Selfish

Selfish
Selfish : 57



Arin menghempaskan tubuh kecilnya di atas ranjang empuk, menatap kosong ke langit-langit kamar, diam memikirkan apa yang dilihatnya hari ini.


Masih ada keraguan dalam benak Arin, gak mungkin Zian seberani itu untuk mengonsumsi minuman beralkohol yah walaupun banyak anak seumuran dia sering begitu tapi untuk Zian sih Arin kurang yakin. Pasti ada masalah serius yang membuat pemuda dengan netra tajam itu melakukan hal seperti ini.


Terlalu banyak berpikir membuat otak Arin capek, matanya seketika memberat, kantuk mulai menyerang, sampai lupa bahwa dia belum mandi dan ganti seragamnya. Masa bodoh dengan semua itu, Arin memilih untuk menuju alam mimpi.


.


Zian memasang masker di wajahnya saat sudah sampai di depan pintu. Jangan sampai Bunda tau jika dirinya habis minum, gak bisa Zian bayangin gimana marahnya sang Bunda.


"Kok baru pulang? Kenapa pakai masker segala? Kamu sakit? Sakit apa?" pertanyaan beruntun dari Riana membuat Zian pusing, entah karena efek minuman atau gelagapan.


"Zian sedikit flu, dan tadi ada rapat Osis mendadak di sekolah," jawab Zian berbohong, berusaha menunduk agar Bunda tidak melihat langsung ke matanya.


"Ya sudah, kamu istirahat sana nanti Bunda buatin teh hangat dan bawain kamu obat," Riana mengusap surai hitam putranya lalu melenggang pergi menuju dapur.


Zian cepat-cepat pergi ke kamar untuk membersihkan diri, minum air banyak-banyak biar baunya hilang, bila perlu sikat gigi pakai odol satu botol.


Selesai mandi, Zian terduduk di tepi ranjang menatap lurus ke arah benda pipih yang ia taruh di atas meja, tangannya enggan sekali untuk meraihnya. Zian memijat pangkal hidungnya, kedatangan tiba-tiba membuatnya tak siap menerima kenyataan bahwa dirinya sudah tak menaruh perasaan lagi.


"Kenapa kamu harus datang di saat semua perasaan aku hilang," Zian menjambak rambutnya, bulir bening membasahi pipi, tidak bisa dipungkiri dengan kata-kata, Zian harus menghadapi perasaannya sendiri. Jauh dilubuk hati Zian masih ada sedikit rasa cinta namun sudah terkubur bersama kenangan masa lalu, kini ia sudah membuka lembaran baru memulai kehidupan baru dan cinta yang baru.


Terserah semua orang mau nyebut Zian egois, pecundang, bajingan, tapi jika mereka ada di posisinya sekarang pasti akan melakukan hal yang sama. Tanpa komunikasi, tanpa kabar lebih dari satu tahun dan sekarang tiba-tiba muncul di saat hati sudah kosong akan cinta lama. Zian bimbang, apa yang harus ia lakukan.


Suara ketukan pintu menyita atensi Zian, buru-buru ia menghapus bekas air mata, meski matanya sedikit bengkak Zian tak menghiraukan itu, masih banyak alasan dengan sedikit bumbu kebohongan yang akan dia jawab jika sang Bunda bertanya nanti.


Zian membuka pintu perlahan, di depan pintu ia mendapati senyuman hangat Ibunda tercinta. Zian menghela nafas lega karena Riana tidak memperhatikan hidungnya yang memerah habis nangis, pasti beliau akan mengira jika itu efek dari flu.


.


Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menyelinap paksa masuk ke matanya. Arin menguap lebar, menyadari posisinya tidur sudah ada di lantai dengan selimut dan guling berserakan kemana-mana. Arin diam sebentar, menatap sekitar sambil mengumpulkan nyawa.


Arin menatap jam dinding yang menempel di atas lemari. Sudah pukul 7 pagi, itu artinya Arin sudah tidur selama 15 jam. Arin tersenyum bangga, ini adalah rekor hibernasi yang paling lama. Untung hari ini libur sekolah, jadi Arin bisa santai kalo seandainya bangun sampai jam 4 sore.


Dor Dor Dor....


Suara ketukan pintu yang tak santai mengganggu pendengaran Arin, sambil berdecak kesal ia membawa tungkainya untuk membuka pintu.


