The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Epilog



Pada suatu waktu. Dekat dermaga XYZ. Kota NY. Amerika.


Di kegelapan malam yang pekat, di sebuah perairan yang cukup sepi, tampak sebuah speedboat yang mengapung di atas permukaan. Sudah sejak dua jam yang lalu, kapal kecil bermesin itu sama sekali belum bergerak dari tempatnya berlabuh. Di atasnya, terlihat sosok seseorang berambut panjang dan sedang duduk. Ia tampak memegang sesuatu yang berkilat saat ini.


Sosok berambut panjang itu adalah Giovanna Donatella Liebel. Sudah sejak dua jam yang lalu pikirannya berkelana dan selama itu pulalah, wanita itu mempertimbangkan keputusan yang akan diambilnya.


Dalam menjalani kehidupannya selama beberapa tahun ini, wanita itu sudah merasa lelah. Ia mulai lelah harus hidup dalam ketakutan dan ketidaktenangan. Selalu saja, ia merasa curiga dengan sekitarnya membuatnya tidak mampu untuk menjalin relasi yang normal dengan orang lain. Ia takut kalau orang yang mendekat padanya berintensi buruk atau justru, ia sendirilah yang akan membawa kesialan pada orang itu.


Ia bukanlah wanita yang lemah tapi itu dulu, sebelum ia kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya, dan dengan cara yang tragis dan menyedihkan. Terenggutnya kebahagiaannya satu-demi satu membuat Giovanna getir dalam menjalani hidupnya. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup dan apa tujuan hidupnya selama ini, selain lari dan lari untuk menjauhi sesuatu yang selalu mengejarnya dalam bayangan.


Mengangkat benda di tangannya, Giovanna mengusap pistol yang berperedam itu. Benda berbahaya ini adalah hadiah dari Michele, satu-satunya orang yang menjadi pelindungnya selama ini. Kalau tidak ada sepupunya itu, mungkin Giovanna sudah menjadi g*la karena tekanan yang kuat selama bertahun-tahun ini.


Memandang kosong ke depan, kedua mata cokelat Giovanna mulai berair. Benaknya mulai mempertanyakan kembali eksistensi hidupnya. Untuk apa ia hidup? Untuk apa ia ada, kalau tidak ada seorang pun yang akan kehilangannya, jika ia mati nanti? Untuk apa ia bertahan, kalau ia pun tidak punya kekuatan apa-apa untuk merubah nasibnya saat ini?


Semua yang disayanginya telah ada jauh di bawah tanah. Tenang dalam kehidupan mereka yang sunyi. Mungkin ia masih hidup, tapi jiwanya sama saja sudah mati seperti mereka.


Perlahan, wanita itu mengarahkan moncong senjatanya pada pelipisnya sendiri. Kulitnya merasakan tekanan dari besi yang dingin itu. Menarik nafasnya dalam, kedua mata cokelatnya mulai menutup pelan. Benaknya membayangkan kedua orang tuanya dan juga kakak lelaki yang sangat disayanginya.


"Papa... Mama... Gio... Aku ingin menyusul kalian sekarang... Tunggulah aku..."


Jari telunjuknya sudah berada di pelatuk, siap untuk menekannya.


Tampak lelehan air mulai keluar dari salah satu matanya. Ia tidak ingin melakukan ini. Ia tidak mau melakukan ini tapi ia sudah tidak tahan lagi!


Menarik nafas dalam untuk terakhir kali, telunjuk Giovanna mulai menekan pelatuk besi itu ketika tiba-tiba terdengar suara keras sesuatu, yang membentur permukaan air yang tadinya tenang itu.


Kedua matanya langsung membelalak lebar. Dan ketika menyadari apa yang hampir saja dilakukannya, wanita itu langsung melemparkan senjata itu ke bawah. Tubuhnya gemetar. Ia pun segera menyalakan mesin speedboat-nya dan mulai bergerak menjauh. Apa yang dipikirkannya tadi!?


