Selfish

Selfish
Selfish : 74



Rini baru saja selesai menstater motornya sebelum panggilan dari sang Mama menggema di dalam rumah. Mau tak mau Rini mengurungkan niatnya untuk segera pergi, tangannya memutar kunci motor sehingga mesinnya mati, buru-buru masuk ke dalam rumah memenuhi panggilan Mama.


"Kenapa sih Ma? Rini mau jemput Arin bentar doang, masa Mama udah kangen aja."


"Siapa yang kangen sama kamu? Ini loh tolong angkat ember isi daging ini ke depan, soalnya mau langsung dimasak sama Tante kamu," Gea menunjuk ember berisi full daging ayam yang kelihatannya berat sekali.


"Gak bisa, itu terlalu berat," Rini menggeleng cepat tanda menolak, tenaganya tidak sekuat itu. Ngangkat batu sebesar kepalan tangan saja dia ngeluh.


"Mama gak menerima penolakan. Cepat angkat bagaimanapun caranya," tegas Gea lalu berjalan meninggalkan dapur.


Mau dicoba dari sisi manapun, kalo emang dasarnya lemah ya tetap lemah, contohnya Rini tuh. Pindah dari sisi kanan ke kiri tapi embernya sama sekali gak keangkat, bepindah pun tidak.


"Monyet, berat banget anjir," Rini menendang ember tersebut, untung isinya gak berceceran jatuh ke lantai. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk bergegas ke rumah Arin terbuang sia-sia karena Rini sibuk mikir gimana caranya mindahin ember ini ke halaman depan.


Tiba-tiba terlintas sebuah ide yang menurut Rini cerdas sekali, sampai dalam hati dia mengapresiasi dirinya.


Rini membawa seutas tali tambang lalu mengikatnya pada badan ember, setelah itu dengan kekuatan Samson, Rini menariknya perlahan agar tidak tumpah.


"Nah, kayak gini kan enak," Rini mengerling, bangga banget dia sama diri sendiri.


Dari dapur ke halaman depan melewati ruang tamu, jadi di sana Rini gak sengaja ketemu Bastian. Pemuda itu tampak fokus dengan benda pipih di tangannya tanpa menyadari Rini yang susah payah meyeret ember.


"Dih, katanya gak bakal dateng, tiba-tiba aja udah sampai sini," sindir Rini, suaranya sengaja dia besarkan agar seseorang yang menjadi sasarannya mendengar. Dan benar sekali, Bastian mengangkat kepalanya, menatap Rini datar kemudian beralih ke arah ember di atas lantai.


"Cih, ngangkat ember aja gak bisa, lemah," Bastian kembali fokus usai ngata-ngatain Rini yang kini kepalanya sudah berasap, minimal tolongin lah.


"Temen lo mana? Lo bilang bakal ajak dia ke sini?" Bastian melontarkan pertanyaan di saat Rini sedang naik daun, ehh maksudnya naik pitam.


"Belum gue jemput, disuruh Mama bawa nih daging. Emang kenapa lo nanyain Arin? Kalo suka bilang," Rini menaik turunkan alisnya mencoba menggoda Bastian.


"Kalo iya emang kenapa? Sini kunci motor lo, biar gue yang jemput," Bastian berdiri, memasukkan ponsel ke saku celana, berjalan mendekati Rini menagih kunci motor.


"Pake mobil lo aja sono kalo mau jemput."


"Ogah. Kalo pake mobil duduknya jauhan," Bastian menggoyangkan tangannya, memaksa Rini memberikan kunci motornya.


Dengan berat hati, Rini meraba kantong celananya, memberikan kunci Betty pada Bastian. Bukannya pelit, hanya saja Bastian kalo bawa motor suka prank malaikat maut, dan Rini gak mau Betty jadi tumbal kenakalan remaja satu itu. Mana setoran Betty belum lunas masa iya harus masuk bengkel, kan gak lucu.


"Hati-hati bawa motor gue, jangan ngebut," sebelum benar-benar menyerahkan kunci, Rini menatap Bastian penuh intimidasi dan menyampaikan beberapa petuah sebelum memakai Betty.