"Kenapa sih?" Arin menatap kesal pada seonggok manusia yang berdiri tepat depan pintunya, dengan cengiran khas menampilkan deretan giginya yang putih.


"Jelek banget lo sumpah, lihat tuh air liur lo masih nempel. Gue tebak, pasti kemarin lo gak mandi kan? Ihh jorok banget sih, anak perempuan kok begi---Awww Anjing, sakit setan," Dion mengusap betisnya yang ditendang keras oleh Arin.


"Lo gedor-gedor pintu kamar gue cuma buat ngeroasting gue gak usah kesini ******," bentak Arin dengan tatapan datar ala bangun tidur.


"Ya maaf, gue kan cuma bicara fakta, emang bener air liur lo jalan sampai telinga lo," cicit Dion pelan namun masih bisa didenger oleh telinga Arin.


"Pergi, atau gue gantung lo hidu-hidup," sentak Arin hendak menutup kembali pintu kamarnya namun segera ditahan oleh Dion.


"Gue mau ngajak lo kencan," penuturan tiba-tiba Dion membuat Arin keselek ludah sendiri, bagaimana tidak dia bahkan belum siap untuk mendengar kalimat itu.


"Maksud lo apaan dah?" tanya Arin dengan tatapan membola tidak percaya, lebih tepatnya ragu.


"Gue serius, hari ini, detik ini, menit ini, gue mau ngajak lo kencan," ucap Dion lagi penuh yakin, tidak ada sirat kebohongan yang Arin dapatkan dari wajah Dion. Tapi, ini terlalu kebetulan. Arin bahkan belum siap.


"Gak butuh omong kosong, mending lo pulang terus lanjut bermimpi," Arin berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya, mencoba untuk terlihat biasa saja.


"Susah banget ya buat percaya sama gue, padahal gue udah serius banget demi apapun," Dion menunduk menatap kedua kakinya yang terbungkus sepatu.


"Kalo lo mau kencan, ajak kak Agatha aja, dia pasti mau," meski pengusapannya biasa saja namun Arin deg-deg an parah.


"Tapi gue mau-nya lo, gimana dong?" Tatapan mereka bertemu, sesegera mungkin Arin membuang muka, pipinya terasa panas, antara sadar atau nggak Dion bisa melihatnya, namun bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"G-gue sibuk, mau temenin nyokap belanja bulanan."


"Tadi gue ketemu tante Rima di bawah, katanya lo free hari ini dan gak ada tuh rencana yang lo maksud tadi."


Arin menggigit pipi dalamnya mencoba cari alasan yang lebih masuk akal.


"Gue harus belajar, soalnya ada ujian besok pagi."


"Gak terima alasan klasik. Mending lo siap-siap sekarang gue tunggu di bawah."


"Dih maksa, kalo gue gak mau?" tantang Arin dengan tangan menyilang di dada.


"Gue sendiri yang bakal mandiin lo," Dion menarik sudut bibirnya kala melihat ekspresi Arin usai ia mengatakan kalimat tadi.


.


Sudah siap dengan pakaiannya, Arin membawa kakinya melangkah keluar kamar, dia tipe orang yang gak mau buat orang menunggu lama, jadi sebisa mungkin dia bergerak cepat untuk menyelesaikan mandinya, bukan mandi bebek tapi, Arin kalo mandi biasanya juga cepet.


Dari arah tangga, Arin bisa melihat Dion duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sumpah demi raja Udang Dion kelihatan lebih tampan jika kalem begitu, dari samping saja kelihatan cool apalagi dari depan. Cepat cekik Arin, sepertinya dia sudah hilang kewarasan.


"Gue udah siap." Tegur Arin dengan suara memelan, rasanya jantung Arin mau loncat pindah posisi ke tumit.


"Ohh, ehh sorry. Ayo jalan." Dion berjalan mendahului Arin dengan kunci motor yang ia putar di tangannya.


'Ini dia gak muji penampilan gue gitu? Padahal gue udah capek-capek dandan dan dia terlihat biasa saja. Apa lipstik gue belum cukup ya, atau alis gue yang menukik sebelah? Nggak kok, semuanya perfect' batin Arin melihat pantulan wajah di layar ponselnya.


"Woy, lo mau diem doang di situ? Ayo buruan, keburu macet," suara teriakan Dion membuat Arin tersentak lalu buru-buru keluar.


Apa sih, gaje banget😭😭....


Intinya semoga suka