
Arin tengah santai di dapur bereksperimen membuat kue, karena besok di sekolah ada lomba memasak yang kreatif, jadi resepnya dibuat sendiri gak boleh nyontek di youtube atau di google. Nah, di sinilah Arin sekarang, memikirkan bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat kue beda dari yang lain dan tidak ada di pasaran. Tema nya bebas mau masak apa saja asal gak sama.
"Kue bunga udah ada, kue dadar juga udah ada, kue tai cicak aja gak sih? Berarti gue butuh dark coklat sama white coklat. Huh, untung masih sisa satu bungkus, cukup lah untuk eksperimen," Arin berucap bangga karena ide nya luar biasa, menurut Arin doang sih, gak tau menurut yang lain kayak gimana.
Saat tengah asik dengan kesibukannya yang kurang berfaedah namun membawa manfaat untuk nilai kenaikan kelas, Arin mendengar suara bel pintu ditekan dengan tidak sabaran, kayak mau ngajak gelud. Arin berdecak kesal, mau tak mau ia segera melepaskan apron yang sedari tadi menempel di tubuhnya, mana sudah berlumuran dengan tepung.
"Siapa sih, ganggu orang buat kerja aja, kalo mau bertamu ya lebih sopan lah sedikit inget waktu, padahal sudah hampir sore," Arin mendengus lalu berjalan ke arah pintu dengan langkah malas.
Netranya membulat sempurna saat tau siapa yang datang bertamu hari ini, tidak percaya bagaimana bisa seseorang di hadapannya ini tau alamat rumahnya, tapi gak heran sih kan dia banyak kenalannya. Yang harusnya jadi pertanyaan tuh, untuk apa ni orang datang ke sini, kan mereka gak ada urusan apa-apa, masa iya cuma mau kenalan lebih dekat lagi atau nggak ya numpang makan.
Arin masih berdiri mematung memandangi gadis cantik nan tinggi semampai di hadapannya, tak mau mengeluarkan sepatah kata pun sebelum objek di depannya memulai obrolan terlebih dulu. Cukup lama mereka diam, sampai akhirnya, "Apa aku mengganggu? Maaf, ini sungguh tiba-tiba, tapi aku masih ada pertanyaan penting untuk ditanyakan sama kamu, Arin? Bener kan nama kamu Arin?" tanya Laras, masih setia dengan senyum manisnya yang mampu melelehkan kaum Adam kapan saja, karena Arin yakin tidak ada laki-laki yang bisa menolak pesona perempuan bernama Laras ini, udah cantik kaya lagi, kurang apa lagi coba.
Arin tak menjawab, netranya masih sibuk menelisik maksud dari perempuan ini yang mencarinya sampai datang ke rumah, wow nekat sekali.
"Hello? Kok kamu bengong? Ahh ternyata benar ya aku mengganggu?" Laras menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga, canggung.
"A-ahhh, maaf. Silahkan masuk," Arin merutuki dirinya sendiri karena sudah menyuruh Laras masuk, padahal kan dia lagi sibuk tinggal usir aja apa susahnya sih, bibir sama otak sulit banget diajak kompromi. Laras dengan senyuman manis melangkah masuk mendahului Arin yang tengah menutup pintu.
"Rumah kamu bagus ya, nyaman juga," Laras duduk si sebuah sofa, menyandarkan punggungnya santai. Arin memutar bola mata malas melihat Laras yang sok akrab dengannya, pengen ta' cakar rasanya.
"Kamu kenapa berdiri di sana, sini duduk. Ada hal yang harus aku tanyakan," Laras menegakkan posisinya duduk, menatap Arin seraya menepuk sofa kosong di sebelahnya. Lagi-lagi Arin mendelik tidak suka, tapi tetap mendekati Laras.
"Kenapa?" tanya Arin dengan raut wajah yang terlihat biasa saja padahal dalam dirinya sedang menahan rasa kesal yang membuncah.
