Selfish

Selfish
Selfish : 54



"Baiklah semuanya, Ibu minta kalian menunjukkan hasil karya kalian di atas meja. Ibu akan periksa satu-satu kelompok kalian dan mewawancarai sedikit," ungkap Bu Ratih sang guru Prakarya.


Semuanya siswa tampak tenang mengeluarkan karya mereka kecuali Nayla dan Karin yang tampak was-was, entah apa tanggapan Bu Ratih mengenai karyanya nanti, mereka hanya bisa pasrah.


Meja pertama, Bu Ratih mendatangi meja Arin dan Rini yang kebetulan berada di depan. Bu Ratih memperhatikan susunan stik yang membentuk rumah. Awalnya sih Bu Ratih mau mulai dari meja paling belakang, namun hasil karya Arin dan Rini menyita pandangannya, otomatis dia berhenti di sana.


"Wahh ini cantik sekali, cara kalian menyusunnya sungguh rapi sekali, pasti butuh keterampilan yang bagus ya. Lah, tapi kok ini ada kolam airnya keruh? Terus kenapa ada buaya di sini?" tanya Bu Ratih saat melihat kolam di belakanh rumah susun stik Arin dan Rini ada seekor buaya nongolin kepalanya.


"Ohh itu emang kolam buaya, Bu," jawab Arin enteng.


"Kan saya suruh kamu buat kolam untuk orang berenang, masa iya mau berenang sama buaya yang ada di telen hidup-hidup itu."


"Kolam untuk berenang ada di dalam rumah kok, Bu, Khusus."


"Owalah, tapi agak serem juga ya pelihara buaya, salah sedikit kamu yang dimakan. Padahal Ibu tadi mau jadiin karya kalian untuk inspirasi rumah masa depan saya nanti bersama calon suami, tapi kalo ada kolam buaya Ibu ngeri," jelas Ratih disambut gelak tawa dari seluruh siswa kecuali Nayla dan Karin yang dari tadi memasang wajah cemas dan iri karena Arin yang notaben musuhnya mendapat pujian dari Bu Ratih.


"Salahin Arin, Bu. Dia yang ngotot pengen buat kolam buaya katanya biar lebih ekstrim, padahal saya sudah larang," adu Rini kemudian mendapat geplakan halus dari Arin.


"Tapi Ibu suka, karya kalian sungguh rapi, Ibu kasih kalian nilai paling tinggi, karena kreatif, unik dan beda dari yang lain," ucap Bu Ratih seraya menulis di buku nilai miliknya. Arin dan Rin tersenyum puas atas karya mereka.


Oke, lanjut. Bu Ratih berhenti di meja kedua, meja Nayla dan Karin, mereka terlihat menunduk tidak berani menatap sang guru.


"Hasil karya kalian mana?" tanya Bu Ratih menatap dua anak didiknya yang terus saja menunduk, bahkan sesekali saling senggol membuat Ratih bingung.


"Ini, Bu." Karin terpaksa mengeluarkan karya yang dibuat oleh mereka berdua dari bawah meja. Ratih mengernyit melihat rumah-rumahan yang dibuat oleh Nayla dan Karin. Suara bisik-bisik mulai terdengar, membicarakan hasil karya mereka berdua yang bisa dibilang hancur.


"Kok begini? Ini sih bukan rumah-rumahan, tapi kandang ayam, tapi kayaknya kandang ayam lebih bagus daripada karya kalian," ujar Bu Ratih, dia bukannya galak hanya saja tidak suka pada murid yang tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan pekerjaan rumah yang dia berikan, apalagi ini sudah termasuk kedalam ujian praktek mereka, tapi Nayla dan Karin bahkan sama sekali tidak mengindahkan.


"Ma-Maaf, Bu. Kita gak sempat buat," jawab Nayla beralasan.


