
Arin mengaduh kesakitan saat kompres es batu mendarat di lengannya. Zian sampai beberapa kali meminta maaf dan menenangkan Arin bahwa prosesnya gak akan lama. Rini berdiri sambil membawa kotak obat, raut wajahnya kentara panik banget, dia merasa menyesal karena sudah meminta Arin membawakan pesanannya.
Bel sebentar lagi berbunyi, Arin takut tidak bisa mengikuti ujian dan harus ujian susulan besok, Arin tidak suka menunda tetapi kondisi yang memaksa.
Zian membereskan alat kompres setelah megolesi lengan kanan dan kiri Arin dengan salep. Tangan Arin memerah dan perih akibat kuah bakso di kantin tadi, jangan risaukan tentang mangkok ibu kantin, beliau ikhlas kok lagian bukan sepenuhnya salah Arin.
"Untuk sementara lo istirahat dulu di sini, gue yakin lo gak bisa mengikuti ujian dengan keadaan yang seperti ini," jelas Zian setelah selesai merapikan semua pada tempatnya.
"Bener kata kak Zian, Arin. Mending lo ikut ujian susulan aja besok, gue takut lo jadi gak fokus nanti," sela Rini menimpali. Arin menunduk diam, mencoba berfikir apakah ia akan melewatkan ujian kali ini.
"Gue gak bisa, capek-capek gue belajar semaleman masa iya gue tunda gitu aja," desak Arin, nekat mau ikut ujian hari ini juga, tentu dengan kondisinyanya yang sedikit kurang baik.
Zian beralih menatap Rini, sorot matanya menandakan meminta pertolongan untuk membujuk Arin secara mereka berdua teman dekat sudah lama, tapi Rini juga kehabisan kata-kata, Arin kalo gak keras kepala ya kepala batu, ehh sama aja sih, ya gitu lah pokoknya.
"Tenang saja, nanti kalo lo ujian susulan gue temenin bila perlu gue buatin contekan," usul Rini yang sontak membuat Zian melotot, emang sih niat Rini baik tapi mencontek saat ujian merupakan perbuatan yang salah meski Zian dulu sering kayak gitu, tapi itu dulu ya sekarang sih udah gak lagi.
Rini menggaruk tengkuknya sambil cengengesan saat mendapat tatapan tajam dari Zian.
Tepat pada saat itu juga bel berbunyi nyaring. Arin kembali berfikir antara pergi atau tetap tinggal di UKS, sendirian.
"Gue balik ke kelas dulu, lo di sini saja diem, biar gue yang izinin lo sama guru pengawas pasti beliau paham. Nanti pulang sekolah bareng gue ya," tanpa sadar Zian mengelus kepala Arin lalu berlari keluar. Rini sudah menutup mulut karena baper dengan adegan di depan mata, sedangkan Arin? Dia mematung di tempat, antara salting atau kaget, entahlah.
30 menit lebih Arin mendekam di UKS, setelah diskusi panjang lebar serta bujukan dari Rini akhirnya Arin terpaksa nurut untuk kali ini saja, padahal Arin pengen banget nyelesain ujian tepat pada waktunya tapi malah dapat musibah yang tidak terduga, setidaknya satu mata pelajaran saja jangan ada yang nambah lagi.
Karena bosan dan bete juga lama-lama ngomong sama setan, Arin memilih untuk rebahan saja di brankar UKS karena semula posisinya duduk di sofa kini berpindah, sambil main HP Arin menikmati musik yang terlantun dari benda pipih miliknya.
"Apes banget gue, gila." Arin melempar ponselnya ke atas meja karena kehabisan baterai, semalam lupa charger, berakhirlah Arin tiduran telentang sambil menatap langit-langit kamar karena sudah tidak ada benda yang dia mainkan lagi.
Arin hanya berharap bel pulang segera berbunyi karena kan biasanya orang ujian cepet pulang apalagi kalo duluan selesai jawab soal.
