
***Song of the day: Imagine Dragons - Wrecked***
Di dalam apartemen Donatella Amari, jam 02.00 pagi.
Tampak di tempat tidur, sosok seorang pria yang nyalang memandang langit-langit kamar. Wajahnya tegang dan urat-urat di lehernya menonjol keluar. Bulir-bulir keringat sebesar jagung, mengaliri wajah dan juga tubuhnya yang polos saat ini. Terdengar d*sahan dan erangan lemah dari bibirnya yang merah.
"Ergh... Ergh... Ergh..."
Sudah selama satu jam ini, pria itu berusaha untuk mengembalikan kontrol tubuhnya. Ia baru bisa membuka mata dan sedikit menggerakkan kepalanya. Tapi ia sama sekali belum bisa bersuara dan memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri. Ia masih lumpuh sementara.
Kedua mata gelapnya melotot dan ia berusaha menengadahkan kepalanya tinggi. Ia menutup matanya erat dan menggertakan giginya. Sekuat tenaga, Maximus berusaha menjerit dan barulah 15 menit kemudian usahanya itu dapat berhasil. Pria itu akhirnya dapat mengeluarkan teriakannya yang kencang di pagi buta.
"Arghhh...!? Arghhh...!?"
Dorongan yang kuat dari otaknya untuk bebas, mulai memberikan Maximus kontrol terhadap tubuhnya lagi. Dengan keras, ia pun mendorong dirinya dan akhirnya terjatuh dari tempat tidur itu dengan keras.
Sejenak terdiam di lantai, akhirnya kedua lengan berotot Maximus perlahan dapat bergerak dan ia pun mendorong tubuhnya pelan dari atas lantai. Sedikit kelelahan dan berkeringat banyak, ia menyender ke tempat tidur dan menyelonjorkan kedua kakinya.
Kedua bahunya naik-turun dengan cepat dan matanya memandang ke sekitar kamar. Maximus tahu kalau ia sudah sangat terlambat, tapi ia tidak mau menyerah dulu.
Memaksa dirinya untuk bangun, Maximus menumpukkan tangannya di tempat tidur dan dengan lemah mengambil celana panjangnya. Susah payah, pria itu mengenakannya dan ketika selesai, ia pun langsung mendorong dirinya ke arah lemari pakaian yang ada di sana.
Tampak Maximus terengah-engah. Gerakan sederhana yang dilakukannya sangat menguras energinya saat keadaannya sedang lemas seperti ini. Ia menempelkan keningnya ke pintu lemari untuk menata aliran nafasnya dan setelah merasa lebih kuat, pria itu mundur dan mulai membuka pintu-pintunya.
Meski mengetahui tidak akan menemukan apapun, tapi Maximus tetap memeriksa laci-lacinya dan juga kamar mandi. Dan sambil berpegangan pada dinding, ia menelusuri tembok itu dan pergi ke ruang tengah. Pandangannya nanar menyapu ke seluruh ruangan yang tampak dingin dan kosong itu.
Tidak ada lagi selimut yang tersampir di sofa. Tidak ada lagi lilin aroma terapi yang tersebar di meja kopi dan juga pantry dapur. Tumpukan kaset video yang tadinya tersimpan di bawah TV pun sudah tidak ada. Tidak ada wangi Dona dan juga aura kehadiran wanita itu lagi.
Kesadaran yang mengantamnya dengan keras ini, membuat Maximus tidak mampu menumpu tubuhnya lagi. Ia akhirnya jatuh berlutut dan terduduk di tengah ruangan. Kedua matanya kembali menyapu ruangan itu dan wajahnya menjadi memerah.
Seumur hidupnya, Maximus Antonio Berlusconi tidak pernah menangis. Ia tidak pernah menangisi apapun. Semua kegagalan dari bisnisnya ia anggap sebagai pecutan. Segala marabahaya yang mengintainya sejak kecil, ia anggap tantangan. Bahkan kematian ibu dan juga teman dekatnya, tidak membuat kedua mata pria itu memerah. Tapi kali ini, tidak hanya memerah tapi matanya pun mulai mengalirkan air di sudutnya.
Untuk yang kedua kalinya. Di hari yang sama. Maximus Antonio Berlusconi menangisi seorang perempuan. Ia menangisi seorang wanita yang untuk kesekian kalinya, kembali pergi dari hidupnya.
Sosok pria yang masih terduduk di tengah ruangan itu, terlihat semakin menunduk. Dan tangan kirinya pun menutupi wajahnya dengan erat. Samar-samar terdengar isakan dan erangan lirih darinya. Gelombang rasa putus asa mulai membungkus pria berambut cokelat gelap itu. Karena untuk kali ini Maximus tahu, kalau ia akan sangat-sangat sulit untuk menemukan wanita itu lagi.
Tidak hanya usaha dan keberuntungan. Tapi pria itu tahu kalau ia akan butuh campur tangan dari yang di Atas, untuk dapat membuatnya menemukan wanita yang sangat dicintainya lagi.
***
Tiga bulan kemudian. Rumah aman, Italia.
"Baiklah, Bale. Aku akan menemuimu besok di sana. Aku harap, kau membawa kabar yang baik untukku."
