
Vivi dan Vishnu menginap di sebuah hotel di tengah kota. Sam sudah menyiapkan semua ini sejak 3 hari lalu ia sudah membookingkan hotel untuk mereka. Dan atas permintaan Vishnu, Sam memesankan kamar yang luas. Setelah mendapat kartu akses, mereka segera langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, aku istirahat sebentar ya. Kalau kamu mau jalan jalan keluar, ga masalah. Tapi jangan pulang malam malam. Hati hati banyak copet di sini." ucap Vishnu.
"Hm, ya sudah. Aku akan berjalan jalan keluar sebentar, aku mau mandi dulu. Kamu mandilah nanti setelah bangun, aku akan menyiapkan pakaianmu." jawab Vivi.
"Ok thanks sweety."
Vivi meninggalkan Vishnu yang sudah terlelap di kasur. Setelah selesai mandi, Vivi pun berjalan jalan untuk melihat lihat keadaan sekitar. Sebenarnya, ia sangat ingin berjalan jalan seperti ini bersama Vishnu, namun saat ini Vishnu sedang kelelahan karna selama di pesawat, ia tidak tidur, sedangkan Vivi tertidur disamping Vishnu dan meletakkan kepalanya dibahu Vishnu yang membuat bahu suaminya itu pegal. Hanya saja, Vishnu tidak mau menunjukkannya di depan Vivi.
Vivi semakin penasaran ingin melihat seperti apa keindahan Amsterdam sebagai ibu kota ini. Vivi hanya membawa blackcard, ponsel, dan juga kartu pengunjung untuk naik bus. Semuanya ia simpan di dalam saku mantelnya yang kebetulan sekarang lagi musim dingin di eropa. Karna Vishnu telah berpesan bahwa di Amsterdam banyak copet, Vivi harus berhati hati. Vivi menaiki bus yang entah mengarah kemana.
Karena terlalu asik melihat pemandangan, ia tidak sadar bahwa ternyata sudah malam. Vivi ingin kembali ke hotel, namun ia tidak ingat nama hotelnya karena menggunakan bahasa belanda dan ia juga lupa jalan pulang. Vivi telah mencoba bertanya kepada orang orang yang sedang berlalu lalang di jalan, ia bertanya kantor Wijaya's Group namun, tidak ada yg bisa mengerti bahasa inggris. Kendala bahasa, tidak tau jalan, dan wifi pun tidak ada, sedangkan Vivi dan Vishnu masih memakai nomor Indonesia.
Disisi lain, Vishnu merasa khawatir karna sudah malam Vivi belum juga kembali. Ia menelepon Vivi menggunakan salah satu aplikasi chat, namun ia tidak mengaktifkan aplikasi tersebut. Semua chatnya hanya centang satu.
Sayang kamu dimana?
Kok belum pulang? Cepat pulang aku menunggumu.
Sweety, balas pesanku.
Hey, kenapa pesanku hanya ceklis satu?
Vi, where are you?
Aku khawatir kamu dimana?
Victoria! Kamu mengabaikanku?
Akhirnya, Vivi memilih untuk mencoba pada orang terakhir yang sedang berjalan.
"Excuse me, Sir. Do you know Wijaya's Group?" tanya Vivi.
"Are you from Indonesia?" tanya balik orang itu.
"Yes, i'm from Indonesia. Can you help me?"
"Tentu, apa yang bisa aku bantu?" tanya pria itu.
"Bisakah kamu mengantarkanku ke kantor cabang Wijaya's Group? Aku menginap di hotel dekat situ, tapi ga ingat namanya."
"Kamu ke sini sama siapa?"
"Bersama suamiku, tadi dia sedang tidur di kamar hotel, dan aku berjalan jalan namun rupanya aku pergi sangat jauh." jelas Vivi.
"Provider ku masih nomor Indonesia, dan disini tidak ada wifi."
"Pakailah wifi milikku, dan coba hubungi suamimu."
Begitu mengaktifkan koneksi internetnya, ponsel Vivi secara terus menerus berdering pesan masuk. Melihat hal itu, pria yang menolong Vivi hanya tertawa.
"Itu suamimu khawatir. Cepat hubungi dia saja dulu."
Begitu Vivi menelepon Vishnu, dalam 1 detik, Vishnu langsung menjawabnya. Berbagai pertanyaan dilontarkan Vishnu pada Vivi sehingga Vivi harus sedikit menjauhkan layar ponselnya dari telinga.
"Nanti aku jelaskan, aku akan ke kantor cabang. Bisakah kau menjemputku disana?" tanya Vivi.
"................."
"Baiklah, see you."
Panggilan pun terputus.
"Namamu siapa?" tanya pria itu.
"Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Victoria. Kalau kamu?"
"Namaku Dharma. Kamu kenapa bisa tau Wijaya's Group?"
"Suamiku pemilik Wijaya's Group, dan aku wakilnya. Kami datang ke Amsterdam karna salah satu karyawan disini bermasalah." jelas Vivi.
"Aku karyawan Wijaya's Group, namun hanya staff marketing saja. Beruntung sekali aku bisa bertemu dengan pemilik perusahaan ternama."
"Wow, aku sangat berterimakasih padamu."
"Tidak perlu sungkan nona." ucap Dharma.
"Panggil nama saja. Karna kita sedang tidak berada dikantor."
Tak lama, Vivi dan Dharma tiba di depan kantor Wijaya's Group. Terlihat bahwa sebelum mereka sampai, Vishnu telah sampai dan menunggu terlebih dahulu.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