
Setelah begitu banyak kejadian yang terjadi kemarin, Vivi menjadi tidak bersemangat masuk sekolah. Jika tidak ada turnamen basket hari ini, dirinya enggan untuk berangkat ke sekolah. Hatinya masih terpaut dengan ucapan orang tuanya yang mengatakan bahwa dirinya tak direstui bila bersama dengan Darren.
"Woy Vi bengong aja lo kesambet entar!" celoteh Luna.
"Tau Vi lo diem aja dari tadi. Kenapa sih?" tanya Tiffany yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Vivi.
"Vi, kita ini sahabat lo. Kalau lo butuh sandaran dan tempat curhat, kita siap dengerin elo kok." kata Jennie.
"Thank you girl's. Tapi gue belum bisa cerita sekarang." saut Vivi.
Ketiga sahabatnya pun mengerti bahwa Vivi ada masalah. Mungkin Vivi membutuhkan waktu untuk menceritakan segalanya kepada mereka.
"Tim basket putri SMA Nusantara silahkan memasuki lapangan." panggil MC perlombaan."
Vivi dan tim nya segera memasuki lapangan. Dihadapan mereka telah ada lawan dari SMA lain. Tim SMA Nusantara selalu berpegang teguh pada sportivitas para pemainnya. Mereka tidak bermain curang seperti SMA lain.
Dan pertandingan dimulai.
##########################
Begitu pertandingan selesai, Vivi melihat Leo memasuki lapangan dan mendekat ke arah dirinya. Lalu Vivi dengan cepat membereskan barang barangnya dan ingin segera pergi dari situ.
Begitu jarak mereka semakin dekat, Leo memberikan botol air dan juga handuk untuk Vivi.
"Ini minum dan lap keringet lo tu." kata Leo. Sebenarnya Leo berusaha untuk netral seperti sebelum dirinya menyatakan perasaan kepada Vivi. Namun, yang diberi malah tidak merespon Leo sama sekali. Vivi terlihat menyimpang dari hadapan Leo.
Hal itu tidak luput dari pandangan penonton termasuk juga para sahabat Vivi. Leo terlihat mematung ditempat. Sedangkan Vivi berjalan menuju kantin seorang diri. Begitu melihat Vivi pergi, Tiffany, Luna, dan Jennie segera menyusul Vivi ke kantin.
Saat itu suasana kantin masih sepi karna para penonton lomba masih menonton pertandingan basket lagi.
########################
"Bang said bakso 1 sama es milo." ucap Vivi pada bang Said penjual bakso di kantin sekolah.
"Siap neng! Nanti abang anterin." sautnya.
Vivi pun duduk memojok sendiri. Kemudian para sahabatnya pun datang menyusul Vivi.
"Lo ada masalah sama Leo, Vi?" tanya Luna.
"Ga ada." jawab Vivi dengan singkat.
"Cerita aja sama kita Vi." timpal Tiffany.
"Tau ni kaya sama orang lain aja." sambung Jennie.
"Iya iya gue cerita." saut Vivi.
"Apa?" teriak ke tiga orang itu.
"Gue udah bilang dari dulu kalau si Leo itu naruh perasaan sama lo." kata Luna.
"Gue kan ga suka sama Leo. Gue hanya anggap dia sahabat kaya kalian." jawab Vivi.
"Kenapa ga lo coba jalani aja dulu sama Leo, Vi?" tanya Tiffany.
"Perasaan ga bisa dipaksa Fan." saut Vivi.
"Ya terus lo suka nya sama siapa?" tanya Luna.
"Yang kemarin dateng ke sini ngaku calon suami lo ya?" ledek Jennie.
"Enak aja lo! Gue aja ga kenal siapa dia." jawab Vivi dengan nyolot.
"Sekarang ga kenal. Nanti bisa jadi jodoh lo tu Vi." timpal Luna.
"Lo memang pada jahat ya! Mana mungkin yang kaya gitu jadi jodoh gue."
"Ya terus siapa Vi?"
"Adalah. Temen bokap."
"Anaknya temen bokap lo?" tanya Luna dengan jelas.
"Nanti gue kenalin deh sama kalian."
"Bener ya?"
"Ya."
###########################
Perlombaan sudah selesai. Dan SMA Nusantara tetap mempertahankan citra juara mereka yaitu meraih juara 1 basket putri, juara 2 basket putra, juara 3 volly, dan juga juara 1 menyanyi solo yang diraih oleh Vivi.
Ketika Vivi pulang, dirinya membawa piala juara menyanyi untuk menjadi koleksi piala di kamarnya.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