The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 21 - (Un)happy hug



Ruangan terasa hening saat ini. Tubuh Aiden Brasco sangat kaku, saat ia baru menyadari kecerobohannya. Melirik pria di depannya, ia dapat melihat postur Maximus membeku seperti papan. Wajahnya terlihat tegang dan seperti patung.


Melihat ada benda di kakinya, Dona berjongkok dan meraupnya. Raut mukanya terlihat tertarik ketika melihat dua bola besi yang saat ini ada di tangannya. Tampak grafir bertuliskan 'MAB' tertera jelas di sana. Sisa kehangatan dari orang yang sebelumnya menggenggamnya masih terasa pada keduanya.


Saat mendongak dan kedua matanya menatap sosok pria yang ada di depannya, barulah wanita itu menyadari sesuatu. Orang yang ada di depannya berbadan tinggi dan besar. Tampak tubuhnya terbalut jas berwarna biru belap dan bergaris-garis putih. Tangan dan kakinya terlihat jenjang dari belakang. Dan yang menonjol adalah rambutnya yang berwarna merah tembaga.


Otomatis, mata wanita itu membola saat ini. Dengan gugup, Dona menoleh pada Brasco yang wajahnya tampak seputih kapas.


Melihat kalau wanita di depannya ini mengenali sosok atasannya, Brasco langsung merebut map laporan dari tangan wanita itu dengan kasar. Ia juga mengambil kedua bola besi milik Maximus dengan terburu-buru. "Kau sudah selesai? Kalau begitu, kau bisa keluar sekarang, Amari. Saya tidak membutuhkanmu saat ini."


Tertegun dengan perlakuan Brasco, Dona menundukkan kepalanya. Baru kali ini, Brasco memperlakukannya dengan cukup kasar. Mungkin ia memang masuk ke ruangan di saat waktu yang tidak tepat. Tidak mau berfikiran negatif, wanita itu langsung pamit dan keluar dari ruangan.


Kembali ruangan terasa hening saat ini. Sampai akhinya Maximus memecahkannya. "Dia masih di sini?"


Guratan rasa bersalah terlihat di muka Brasco. "Ya. Maafkan saya."


"Green?"


Terlihat Brasco sulit menelan saat ini. "Ya."


Terdengar d*sahan lelah dari Maximus. Bahunya tampak turun dan kepalanya sedikit menunduk.


Sedikit ragu, Brasco mengulurkan kedua bola besi itu pada Maximus. Mengembalikannya pada pemiliknya. "Tuan. Barang Anda."


Tampang Maximus muram ketika menerima benda kesayangannya. Ia pun menyimpannya kembali ke kantong celana kirinya. Setelah itu, ia meraih amplop yang ada di meja kopi dan memandang Brasco. Pandangannya berubah sangat dingin saat ini.


"Brasco. Aku akan menghukummu karena kelalaianmu."


Sorot ketakutan tampak di kedua mata pria itu. Brasco sangat tahu kapasitas dan apa yang bisa dilakukan oleh orang di depannya ini. Dan kesalahannya tadi cukup fatal.


Tanpa ada tanda apapun, pipi kanan Brasco menjadi sasaran kemarahan Maximus. Meski hanya tamparan, tapi tamparan itu sangat keras dan membuat Brasco terhuyung ke samping. Pria itu hampir saja terjatuh dari posisinya. Rasa sakit yang menyebar di pipinya seolah seseorang telah menonjoknya dengan kencang. Tampak bibirnya sedikit sobek dan bercak darah muncul di sudut mulutnya.


Ekspresi Maximus masih terlihat datar, hanya mata ungunya yang tampak lebih terang dan menajam, menandakan kemarahan pria itu yang amat sangat.


"Aku sangat ingin mematahkan lehermu saat ini, tapi aku masih sangat membutuhkanmu. Dan kalau tidak mengingat dedikasimu pada keluarga selama hampir 20 tahun, aku tidak akan berfikir dua kali untuk menyingkirkanmu dari lingkaran keluarga Berlusconi dengan cara yang sangat tidak menyenangkan, Brasco."


Tubuh pria itu kembali tegak dan kaku menghadapnya. "Hanya karena aku belum pernah memb*nuh seseorang, bukan berarti aku tidak akan melakukannya seperti duo-mafioso. Selalu ada yang namanya pertama kali dan aku harap, bukan kaulah orangnya. Kalau kau memang tidak menyukai caraku atau tidak bisa mengikuti keinginanku, aku tidak pernah melarangmu untuk pergi. Saat ini. Sekarang juga."


Kata-kata Maximus sangat menyakiti Brasco. Bukan karena membuatnya marah, tapi lebih karena ia merasa kecewa pada dirinya sendiri yang telah membuat atasannya berang.


Maximus bukanlah atasan yang penuntut, tapi ia sangat menjaga komitmen yang telah dibuat. Adanya kesalahan yang terjadi karena kurangnya kontrol terhadap komitmen, maka ia dapat bertindak sangat keras dan marah luar biasa. Yang lebih menakutkan, ia bukannya marah-marah seperti orang normal, tapi ia akan melontarkan perkataan yang sangat menyakitkan dengan nada datar. Seperti sekarang ini.


