Selfish

Selfish
Selfish : 43



Sesuai ucapan Zian tadi pagi di sekolah, kini dia benar-benar berdiri di depan rumah Arin sambil bersandar di mobil mewahnya memperhatikan bangunan ber cat putih bersih di hadapannya. Arin terpaksa membatalkan kegiatan kerja kelompoknya bersama Rini dan syukurlah bisa Rini maklumi, karena katanya juga hari ini dia harus pergi mengunjungi neneknya.


Arin mendengus kesal, menatap pantulan dirinya di sebuah cermin besar, bagaimana tidak kesal Zian menyuruhnya dandan yang cantik kan setan namanya, Arin mana bisa dandan, pakai lipstik saja masih belepotan, ini lama-lama Arin sewa MUA aja kalo kayak gini.


Karena sudah terlalu lama menunggu, Zian melirik jam mahal merek Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ck! Sudah pukul dua, tuh anak kenapa lama banget sih, disuruh dandan aja sampai berabad-abad, padahal tinggal pakai bedak sama lipstik doang," gerutu Zian seraya membawa tungkainya masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar, jadi siapa-siapa yang mau masuk terserah, bahkan perampok pun gak masalah kalo masuk, asal sopan aja sama pemilik rumah.


Sebelum menuju kamar Arin, Rima izin dulu takut nanti menimbulkan kecurigaan pada Mama Arin, diduga ngapa-ngapain nanti dalam kamar.


Zian meniti tangga satu persatu mencari kamar Arin.


"Pasti ini dia," Zian dapat dengan mudah mengenalinya karena di depan pintu tertempel sebuah stiker gambar Barbie dan sebuah tulisan yang menurut Zian agak ngakak, tulisannya begini 'Baca bismillah dulu sebelum masuk, jangan lupa salam, terus di sambung dengan ayat kursi, habis itu lanjut baca Ya sin'. Di bawah nya lagi ada catatan yang lebih kecil. 'Peraturan di atas hanya untuk tamu yang hendak masuk, jika pemilik sah nya boleh asal masuk, terima kasih'.


"Halah, bilang aja lu gak hafal surah Ya sin, ehh gue juga gak hafal. Apa iya gue harus lakuin peraturan ini? Baca bismillah sama salam doang deh," ujar Zian sambil melakukan apa yang tertera di catatan depan pintu kamar Arin.


Ceklek!!!


"Sudah siap gak lo?" Zian melongokkan kepalanya dari balik pintu, menatap sekeliling dan mendapati Arin yang masih duduk di meja rias nya.


"Anjing, kaget asuu," umpat Arin karena kedatangan Zian yang tiba-tiba, lipstik yang tengah dia pake jatuh kepental tak tentu arah, dan sudut bibirnya kegores oleh lipstik tadi. Zian mencoba menahan tawa agar Arin tidak tersinggung, Zian melangkah masuk dan menutup pintu, Arin meneguk salivanya saat Zian perlahan berjalan ke arahnya. Zian menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan Arin, tangannya bergerak mengutip sesuatu, yah itu adalah lipstik yang sempat Arin jatuhkan karena efek kaget.


"Pake ini aja gak bisa, sini," Zian menangkup wajah Arin agar berhadapan dengannya, manik mereka bertemu dan saling menatap lamat-lamat, jantung Arin berdetak lebih cepat dari biasanya, padahal cuma tatap-tatapan doang bisa membuat kondisi jantung tidak aman. Gak-gak, ini pasti salah. Gue gak mungkin suka sama berandal satu ini, buang rasa suka lo Arin, inget Dion masih belum lo taklukkan.


Zian menyentuh bibir Arin dan mengusapnya perlahan, menghilangkan bekas lipstik yang sebelumnya Arin oleskan, tebalnya Masya Allah karena memang Arin tidak bisa menyesuaikan.


"Mau ngapain lo?" Arin menundurkan kepalanya sehingga tangan Zian yang tadinya menangkup pipinya terlepas karena pergerakan Arin yang tiba-tiba.


"Udah sih diem aja, lo mau cepet gak?" Zian kembali menarik tengkuk Arin memperbaiki posisi mereka semula.


