
Ketika mereka sedang asik mengobrol, tiba tiba bel masuk berbunyi dan 7nity kembali ke kelas mereka masing masing. Tak lama, Pak Gerry selaku guru fisika yang merangkap jadi ketua kelas masuk ke kelas 3 Fisika 2.
"Selamat pagi anak anak." sapa Pak Gerry.
"Pagi pak." saut anak anak kelas itu.
"Hari ini bapak mau membagikan hasil ulangan kalian semua. Yang nilainya dibawah 80 akan melakukan remedial hari ini." jelas pak Gerry.
Tok Tok Tok
Pintu kelas Fisika 2 diketuk oleh seseorang yang merupakan kepala sekolah dari SMA Garuda yaitu pak Mario.
" Permisi pak Gerry, maaf mengganggu KBM yang sedang dilakukan. Boleh saya minta waktu kalian sebentar?" sapa pak Mario.
"Silahkan pak." jawab pak Gerry.
"Boleh pak." saut seluruh murid yang berada dikelas itu.
"Baik, selamat pagi semua, hari ini kalian kedatangan teman baru." ucap Pak Mario.
"Pindahan dari mana pak?" tanya seorang siswi.
"Dia pindahan dari Seoul. Silahkan kemari nak." kata pak Mario.
"Gue jadi penasaran Vi." ucap Jennie.
"Nanti juga lo bakal liat!" saut Vivi.
Seorang pria tinggi menjulang dengan rambut cokelatnya masuk ke kelas 3 Fisika 2. Ketika dia masuk, para siswi menjadi histeris. Vivi yang sadar bahwa ini adalah orang yang membuat hapenya hancur, hanya melotot bahwa ternyata dia anak baru dan harus berada di kelas yang sama dengannya.
"Silahkan perkenalkan diri kepada teman teman baru kamu. Pak Gerry, tolong dibimbing ya, saya permisi dulu." ucap pak Mario.
"Baik pak." saut pak Gerry.
"Silahkan perkenalkan nama, dan asal sekolahmu." sambung pak Gerry.
"Halo semua, nama gue Kim Ryan pindahan dari Seoul. Mohon bantuannya." ucap siswa baru itu yang ternyata bernama Ryan.
"Baiklah Ryan, sekarang kamu duduk dikursi belakang sana." tunjuk pak Gerry kepada kursi kosong yang berada dibelakang Vivi.
Ryan berjalan menuju kursinya dan melirik ke arah Vivi sambil mengedipkan sebelah matanya. Vivi menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Vi, jangan gebet anak baru ya! Dia punya gue." ucap Siska teman sekelas Vivi yang duduk didepan Vivi.
"Dih! Ngapain juga gue gebet. Ambil aja! Bukan selera gue." jawab Vivi dengan ketus.
"Vi, Ryan ganteng bangetttttt." ujar Jennie yang berada disamping Vivi.
"Ih alay banget sih....... Masih ganteng juga Vishnu." ucap Vivi.
"Ya lo udah jadi milik dia jadi selalu bilang kalau Vishnu yang lebih ganteng dari cowok manapun juga." ujar Jennie.
"Loh? Memang bener Jen."
"Ya ya ya."
"Diakan suami lo." bisik Jennie.
"Berisik Jen! Kalau ada yang denger gimana coba?" tanya Vivi.
Jennie hanya terkikik.
"Baiklah anak anak. Bapak akan langsung membagikan hasil ulangan kalian." ucap pak Gerry.
Pak Gerry pun mulai memanggil satu per satu nama muridnya.
"Berapa lo Jen?" tanya Vivi pada Jennie.
Jennie menunjukkan kertas ulangannya kepada Vivi dan disitu tertulis angka 79.
"Pak 79 ikut perbaikan ga?" tanya Jennie.
"Ikut!" tegas pak Gerry.
"Vi, gimana dong malah gue belum belajar." ucap Jennie.
"Belajar sekarang mumpung masih ada waktu." saut Vivi.
"Gue ga ngerti Vi." keluh Jennie begitu membuka buku catatannya.
"Yang mana?" tanya Vivi.
"Yang ini." tunjuk Jennie.
"Lo hitung dulu panjang gelombangnya dan......."
"Victoria." panggil pak Gerry memotong obrolan Vivi dan Jennie.
"Bentar ya Jen."
Vivi segera maju dan mengambil kertas ulangannya.
Lalu ia pun membagikan hasil ulangan harian kepada siswa selanjutnya karna nomor absen Vivi adalah 5 terakhir.