Brasco sangat berhutang budi pada Maximus. Beberapa kali, pria itu telah membelanya dari amarah keluarga Berlusconi dan menyelamatkan nyawanya. Sampai terakhir, akhirnya Maximus menjadikan Brasco sebagai asistennya, agar suatu saat pria itu bisa lepas dari jerat Berlusconi.


Dan hal yang sedang diupayakan oleh Maximus saat ini, salah satunya adalah untuk tujuan itu dan ia hampir saja mengacaukannya tadi.


Terlihat lelehan air di pipi Brasco dan pria itu menutup matanya erat. "Maafkan saya, Tuan..."


Perlahan, senyuman samar muncul di bibir Maximus. Dengan santai, ia menepuk bahu Brasco dan langsung melenggang ke arah pintu keluar. Sedikit menoleh pada Brasco, ia berkata dengan nada datar sebelum keluar dari ruangan itu. "Aku mempercayakan hidupku padamu, Brasco. Tolong jangan kecewakan aku."


Sementara itu di tempat lain, Dona baru sampai ke apartemennya ketika jam menunjukkan pukul 22.00.


"Anthony?"


Panggilan itu membuat Anthony mendongak. Terlihat senyuman kecil di bibirnya. "Selamat malam, Dona. Kamu baru pulang juga?"


Kepala Dona mengangguk dan ia tersenyum lebih cerah. "Aku bertemu dengan seseorang hari ini."


Pria itu mengeluarkan kartu aksesnya dan memutar-mutarnya di tangannya. "Memangnya siapa yang kamu temui? Kamu kelihatannya senang sekali."


Tidak jadi masuk, Dona menyender santai di pintunya. "Temanmu. Maximus Bass."


"Oh?" Raut pria itu terlihat datar dan tidak tertarik dengan berita itu.


Kedua mata Dona mengamati Anthony dari atas ke bawah dengan perlahan. Tanpa sadar, ia bergumam pelan. "Ternyata memang benar..."


Mendengar itu, alis Anthony berkerut dalam. "Ternyata benar apanya?"


Wanita itu memandang tetangganya cukup intens. "Seperti katamu dulu. Ternyata kalian memang sangat mirip, padahal aku hanya manatapnya dari belakang. Saat aku melihatnya tadi, aku merasa seperti melihatmu saja. Tapi dengan penampilan berbeda."


Kedua mata Anthony menunduk melihat kartu di tangannya. "Bagaimana menurutmu?"


Pertanyaan itu membuat kepala Dona meneleng. Ia tidak mengerti. "Hem? Bagaimana menurutku? Maksudmu? Maaf, tadi aku belum paham pertanyaanmu."


Tampak kedua mata gelap pria itu mengerjap cepat dan ia mendongak untuk memandang wanita di depannya. "Maaf Dona. Aku sangat lelah malam ini. Mungkin percakapan ini bisa kita teruskan besok atau di hari lain saja. Bolehkan?"


Penolakan Anthony untuk menjawabnya sejenak membuat Dona terdiam, tapi akhirnya ia mengangguk.


Saat melihat pria itu akan masuk ke unitnya sendiri, Dona tiba-tiba menghentikannya. "Tony? Bolehkah aku meminta pelukanmu? Seperti biasanya?"


Sejak meminta pria itu untuk menjadi kakaknya dua minggu lalu, Dona memberanikan diri untuk meminta pelukan dari Anthony hampir setiap malam. Hal ini disadarinya dapat membantunya untuk tidur lebih nyenyak di malam hari. Kehangatan yang tersebar dari pria itu, membuatnya merasa lebih tenang. Ia seperti merasa memeluk kakaknya, yang dulu selalu melindunginya.


Tersenyum cerah, Anthony membuka lebar kedua tangannya. "Kemarilah."


Dengan cepat, Dona melemparkan diri ke tubuh terbuka pria di depannya. Tangan mungilnya melingkari pinggang Anthony dan memeluknya erat. Ia sangat suka kehangatan Anthony. Ia juga sangat suka wangi tubuh pria ini yang unik dan khas. Seperti biasa, Dona menutup matanya erat dan menikmati pelukan dari pria ini selama beberapa menit.


Setelah puas, barulah ia melepaskan Anthony dan tersenyum gembira.


"Terima kasih, Tony. Selamat malam."


Pelan, pria itu menepuk kepalanya dan balas tersenyum hangat. "Selamat malam. Dan mimpilah indah."


Keduanya pun berpisah di lorong dan memasuki unit masing-masing.


Malam itu, Dona dapat tertidur dengan nyenyak dan tampak bermimpi indah dalam tidurnya. Bibirnya terlihat tersenyum dan posisi tubuhnya sangat rileks.


Sedangkan di tempat lain, tampak seorang pria sedang gelisah di tempat tidurnya. Matanya nyalang dan tampak liar ketika memandang langit-langit kamarnya.


Giovanni. Aku memang telah bersalah, padamu dan pada keluargamu. Tapi, apakah kau memang harus terus menghukumku dengan cara seperti ini?