"Jangan aneh-aneh lo, gue bogem kalo lo macem-macem," sergah Arin sebelum Zian melanjutkan aktivitas nya. Dengan telaten, Zian mengoleskan lipstik ke bibir Arin, tapi sebelum itu Zian mengoles pelembab karena kondisi bibir Arin yang sedikit kering.


"Sudah, coba lihat! Cantik kan?" Zian berdiri dan menaruh asal lipstik punya Arin.


"Lumayan, kok lo pinter masalah make up begini, gue curiga lo sering pake lipstik," ujar Arin dengan tatapan menyelidik. Zian merotasikan bola matanya malas.


"Gak usah banyak omong, ayo cepat, keburu sore," Zian berjalan lebih dulu menuju pintu, berniat menunggu Arin di lantai bawah saja.


Arin meraih ponsel di atas meja kemudian mengikuti langkah kecil Zian.


"Bagus, satu langkah lo nurut sama gue, memang harus jadi penurut sama calon suami," ucap Zian dengan santainya sehingga membuat Arin tersedak ludahnya sendiri.


"Ngawur lo bangshattt," ketus Arin. Zian tak menjawab, tatapannya masih fokus menghadap depan, sesekali dia tersenyum tanpa sepengetahuan Arin.


Arin mengernyit heran saat mobil yang dikendarai oleh Zian memasuki sebuh komplek yang Arin sendiri baru lihat, dan dengan alasan apa Zian membawanya ke sini. katanya mau beli barang tapi kok kayak mau pulang.


Mobil berhenti tepat di depan rumah mewah di antara deretan rumah yang lain, desainnya cukup unik dan menarik membuat mata yang memandang menjadi tenang.


"Turun, kita sudah sampai," titah Zian seraya membuka seat belt diikuti oleh Arin yang masih bingung dan bertanya-tanya dalam benaknya. Zian langsung menarik tangan Arin untuk mensejajarkan langkah mereka lalu memasuki bangunan mewah itu.


Arin terbelalak kala wanita paruh baya menghampiri mereka dengan senyum merekah di wajahnya.


"Ohh ini toh calon mantu Bunda yang sering kamu ceritaikan itu?" tanya wanita tersebut. Bentar, Arin ngelag dulu apa maksudnya calon menantu? Zian hanya terkekeh sambil terus menggenggam erat tangan Arin.


"Cantik ya, manis lagi."


"Iya, Bun. Arin memang cantik, tapi sayang agak judes sedikit, lihat aja tuh ekspresi wajahnya," bisik Zian ke telinga sang Bunda. Arin ngerti sekarang, si kamvret Zian membawa Arin ke rumahnya, memang dasar setan. Ingin sekali Arin menjambak rambut Zian sampai botak licin.


"Ya udah yuk masuk dulu, bak baik berdiri depan pintu nanti ditabrak hantu," Bunda Zian menggandeng lengan Arin sehingga membuat gadis itu terperanjat, Zian yang semula menggenggam tangan Arin kini mulai melepasnya seolah memberikan ruang pada Arin dan sang Bunda untuk saling dekat dan mengenal satu sama lain.


Arin tersenyum canggung kala Bunda Zian menyuapinya kue buatan rumahan. Padahal Arin bisa sendiri, gak perlu disuapin, mau tak mau dia harus buka mulut, karena menolak juga malu. Zian tersenyum gemas melihat pemandangan yang menurut Zian indah sekali.


"Oh iya, Bunda denger dari Zian kamu jadi wakil ketua osis gantiin Agatha?"


"I-iya benar."


"Wahh bagus dong, kalian jadi semakin dekat."


Di tengah kebahagiaannya, tiba-tiba rasa sakit yang sudah lama hilang kini muncul lagi, susah payah Zian tahan tapi sepertinya tidak bisa, Zian tidak ingin Bunda dan Arin tau jika dia sedang menahan sakit.


"Bunda, jagain Arin ya, Zian mau ke atas sebentar, gak lama kok." Zian mencoba menahan agar ringisannya tidak keluar.


"Ya sudah, lama-lama juga gak apa-apa, Bunda seneng kok sama Arin," Bunda melambaikan tangannya mengisyaratkan agar Zian buru-buru pergi, dasar emak durhaka. Arin yang tidak terima ditinggal sendiri menatap Zian protes, tapi Zian tidak menanggapi, sambil memegang dada nya Zian beranjak pergi.


"Aneh banget tuh anak."


Maafkan kalo ada typo😭😭