The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 60 - Decision



Mendengar saran Michele, Giovanna menghela punggungnya ke belakang dan mend*sah. "Aku mengerti maksudmu, Miki. Kau pasti khawatir mengapa orang seperti dirinya sampai mau membeli property di kota kecil seperti ini."


Kepala MIchele mengangguk. "Itu dan hal lainnya. Dia memiliki hubungan dengan masa lalumu saat di NY. Apakah kau yakin mau menerima kemungkinan kalau dia mengenalimu nanti? Dan mungkin menceritakan keberadaanmu pada seseorang yang mungkin dikenalnya?"


Tampak Giovanna mempertimbangkan perkataan Michele di depannya. Ia berusaha mengingat peristiwa saat membeli roti di tempat Dominic, ketika tempat itu masih bernama Allard Bakery.


"Tapi dulu, aku hampir tidak pernah berbicara dengan dirinya, Michele. Meski cukup ramah, tapi aku tidak pernah mengobrol dengan dirinya dan hanya membeli kuenya saja. Dia juga tidak pernah menyapaku secara langsung, karena terlalu sibuk melayani pelanggan wanitanya yang sepertinya ingin berkencan dengan dirinya. Lagipula, penampilanku juga sepertinya bukan seleranya. Tampaknya Dominic selalu berkencan dengan mereka yang berambut pirang dan bertubuh seksi."


"Kau yakin, Dona?"


Wanita itu mengangguk pelan dan meletakkan dokumen itu lagi di meja. "Ya. Aku yakin. Dan aku yakin kalau kami bertemu lagi, dia tidak akan mengingatku."


Terlihat wajah Michele sedikit lega. "Baiklah kalau kau yakin. Dan melihat berkas-berkas ini dan juga latar belakang Allard, seharusnya penawaran tersebut legit dan tidak akan ada masalah. Pria itu memiliki banyak uang dan juga aset di berbagai belahan negara. Dia tidak akan kekurangan uang, meski memiliki tujuh turunan. Jadi untuk nilai aset temanmu ini, hanyalah seperti kotoran hidung saja bagi pria itu."


Giovanna terkekeh mendengar komentar sinis Michele. "Aku menangkap nada iri?"


Pria gempal itu mendengus kesal. "Aku tidak iri. Hanya sedikit kesal, kenapa selalu saja ada pria dengan fisik sempurna dan memiliki banyak uang. Mereka juga dikaruniai dengan otak yang pintar. Kalau dunia dipenuhi dengan spesies seperti itu, bagaimana dengan nasibku yang seperti ini?"


"Miki, aku kira tidak sepantasnya kau mengatakan hal itu. Mungkin kau merasa inferior dengan fisikmu tapi kau tahu, kalau sebagian besar wanita akan bertekuk lutut dengan yang namanya uang. Dan kau memiliki lebih banyak uang dibanding sebagian besar lelaki yang berwajah tampan di dunia ini."


Kali ini, Michele tertawa keras. "Kau sangat mengenalku dan kau benar. Untuk sekarang, aku memang tidak membutuhkan menjadi tampan. Yang penting, tempat tidurku akan selalu hangat di malam hari."


Kepala Giovanna menggeleng dan wanita itu menyesap air putihnya. "Aku tidak sabar menunggu sampai ada wanita yang bisa membuatmu bertekuk lutut, Michele. Entah sampai kapan kau puas bermain seperti ini. Usiamu sudah tua, tahu!"


Kedua alis Michele terangkat tinggi dan pria itu menggeleng, sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, Dona. Yang jelas, aku tidak mau sampai harus bernasib sama dengan seseorang yang kukenal saat ini. Seseorang yang menjadi g*la karena cinta dan patah hati karenanya. Aku masih pria waras yang ingin mencari kesenangan dari seorang wanita dan bukan untuk menyiksa diri."


Kekehan pelan terdengar dari bibir Giovanna. "Aku benar-benar kasihan dengan orang yang jadi temanmu."


***


Sementara itu di belahan dunia lain, kota RM. Italia.


"Maaf, aku terlambat. Ada sedikit urusan dengan Tuan Bale tadi."


"Tidak masalah, silahkan duduk Bianchi. Aku juga baru saja datang."


Tim langsung duduk di depan Maximus dan menyerahkan dokumen cukup tebal pada pria di depannya. Tampak Maximus menerimanya dan membukanya. Kedua mata ungunya mempelajari berkas itu dengan cepat dan akhirnya menarik nafasnya dalam. "Kau yakin mengenai hal ini?"


Meletakkan berkas itu di sampingnya, tangan kiri Maximus mengepal di atasnya. Kedua alisnya berkerut dalam dan matanya menunduk menatap dokumen itu. "Apa pendapat keluarga lainnya?"


"Keputusan mereka sudah bulat. Dan kau sendiri pun sudah tahu, apa keputusan mereka tanpa aku harus menjelaskannya detail."


Akhirnya Maximus memberanikan diri menatap Tim yang tampak tidak berekspresi di depannya. "Apakah tidak ada kemungkinan untuk-"


"Tidak. Kau tahu sendiri Bass, kalau apa yang dilakukannya sudah melampaui batas. Dia ternyata sudah mulai membangun pabrik untuk memproduksi senjata. Dan tidak hanya itu, kasus dengan keluarga Liebel pun ternyata melibatkan salah satu keluarga mafia dari klan kecil di Italia sini. Dia bahkan berani untuk membayar mereka melakukan pekerjaan kotornya. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali."


