Selfish

Selfish
Selfish : 31



Pencarian sejenak dihentikan karena kondisi waktu yang sudah mulai gelap, apalagi mereka hanya berbekal senter dari HP, tetapi semua itu tak membuat tekad Zian gugur, keinginannya untuk menemukan Arin secepatnya sudah menggebu-gebu, tak ada alasan baginya untuk berhenti, jika masih mampu kenapa tidak, gelap bahkan tak bisa menghalangi langkahnya.


"Zi, Zi. Kita istirahat dulu ya," Rangga sampai menarik baju Zian untuk berhenti sejenak, Rangga juga sebenarnya ingin lanjut tapi karena kakinya tadi sempat kepeleset akar pohon membuatnya harus beristirahat sejenak.


"Gue harus cari Arin, Ga," sentak Zian seraya menepis tangan Rangga dari pundaknya.


"Gue paham, Zian. Rini juga ada di sana, tapi setidaknya lo pikirin juga kondisi lo," Rangga menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon diikuti yang lain juga.


"Kalian tunggu di sini saja, gue mau lanjut."


"Zian, Zian!! Woyy! Tunggu, bahaya lo kalo pergi sendiri, Zian!! Anjing tuh anak," dengan tertatih-tatih Rangga mengejar Zian yang ambisinya gak pernah pudar sama sekali.


Sementara itu, di tempat yang berbeda, Arin dan kawan-kawan masih menelusuri hutan berusaha cari jalan keluar.


"Kayaknya kita akan bermalam di sini deh, dan besok kita lanjut cari jalan keluar dari hutan ini," ucap Bastian.


"Gimana nanti kalo ada harimau, atau singa yang dateng ke sini?" Sedari tadi, Amber gak berhenti ngoceh masalah binatangan buas yang katanya banyak sekali di hutan ini.


"Lo yang gue jadiin umpan ke harimaunya terus kita ber-enam lari," sahut Fandi sambil tertawa receh.


"Ihh Fandi jahat, gak berperikemanusiaan, hati Amber sakit."


"Geli bangshatt, gue timpuk juga lo lama-lama."


Gak gampang bagi Zian untuk dapat langsung menemukan Arin dengan cepat, terlebih lagi hutan ini terbilang luas jika diukur pake langkah kaki.


"Arin!!!!" Suara Zian menggelegar meneriaki nama Arin, harap-harap yang dipanggil bisa mendengar dan menyahut, tapi tidak ada sama sekali, hanya suara angin yang menyapa pendengaran nya.


"Zian, sebaiknya kita balik dulu soalnya sudah malem, kita lanjutkan besok," lagi-lagi Rangga menghalangi langkah Zian.


"Lo gila, gimana kalo mereka dalam bahaya?"


"Di sana ada Bastian, gue yakin dia bisa lindungi yang lainnya, secara lo kan tau dia kerasnya kek gimana." Ada benarnya juga, Zian tampak berpikir sejenak, berat memang jika harus berhenti saat sudah setengah jalan.


Rangga menyeret Zian untuk kembali dan yang diseret pun tak membantah sama sekali. Zian hanya berharap Arin dan yang lainnya segera ditemukan agar dia bisa tenang dan tidak merasa bersalah pada tante Rima.


.


.


"Gue juga. Fandi, cariin makanan dong di sekitar sini, siapa tau ada buah pisang atau nggak mangga," pinta Dela dengan puppy eyes andalannya.


"Lo pikir gue bapak lo? Cari sendiri sana, lagian di hutan serem dan jauh gini mana ada orang berkebun," Fandi menggeram kesal.


Mereka semua kompak belum makan, karena memang gak ada yang bisa mengira jika keadaan akan serumit ini, takdir tidak bisa ditebak kapan akan terjadi, yang jelas harus selalu mempersiapkan diri.


Tidur dalam keadaan duduk sungguh tidak nyaman, Arin beberapa kali meregangkan punggungnya yang pegal karena terlalu lama bersandar pada pohon.


"Kalo cape sandaran sama gue aja," Bastian duduk di dekat Arin dan menepuk pundaknya pelan dengan tujuan agar Arin mau, karena kalo diperhatikan dari tadi, Arin kelihatan gak nyaman.


