
Arin sampai di depan pintu ruangan Osis, pintunya terbuka tapi kok sepi. Aneh. Tangannya bergerak mengetuk daun pintu yang sedikit terbuka tapi langsung diurungkan kala netranya menatap sesuatu yang janggal. What the hell? Apa ini? Mata suci Arin ternodai. Gak, gak, dia pasti salah lihat. Arin mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa ini hanya ilusi semata. Terlihat di ujung meja, Zian si ketua Osis tengah berciuman masih hampir sih belum bersentuhan dengan seorang wanita yang posisinya membelakanginya, gadis itu berambut panjang dan sedikit lurus, Arin menduga itu Agatha namun ia buru-buru menepis pikiran itu, udah jelas-jelas Agatha rambutnya pendek, lantas itu siapa? Dan anehnya lagi, wanita itu tidak memakai seragam sekolah ini, apa mungkin dia dari sekolah lain? Tapi bagaimana cara dia masuk ke sini, bukankah satpam melarang murid dari sekolah lain masuk?
Beribu pertanyaan bersahutan di kepala Arin, tapi tidak ada yang bisa terjawab dengan sempurna.
Arin bergerak mundur, tapi sepertinya nasib baik tidak berpihak padanya, kakinya tidak sengaja menginjak botol plastik yang terbuang sembarangan di depan ruang Osis. Arin menggerutu.
"Ini siapa sih yang buang sampah sembarangan di sini?" Arin sudah siap mengambil ancang-ancang untuk berlari menjauh sebelum orang di dalam keluar melihat situasi namun tangannya dicekal oleh seseorang membuat jantung Arin berdetak cepat. Sial, ketangkap basah.
Arin memejamkan matanya kemudian dengan perlahan berbalik arah, masih belum berani buka mata walaupun posisinya sudah berhadapan.
"Ma-maaf, saya gak lihat apa-apa. Tolong lepaskan saya," Arin mengatup kedua tangannya.
Lagi-lagi lengannya dicekal kemudian ditarik untuk masuk ke dalam, tentu saja itu membuat Arin terlonjak kaget hampir berteriak.
Arin terduduk di sebuah kursi, kondisi ruangan sedikit gelap dengan pencahayaan yang minim. Arin menyesuaikan netranya dengan sinar yang redup di dalam ruangan, sampai dia menemukan Zian berdiri tepat di hadapannya sambil bersidekap dada. Arin melirik sekitar mencari gadis yang tadi dia lihat, tapi nihil keadaan sangat kosong, hanya ada dia dan Zian di dalam. Gak mungkin kan perempuan yang dilihat tadi adalah arwah? Gak masuk akal banget, atau bisa jadi perempuan tadi langsung kabur saat Zian menarik ke dalam ruangan? Lagi-lagi pertanyaan demi pertanyaan yang belum jelas jawabannya muncul di benak Arin.
Terdengar helaan nafas dari pemuda tinggi di depannya itu yang membuat Arin bergidik ngeri. Arin meremat kuat ujung seragamnya, entah apa yang akan dilakukan pemudan ini kepadanya.
Arin terlonjak kaget kala Zian menunduk ke arahnya dengan tangan menjadi tumpuan tubuhnya pada kursi, jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja. Arin menahan nafas, matanya terpejam, tidak berani menatap lawannya.
"Gue harap lo bisa tutup mulut atas kejadian tadi," suara berat Zian menyapa indra pendengaran nya. Perlahan Arin membuka matanya dan mendapati Zian masih berada di posisi yang sama.
"Sa-saya tidak melihat apa-apa, sumpah," jawabnya takut.
"Gue gak bisa ngebiarin lo berkeliaran begitu saja dengan rahasia besar, ini semua menyangkut reputasi gue dan image gue di sekolah ini, jika saja berita ini sampai pada telinga kepala sekolah, yang pertama kali gue incer adalah lo," tegasnya lagi kemudian segera merubah posisinya semula. Arin akhirnya bisa bernafas lega. Lagian buat apa juga dia melaporkan hal gak penting kayak gini pada kepsek, gak ada kerjaan banget. Mending kalo Arin ada dendam sama Zian baru deh...
"Oh iya satu lagi, sebagai jaminan kalo lo bisa tutup mulut, lo harus jadi pacar gue."
"APA??!!"
"Gak usah teriak bisa nggak?" Zian menutup kedua telinganya. Arin diam membeku mendengar syarat gak jelas yang diajukan Zian.
"Harus nurut, gue gak butuh penolakan. Lo sebenarnya mau ngapain ke sini?" tanya Zian, yang ditanya masih diam gak ada niat sama sekali buat jawab, otaknya masih loading dengan semua kejadian yang terjadi secara tiba-tiba ini.
Atensi Zian beralih pada selembar kertas yang setia dipegang oleh Arin, tanpa bertanya dia langsung merebut kertas tersebut karena menurutnya kayak gak asing.
"Lo beneran mau mencalonkan diri nih?" Zian ingin memastikan.
"Gak, gue gak minat. Mana sini kertas nya mau gue buang," gertak Arin.
"Eits, bagus dong. Kita bisa jadi lebih dekat, dan gue bisa gampang buat ngawasin lo. Gue tempatkan lo di posisi wakil ketua Osis," Zian menaikkan sebelah alisnya sembari tersenyum smirk.
"Kak Agatha mau lo kemanain?"
"Agatha? Dia sudah kelas 12 jadi jabatannya sebagai anggota Osis sebentar lagi berakhir," jawab Zian.
"Lahh bukannya kak Agatha kelas 11 ya?" Arin menggaruk tengkuknya.
"Lo boleh keluar sekarang gue banyak urusan. Dan satu lagi, mulai sekarang dan seterusnya lo itu pacar gue."
"Dihh ogah, sampai kapan pun gue gak akan anggap lo pacar atau apa pun itu," ketus Arin sembari berlari keluar.
Di rumah, Arin masih terus kepikiran dengan ucapan Zian tadi di sekolah. Bukannya apa-apa, tapi aneh aja gitu syarat nya dia harus jadi pacarnya buat tutup mulut. Lagian Arin udah yakin kok gak bakal ikut campur dalam masalah tadi, buat apa juga Arin bocorin walaupun itu adalah berita yang menggemparkan bagi semua siswa perempuan yang tergila-gila pada Zian.
Lagi pusing pusingnya mikiran masalah tadi, tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Arin berdecak kesal, nada dering itu sungguh mengganggu disaat otaknya butuh refreshing buat berfikir. Tidak ada nama yang tertera di sana, hanya barisan angka yang membentuk sebuah nomor telpon.
"Pasti penipuan nih, yakin gue. Gua gak bakal tertipu," Arin menutup telpon tersebut sebelum mengangkatnya, dia mengira itu panggilan dari penipu yang sering dia lihat di media sosial. Ponselnya kembali berbunyi, tapi kali ini bukan telpon melainkan pesan dari nomor yang tadi.
Isi pesannya :
*Keluar sekarang, gue ada di depan rumah lo. Temenin gue ke Mall.
Ini gue, Zian*.
Arin membaca pesan tersebut dengan malas, dia menoleh ke arah jendela yang mengarah langsung ke depan rumahnya, dan benar saja lelaki itu tengah menatap ke arah jendela kamarnya sambil bersandar di kap mobil.
"Dasar cowok gila!!!!"