekarang, belum ada programmer yang sudah memberikan ide yang sifatnya baru, Tuan."
Kepala Maximus menggangguk. "Sebetulnya tidak apa itu bukan ide baru, selama memang masih dapat memenuhi kebutuhan klien. Tapi kau atur saja, Brasco karena kau juga mengetahui keinginan mereka."
Keduanya pun berdiskusi beberapa saat membahas satu-satu persatu ide-ide dari para programmer yang dianggap cukup berpotensi untuk dikembangkan. Setelah puas, barulah Maximus bangkit dari duduknya. Tampak ia meraih jas santainya yang tergantung di rak baju di sana.
"Anda mau pergi?"
"Ya. Amadeo tadi menghubungiku. Dia ingin bertemu."
Alis Brasco terangkat naik. "Tuan Berlusconi? Apakah Anda yakin ingin menemuinya, Tuan Bass? Terakhir bertemu di luar beberapa tahun lalu, ia malah memberikan makanan yang membuat alergi Anda kambuh. Belum lagi kejadian di pertandingan polo waktu itu. Kalau saya itu Anda, maka saya tidak akan pernah mau menemuinya lagi."
Kata-kata Brasco membuat Maximus tertawa terbahak-bahak. "Kau benar, Brasco. Itu kalau kau jadi aku. Tapi masalahnya, aku adalah aku. Dan aku adalah seorang Berlusconi. Meski tidak menyukainya, tapi aku tetap harus menemuinya karena Amadeo tadi meneleponku sendiri. Ia tidak pernah meminta janji temu sebelumnya, dan aku cukup penasaran karena berarti hal itu cukup penting."
Pria bermata hijau itu menggeleng dan mend*sah lelah. "Anda dan rasa penasaran Anda, Tuan Bass. Kadang saya tidak mengerti dengan jalan pemikiran Anda yang aneh itu."
Masih terkekeh, Maximus mendekati Brasco dan menepuk bahunya. "Roberto ada di tempatnya, kan?"
Asistennya mengangguk. "Dia selalu siap kapanpun Anda membutuhkan."
Tersenyum, Maximus kembali menepuk bahu asistennya dan melenggang ke arah pintu. "Aku pergi dulu."
Dan dalam waktu tidak sampai 40 menit, Maximus dan Roberto sudah sampai ke salah satu taman bermain yang ada di kota NY. Keduanya tampak sedang menunggu di salah satu kursi taman yang ada di sana, sambil menikmati pemandangan berbagai macam wahana permainan.
Tidak lama, terdengar suara halus yang menyapa dari belakang mereka. "Maximus."
Kedua orang itu menoleh dan Maximus tersenyum sambil mengangguk pada Roberto. "Tinggalkan kami."
Pengawalnya itu mengangguk sopan pada Maximus dan kembali menundukkan kepalanya singkat pada pria yang baru datang di depannya. "Tuan Berlusconi."
Pandangan Amadeo berpaling pada adiknya. "Dia masih tetap setia padamu rupanya."
Pernyataan itu hanya dibalas Maximus dengan senyum tipis. "Silahkan duduk, brother."
Sejenak, kedua orang itu hanya diam dan menyerap pemandangan sekitar. Amadeo melirik ke arah adiknya dan melihat kalau pria itu jauh lebih sehat, tapi mata ungunya masih redup. Keheningan itu dipecahkan oleh suara Amedo yang lembut, dan terdengar seperti senandungan. "Aku dan Nicolette akan berpisah."
Sama sekali tidak ada ekspresi apapun yang muncul dari pria berambut tembaga di depannya, membuat Amadeo menatapnya penasaran. "Kau menemuiku untuk masalah skandalnya?"
"Ya. Apa yang akan kau lakukan?"
Kekehan geli terdengar dari mulut Maximus dan dengan santai kepalanya berpaling pada Amadeo. "Tidak ada. Memangnya apa yang kau ingin aku lakukan?"
Tubuh Amadeo menegak di depannya. "Kau sama sekali tidak berniat menyebarkannya? Dari awal?"
Mulut Maximus manyun dan ia kembali membuang pandangannya ke samping. "Entahlah. Sejujurnya, aku memang pernah ingin menggunakannya, ketika wanita itu beberapa kali melewati batas. Tapi mengingat dampaknya, aku mengurungkannya. Lagipula semakin ke sini, aku semakin kasihan padanya."
Kedua alis Amadeo yang hitam terangkat. "Kau menyukainya?"