"Gak apa-apa kak, nanti saja kalo gue udah ngantuk," Arin menolak halus, takut melukai perasaan Bastian yang sudah berniat baik menawarkan jasa senderan di pundaknya yang seluas samudra. Bastian ngangguk paham, yang lain sudah pada ngorok tidur, Arin heran kenapa mereka bisa nyaman tidur di alam terbuka seperti ini.


"Sorry ya, gara-gara gue kita jadi tersesat begini, kalo saja gue gak egois dan nurutin ucapan lo kita gak bakal kayak gini," Bastian menunduk lalu menatap lekat manik mata Arin yang memicing karena tiupan angin.


"Yang sudah terjadi gak perlu disesali, kak, dan yang sudah berlalu gak bisa diulang lagi. Kakak gak perlu nyalahin diri sendiri. Gak ada yang salah di sini, kita sama-sama punya ambisi yang kuat untuk menang tanpa tau konsekuensi nya. So, berhentilah mengeluh dan pinjamkan saja pundak lo." Bastian tertawa pelan lalu mengangguk.


Jujur, Arin belum pernah lihat wajah Bastian sehangat dan seramah ini, yang biasa ia lihat hanyalah kegarangan, wajah yang dingin tanpa belas kasih, tapi sekarang sudah berubah 360 derajat. Tingkat ketampanannya berkali-kali lipat dari sebelumnya.


Akhirnya Arin bisa tidur nyenyak di pundak Bastian.


"Dasar, cantik-cantik kok ngedengkur," Bastian terkekeh mendengat dengkuran halus Arin. Tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Arin.


"Lo cantik, lo baik, lo perhatian, tapi sayang ketutup sama sifat judes lo aja. Kalo dilihat-lihat lo makin hari makin cantik ya, padahal tujuan gue deketin lo cuma buat manas-manasin Zian doang tapi kok lama-lama gue jadi suka sama lo, ini kesannya kayak gue kena karma gak sih? Ahh gue gila banget ngomong sendiri," Bastian mengusap wajahnya kasar, tanpa sadar dia sudah mengutarakan unek-unek yang selama ini mengganjal di pikirannya, seringkali ia bantah bahwa dirinya tidak menyukai Arin, tujuan utama hanya untuk membuat Zian cemburu, tapis ya sudahlah semua sudah terjadi dan Bastian tidak bisa menepis perasaannya dengan mudah. Bastian kalo sudah suka sama seseorang bakal dia kejar sampai dapat, walaupun yang dikejar semakin jauh. Semakin ku kejar, semakin kau jauh, tak pernah letih tuk dapatkan mu. Lagu yang cocok untuk Bastian, gak peduli jika Arin tidak bisa membalas perasaannya, tapi tidak ada salahnya mencoba setidaknya dia sudah berusaha, kan.


Berpikir membuat otak Bastian lelah, dia juga butuh tidur, tapi dengan keadaan Arin yang masih setia senderan membuatnya gak ada ruang untuk bergerak, takut bangunin Arin, apalagi nih anak nyenyak banget tidurnya sampai ngigau panggil Mama nya. Kalo ditanya pegel, pegel banget coyy, kayaknya besok pagi tubuh Bastian bakalan kaku.


.


.


"Nay, ini beneran arahnya kesini?, jangan sampe kita tersesat gara-gara ulah lo ya," Karin protes, mendadak mata Karin jadi rabun kalo masalah jalan apalagi dalam keadaan gelap begini.


"Gak usah banyak tanya, ingatan gue kuat banget. Lo inget kan waktu pelajaran Penjas, saat semua orang lupa naruh bola basket nya di mana, dan saat itu cuma gue yang inget," jelas Nayla dengan bangga.


"Ya itu kan lo sendiri yang naruh bola nya bego, jelas lah lo inget," gerutu Karin. Nayla memutar bola matanya malas, gak ada harga dirinya memang kalo udah adu bacot sama Karin.


Pokoknya genk Nayla the real menyusahkan, sudah buat orang tersesat dan heboh satu sekolah, ehh sekarang giliran mereka pula yang tersesat.