
Begitu sampai dirumah keluarga Wales, Vivi berjalan masuk ke rumahnya yang sudah ia kenal sejak kecil. Begitu ia masuk, ia bertemu dengan Victor adiknya.
"Kak Gavin ayo masuk aja." ajak Vivi.
"Baik Nona." jawab Gavin.
"Kak Vivi? Ayah mama kak Vivi datang!" teriak Victor.
"Jangan teriak teriak Victor sayang, nanti tenggorokan kamu sakit." kata Vivi.
"Aku seneng deh kak Vivi datang." ucap Victor.
Vivi memang tidak begitu dekat dengan Victor karna perbedaan usia mereka yang jauh. Terlebih lagi Vivi yang lebih asik bermain dengan geng 7nity nya itu. Namun, dibalik sikap dinginnya terhadap Victor, Vivi sangat menyayangi adik kecilnya itu.
Tak lama Donnie dan Daisy datang.
"Kamu datang Vi?" tanya Donnie.
"Memang ayah kira aku ga akan datang lagi begitu telah menikah? Jahat banget ayah sama Vivi." kata Vivi dengan sedikit emosi pada Donnie ayahnya itu.
"Vivi ga boleh gitu sama ayah! Apalagi di depan adik kamu!" omel Daisy.
"Mama sama ayah sama aja jahat sama Vivi."
"Kenapa ayah jahat sama kamu?" tanya Donnie tak mengerti.
"Dia minta pulang bareng ke rumah ini kemarin malam, tapi kita tolak. Itu kan?" tanya Daisy.
"Bukan hanya karna itu." saut Vivi.
"Kalau kemarin, itu malam pengantin kalian! Ga baik kalau mempelai wanita pulang ke rumah orang tuanya disaat malam pertama pernikahan kalian." jelas Donnie.
"Terus apakah baik kalau seorang suami pergi meninggalkan istrinya?" tanya Vivi balik pada Donnie.
"What's wrong with you baby?" tanya Daisy yang terkejut dengan pernyataan anaknya itu.
"Vivi belum mau menikah! Vivi belum siap untuk membina rumah tangga! Aku masih mau melanjutkan sekolah aku dan masih mau bersenang senang dengan teman teman seperti anak muda zaman sekarang. Tapi kalian membiarkan aku dibawa oleh bunda Flora ke rumahnya dan menjadi menantunya!" jelas Vivi yang selama ini merasa terbebani oleh keinginan kedua orang tuanya, hanya bisa melepas sedikit bebannya dengan cara memberitahu kebenaran pada orang tuanya.
"Victor masuk kamar!" suruh Donnie begitu ia melihat Vivi meluapkan amarahnya.
"Lalu kenapa kamu baru bilang saat semua udah terjadi Vi?" tanya Daisy.
"Aku ga mau buat kalian malu di depan bunda Flora. Dan aku juga ga mau buat bunda Flora jadi sedih kalau aku tolak pernikahan diadakan kemarin." jawab Vivi.
"Hanya karna itu?" tanya Donnie.
"What? Hanya? Hanya ayah bilang? Waahh kalian ini.... Waahh......" hanya itu yang dijawab oleh Vivi sambil meneteskan air matanya.
Vivi terkagum atas ucapan kedua orang tuanya yang terkesan memberikan dirinya kepada keluarga Wijaya untuk dinikahkan. Bahkan ia merasa bahwa dirinya ini adalah boneka orang tuanya.
"Kak Gavin, ikut aku!" ajak Vivi.
Vivi dan Gavin melangkah menuju kamar lama Vivi yang berada diatas. Sambil menangis, Vivi mengambil koper dan memasukkan baju baju ke dalamnya.
"Kamu tolong masukkan buku buku pelajaranku ke dalam tas itu." suruh Vivi.
"I'm not okay." saut Vivi.
"Kalau nona membutuhkan teman untuk bercerita, silahkan nona saya bersedia."
"Thanks Kak Gavin, aku bisa handle ini sendiri."
Vivi pun memasukkan baju bajunya yang tinggal dua koper sekaligus perlengkapan makeup nya yang telah dipakainya dan juga tas tas sekolahnya.
"Nona, buku buku anda sudah saya masukkan ke dalam dua tas ransel itu." ucap Gavin.
"Tolong pakking sekalian dengan buku yang di rak samping kasur. Aku mau bawa ini ke mobil dulu." suruh Vivi lagi.
"Saya saja yang membawa ke bawah nona."
"Biar aku aja."
Vivi pun akhirnya membawa dua koper besar itu ke bawah hingga ke depan mobil. Dan begitu selesai, ia kembali lagi ke kamarnya dan membawa foto foto kenangan semasa sekolahnya dulu.
"Sudah kak?" tanya Vivi pada Gavin.
"Sudah semua nona." jawab Gavin.
"Ayo." ucap Vivi yang memegang tas ranselnya untuk dibawa.
"Nona yang ini biar saya yang bawa saja." pinta Gavin.
"Hm." saut Vivi.
Vivi yang membawa tas selempang dipunggungnya dan juga membawa sekotak kardus yang berisikan kenangan sekolah Vivi. Mereka memasukkan koper dan barang lainnya ke dalam mobil.
"Ayah bunda, maafkan Vivi belum bisa jadi anak yang baik selama ini bagi kalian. Vivi ikhlas menjalani semuanya. Semoga kalian senang dengan Vivi yang saat ini udah ga tinggal disini lagi. Vivi permisi." ucap Vivi.
"Tapi Vi...." ucap Daisy yang tak dihiraukan oleh Vivi.
"Ayo kak Gavin."
Vivi masuk ke kursi penumpang samping Gavin dan Victor adiknya itu keluar.
"Kak Vivi jangan pergi." ucap Victor.
"Nanti kakak ajak kamu main lagi ya baby! Next time, kita main bareng lagi." saut Vivi.
Lalu Vivi menyuruh Gavin untuk segera meninggalkan rumah itu. Mobil mereka akhirnya benar benar tak terlihat oleh Daisy dan Donnie.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