
"Kau sudah sadar?"
Kedua mata Maximus mengerjap-kerjap bingung. Sambil mend*sah, ia beringsut di tempat tidur dan menyenderkan kepalanya di kepala tempat tidurnya. Selain rasa nyeri di bahu kanannya, kali ini ia merasakan ngilu di pipi kirinya. Mengusap rahangnya, mata pria itu menatap tajam sosok Michele di depannya.
"Apakah ini caramu untuk berkenalan?"
Kepala Michele menggeleng keras. Tampak kedua matanya berputar ke atas. "Baru kali ini aku sadar. Bukan nama keluargamu yang menyebalkan, tapi kau memang dari sononya sudah menyebalkan, Bass. Bahkan dalam keadaan sakit, kau bisa membuat seseorang ingin meninjumu!"
Terkekeh pelan, Maximus mengusap-usap pipinya yang sedikit memar. Pelan, ia menurunkan kakinya dari tempat tidur dan duduk sedikit tegak. Menyadari kancing kemejanya yang terbuka, ia mulai mengancingkannya hingga ke tengah d*da. Beberapa kancingnya ternyata telah terlepas dari tempatnya.
"Jam berapa sekarang?"
Michele sejenak terdiam. "Jam 13.00. Kau tidak sadar selama 2 hari, Bass."
"Apa!?"
"Aku belum mengatakannya tadi sebelum kau pingsan ya? Kau itu hampir 'lewat' karena kehabisan darah. Untung saja kau mendapatkan pasokan darah dari dia dan tubuhmu cukup kuat, membuatmu bisa melewati masa kritismu. Dan oh ya, sekarang sudah hari minggu."
Benak Maximus langsung berputar cepat. Kalau ketiadaannya selama 2 hari sampai tercium oleh keluarga Berlusconi, maka tidak menutup kemungkinan orang itu akan semakin mengincarnya.
"Aku harus segera pergi."
Ia masih sempoyongan saat berdiri, membuatnya harus berpegangan pada tempat tidur.
Kepala Michele hanya bisa menggeleng pelan. "Terserah kau saja. Tapi kalau kau tidak ingin keluarga besarmu sampai tahu keadaanmu, lebih baik kau kembali lagi ke sini untuk berobat jalan. Kau tahu sendiri, kalau keluargamu itu memiliki banyak jaringan di rumah sakit sini."
Benar yang dikatakan oleh Michele. Ia tidak mungkin datang ke rumah sakit dengan luka tembak.
Menyadari sesuatu, Maximus meraba-raba kantong celana jins-nya.
"Mencari ini?" Tampak Michele memegang sebuah ponsel yang ternyata dalam kondisi m*ti.
Saat melihat Maximus membolak-balik ponselnya, Michele berkata tenang. "Sepertinya hanya batere-nya yang habis. Saat kau dirawat, hampir 20 kali ponsel itu berbunyi sampai batere-nya habis. Mungkin kau bisa men-charge-nya nanti di rumah."
Kali ini, Maximus memperlihatkan senyum penuh rasa terima kasih pada pria itu. "Terima kasih, Michele."
Tampak muram, Michele menyodorkan tangan kanannya dan menggulirkan kalung emas yang tadi sempat di lemparnya ke tangan Maximus yang terbuka.
"Jangan berterima kasih padaku. Tapi berterima kasihlah pada wanita yang menolongmu."
"Wanita?"
"Orang yang menolongmu. Namanya adalah Gia."
Terlihat nama itu terukir dalam liontin yang sedang dipegang oleh Maximus. Kepalanya mendongak dengan pandangan bertanya pada Michele. "Sepertinya kau sangat mengenal orang ini. Siapa dia, Michele?"
Pertanyaan itu malah membuat Michele melangkahkan kakinya ke pintu. Ia memegang gagang pintu dan menatap Maximus yang masih berdiri di sisi tempat tidur. Pandangan pria berambut cokelat itu tampak muram ketika berkata pelan.
"Tugasmulah untuk mencari tahu mengenai orang itu. Tapi aku yakin, kalau kau nanti akan menyesal telah dilahirkan dalam keluarga Berlusconi, Bass."
Setelah itu, Michele pun langsung keluar ruangan dan menutup pintunya rapat. Pria itu meninggalkan Maximus yang masih kebingungan, dengan memegang seutas kalung tipis di tangannya.
Kembali Maximus mengamati liontin kecil itu dan melihat dua nama yang tertera di sana, Gia dan Gio. Kedua nama itu cukup umum di Italia, seperti John dan Jane di Amerika. Apa istimewanya nama ini?
Tapi raut mukanya perlahan mulai memucat, ketika ia menyadari sesuatu dari masa lalunya. Kedua nama yang tertera di liontin ini, mengingatkannya pada kejadian yang sangat ingin dilupakannya.
***
"Tuan Bass? Anda masih butuh bantuan saya?"
Maximus menggeleng pada Brasco yang masih berdiri di sampingnya. Saat ini, mereka sedang berada di salah satu rumah aman di Italia. Rumah Maximus pribadi yang sama sekali tidak diketahui oleh keluarga besarnya. Hampir tidak pernah ia menginap di rumah keluarganya tiap kali berkunjung ke Italia. Mereka hampir tidak menganggapnya ada, dan ia pun demikian.