Setelah selesai membagikan hasil ulangan kepada seluruh siswanya, Vivi yang berdiri disamping pak Gerry hanya terdiam.
"Kalian semua ini bagaimana? Untuk mencapai nilai 80 diulangan harian saja masih banyak yang belum bisa! Soal ulangan ini masih bapak yang buat. Bagaimana kalau UN? Itu negara yang membuat soal." marah pak Gerry.
"Maaf pak." saut ketua kelas.
"Nilai tertinggi diraih oleh Victoria. Dia mendapat nilai sempurna." ungkap pak Gerry.
"Kamu boleh kembali." ucap pak Gerry pada Victoria.
"Baik pak." saut Vivi.
Seluruh murid kelas itu memberikan tepuk tanggan kepada Vivi tak terkecuali Ryan sang murid baru.
"Semuanya, masukkan buku kalian ke dalam tas. Tak ada buku apapun dimeja selain pulpen. Bagi yang mendapat nilai diatas 80, kalian belajar di perpustakaan. Untuk Ryan, kamu ulangan susulan sekarang." ucap pak Gerry.
"Tapi pak, saya belum belajar apa apa." ungkap Ryan.
"Kalau dapat rendah, kamu masih bisa perbaikan. Sedangkan yang lain tidak ada lagi perbaikan nilai."
"Baik pak." saut Ryan.
"Jen, semangat! Kertas ulangan gue ada di meja. Kalau lo ga ngerti, pahami aja caranya." suruh Vivi.
"OK! Lo memang sahabat sejati gue Vi." ucap Jennie.
Vivi pun meninggalkan Jennie dan berjalan menuju ke perpustakaan untuk membaca buku. Kelas Jordy dan Vincent sedang jam pelajaran olahraga sehingga Vivi kepergok dengan mereka.
"Vi, di kelas lo ada anak baru?" tanya Vincent.
"Hm." saut Vivi dengan malas.
"Kenapa lo?" tanya Jordy.
"Dia orang yang udah buat hape gue pecah." jawab Vivi.
"Serius lo?" kaget Jordy.
"Serius Jordy!"
"Baru masuk aja udah nyari masalah tu anak." ucap Jordy dengan jengkel.
"Udah jangan dibahas. Gue ke perpus dulu ya! Lo lanjutin olahraga sana." suruh Vivi.
Vivi pun berjalan menuju perpus dan duduk di ujung tembok yang menjadi tempat kesukaannya. Ia pun mulai membaca.
##############################
Guru Bahasa Indonesia memberikan tugas kelompok untuk mewawancarai pedagang kaki lima. Vivi yang begitu malang nasibnya harus satu kelompok dengan Ryan si murid baru. Karena Vivi juara kelas dari kelas 1 hingga kemarin, guru pun mempercayakan murid baru kepada Vivi dengan harapan akan mengikuti jejak Vivi yang pintar.
"Apes banget sih gue!" ucap Vivi menggerutu.
"Apes kenapa?" tanya Ryan.
"Satu kelompok sama lo!" jawab Vivi menyolot.
"Me? Why?" tanya Ryan lagi yang seolah tidak mengerti maksud Vivi.
"Tau ah!"
"Kita kerjain slide presentasi dirumah lo aja ya Vi?" tanya Hana teman satu kelas mereka.
"Jangan!" jawab Vivi dan Jennie secara bersamaan.
"Kenapa?" tanya Hana dan Ryan.
"Ehm......"
"Rumah Vivi sepi." bohong Jennie.
"Bagus dong kalau sepi, jadi ga canggung sama bonyok Vivi." ucap Hana.
"Pembantu gue lagi pulang kampung Han, nanti kita ga ada yang masakin. Lagian di dekat rumah gue ga ada pedagang kaki lima." ujar Vivi.
"Betul juga, kompleks lo kan elite." saut Hana.
"Terus dimana?" tanya Jennie.
"Dirumah gue aja." tawar Ryan.
"Dimana?" tanya Hana.
"Ga jauh kok. Langsung cabut sekarang aja." jawab Ryan.
Vivi hanya mengikuti mereka. Hana ikut di mobil Jennie. Sedangkan Vivi membawa mobilnya sendiri, dan Ryan yang memang datang dengan menaiki motor sport besar miliknya.
**TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini? Bonus ni untuk kalian. Biasanya kalau senin, author ga up. Tapi hari ini spesial buat kalian yang penasaran dengan episode kemarin.
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰**