Selfish

Selfish
Selfish : 15



"Mau makan bareng?" tanya Dion ketika melihat Arin sibuk menata makanan di atas meja, semua sudah tertata rapi tinggal disantap.


"Ya iyalah, gue bawa bekal ke sini buat makan sama lo." Ihh bohong banget, padahal niatnya cuma bawain Dion doang, hanya saja perutnya minta diisi lagi. Arin baru beraktivitas sedikit udah laper, heran sama perutnya.


Dion makan dengan lahap, Arin jadi senyum sendiri ngeliatnya.


"Enak kan? Itu gue sendiri tadi pagi yang masak," berucap dengan bangga.


"Oh ya? Kok rasanya sama kayak masakan Tante Rima," ujar Dion, Arin langsung menunduk malu padahal niatnya cuma basa-basi doang tapi malah diulti.


"Bercanda, masakan lo enak kok gue suka. Besok-besok bawa lagi ya," Dion nyengir menampilkan deretan giginya yang rapi. Arin mendongak lalu mencebik kesal. Arin menyuapkan banyak sekali makanan ke dalam mulutnya sampai nasi yang gak ikutan masuk nyangkut di sudut bibirnya bahkan sudah jalan ke pipinya akibat aktivitas mengunyahnya. Dion yang sedari tadi menperhatikan cara makan Arin hanya tersenyum simpul, tangannya bergerak membersihkan bibir dan pipi Arin. Sampai gerakannya terhenti saat mendengar suara pengganggu dari arah pintu.


"Ekhem, enak banget pacaran dalam rumah. Bukan muhrim lagi."


Keduanya langsung menoleh dan mendapati Zian yang berdiri bersidekap dada dengan tatapan tajamnya yang khas. Dion segera menyingkirkan tangannya dan menatap acuh pada Zian sementara Arin diam gak tau harus apa, dia seperti maling yang ketangkap basah. Zian berjalan mendekati Arin.


"Eh-eh apa-apaan nih?" Arin memberontak kala Zian menarik pergelangan tangannya dan terkesan memaksa.


"Pulang."


"Gak, gue belum selesai woyy, lagian lo siapa sih sok-sok ngatur dan maksa gue, Bapak juga bukan," Arin menepis kasar tangan Zian karena hampir menyakiti tangannya.


"Gue pacar lo."


"Dih sejak kapan? Gue gak ngerasa tuh."


Dion diam saja melihat drama pagi di depannya ini sambil terus lanjut makan, padahal sudah dikode oleh Arin agar menolongnya lepas dari Zian tapi tingkat kepekaan Dion masih di bawah standar harus segera ditingkatkan lagi.


"Oke, kalo lo diem di sini gue bakal ikut," Zian mendudukkan dirinya di sofa samping Arin sambil menyandarkan punggungnya santai. Arin berdecak kesal lalu menatap Dion dengan tatapan memelas, kembali lagi pada fakta bahwa Dion orangnya lemot.


"Kenapa bibir lo miring-miring begitu, sariawan? Terus mata lo napa kek kucing nahan berak sih?"


Arin tidak habis pikir dengan manusia satu ini, kenapa juga dia harus naksir cowo lemot plus bego ini.


"Tau ahh gue males, habisin tuh makanan sekalian sama rantangnya," Arin beranjak berdiri lalu keluar daru rumah Dion, tinggallah Zian dan Dion dalam rumah itu, mereka saling melempar tatapan satu sama lain.


"Kenapa lo natap gue kayak gitu? Ada hutang gue sama lo?" Dion heran dengan tatapan Zian.


"Iya, hutang nyawa." Setelah mengatakan itu Zian segera pergi mengejar Arin, Dion lanjut makan yang tertunda tadi, nasi di piringnya sisa setengah sayang kalo dibuang nanti Arin ngamuk.


Arin duduk lesehan sambil bersandar di kaki sofa, Zian yang baru sampai ikut melakukan hal yang sama dan menatap Arin yang tampaknya lagi kesal.


"Ngapain sih lo ganggu hari minggu gue? Gak cukup lo usik kebahagiaan gue?"


Zian menoleh sekilas lalu tiba-tiba dia berbaring di paha Arin yang duduk selonjoran, tentu saja itu membuat Arin kaget hampir saja dia menendang kepala Zian.


"Udah diem, tindakan lo gak bakalan bikin gue patuh, lagian apa susahnya sih nurut sekali ini saja?"


"Lo siapa minta diturutin."


"Calon imam kamu."


Arin memasang ekspresi ingin muntah, suka geli denger gombalan buaya darat.


"Kenapa? Lo gak percaya sama gue? Mari buat janji," Zian menyodorkan jari kelingkingnya, Arin menatapnya malas lalu membuang muka.


"Kek anak SD tau nggak, gak usah alay gue paling anti sama cowok modelan lo."


Zian terkekeh kemudian bangkit, posisinya sekarang duduk berhadapan dengan Arin.


"Lo gak mau buat janji sama gue?" Zian masih setia dengan jari kelingkingnya. Arin menggeleng kuat. Gak tau harus cari perhatian Arin kayak gimana lagi, tanpa pikir panjang Zian menarik tangan Arin dan menyatukan kelingking mereka.


"Janji lo bakal selalu ada di samping gue apa pun yang terjadi," Zian mengucap janjinya tanpa persetujuan dari Arin, Arin hanya melotot kaget entah yang keberapa kali dia dibuat bingung dengan sikap laki-laki kurang waras ini.


Zian tersenyum lucu melihat ekspresi Arin, tangannya bergerak mengacak rambut Arin gemas.


'Ini jantung gue kenapa astaga, kok detakannya gak teratur begini? Oke, tenang Arin. Satu fakta yang harus lo ingat bahwa lo tidak suka Zian, lo itu sukanya sama Dion, jangan kebawa perasaan yang gak jelas alurnya karena bisa jadi Zian hanya jadikan kamu pelampiasan doang'.


"Ehh kok pada duduk di bawah, sofanya nangis tuh karena gak didudukin," Rima datang dengan menenteng tas kresek hitam, sepertinya habis belanja di warung pinggir jalan. Keduanya jadi salah tingkah.


"Tante, izin bawa Arin pergi sebentar, boleh kan?"


"Hmm boleh, tapi mau dibawa kemana anak Tante?"


"Pantai atau nggak taman, tapi nanti terserah Arin juga jika ada saran tempat favorit dia."


"Boleh, asal jangan bawa Arin ke pelaminan aja soalnya kalian masih kecil belum waktunya nikah," kekeh Rima menggoda putrinya, Arin mendelik sementara Zian membawa eskpresi bahagia.


"Lo mau bawa gue kemana sih? Perasaan dari tadi gak sampai-sampai," Arin menggerutu dalam mobil, bukannya dijawab malah dibalas dengan usakan di pucuk kepala Arin, lagi dan lagi jantung Arin dibuat jedag jedug, dia segera menepis tangan Zian lalu kembali dengan aktivitas mengabsen pohon yang dipandangnya sepanjang jalan dan lebih memilih diam tidak bertanya lagi, karena percuma gak akan dijawab.


"Ini gimana konsepnya anjir, lo kenapa bawa gue ke makam?" Lagi dan lagi Arin tidak mendapat jawaban sama sekali atas pertanyaanya. Zian berjalan mendahului Arin menuju deretan makam yang mulai ditanami rumput liar sampai langkahnya berhenti di salah satu makam berjarak 7 makam dari tempat Arin berdiri. Mau tak mau Arin ikut berjalan ke sana, gak sopan kalau hanya berdiri kayak patung depan makam orang nanti dikira penjaga kuburan lagi.


"Assalamualaikum Ayah, Zian tepatin janji Zian 5 tahun yang lalu."


...----------------...


Ya maaf kalo membosankan dan gak sesuai alur.