
Baru juga sampai sudah diajak lomba, padahal bayangan Arin sampai lokasi itu langsung bangun tenda dan boleh istirahat tetapi semuanya salah. Arin pengen pulang rasanya jika terus-terusan begini.
"Arin, lo sekelompok sama gue aja," ajak Bastian.
"Gak bisa, kelompok sesuai kelas masing-masing, dan lo kelas 12 jadi harus satu kelompok dengan teman seangkatan lo," tegur Zian, sudah tau niat Bastian yang buru-buru datengin Arin.
"Lah lo juga gak bisa dong satu kelompok sama Arin, lo kan kelas 11," ujar Bastian dengan muka mengejek. Lah iya juga ya.
"Tapi gue panitia, bebas milih mau masuk kelompok mana," dengan wajah songongnya, Zian tersenyum miring penuh kemenangan.
"Sial. Gak usah bawa-bawa jabatan lo, gue gak akan ngikutin aturan konyol dari lo, gue bakal tetep sekelompok sama Arin, Rini lo juga boleh ikut," karena sudah terbiasa menentang, Bastian tidak peduli dengan yang namanya aturan, lagipula siapa yang berani menentangnya.
"Bukannya lo panitia ya, mana bisa ikut kegiatan seperti ini, tugas lo hanya membimbing dan mengarahkan, jika lo masuk kelompok sini bakal lebih mudah kita menang dan tentu saja akan mengundang banyak kontravensi dari kelompok lain juga," tutur Arin. Zian sama sekali tidak memikirkan itu, yang ada di otaknya dia hanya ingin menang dari Bastian dan berusaha menjauhkan Arin darinya.
"Denger tuh, lagian lo lupa ya sama jabatan sendiri, hampir aja gue ngalah tadi kalo Arin gak bilang kek gitu. Udah sana balik ke kumpulan lo, noh di sana deket meja," Bastian mendorong tubuh Zian yang kaku seraya tertawa puas. Dibilang malu ya malu, dibilang kesal juga kesal, hilang sudah kesempatannya untuk bareng Arin selama kegiatan karena dia bakalan sibuk ngurus ini itu.
Mereka semua memang dibebaskan untuk memilih kelompok masing-masing, asal adil dan semua sama-sama setuju. Maklum, gurunya lagi pada mager buat catat nama murid yang banyaknya bejibun itu, jadi urusan bagi membagi diserahkan sama Osis selaku panitia. Dalam satu kelompok terdiri atas tujuh orang, selebihnya tidak dianggap sebagai kelompok.
Bagi yang memenangkan lomba tersebut akan mendapat hadiah, tapi masih dirahasiakan agar surprise.
Misinya ialah mencari bendera merah putih yang sudah terletak mencar di dalam hutan, dengan mengikuti penunjuk arah yang sudah tersedia membuat semuanya sedikit mudah. Agak kesal sih karena benderanya diletakkan di tempat-tempat tinggi seperti di atas pohon dan lain-lain, sampai Bastian harus manjat buat ngambilnya, Arin tertawa saat melihat cara Bastian manjat udah mirip monyet, bukan mirip lagi tapi persis.
Sekelompok sama Bastian sangat menyenangkan menurut Arin, karena dia tidak perlu bersusah payah memanjat buat ambil benderanya, tinggal lirik Bastian terus kasih senyum langsung jalan tuh anak, meskipun Bastian ngedumel gak jelas tapi itu tak membuatnya berhenti. Ada sih laki-laki lain dalam kelompok Arin namanya Amber, tapi anaknya letoy jalannya aja melebihi perempuan, mana bisa disuruh manjat, dia bagian nunjuk arah doang masalah manjat biar Bastian yang jabanin. Yang satunya lagi namanya Fandi sekelas sama Bastian, bisa lah bergiliran manjat dengan Bastian, kalo gak salah Fandi emang suka manjat-manjat gitu, mungkin karena sedikit mirip dengan hobinya, yakni panjat tebing.
Bastian protes saat Arin manggil Amber untuk masuk kelompoknya, tapi kata Arin kasian dia gak ada temen makanya suruh ke sini aja. Bastian gak bisa protes lagi, tapi masalahnya Amber selalu nempel ke dia, waktu Bastian manjat dia teriak nyemangatin.