Tidak lama, pria itu pun memutus sambungan teleponnya dan menatap surat undangan yang masih ada di tangan kanannya. Perlahan, ia membuka surat undangan yang sangat elegan dan berharga mahal itu. Tertera nama sepasang pengantin di sana. Pasangan pengantin yang telah membuat dunia bisnis dan juga keluarga mafia di Italia dan Eropa sedikit heboh, karena pernikahan mendadak keduanya.
Pasangan itu bernama Timothy Eduardo Bianchi dan Maria Eloisa Romano. Keduanya berasal dari keluarga mafia, dan Timothy Bianchi sendiri adalah anak ketiga dari keluarga Bianchi yang saat ini sangat berkuasa di Italia. Sedangkan Maria Romano adalah anak kedua dari keluarga Romano, yang merupakan adik dari Boris Romano yang telah dicap sebagai penghianat keluarga. Meski demikian, kedua kakak-beradik itu masih diakui oleh keluarga besar mereka, karena hubungan baik yang telah dijalin selama ini.
Perbedaan usia keduanya terpaut cukup jauh, sekitar 17 tahun dan tidak ada yang pernah menyangka kalau seorang Timothy Bianchi akan menikahi gadis yang jauh di bawah usianya.
Pria itu terkenal sebagai algojo berdarah dingin. Ia tidak sungkan untuk langsung menghabisi lawannya, bila diperlukan. Dan sejak sekitar 10 tahun lalu, kehidupan pria itu yang tadinya diwarnai oleh para wanita yang cantik dan seksi, tiba-tiba berubah. Ia menjelma menjadi sosok seorang biksu yang dikatakan mengabdi pada satu wanita saja. Dan tidak ada yang tahu siapa wanita itu.
Dan pertanyaan itu baru terjawab setelah semua orang yang terkait, menerima kartu undangan ini.
Bibir merah Maximus tersenyum samar, ketika ia mengingat terakhir kalinya melihat Timothy Bianchi di salah satu konferensi bisnis. Pria menyebalkan yang kalau mood-nya sedang tidak baik, akan mengeluarkan sumpah-serapah dalam berbagai bahasa orang tuanya. Sama sekali tidak peduli kalau orang lain tidak paham apa yang dikatakannya, karena pria itu akan melakukan hal yang memang disukainya saja.
Tidak ada yang bisa mengekang seorang Timothy Bianchi, terkecuali bosnya saat ini. Damian Bale.
Pikiran Maximus masih menerawang ketika terdengar ketukan di pintunya. Tampak Brasco menongolkan mukanya di sana. Perlahan, pria itu maju dan berhenti di belakang atasannya. Tatapan Brasco terlihat sedih meihat kondisi Maximus selama tiga bulan ini. Pria berambut tembaga itu seolah kehilangan nyawanya dan bibirnya yang tersenyum, tampak tidak sinkron dengan kedua mata ungunya yang menatap kosong.
"Sudah waktunya, Brasco...?" Terdengar suara Maximus yang pelan dan letih. Suara sebenarnya.
Kepala Brasco mengangguk singkat. "Benar, Tuan Bass. Sudah waktunya Anda pergi ke rumah utama."
Karena perayaan dari keluarga Bianchi yang cukup besar besok, Giuseppe menitahkan semua anaknya untuk berkumpul dan makan malam bersama di hari ini. Dan meski Maximus adalah anak yang telah terbuang, namun Giuseppe tetap mengharapkan kehadirannya mengingat anak ketiganya itu pun telah mendapatkan undangan secara khusus, sebagai Maximus Bass dan bukan Maximus Antonio Berlusconi.
Perlahan Maximus berbalik dan tubuhnya oleng. Brasco yang melihatnya panik dan langsung menyangga tubuh atasannya yang terlihat jauh lebih kurus dan lemah, dibanding tiga bulan sebelumnya. Brasco sangat tahu kalau Maximus memforsir dirinya dalam pekerjaan dan juga pencarian kebenaran kasus keluarga Liebel. Dan hal ini dilakukannya agar ia dapat melupakan kesedihan karena kepergian kekasihnya.
Hampir tidak tersisa Maximus Bass yang ceria dan santai. Yang ada di hadapan Brasco saat ini adalah seorang pria yang putus asa dan juga sakit. Dan sakit itu bukan karena fisiknya, tapi psikologisnya yang diserang.
"Aku tidak apa, Brasco. Terima kasih..."
"Tuan... Apakah tidak lebih baik kalau Anda istirahat dulu malam ini? Karena besok-"
"Dan melepaskan kesempatan untuk mengetahui rencana keluarga Berlusconi? Tidak Brasco. Aku harus pergi ke rumah utama malam ini. Dan tolong dampingi aku karena aku tidak mau sampai kondisiku diketahui oleh duo-mafioso, terutama Amadeo. Kau paham?"
Menelan ludahnya, Brasco kembali mengangguk. "Saya paham, Tuan. Biar saya bantu Anda sampai mobil."
Tersenyum penuh terima kasih, Maximus menerima uluran tangan dari Brasco."Terima kasih, Brasco..."
Setelah itu, kedua pria itu pun keluar dari ruangan dengan Brasco yang memapah tubuh besar Maximus. Keduanya bersiap untuk menghadapi keluarga besar Berlusconi di rumah utama nanti.