
Sudah 6 bulan Vishnu menghilang tanpa kabar. Flora berpikir untuk menyerah dalam mencari keberadaan Vishnu. Berbeda dengan Vivi yang terus mencari keberadaan suaminya. Dia bahkan meminta bantuan Jenno dalam mencari keberadaan Vivi.
"Vi, kamu bunda bebaskan dari ikatan pernikahan kamu dengan L. Kamu masih jadi anak bunda dan akan selalu menjadi menantu bunda. Sudah 6 bulan kamu kehilangan suami kamu. Bunda juga berharap kamu bisa bahagia seperti dulu lagi walau bukan bersama Vishnu."
Ucapan Flora sangat membuat Vivi sedih. Ia mengerti maksud ibu mertuanya berbicara seperti itu. Namun, Vivi sangat belum bisa menghapus Vishnu dari ingatan dan hidupnya. Bahkan hingga beberapa puluh tahun pun Vivi tidak bisa.
Flora menyuruh Vivi tinggal sementara di rumah keluarga Wales untuk membiasakan Vivi kembali pada cara hidup sebelumnya.
####################################
Tok Tok Tok
"Kak Vivi, bang Jenno dateng." ucap Victor yang masuk ke dalam kamar Vivi.
"Bilang sama bang Jenno tunggu sebentar."
Vivi saat itu sedang termenung di dalam kamarnya memikirkan bagaimana kelanjutan dari pencarian Vishnu selama ini.
"Bang?" sapa Vivi.
"Gimana keadaan lo dek? Gua turut prihatin atas apa yang terjadi sama lo."
"Vivi baik baik aja bang. Thanks."
"Lo harus kuat Vi. Gue yakin Vishnu baik baik aja sekarang."
"Udah 6 bulan bang kita belum menemukan dia."
"Tim gue menemukan ini Vi di hutan. Dan hutan itu dekat dengan desa. Gue berspekulasi kalau Vishnu pasti ada disana." ucap Jenno memberikan sebuah kalung yang dibungkus plastik klip bening.
Kalung tersebut adalah hadiah dari Vivi untuk Vishnu pada saat hari ulang tahunnya dan memiliki motif dan model yang sama dengan kalung yang dipakai Vivi saat ini.
"Besok Vivi akan ke desa itu bang untuk mencari keberadaan Vishnu." kata Vivi.
"Ok besok pagi gue jemput." ucap Jenno.
######################################
Pagi harinya, Vivi bersama dengan Jenno berangkat dari kediaman Wales menuju bandara. Mereka pun pergi sebuah desa terdekat dimana Jenno menemukan kalung Vishnu sebagai petunjuk.
Tiba saat Vivi dan Jenno tiba disebuah jalan sebagai satu satunya jalan menuju ke tempat desa terpencil yang bahkan tidak beraspal, sempit dan berlumpur karna habis diguyur hujan.
"Sini tasmu abang bawakan saja."
"Jangan bang, tas Vivi berat."
Tanpa seizin Vivi, Jenno segera langsung mengambil tas ransel dipunggung Vivi.
"Hati hati jatuh. Lihat jalannya." ucap Jenno pada Vivi yang terlihat kesusahan berjalan.
Setelah berjalan kaki cukup lama, mereka pun memasuki perkampungan.
"Permisi bu, rumah kepala desa disebelah mana?" tanya Jenno pada salah satu warga disana.
Ibu tersebut pun segera menunjukkan salah satu rumah. Setelah mengucapkan terimakasih pada ibu tersebut, Jenno pun mengetuk pintu rumah kepala desa tersebut. Namun, hanya istrinya saja yang keluar dan berkata bahwa kepala desa sedang berada di kantor desa. Vivi dan Jenno pun berjalan kembali menuju kantor desa.
"Bang, istirahat dulu sebentar. Vivi haus." kata Vivi.
"Baiklah. Tunggu ya dek, gue mau beli minum di warung sana."
"Ok."
Vivi duduk dibawah pohon yang rindang. Ia sangat suka dengan pemandangan disini. Namun satu hal yang dia tidak suka, yaitu tidak adanya sinyal disini. Bahkan, warga desa pedalaman ini tidak ada yang memiliki ponsel dan televisi.
Ketika sedang mengipasi tubuhnya yang terasa gerah, Vivi melihat seseorang yang memiliki wajah sangat mirip dengan orang yang sangat dicintainya keluar dari sebuah gubuk desa bersama anak anak kecil mengikutinya......
Siapakah dia?
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