Kepala Maximus kembali berpaling menatap pemandangan kolam renang di depannya. Kedua tangannya berada di saku celananya. Tampak kalau ia sama sekali tidak berminat untuk bercakap-cakap ringan seperti biasanya dengan asistennya itu.
"Kau pergilah, Brasco. Aku akan menghubungimu lagi."
Pandangan Brasco terlihat murung. Ia cukup mengenal pria di depannya ini, yang tampaknya masih marah karena perkataannya tadi di kantor CBG.
Sambil menghela nafas dalam, ia berkata. "Baik. Silahkan Anda menghubungi saya atau Roberto kalau butuh sesuatu. Saya permisi sekarang."
Setelah terdengar bunyi pelan pintu yang tertutup rapat di belakangnya, barulah Maximus membalikkan badannya. Merogoh saku celananya, ia kembali mengeluarkan kalung emas yang tadi dipegangnya. Kedua alisnya terlihat berkerut dalam.
Pria itu menyenderkan punggungnya ke jendela kaca di belakangnya dan menengadahkan kepalanya. Kedua matanya menutup sangat erat. Tampak ia menelan ludahnya keras sambil semakin kencang menggenggam kalung di tangan kanannya.
Entah kapan aku bisa bertemu denganmu, Gia. Aku ingin berterima kasih karena telah menyelamatkanku. Tapi sepertinya, aku juga harus menyerahkan nyawaku bila kau menginginkannya.
Pemikiran ini membuat Maximus menundukkan kepalanya sambil menekan kepalan tangan kanannya di mulutnya. Pikiran pria itu sangat kalut, membuatnya terdiam di posisinya selama beberapa waktu.
***
Kantor MB Company di Amerika. Lantai basement parkiran. Jam 20.30.
Baru saja Dona akan membuka pintu mobilnya ketika mendengar langkah kaki yang terburu-buru di belakangnya."Dona!"
Tampak Kate berlari-lari kecil menyusulnya, Sampai di depan Dona, temannya sedikit menunduk dan menarik nafasnya dalam. Wanita itu memegang bagian d*danya dan berusaha mengatur nafasnya.
"Oh, syukurlah kau belum pulang."
Dona hanya menatap temannya dengan pandangan bertanya-tanya. "Memangnya ada apa, Kate? Apakah ada barangku yang tertinggal?"
Pertanyaan itu membuat senyum Kate melebar dan terkekeh pelan. "Tidak. Sebanarnya aku ingin menebeng padamu. Mobilku tiba-tiba ngadat dan barusan mobil derek baru mengambilnya. Apartemen kita satu arah. Bolehkan aku menumpang mobilmu?"
Penjelasan itu membuat Dona tersenyum simpul. Ia menunjuk pintu penumpang di seberangnya dan berkata ramah. "Masuklah."
Sangat berterima kasih, Kate memasuki mobil Dona. Sepanjang perjalanan, keduanya mengobrol singkat tentang pekerjaan dan juga gosip di kantor. Tanpa terasa, mobil Dona sudah mulai memasuki pelataran lobby tower tempat Kate tinggal.
Baru saja ia memarkirkan mobilnya, ketika melihat Kate tampak merogoh tas tangannya dengan raut yang panik. Wanita itu bahkan mengeluarkan isinya di pangkuannya, dan mengeluarkan hampir semua kosa-kata sumpah serapah yang selama ini diketahuinya.
"Oh! S*al! S*al! Ada apa dengan diriku hari ini!"
Dengan masih memegang kemudinya, Dona bertanya hati-hati pada temannya yang terlihat tidak baik saat ini. "Kenapa lagi, Kate? Jangan katakan kalau kau meletakkan dompetmu di laci dashboard mobilmu lagi."
Kate punya kebiasaan buruk. Ia selalu menyimpan access card apartemennya di dalam dompetnya. Dan dompet itu selalu dibawanya ketika ia akan makan siang di luar. Ia juga selalu meletakkan benda itu di laci dashboard mobilnya. Hampir setiap kali Kate kembali dari makan siang di luar kantor, ia akan meninggalkan benda itu di sana dengan santainya.
Siang tadi, Kate dan Dona makan siang di restoran dan cukup jelas, kalau dompet wanita itu sekarang memang tersimpan di mobilnya. Masalahnya, sekarang mobil itu berada di bengkel. Dan melihat waktu yang saat ini sudah cukup malam, kecil kemungkinan bengkel tersebut masih buka.
Kedua mata Kate tampak berkaca-kaca ketika memandang temannya. Ia terlihat hampir menangis saat ini saat menyadari keb*dohannya. "Dona..."
Mata Dona mengerjap dan bibirnya menyunggingkan senyum maklum. "Mau menginap di tempatku malam ini? Karena besok hari sabtu, aku akan mengantarmu ke bengkel untuk mengambil mobilmu."
Tampak Kate berusaha menahan tangisnya, membuat muka cantiknya berkerut. Ia memeluk Dona dengan erat. "Oh, Dona. Kau memang teman sejatiku."