The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 15 - Hello...!



Hati Dona menghangat mendengar pengakuan itu. Dengan jantung yang berdebar, ia membalas uluran tangan itu dan menggenggamnya erat. Bibirnya tersenyum cukup lebar saat ini.


"Salam kenal Anthony Bass. Namaku Donatella Amari. Umurku 29 tahun, single dan saat ini bekerja sebagai accountant di MB Company. Dan hobiku juga menonton film. Genre yang kusukai adalah action, thriller dan horror. Mungkin kapan-kapan aku akan mengundangmu datang ke rumah untuk menonton."


Kata-kata balasan dari Dona membuat muka pria itu luar biasa cerah, dan terukir senyum yang sangat lebar di bibirnya. Beberapa saat, senyuman itu membuat Dona terpesona. Pria ini sangat tampan!


Sadar dengan imajinasinya yang mulai menjadi liar dan tidak pantas, Dona segera menarik tangannya yang ternyata ditahan oleh pria itu. Hal ini membuat wanita itu mendongak dengan pandangan bertanya.


"Boleh aku memelukmu?"


Pertanyaan tidak disangka itu membuat Dona membeku. "Huh?"


Jempol Anthony terasa mengusap tangan Dona yang masih digenggamnya. Tampak pandangan mata pria itu melembut dan sedikit sayu. "Terakhir kita berpisah dalam situasi yang tidak baik. Dan aku juga merindukanmu selama seminggu ini. Sedikit pelukan sebagai tanda berbaikan?"


Kedua mata Dona mengerjap cepat. Ia menelan ludahnya. Selain kakak lelakinya yang telah tiada dan juga ayahnya, selama ini belum pernah ada pria lain yang memeluk dirinya. Ragu-ragu, Dona mengangguk.


Lega dengan persetujuan wanita itu, Anthony menarik lembut tangan Dona yang masih dipegangnya. Selangkah demi selangkah, Dona akhirnya berada dalam pelukan pria itu. Kepalanya miring dan menekan d*da Anthony, membuatnya dapat mendengar deru nafas dan jantung pria itu yang terasa berdebar kencang. Kedua tangan Anthony yang berada di punggungnya terasa mengerat.


Beberapa saat, keduanya tampak menikmati kehangatan satu sama lain. Kedua mata Dona perlahan menutup, membuat hidungnya menjadi lebih sensitif. Ia dapat mencium wangi pria di pelukannya ini. Campuran antara aroma parfum yang mahal dan juga harum tubuh maskulinnya yang terasa bersih, membuat tubuh pria itu memiliki wangi yang khas. Ia menyukai bau tubuh lelaki ini.


Setelah puas memeluknya, Anthony akhirnya melepaskan Dona. Keduanya saling tersenyum. Telapak tangan pria itu terasa mengusap sepanjang lengannya, sebelum akhirnya menggenggam kembali kedua tangannya.


"Terima kasih."


Baru kali ini akhirnya Dona dapat tersenyum lebar kembali setelah kejadian 5 tahun lalu. "Sama-sama."


Situasi ini akhirnya terpecah dengan dering ponsel Dona dari saku celana jinsnya. Melepaskan tangan Anthony, ia meraih ponselnya dan langsung menjawab.


"Ya, Kate? Aku sudah selesai, sebentar lagi akan ke sana."


Kepala Dona mengangguk-angguk singkat. "Oke. Lima menit lagi kita bertemu di parkiran ya."


Wanita itu menutup ponselnya sambil tersenyum. Ia menoleh ketika merasakan tangan hangat yang berada di bahunya yang mungil.


"Kamu mau pergi?"


"Ya. Aku mau ke bengkel mengantarkan Kate mengambil mobilnya."


Alis Anthony berkerut. Ia melepaskan tangannya yang ada di bahu Dona dan memasukkannya ke saku celana jinsnya. "Kate? Wanita yang bersamamu tadi?"


Kembali Dona mengangguk. "Aku harus pergi sekarang, Tony. Kate sedang menungguku."


Sebelum wanita itu berhasil membuka pintu kantor itu, tangan Anthony menahan pergelangannya lembut.


"Kamu pulang jam berapa, Dona?"


Tatapan Dona yang polos terarah pada pria itu. "Entahlah. Memangnya kenapa?"


Masih tidak melepaskan genggamannya, Anthony hanya berkata pelan. "Aku masih ingin mengobrol denganmu. Sudah seminggu ini kita tidak bertemu."


Melepas cekalan pria itu, Dona tertawa keras sambil menepuk lengan atas pria itu cukup kencang.


"Buat apa buang waktu denganku, Tony? Ini malam minggu, carilah wanita lain untuk diajak berkencan!"


Setelah mengatakan itu, Dona langsung keluar dari ruangan dan menutup pintunya.


Entah wanita itu terlalu b*doh untuk menangkap sinyal yang diberikannya, atau memang dia sengaja menghindar? Apapun jawabannya yang pasti, ia merasa sangat kecewa dengan respon wanita itu.


