
Flashback 6 tahun lalu. Di hotel CBG Italia. Saat perayaan pesta tahun baru, jam 23.45.
"Papa. Apa maksud papa? Papa tidak serius kan?"
Tampak seorang gadis bergaun pesta biru metalik, mencoba memisahkan diri ke luar ruangan ballroom yang tampak ramai itu. Ia mengenggam sebuah ponsel dan berbicara dengan pelan, namun penuh tekanan. Dirinya tampak marah saat ini, meski suasana sekitar terlihat meriah dan penuh keceriaan.
Kedua mata gadis itu terlihat memerah dan mulai berair. Bibirnya bergetar ketika ia melontarkan pernyataan marah dalam bahasa Jerman. "Papa! Sampai kapan pun, aku tidak akan mau menjadi milik Berlusconi! Lebih baik papa menendangku dari kartu keluarga sekarang, dibanding aku harus menikahi salah satu dari keluarga mereka!"
Jawaban orang di seberangnya semakin membuat gadis itu naik pitam. "Aku tidak perlu bertemu dengan dia, papa! Karena aku tidak akan pernah mau menikahinya! Kenapa papa harus memaksaku seperti ini!?"
Salah satu tangan gadis itu terkepal kencang dan tubuhnya mulai bergetar. Ia sangat marah saat ini. Namun kata-kata yang didengarnya dari orang yang diteleponnya, pada akhirnya membuat gadis itu menutup matanya erat. Ia terlihat menarik nafasnya dalam dan kedua alisnya berkerut.
Kepalanya sedikit menunduk ketika orang di ponselnya itu masih berbicara. Ketika akhirnya gadis itu berbicara lagi, suaranya terdengar jauh lebih rendah dan tampak kalah. "Baiklah. Aku mengerti. Hanya perlu satu kali saja aku bertemu dengannya kan? Untuk janji makan siang besok?"
Gadis itu menganggukkan kepalanya dan mend*sah keras. "Papa. Aku memegang janjimu itu!"
Dengan kesal, ia mematikan sambungan teleponnya dan menyender pada dinding di belakangnya. Masih merasakan gumpalan rasa marah di d*danya, ia akhirnya masuk lagi ke ballroom dan langsung menghampiri meja champagne. Mengambil salah satu gelas tinggi yang ada di sana, gadis itu langsung menenggaknya habis. Tidak puas, ia mengambil lagi gelas kedua dan menenggaknya hingga tinggal setengah.
Tubuhnya sedikit bergetar karena menahan dorongan untuk menjerit. Ia butuh pelampiasan saat ini.
Matanya sedikit nyalang ketika menyapu ruangan ballroom yang ramai itu. Ia mencari sosok pria yang diinginkannya sebagai tempat penyaluran kemarahannya. Ketika akhirnya menemukan orang itu, kakinya baru saja melangkah saat melihat pria tersebut tidak sendiri.
Kakaknya yang berambut hitam tampak sedang mengobrol akrab dengan seorang pria tinggi yang berambut tembaga. Tubuh pria yang berjas pesta hitam itu membelakanginya, membuat gadis itu hanya bisa memandang punggung lebarnya. Saat lelaki itu sedikit menoleh ke samping, ia hanya dapat menangkap profile mukanya sekilas. Tampaknya ia berhidung mancung dan bibirnya berwarna merah.
Gadis mungil yang bernama Giovanna itu sedikit ragu untuk melangkah mendekati. Meski sangat akrab dengan kakaknya, tapi pria itu sangat tidak suka diganggu saat ia sedang membicarakan bisnis dengan partnernya. Giovanna pernah disemprot habis oleh kakak lelakinya ketika ia dengan seenaknya masuk ke ruang kerja Giovanni, ketika lelaki itu ternyata sedang berdiskusi serius dengan ayah mereka. Hal ini membuatnya kapok untuk sembarangan mengganggu lelaki itu saat ia sedang bekerja.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk menyesap habis champagne-nya kemudian dengan lesu melangkahkan kakinya ke luar, menuju balkon. Udara yang dingin menyapu wajahnya yang mulai terasa panas karena pengaruh alkohol. Gadis itu mulai menyesali telah meminum champagne-nya dengan sembarangan tadi, padahal batas toleransinya terhadap minuman beralkohol sangat rendah.
