
Pada hari jumat sebelum pernikahan, Vivi masih memaksa untuk sekolah karena ada ulangan Fisika. Untuk melengkapi nilai yang sebentar lagi akan sampai diujung. Ia terpaksa masuk sekolah karena pak Gerry selaku guru fisika terkenal killer dan tidak mentolerir PR, tugas, ataupun ulangan bagi siswa yang tidak mengumpulkan dan tidak hadir.
"Gila ulangan Pak Gerry susah banget!" keluh Vivi.
"Elo aja ga bisa apalagi gue Vi." saut Jennie.
"Ya udah kantin yu." ajak Vivi.
"Yu."
Dikantin, Vivi dan Jennie yang baru datang melihat Tiffany, Jordy, Vincent, Luna, dan Leo sudah berkumpul terlebih dahulu dikantin.
"Lo mau pesen apa Vi?" tanya Tiffany.
"Gue ikut lo aja deh Fan." saut Vivi.
"Tumben lo ga bersemangat gitu." ujar Luna.
"Hm."
"Bu kita pesen mie ayam 3, bakso 4, dan minumnya jerus peras semua ya." pesan Tiffany.
"Ok non, tunggu sebentar ya." jawab ibu kantin.
"Lo ada apa Vi? Cerita sama kita." kata Jordy.
"Gue malu mau ceritanya."
"Kenapa malu Vi? Jangan bilang kalau elo......" ucap Jennie menggantung.
"Jangan bilang elo hamil?" sambung Luna dengan polosnya yang membuat siswa siswi disekitar mereka menatap kaget ke arah meja pojok itu.
"Ih kalian tu apa apaan sih? Jangan nyebar hoax yang bukan bukan deh ah!" oceh Vivi.
"Ya terus kenapa?" tanya Leo.
"Hmm gue...... gue........."
"Lo kenapa? Ngomong yang jelas Vi!" kata Tiffany.
"Besok gue mau nikah sama Vishnu." ucap Vivi pelan.
"APAAAA?" teriak mereka semua secara kompak.
Hal tersebut tentu mengundang perhatian sekita mereka. Vivi tidak mau orang lain sampai mengetahui apa yang terjadi.
"Mulut kalian tu ya!!!!!! Ih buat gue kesel aja!" maki Vivi.
"Sorry sorry Vi! Abisnya gue kaget lo tiba tiba bilang besok mau nikah. Hahahaha." canda Jordy.
"Gue serius Jordy! Entar pas pulang sekolah gue kasih undangannya ke kalian! Jangan ada yang tau! Awas aja kalau ada yang tau!" ancam Vivi.
"Lo kaya ga kenal kita aja Vi." kata Luna.
"Gue percaya sama kalian, makanya gue cerita sama elo elo pada!" ujar Vivi.
"Tenang rahasia lo aman sama kita." jawab Tiffany.
"Ya udah gue mau ke kelas dulu." pamit Vivi.
"Terus ini makanan lo gimana Vi?" tanya Tiffany.
"Kasih Leo aja dia bisa makan 2 porsi kok!" jawab Vivi yang berlalu meninggalkan mereka.
Ditengah perjalanan menuju ke kelas, Vivi berpas pasan dengan pak Rius. Vivi membungkuk memberikan hormat namun, pak Rius malah menyuruh untuk ke ruangannya. Hal tersebut tidak lepas dari pandangan Agnes yang memang saat itu sedang duduk di depan kelasnya yang tak jauh berada dari ruang pak Rius.
"Ada apa pak?" tanya Vivi.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Rius.
"Saya baik baik saja pak. Terimakasih saat itu bapak mau membantu saya dan membawa saya ke rumah sakit." ucap Vivi yang sebenarnya muak dengan perlakuan pak Rius kepada dirinya.
"Sama sama. Apa kata dokter?"
"Saya baik baik saja pak. Hanya butuh istirahat aja."
"Ohhhhh."
"?"
"Ada hal lain lagi pak?" tanya Vivi.
"Hemp?"
"Kalau tidak ada hal lain lagi, saya permisi ke kelas pak karna ingin beristirahat." pamit Vivi.
"Oh silahkan."
"Terimakasih pak, saya permisi."
Setelah Vivi keluar dari ruangan pak Rius, ia berjalan melewati kelas Agnes dengan menatap wajah Agnes yang saat itu kurang bersahabat.
"Aduh enak ya yang abis berduaan sama pak Rius." sindir Agnes di depan teman teman nya dan anak anak kelasnya.
"Ratu SMA Garuda!" saut Agnes yang membuat Vivi menghentikan langkahnya.
"Victoria?" tanya siswa itu.
"Iya bukan ya?" tanya Agnes dengan nada mengejek.
"Lo ada masalah sama gue?" tanya Vivi.
"Ada ga ya? Kayanya ada deh!" saut Agnes.
"Masalah apa?"
"Lo berduaan sama pak Rius! Dan itu membuat sekolah malu!"
"What? Pak Rius? Lo suka sama pak Rius sampai sampai lo cemburu gini ke gue?" tanya Vivi.
"Suka? Hello! Mana ada seorang Agnes Zivanya suka sama guru killer!" ucap Agnes.
"Terus kenapa lo marah ke gue?"
"Gue ga mau nama sekolah kita tercemar karna lo pacaran sama guru BK!"
"Gue ga pacaran sama pak Rius!"
"Mana ada penjahat yang mau ngaku?"
"Ya udah kalau lo ga percaya! That's your bussines!"
"Temen temen! Lo liat kan? Kalau Victoria benar pacaran sama pak Rius!"
"Jaga omongan lo ya Nes! Gue udah punya tunangan!"
"Dan tunangan lo itu pak Rius kan?"
"Jangan so tau deh lo!"
"Kalau memang bener lo punya tunangan, telfon tunangan lo sekarang!"
"Kenapa gue harus turutin apa kata lo?"
"Kenapa? Lo takut?" tanya Agnes mengejek.
"No! I call him now!" saut Vivi.
Vivi memencet nomor Vishnu di ponselnya dan men Loudspeaker ponselnya itu.
"Lo dengerin semua!"
("Hallo? Kenapa sayang?") tanya Vishnu pada Vivi.
"Ga papa. Kamu dimana?" tanya Vivi.
("Di rumah. Kenapa kamu kangen sama aku?")
"Aku bersyukur punya kamu dalam hidup aku!"
("Me too!")
"Aku lanjut belajar dulu ya! Bye sayang I love you."
("Ok Dear, I love you more.")
Vivi menekan tombol merah dilayar ponselnya.
"Puas? Nama dia Vishnu Louis Wijaya dan dia tunangan gue!" jelas Vivi.
"Elo?" tanya Agnes dengan geram.
"Lo merasa kalah sekarang? Tapi gue ga merasa menang dari lo!" ucap Vivi yang kemudian bel masuk kelas berbunyi.
"Enjoy your class baby!" ucap Vivi pada Agnes.
Vivi berjalan meninggalkan Agnes didepan kelasnya itu dengan wajah Agnes yang menahan malu. Ia juga mendapat sorakan dari teman teman sekelasnya karena menyebarkan berita bohong.
"Agnes! Kamu ke ruangan saya!" suruh pak Rius dengan tiba tiba.
"Pak Rius?" tanya Agnes.
"Awas aja lo Victoria! Kita lihat aja siapa yang akan menang?"
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
Ini Visual pak Gerry ya kawan sang guru jurusan khusus Fisika yang killer.