Di luar, Dona bergegas pergi dari tempat itu sambil memegang d*danya yang berdebar kencang. Ia sangat tahu kalau Anthony tertarik padanya tapi untuk saat ini, ia masih belum siap. Intervensi pria itu dalam hidupnya sudah cukup mengguncang dunianya yang tadinya tenang. Dan ia juga masih belum terlalu mengenalnya, untuk mau berhubungan lebih akrab dengan pria itu.


Melihat sosok Kate dari kejauhan, Dona melambaikan tangannya sambil tersenyum samar. Lebih baik mulai saat ini ia berhati-hati. Terlalu besar yang akan dipertaruhkannya kalau ia bertindak sembrono, dan hal itu menyangkut dengan nyawanya sendiri.


***


Di salah satu apartemen di kota NY, Amerika.


Terlihat seorang pria sedang berlari di mesin treadmill-nya. Keringat bercucuran dari wajahnya dan turun ke d*danya yang terbuka. Kaki-kakinya yang kuat dan berotot terlihat berkontraksi saat ini. Adanya getaran dari ponsel di saku celana pendeknya tampak mengganggu rutinitasnya saat ini.


Sedikit terengah, pria itu memindahkan kecepatan larinya dan merogoh sakunya. Alisnya mengernyit saat memandang layar dan dengan sigap, ia pun menjawabnya.


"Ya, Tuan Bass? Apakah ada yang Anda butuhkan saat ini?"


Terdengar jawaban dari seberang sana. "Bagaimana dengan Capriati?"


"Sudah terpasang, Tuan Bass. Saat ini sudah dalam proses melakukan backup data. Dalam beberapa menit selesai. Saya akan segera memberikan laporannya bila ada data-data yang Anda cari nanti."


Brasco dapat merasakan senyuman dalam suara pria di telepon. "Tidak akan butuh waktu lebih dari satu jam sampai hal ini diketahui oleh pihak sekuritas IT CBG. Segera selesaikan Brasco, dan jangan tinggalkan jejak apapun. Urusan Capriati dengan kita sudah selesai."


Pria itu menelan ludahnya. "Capriati..."


Terdengar jawaban tegas dari atasannya. "Dari awal, pria itu sudah tahu resikonya bila berurusan dengan ranah pribadi Berlusconi, Brasco. Meski iba, tapi lebih baik dia yang berkorban dibanding keluarganya. Kau sendiri tahu kalau cepat atau lambat, pria itu akan terkena getah dari perbuatannya sendiri."


Kepala Brasco akhirnya mengangguk. "Saya mengerti."


"Hubungi aku segera setelah kau selesai. Aku sudah menyetel agar kedua alat itu otomatis hancur dalam 2 menit setelah semua data ter-backup dengan sempurna."


"Baik, Tuan."


Sejenak, belum terdengar apapun dari seberang sana. "Tuan Bass?"


"Tolong kau urus keluarganya dengan baik, Brasco. Aku ingin dia meninggalkan kesan yang indah untuk keluarganya." Suara atasannya terdengar pelan, tidak tegas seperti sebelumnya.


Kedua mata hijau Brasco menutup erat. Meski sudah bekerja selama hampir 20 tahun untuk keluarga Berlusconi, tetap saja ia masih belum terbiasa dengan hal ini. "Anda jangan khawatir. Semuanya sudah saya persiapkan dengan baik, Tuan."


"Terima kasih, Brasco."


Akhirnya sambungan itu terputus, dan tinggalah Brasco yang masih berdiri di atas treadmill-nya. Kepalanya menengadah ke atas dan ia berteriak keras. Teriakannya penuh dengan rasa marah dan frustasi.


Karena hal inilah, ia mengikuti Maximus Bass selama lebih dari 10 tahun. Ia mengikuti jejak atasannya, agar bisa terlepas dari jerat Berlusconi. Jerat yang tidak akan pernah dapat bisa dilepasnya, sampai ia m*ti nanti.


Keesokannya dalam koran lokal di Italia, terlihat berita dukacita kecil. Berita itu berisi informasi mengenai seorang pejabat IT di perusahaan CBG yang meninggal karena serangan jantung mendadak di kantornya. Pria itu bernama Mauro Capriati, yang pada akhirnya diberikan pemakaman secara hormat oleh perusahaan. Terdapat foto prosesi pemakaman di bawahnya yang dihadiri oleh beberapa petinggi perusahaan dan juga dari pihak keluarga Capriati.


Tertulis jelas ucapan belasungkawa yang diberikan oleh salah seorang petinggi dari CBG pusat yang bernama Amadeo Berlusconi. Di sampingnya tampak saudara kembarnya, Alessandro Berlusconi.


Mereka yang bergerak di bidang bisnis sudah sangat mengenal keduanya sebagai duo-mafioso dalam dunia bisnis. Dan siapapun yang membaca berita ini, telah dapat memperkirakan mengenai kejadian yang sebenarnya terjadi. Namun apa daya, yang namanya kekuasan dan juga uang memang dapat membolak-balikan hati seorang manusia yang lemah.


Semua orang tahu, siapapun yang berani menyerempet keluarga Berlusconi akan segera mendapatkan balasannya berkali-kali lipat dalam waktu yang sangat singkat. Dan hal itu pun berlaku untuk Cesare, meski mereka adalah partner bisnis dalam perusahaan.