"Aku bilang aku kasihan padanya, Amadeo. Bukan menyukainya. Bukannya kau sendiri sudah tahu, kalau Nicolette hanyalah alat yang digunakan Cesare untuk meraup keuntungan dalam bisnisnya? Sejak remaja, wanita itu sudah dipaksa untuk memenuhi n*fsu bejat para klien Cesare. Aku sendiri tidak tahu, sudah berapa pria yang ia tiduri dalam circle bisnis keluarga Cesare."
"Lebih dari 100 orang."
Kembali, kekehan terdengar dari mulut Maximus. "Kau ternyata lebih tahu dari pada aku."
"Dia isteriku. Tentu saja, aku harus menyelidiki latar belakangnya dulu."
Kali ini kepala Maximus mengangguk, menyetujui. "Ya. Aku juga akan melakukan hal yang sama kalau ingin menikahinya dulu."
Lagi, keduanya terdiam sejenak. "Apakah kau pernah menyukainya, Maximus?"
Terlihat angin menerbangkan sedikit rambut Maximus yang tampak melamun di depannya, membuat Amadeo kembali merasa iri. Rambut Maximus menurutnya sangat indah, mengikuti ibu tirinya yang memang berparas cantik menawan. Pria itu juga memiliki kulit yang lebih terang dibanding pria Italia umumnya. Menurut Amadeo, tampang Maximus unik dan lebih menarik dibanding dua saudaranya yang lain.
"Tidak, Amadeo. Aku tidak pernah menyukainya."
"Tapi kau menerima usulan pertunangan itu."
"Tadinya aku memang cukup berharap pada Nicolette. Usiaku sudah lebih dari cukup dan aku juga sudah puas berpetualang. Usulanmu untuk membuatku menikahinya cukup menarik ketika itu, karena aku juga ingin memiliki keturunan di usia yang tidak terlalu tua."
Bahu Maximus sedikit naik ketika pria itu menarik nafasnya pelan. Ia belum melihat pada Amadeo. "Tapi ketika mengetahui kalau ia adalah wanita yang seperti itu, aku langsung merasa mual membayangkan dirinya sebagai ibu dari anak-anakku kelak. Mungkin kalau dia berhenti melakukannya ketika itu, aku masih akan mempertimbangannya. Tapi ternyata tidak. Dia tidak berhenti dan malah berselingkuh di belakangku."
Entah mengapa, tapi pembicaraan ini semakin lama semakin mengarah ke ranah pribadi yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh dua bersaudara itu. Dan Amadeo tidak bisa menahan lidahnya untuk tidak bertanya. "Apakah kau pernah jatuh cinta, Maximus? Cukup mencintai seorang wanita, yang memang kau inginkan untuk menjadi ibu calon anak-anakmu?"
Saudara kecilnya ini akhirnya menoleh padanya dan kedua mata ungunya menajam. "Aku pernah mencintai seorang wanita, Amadeo. Dan masih mencintainya sampai sekarang. Kau pun tahu siapa orang itu."
Perkataan Maximus membuat Amadeo tertegun dan hatinya entah mengapa sedikit ter*mas sakit, melihat tatapan mata Maximus yang mulai memerah terarah padanya. Terutama ketika adiknya itu melanjutkan perkataannya dengan suara yang lebih pelan dan penuh kesedihan.
"Aku tahu kau memang membenciku, Amadeo. Kau selalu berusaha untuk menyakitiku. Dan kau tahu? Sepertinya kali ini kau berhasil, kakakku. Kau telah sangat berhasil menyakitiku. Karena sekarang, aku benar-benar kehilangan orang yang paling berarti bagiku. Dan mungkin untuk selamanya."
Adiknya itu kemudian berdiri dari duduknya dan merapihkan jasnya. Tatapannya melayang jauh ke depan dan bibir merahnya kembali berkata. "Selamat, Amadeo... Kau mungkin tidak memb*nuhku tapi saat ini, kau telah membuatku lebih memilih m*ti dibanding hidup dengan hati kosong seperti sekarang. Dan aku pun tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Keinginanmu untuk membuatku m*ti telah terkabul, brother. Mungkin lain kali, aku akan membiarkan kau untuk menembakku saja."
Dan lama setelah Maximus pergi meninggalkannya, Amadeo masih duduk di kursi taman itu. Salah satu tangannya mengepal di atas meja dan mata ungunya nanar menatap ke bawah. Hatinya bertanya-tanya.
Apakah ia puas? Apakah ia telah puas? Apa ia puas telah membuat adiknya seperti mayat hidup seperti itu?