Merasakan badannya yang mulai sempoyongan, Giovanna menyenderkan tubuhnya ke dinding belakangnya. Selama beberapa saat, ia hanya menikmati udara malam sambil menutup matanya erat. Ia sedikit mengutuk Giovanni yang telah mengambil permennya tadi, padahal benda itu cukup bisa membantunya untuk dapat tetap sadar ketika ia berada dalam kondisi mabuk.
Tiba-tiba, harum menyejukkan menerpa hidungnya. Aroma ini tercium menyenangkan, antara campuran parfum mahal dengan permen mint yang segar.
Permen mint?
Kedua mata Giovanna perlahan membuka. Di depannya tampak seorang pria yang sedang bersender santai di pagar balkon. Wajahnya tidak terlalu jelas karena suasana yang remang-remang, hanya rambutnya yang tampaknya berwarna cokelat gelap terlihat sedikit melambai-lambai karena terpaan angin malam itu.
Langkahnya terasa ringan ketika ia mendekati pria yang tampak tersenyum simpul karena sesuatu itu. Saat ia membuka mulutnya, otak Giovanna yang sudah sedikit kacau membuatnya menjadi kurang dapat memilih dan memilah bahasa yang digunakannya saat ini. Ia akhirnya melontarkan pertanyaan dengan tanpa berfikir lagi, karena tujuannya adalah permen yang dimiliki oleh orang di depannya ini.
"Maaf... Apakah saya boleh meminta permen Anda?"
Tampak pria itu menoleh dan memandangnya. Penerangan dari belakang kepala pria itu membuat wajahnya gelap dan Giovanna tidak bisa melihat jelas mukanya. Ia hanya dapat melihat garis rahangnya yang tegas dan hidungnya yang lurus. Bibirnya tampak berwarna merah.
Kepalanya yang sedikit pusing membuat Giovanna sedikit terhuyung dari posisinya dan terasa pelukan yang mantap di pinggangnya. Sentuhan itu terasa sopan dan menenangkan, membuat gadis itu tidak ragu untuk menyentuh lengan pria di depannya. Sedikit mencengkramnya sebagai pegangan.
"Anda... ti... apa-apa...?" Suara pria itu mulai terdengar tidak jelas di telinganya tapi ia masih dapat menangkap kalau itu bahasa Jerman. Gadis itu hampir menyerah karena mabuknya. Hal ini membuat Giovanna semakin mengeraskan rahangnya dan mengambil nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk dapat tetap sadar sekarang.
"Hem... Yah... Hem... Hem... Boleh saya meminta permen dari Anda?"
Ia membutuhkan permen itu sekarang! Ya Tuhan! Ia berjanji tidak akan pernah minum sembarangan lagi!
Entah apa yang dilakukannya kemudian, tapi yang diingatnya adalah ia merasakan adanya kehangatan di bibirnya dan suara serak yang sangat lembut di telinganya. "Buka mulutmu, mungil..."
Dalam hati, Giovanna bersyukur. Akhirnya mulutnya yang tadinya pahit, mulai terasa sedikit segar karena cita rasa permen mint yang mulai menyebar di rongga mulutnya. Permen yang pedas dan dingin itu sedikit mengembalikan kesadarannya.
Menengadah memandang pria yang ternyata sedang memeluknya ini, Giovanna tersenyum. Hanyalah siluet yang ada di hadapannya, tapi ia merasa sangat nyaman di pelukan orang ini. Tubuhnya besar dan sangat hangat, membuat gadis itu betah untuk melingkarkan tangannya di tubuhnya yang tinggi.
Siapa dia? Gio?
Tiba-tiba, kedua mata gadis itu disilaukan oleh cahaya berwarna-warni yang menyala terang di langit-langit yang tadinya berwarna gelap. Suara dentuman dan petasan yang meluncur ke angkasa pun, membuat telinganya serasa tuli saat ini.
Dalam kegelapan dan sinar-sinar yang menyilaukan di atasnya, ia dapat melihat sosok kakak lelakinya yang sedang memandanginya dari atasnya.
Oh ya. Tadi aku datang bersama Gio. Gio, kakakku sayang. Gio, kakakku yang menyebalkan...
Cukup heran karena Gio belum mencium pipinya, Giovanna menarik leher jenjang pria yang ada di hadapannya dan mencium pipinya mesra. Kedua mata gadis itu tertutup dan bibirnya tersenyum saat menyentuh pipi yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Ia sangat sayang pada kakaknya ini.
"Selamat tahun baru, Gio... I love you, brother..."
Dan setelah itu, ia pun tidak ingat apa-apa lagi.