"Jangan lupa isiin bensin ya, udah 2 minggu gak gue isi," Rini nyengir. Emang banyak maunya.


"Cerewet lo musang," Bastian segera merebut kunci dari tangan Rini dan berlari keluar.


.


Suasana canggung dan hening bercampur jadi satu, tak ada yang berminat memulai obrolan. Dalam perjalanan hanya ditemani kesunyian dan suara deru mesin motor yang melaju dengan kecepatan sedang.


Jujur, ini bukan pertama kali Arin dibonceng Bastian pakai motor, tapi rasanya tuh beda banget, apa karena sudah lama banget ya. Daripada boring begini, Arin kembali mengeluarkan buku paket dari dalam tas lalu mulai menghafal rumus lagi.


"Pasti lo bertanya-tanya kenapa bisa gue yang jemput lo bukan Rini, 'kan?" Suara Bastian berhasil membuyarkan hafalan Arin.


"Nggak juga sih, tapi jujur gue sedikit kaget. Hampir saja gue pukul lo pake sendal karena gue pikir Rini," jawab Arin acuh. Tatapannya lurus ke bahu lebar Bastian, dapat Arin lihat Bastian tengah tersenyum saat ini, manis sekali. Entah karena ucapan Arin atau memang lelaki netra kelam ini melihat sesuatu yang lucu.


5 menit kemudian, mereka sudah tiba di pekarangan rumah Rini, Arin akui rumahnya lumayan luas dan gak bertingkat, tapi gede banget.


Bastian selesai memarkirkan Betty sembarangan, yakni di belakang rumah yang Bastian ketahui adalah gudang.


Arin masih berdiri memperhatikan ibu-ibu yang lalu lalang masuk rumah, katanya acara sudah mau mulai tapi Arin malu masuk sendirian dikira nanti gak ada sopan santun, udah dateng gak diundang. Rini juga mana lagi, gak ada kelihatan batang hidungnya. Udah jemput telat, giliran Arin udah dateng dia ngilang, emang laknat.


"Ayo masuk, Rini ada di dalem." Bastian jalan duluan, kedua tangannya ia masukkan ke saku hoodie yang ia pakai sambil bersiul. Arin memaksakan diri untuk mengikuti Bastian.


Suara ramai dari dalam rumah sayup-sayup terdengar, Arin rasanya mau pulang aja, masalahnya dia tuh benci keramaian, apalagi nanti harus duduk di antara ibu-ibu itu.


Bastian berhenti di depan pintu yang terbuka membuat Arin juga ikutan berhenti, netranya menatap heran laki-laki yang lebih tinggi di hadapannya. Tiba-tiba saja Bastian berbalik dan kini berhadapan dengan Arin.


"K-kenapa berhenti?" tanya Arin dengan gugup karena Bastian menatapnya intens.


"Sebenarnya gue benci orang ramai, dan kehadiran gue di sini cuma pajangan doang atau nggak bahan hinaan dan cacian dari nyokap gue. Lo pasti tau seluruh kasus gue di sekolah kan?" Bastian balik bertanya sementara Arin ngangguk doang walau gak paham, bingung juga mau jawab apa, muka Bastian udah deket banget, Arin sampai tahan nafas.


"Woy, ngapain kalian berdua ciuman di sini?" Arin sontak mendorong bahu Bastian menjauh padahal tidak terjadi apa-apa di antara mereka, cuma posisi nya aja yang aneh. Untung saja itu Rini, bukan nyokapnya.


"Sembarangan lo," balas Arin sarkas sambil merapikan anak rambutnya ke belakang telinga. Bastian tersenyum smirk lalu tanpa permisi merangkul pundak Arin membuat posisi mereka begitu dekat.


"Yah, gagal deh kita kiss gara-gara lo, dasar pengganggu," ujar Bastian. Rini membulatkan matanya tak percaya, Arin pun sama.


"Gue gak nyangka, Rin." Rini menggelengkan kepalanya dengan raut kecewa. Arin berusaha meyakinkan bahwa semua itu tidak benar.