"Satu minggu lebih loh, Ibu kasih waktu tapi masih belum selesai juga, kerjaan kalian apa saja di rumah? Tugas ada untuk dikerjakan, bukan diabaikan. Jika sudah begini mau salahin siapa lagi, terpaksa Ibu kosongin nilai kalian berdua, dan ikut ujian susulan minggu depan, hanya kalian berdua Ibu tambah tugasnya biar jera," Bu Ratih menghela nafas kasar lalu berjalan kembali ke meja selanjutnya.


"Lo sih, diajak kerja kelompok malah ngajak shopping," ketus Karin karena gak suka kalo kena omel Bu Ratih, rasanya tuh malu banget ditonton teman sekelas.


"Sudah-sudah. Kalian berdua memang gak ada bedanya, sama-sama salah jadi gak usah saling salahin, hal itu tidak akan merubah keputusan saya. Minggu depan ke ruangan saya," final Bu Ratih lanjut menilai semua karya milik yang lain. Walaupun berbagai bentuk, tetap punya Arin dan Rini yang paling bagus menurut Bu Ratih. Jadi untuk nilai paling tinggi tidak ada yang bisa menggeser posisi mereka berdua.


.


"Sumpah, gue puas banget si ulat bulu itu kena omel sama Bu Ratih, gue pengen ngakak aja sih tadi, tapi suasana lagi mencekam banget jadi gue memilih buat diam daripada merusak suasana," Rini tak henti-hentinya tertawa membayangkan gimana ekspresi wajah Nayla tadi.


"Udah, tuh orangnya dateng, nanti kena singgung lagi kita," tunjuk Arin menggunakan dagunya ke arah koridor. Rini mengangkat bahunya acuh, gak takut dia kalo harus berurusan sama Nayla, modal bacot doang mah Rini juga bisa, begitu pikirnya.


Nayla mendelik tajam menatap Arin yang balas menatapnya dengan tenang. Lama mereka saling tatap, akhirnya Nayla sendiri yang memutus kontak mata antar mereka. Memilih untuk tidak mencari masalah dulu, sudah cukup dirinya malu-maluin di kelas, jangan sampai di kantin juga dia buat ulah, begitu pikir Nayla.


"Tumben gak ngerusuh, biasanya kalo lihat kita langsung disamperin, habis itu ngomel-ngomel gak jelas," ucap Rini dibalas gelengan tidak tau oleh Arin.


"Biarin aja, gue juga mau tenang barang sehari doang tanpa gangguan dia," sahut Arin lalu kembali meyeruput es teh-nya.


Mereka lanjut berbincang sampai ada seseorang yang menghampiri meja mereka, itu Bastian. Tumben sekali, biasanya dia akan mencelos pergi daripada harus singgah di kantin.


"Ngapain lo, bang?" tanya Rini yang sedikit kaget karena tiba-tiba saja Bastian sudah duduk di sampingnya.


"Ngapain aja boleh, kepo banget lo," jawab Bastian kemudian merebut minuman Rini dan meneguknya sampai habis, Rini cuma diam doang, sudah tau kelakuan Bastian dari kecil memang kayak gitu, suka banget rebut hak orang, tapi Rini maklum kok, mau protes juga gak ada gunanya, minuman miliknya sudah habis tanpa sisa.


"Pesenin gue yang baru, cepet!!!" Titah Rini dengan wajah datar.


"Ogah, pesen aja sendiri."


"Untung lo sepupu gue, bang. Kalo nggak, gak tau lagi deh nasib lo kayak gimana," Rini menghentakkan kakinya lalu pergi memesan minuman lagi. Kini tersisa Arin dan Bastian dalam satu meja. Mereka terlihat canggung, apalagi sejauh ini mereka jarang interaksi kayak dulu lagi, entah kenapa Bastian tiba-tiba berubah dan kayak menghindar gitu dari Arin.


Memilih untuk diam saja, Arin tetap fokus mengaduk es teh yang masih sisa setengah, dia merasa gak nyaman karena Bastian sedari tadi menatapnya, jadi dia memilih untuk fokus pada hal lain.


"Lo gugup?"


"E-enggak. Siapa yang gugup," Arin mendongak dan menatap Bastian dengan berani, menandakan bahwa dirinya tidak gugup.