"Rini mana sih? Masa jawab soal Ekonomi aja lama banget," Arin misuh-misuh gak jelas, merutuki Rini yang lama datang menghampirinya.
Pintu UKS terbuka, Arin sontak menoleh harap-harap itu Rini, tapi senyumannya kian pudar karena bukan temannya yang datang melainkan Zian dengan tas yang disampirkan pada kedua bahu lebarnya, salah satunya adalah tas Arin.
"Ayo pulang. Rini nitipin tas lo sama gue, dia udah balik duluan," ujar Zian yang sudah berdiri di samping brankar. Arin jelas geram dong, berani-beraninya Rini ninggalin dia sama Zian, berdua.
"Kenapa bengong? Mau nginep lo di sini?" Zian menjitak kening Arin membuat empunya tersadar.
"Oh ya? Mana coba sini gue lihat." Zian menarik tangan Arin dan mencium keningnya sekilas. Arin yang mendapat perlakuan tiba-tiba lagi dari Zian hanya bisa diam merutuki tingkah blak-blakan lelaki di depannya itu.
'Zian asuu, hobi banget bikin jantung gue gedebag gedebug. Rilex Arin, jangan sampai jatuh ke pesonanya, ingat dia sudah punya pacar jangan berharap lebih meski lo sudah mulai ada rasa sama begundal satu ini'
"Rin, lo baik-baik aja kan? Muka lo merah banget kayak tomat."
"Hah? Iyakah?" Arin segera menyembunyikan wajahnya dengan selimut, menghindar untuk bertatapan dengan Zian.
.
Arin bersandar pada jendela mobil Zian, memandangi pohon-pohon yang menjulang tinggi di sepanjang jalan. Zian sesekali melirik Arin melalui ekor matanya, gadis itu tampak murung entah sedang memikirkan apa.
Jalan menuju rumah Arin tidak begitu jauh tapi gak tau kenapa Zian malah mengajak Arin muter, alhasil dari tadi mereka gak sampe-sampe, mana Zian bawa mobilnya lelet banget sampai diklaksonin beberapa kali oleh pengendara lain, padahal Arin pengen cepat-cepat pulang biar bisa rebahan supaya ntar malem bisa belajar sampai subuh.
Kurang lebih setengah jam mereka berdua keliling akhirnya tiba juga di rumah Arin.
Zian tertawa gemas karena dari tadi Arin cemberut terus gara-gara Zian ajak muter. Bukan tanpa alasan, Zian sebenarnya pengen ngomongin sesuatu tapi gak jadi padahal ini tuh kesempatan emas mumpung lagi berduaan tapi entah kenapa lidah Zian terasa kelu bahkan untuk sekedar memulai topik dia tidak bisa.
"Ehh tas lo ketinggalan," Zian mencegat lengan Arin sampai gak sengaja mencet pas di bagian luka Arin. Zian melotot dan segera melepas cekalan tangannya.
"Maaf, gue gak sengaja." Arin hanya menatap Zian malas, meraih tas nya di kursi belakang dan segera turun.
"Thank's ya, udah anterin gue pulang walaupun harus muter dulu keliling dunia." Zian mau tak mau tersenyum mendapat sindiran dari Arin.
"Masuk sana, istirahat yang bener, besok lo ujian susulan."
"Iya tau. Lo juga hati-hati." Zian mengangguk mantap, menjalankan mobilnya setelah Arin tiba di depan pintu rumah.
"Hari yang menyebalkan sekaligus membingungkan."
Malam harinya, Arin memutuskan untuk belajar usai makan malam, karena besok Arin akan mengikuti 3 ujian sekaligus. Entah kenapa Arin susah sekali fokus, memori tentang Zian di sekolah tadi siang berputar di otaknya sehingga membuat konsentrasi nya buyar.
"Zian bangshattt, lo kenapa kayak gini sih ke gue?"