"Hmm, gak terlalu penting sih dan sedikit gak jelas, tapi ini demi kelangsungan hubunganku sama Zian," jawab Laras, hendak masuk ke topik. Mendengar nama Zian, Arin langsung paham kemana arah pembicaraan mereka, sumpah demi apa pun Arin tidak ingin membahasnya ataupun menjawab jika Laras bertanya.
"Kenapa gugup?"
"Gue mulai ya?" tanya Laras ingin memastikan agar semuanya lurus tanpa hambatan. Arin mengangguk malas.
"Seperti yang gue bilang di awal, ini mungkin gak penting bagi kamu tapi bagiku pribadi ini tuh dapat menjamin masa depanku. Aku hanya ingin bertanya serius, kamu ada hubungan apa sama Zian?" Arin menelan ludahnya kasar, sudah ia duga dari awal memang Laras agak curiga dengannya. Ini gak membuktikan bahwa Arin pelakor kan, dia aja agak risih dideketin Zian walaupun sekarang hidup Arin sedikit hampa tanpa kehadiran laki-laki itu.
"Kenapa nanya seperti itu? Bukannya sudah jelas kami hanya sebatas teman sekolah," jawab Arin seraya meremat ujung bajunya. Laras terkekeh pelan.
"Aku tidak sebodoh itu Arin, semenjak kepulanganku ke Indonesia Zian itu berubah, dan bahkan saat aku sedang bersamanya dia sama sekali tidak terlihat bahagia, satu lagi saat aku ikut serta ke sekolah hari itu, aku lihat jelas Zian selalu mencuri pandang ke arahmu, menatapmu intens, itu membuatku bingung sekaligus muak," jelas Laras di sela senyumannya, dapat Arin rasakan senyuman Laras adalah sebuah keterpaksaan. Arin lagi-lagi membuang pandangan, menatap Laras sama saja menyakitinya.
"Sekarang kamu hanya perlu jujur, Arin. Zian suka kan sama kamu?" tanya Laras dengan nada mengintimidasi, tiba-tiba saja hawa di sekitar Arin jadi mencekam.
"Kami tidak ada hubungan apa-apa, lagipula aku tidak mempunyai perasaan padanya, aku hanya menganggapnya sebagai teman," jawab Arin berusaha tenang agar tidak kebawa perasaan. Laras kembali menggeleng, membantah ucapan Arin, dia sama sekali tidak percaya.
"Tolong Arin. Katakanlah yang sebenarnya, aku sangat mencintai Zian, aku tidak mau dia berpaling. Aku rela pulang ke Indonesia cuma buat ketemu dia," Laras mulai terisak, tetapi Arin ragu apakah dia benar-benar menangis atau hanya pura-pura saja agar Arin simpati dan mau jujur, tapi Arin juga bingung mau jujur tentang apa secara dia tuh emang gak pernah terima Zian walau tuh anak gak habis-habis selalu ngejar dia, bukan tanpa alasan sih. Zian seperti itu kan cuma gak mau rahasianya kebongkar oleh Arin. Kalo diingat-ingat, Arin kepikiran juga masalah saat ia memergoki Zian di ruang Osis, seharusnya Laras cemburu pada perempuan misterius itu bukannya pada Arin.
"Aku tegaskan sekali lagi, aku dan Zian sama sekali tidak ada hubungan, dan aku pribadi menganggap pertemuanku dengan Zian adalah sebuah kesalahan besar," jawab Arin final.
"Bukankah itu artinya kamu pernah menjalin hubungan dengannya? Jawab Arin!!" Tukas Laras semakin mendesak.
"Iya. Tapi itu semua adalah kesalah pahaman yang tak bisa aku jelaskan, jadi berhenti overthinking dan jalanilah hubungan kalian dengan baik," sahut Arin, mengatakan hal ini kenapa membuat hatinya sakit. Laras menatap Arin tak percaya.
"Kau pikir semudah itu? Zian sekarang sudah tak punya perasaan padaku lagi, dia bahkan menghilangkan kalung liontin bulan pemberianku," Laras akhirnya menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Arin mengerutkan dahi, "Kalung dengan liontin bulan sabit?" Laras mengentikan tangisnya dan menatap Arin penuh tanda tanya. "Bagaimana kau tau?"