Entah kenapa, bulu kuduknya terasa merinding dan secara insting, kedua matanya memandang ke atas. Di jembatan, tampak sosok gelap seperti sedang mencari-cari sesuatu di permukaan. Giovanna mengarahkan pandangannya ke bawah dan matanya menangkap sosok seseorang yang sedang mengapung di sana, dan untungnya posisinya tepat di bawah jembatan sehingga sosok di atas tidak bisa melihatnya jelas.


Apa mau orang itu?


Mengikuti instingnya, Giovanna refleks melemparkan senjata tadi ke dalam air, menimbulkan suara percikan yang cukup keras. Tampak sosok di atas itu memperhatikannya dan tidak lama, orang itu pergi meninggalkan jembatan dan terdengar suara kendaraan yang semakin lama semakin meninggalkan lokasi.


Tidak mau membuang waktu, ia semakin mengarahkan kapalnya pada lokasi orang yang di air tadi. Cuaca cukup dingin dan kalau orang itu terlalu lama berada di air, ia bisa kena hipotermia nanti.


Sedikit khawatir, Giovanna menyinari permukaan air di depan kapalnya dengan menggunakan senter dan menemukan orang yang dicarinya. Ketika melihat orang itu mulai tenggelam, akhirnya ia memutuskan untuk terjun dan menyelam.


Tangan mungilnya dengan susah payah menarik dan memeluk tubuh orang itu yang ternyata seorang pria. Tubuhnya sangat besar, membuat wanita itu cukup kepayahan menariknya dan membuat muka lelaki itu agar selalu berada di atas permukaan air. Dan dengan menggunakan katrol, akhirnya ia berhasil membawa pria itu ke atas kapal dan membaringkannya di sana.


Beberapa kali ia memberikan bantuan CPR, barulah pria itu terbangun tapi langsung pingsan lagi. Ia baru menyadari kalau orang ini tertembak dan tanpa sengaja, ia telah terlibat dengan sesuatu yang sama sekali tidak diinginkannya dan telah dihindarinya beberapa tahun ini. "Ya Tuhan..."


Baru saja ia menghindar dari kematian yang akan dibuatnya sendiri, sekarang ia terlibat lagi dengan sesuatu yang berisiko membuat malaikat pencabut nyawa mendekatinya lagi. Kenapa kematian sangat senang berkeliaran di sekelilingnya selama beberapa tahun ini?


S*alan!


Sambil menekan luka yang terbuka itu dengan kain seadanya, ia menghubungi seseorang lewat ponselnya.


"Michele? Aku butuh bantuanmu sekarang."


Masih menekan luka itu tanpa mempedulikan tampang orang di bawahnya, Giovanna kembali berkata. "Aku menyelamatkan seseorang yang tertembak. Tidak sengaja. Apa kau bisa menolongku?"


Kepala Giovanna mengangguk dan wanita itu pun beranjak untuk mengarahkan kapalnya ke suatu tempat. Sambil mempercepat laju speedboatnya, ia memandang lelaki yang masih tidak sadar itu dan bergumam. "Kau sangat beruntung kawan, karena aku mau menyelamatkan nyawamu. Tidak... Mungkin akulah yang beruntung di sini karena kalau kau tidak jatuh, mungkin aku sudah menembak kepalaku sendiri tadi."


Rambut hitam wanita itu berkibar-kibar diterpa angin malam dan kali ini ia tersenyum kecil. Entah kenapa, tapi pria asing ini sepertinya berhasil membangkitkan semangat hidupnya yang tadi telah pudar. "Sepertinya, malam ini kita sama-sama saling menyelamatkan nyawa masing-masing. Kita sama-sama berhutang budi. Terima kasih, brother... Siapa pun namamu..."


Malam itu, Giovanna Donatella Liebel telah menyelamatkan nyawa Maximus Antonio Berlusconi. Takdir keduanya akhirnya bersilangan kembali, setelah bertahun-tahun lamanya. Dan takdir ini akan membawa pertemuan mereka kembali untuk berikutnya.


Karena malam itu, Giovanna sama sekali tidak sadar kalau ia telah menjatuhkan kalungnya yang sangat berharga, tepat ke dalam telapak tangan Maximus. Dan dengan berbekal benda itulah, pria itu dapat memulai pencariannya lagi, terhadap wanita pujaannya.


***Ending song: Sia - Unstoppable***


FIN