D*da Tim yang penuh tampak terkembang ketika pria dingin itu mengambil nafasnya dalam. "Kalau itu hanya kesepakatan bisnis dengan melibatkan uang kecil, tentu tidak akan menjadi perhatian dari keluarga mafia lainnya. Tapi masalahnya, mereka ternyata telah bekerja sama untuk membangun bisnis yang sebenarnya di luar ranah dan wewenang mereka. Jika pun mereka tetap mau melakukannya, maka sebaiknya itu dilakukan di luar wilayah keluarga lain. Dan mereka sudah tidak menghormati batasan itu."


Jari-jemari Tim yang panjang mengetuk-ketuk mejanya cukup kencang. "Hal ini sudah menjadi perhatian keluarga selama beberapa tahun tapi mereka masih belum yakin dengan keterlibatan keluarga Russo. Dan kebetulan dirimu mengangkat kasus Liebel, yang ternyata menjadi titik awal terbongkarnya kesepakatan tersembunyi keduanya. Sebenarnya, aku harus berterima kasih padamu, Bass. Karena dirimu, akhirnya kami bisa menemukan titik terang hubungan keduanya."


Perkataan Tim bukannya membuat Maximus tersanjung, kepala pria itu semakin tertunduk dan matanya nanar menatap dokumen yang masih tertutup itu.


"Di dalam dokumen itu, aku lampirkan bukti mengenai modifikasi isi perjanjian antara Liebel-Berlusconi. Ternyata perjanjian itu bukan ditangani oleh pengacara keluarga Liebel yang bernama Becker, melainkan oleh asistennya Louisa. Dan Louisa ternyata adalah puteri dari Renee, isteri dari Luca Russo yang merupakan kepala keluarga Russo. Kau benar-benar memberikan kasus yang rumit padaku, Bass. Karena kalau kau tahu, Louisa adalah mantan pacar dari Giovanni, temanmu yang terb*nuh itu."


Suara berat Tim kembali terdengar ketika ia melanjutkan penjelasan yang sama sekali tidak menyenangkan. "Terb*nuhnya dr. Weber dan puterinya Elena, juga karena motif kecemburuan Louisa yang telah diputuskan secara sepihak oleh Giovanni. Wanita itu ternyata masih mencintai temanmu itu, meski alasan putusnya hubungan mereka adalah karena dia sendiri yang menghianati Giovanni."


Melihat kepala Maximus yang masih tertunduk, Tim sangat maklum dengan reaksi teman barunya itu. "Bass. Aku tahu apa yang kau pikirkan sekarang tapi hal ini sudah terjadi. Semua benang kusut ini mengarah pada satu orang, yaitu kakakmu. Amadeo Berlusconi. Meski keluarga Russo memiliki motif pribadi, tapi mereka tidak akan terdorong melakukannya kalau tidak ada penguatan dari Amadeo. Keluarga Berlusconi adalah keluarga yang berkuasa, dan memegang kunci pada beberapa petinggi penting di negara ini."


Kali ini, suara Tim terdengar sangat dingin ketika berkata. "Tapi dia melupakan sesuatu. Keluarga Berlusconi bukanlah keluarga mafia. Di Italia ini, kalian hanyalah keluarga pebisnis yang ingin bermain menjadi mafia. Sayangnya, kami sama sekali tidak suka ditantang seperti itu, Bass. Karena kakakmu sendiri yang sudah memutuskan untuk mencemplungkan diri, maka mau tidak mau dia juga harus mengikuti aturan kami."


Menelan ludahnya, Maximus memandang Tim kembali. "Apa yang akan kalian lakukan?"


Sorot mata Tim yang bermata gelap terlihat sangat dingin dan sadis. Siapa pun yang melihatnya dapat menyimpulkan bahwa Timothy Bianchi sang algojo, telah kembali lagi. "Dalam minggu ini, kami akan mengeksekusi keluarga Russo. Dan kami juga akan melakukan tindakan yang sama pada kakakmu. Setelah pertemuan kita, aku akan menemui Giuseppe Berlusconi untuk mengatakan mengenai hal ini. Bagaimana pun, kami masih menghormati ayahmu, Bass. Karena ayahmu juga menghargai keberadaan kami."


"Apakah tidak ada yang bisa-"


"Tidak." Sebelum Maximus selesai berbicara, Tim kembali memotongnya dengan nada yang kasar dan juga tegas. Pria besar itu pun langsung berdiri dari duduknya dan merapihkan jas mahalnya.


"Aku sudah memberikan bukti yang cukup untuk kau gunakan. Pakailah sesuai dengan keinginanmu. Tapi satu hal yang aku minta padamu Bass, sebagai seorang teman."


Mata Maximus nanar memandang Tim. Ia sudah tahu hal yang akan diminta oleh pria dingin itu.


"Aku minta agar kau tidak ikut campur untuk masalah ini. Kau lakukan urusanmu dan biar kami melakukan urusan kami. Tidak ada saling mengganggu, maka tidak akan ada pertumpahan darah tidak perlu lainnya."