THAT PILOT IS MY FUTURE HUSBAND

THAT PILOT IS MY FUTURE HUSBAND
Kerja kelompok



Vivi, Hana, dan Jennie berhenti disebuah rumah komplek yang tidak sebesar rumah keluarga Wales ataupun Wijaya tetapi terkesan rapi.


"Omma, mereka adalah teman teman kelasku. Hari ini aku ada tugas kelompok." ucap Ryan.


"Halo tante." sapa Vivi yang melihat sosok wanita paruh baya yang dipanggil omma oleh Ryan.


"Annyeonghaseyo." ucap Jennie yang bergaya dengan Bahasa Korea.


"Halo, akhirnya Ryan memiliki teman baru. Silahkan masuk." suruh omma Kim.


#############################


"Jen, lo sama Hana cari PKL di dekat jembatan yang tadi lo lewatin." suruh Ryan.


"Ogah banget gue! Lo aja si." timpal balik Jennie.


"Gue sama Vivi kerjain ppt." jawab Ryan.


"Lo sama Hana aja deh yang kerjain ppt, gue sama Jennie cari PKL." usul Vivi pada Ryan.


"Gue masih belum ngerti pelajaran bahasa Indonesia Vi. Lo ditugasin buat ajarin gue." ucap Ryan yang seolah menjadi skakmat bagi Vivi.


"Duh kok jadi kaya gini sih?" keluh Vivi.


"Betul juga kata dia Vi." jawab Jennie.


"Jen, temenin gue ke toilet dulu yu." ajak Vivi.


"Ayo deh."


"Kenapa sih cewek kalau ke toilet tu pasti bawa temennya?" tanya Ryan.


"Bawel lo!" omel Vivi.


"Di Korea kaya gitu juga?" tanya Jennie.


"Cepetan Jen. Kebelet gue!" pinta Vivi.


Akhirnya Vivi mengajak Jennie ke toilet dengan menanyakan arah toilet kepada ART dirumah Ryan.


"Jen, gue belum kabarin orang rumah kalau ada tugas mendadak." kata Vivi.


"Orang rumah mana?" tanya Jennie.


"VL dan bunda, Jen."


"VL siapa?"


"Astaga!!!! Oon jangan dipelihara Jen! Vishnu la siapa lagi?"


"Kalau bisa udah gue kabarin dari tadi Jen! Hape gue kan tak berbentuk lagi."


"Oh ya bener juga!"


"Memang bener Jen, duh lo oon banget ih."


"Hm, mana nomornya pake hape gue aja ni." Jennie pun memberikan ponselnya kepada Vivi.


"Gue ga hapal nomor Vishnu ataupun rumah." ucap Vivi.


"Lo gimana sih? Nomor laki lo aja ga hapal." oceh Jennie.


"Baru beberapa hari Jen. Belum hapal gue."


"Eh kok pada ngobrol disini? Ayo ke depan, bibi udah buatin camilan untuk kalian." ucap tiba tiba mama Ryan.


"Ya tante." jawab Jennie dan Vivi dengan canggung.


Vivi dan Jennie pun kembali ke ruang tamu setelah dari toilet. Ryan masih bersikukuh dengan usulannya bahwa yang membuat ppt adalah dirinya dan Vivi. Akhirnya dengan berat hati, Jennie dan Hana pun pergi ke jembatan yang diberitahu oleh Ryan dengan menggunakan motor listrik dari Korea yang ada dirumah Ryan.


Ryan terus saja mengajak Vivi mengobrol. Lama kelamaan, Vivi merasa risih dan membentak Ryan.


"Lo bisa diam ga?" bentak Vivi dengan pelan.


"Wae? Mwo?"


"Ga usah pake bahasa Korea! Gue pake aksen Jowo medok teleng lo!" maki Vivi.


"Apa?"


"Diam! Kerja! Gue masih muak sama lo soal tadi pagi! Hape gue jadi hilang bentuk gegara lo!" ucap Vivi.


"Gue udah minta maaf Vi, harus bagaimana lagi gue biar dimaafin?"tanya Ryan.


Vivi tak menghiraukannya hingga akhirnya Jennie dan Hana kembali ke rumah Ryan dan mereka bersama sama menyelesaikan tugas itu sampai sore.


########################


Disisi lain, Vishnu menghubungi nomor Vivi secara terus menerus. Tapi yang ia dengar adalah bunyi operator yang mengatakan bahwa nomor Vivi sedang tidak aktif. Tidak biasanya Vivi pulang telat.


TO BE CONTINUE


Gimana ceritanya sejauh ini?


Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading


See you at the next chapter. 🥰