"Abang Bastian pasti bisa, ayo bang, semangat sedikit lagi, itu bendera nya sebelah kiri," teriak Amber, suaranya melebihi isi hutan.
"Diem ember, gue gak fokus gara-gara denger suara lo, bisa gak kalo bicara atau pun teriak gak usah dimanja-manjain tuh suara, geli tau gak." Bastian sudah mulai cape, dari tadi dia diem doang bukan karena suka tapi gak mau buang-buang energi untuk marah, mungkin sekarang kesabarannya hilang makanya emosi Bastian meledak. Arin, Rini, Ika sama Dela bagian ketawa aja.
"Fandi, tangkap!!" Bastian berteriak dari atas pohon yang tingginya gak seberapa. Dengan sigap, Fandi menangkap bendera kecil itu dan menyerahkannya pada Arin.
"Jangan pedulikan orang lain dalam kompetisi seperti ini, selama kita mampu cari sebanyak mungkin kenapa tidak, lo mau memang kan? 10 biji gak menjamin kelompok kita bisa menang." Ucapan Bastian ada benarnya juga, siapa tau ada yang dapat lebih dari mereka. Arin menghela nafas pelan lalu mengangguk dan terus melanjutkan perjalanan jauh masuk hutan yang lebih dalam lagi.
Seharusnya mereka setuju dengan Arin jika tidak mau hal yang berbahaya terjadi. Mereka bahkan tidak sadar, niat jahat sudah nampak di depan mata mereka.
Satu persatu kelompok siswa mulai berdatangan menghampiri tenda masing-masing karena waktu yang diberikan sudah habis. Ada yang tepar di tempat dan ada yang langsung makan karena lapar.
Zian selaku panitia, menghitung berapa banyak kelompok yang sudah kembali, sementara anggota nya yang lain bertugas membagikan minuman dan makanan serta obat-obatan jika ada yang terluka atau cedera selama kegiatan di lakukan.
Zian ingat betul ada 35 kelompok, dan yang kembali baru 30, masih ada 5 kelompok lagi di dalam hutan dan salah satunya kelompok Arin, belum kelihatan batang hidungnya sejak tadi. Zian mencoba tenang, mungkin masih di jalan, kelompok lain juga masih ada yang belum balik. Di sini, Zian mencoba berpikir positif meski otaknya selalu mengarah pada yang negatif. 4 kelompok lainnya sudah kembali, Zian celingak-celinguk mencari siapa tau kelompok Arin nyempil di sini, tapi tidak ada hanya muka-muka asing yang dilihatnya.
"Kak Zian, ini bendera yang kelompok kita dapet selama kegiatan," Nayla dengan godaan mematikannya mencoba mengalihkan perhatian Zian yang pandangannya sejak tadi menelisik ke dalam hutan.
"Kak Zian cari apa sih? Aku di sini loh," Nayla melambaikan tangannya di depan wajah Zian sehingga pemuda itu sadar dan meminta maaf karena tidak fokus.
"Sorry, gue udah catet semuanya. Lo bisa pergi ke tenda sekarang."
"Kak, lihat deh tangan aku luka tadi kegores sama ranting pohon," rengek Nayla seraya memperlihatkan lukanya yang hanya setitik, lebih mirip gigitan nyamuk daripada luka. Zian menghela nafas kasar.
"Minta anggota PMR untuk ngobatin luka lo, gue gak bertugas di bagian itu," ujar Zian datar tanpa melihat Nayla sedikitpun. Nayla menghentakkan kakinya ke tanah karena kesal kemudian pergi diikuti anak buahnya yang tolol, mau aja dijajah sama Nayla.
"Sudah semuanya?" Agatha menghampiri Zian yang terlihat resah.
"Belum, masih ada satu kelompok lagi," jawab Zian pelan.
"Kelompok Arin?" Agatha bisa menebak dengan mudah karena paham banget dengan ekspresi Zian yang kentara banget tengah khawatir saat ini. Terlebih lagi wajah Arin belum terlihat oleh pasang mata indahnya, biasanya Agatha selalu dapat menemukan Arin karena memang wajahnya gak asing walaupun di keramaian sekalipun.
"Lo tenang aja, mereka sebentar lagi balik kok, mungkin masih di jalan," Agatha menepuk bahu Zian dan berlalu pergi. Zian harap ucapan Agatha benar karena ia pun berharap demikian.