
Arin melangkah gontai menuju kelas nya, siap-siap saja menjadi pusat perhatian lagi seperti tadi. Arin berjalan melewati pintu dan hendak menuju mejanya, di sana sudah banyak berkumpul teman sekelasnya, sepertinya sedang ngerumpi asik sampai gak sadar Arin sudah tiba di hadapan mereka.
Nayla si pemimpin gibah menatap sinis ke arah Arin yang tampak lesu.
"Baiklah kita sambut Ratu Munafik yang sudah kembali, ayo beri tepuk tangan!" Semua riuh memberikan tepuk tangan atas perintah Nayla. Arin tertegun, apa tadi dia bilang? Ratu Munafik?
Arin yang gak terima dikatain kayak gitu langsung nyamperin Nayla yang masang tampang tanpa salah itu.
"Jaga ya mulut lo," tunjuk Arin di depan wajah Nayla, suara sorakan dari yang lain kembali terdengar, tercium bau-bau pertengkaran sengit yang sebentar lagi akan terjadi.
"Memangnya kenapa? Benar kan kalo lo itu MU-NA-FIK. Katanya gak tertarik sama kak Zian, tau-taunya malah dipacarin, apa nggak munafik namanya?"
PLAKK
Satu tamparan indah mendarat di pipi Nayla, begitu jelas sekali suaranya sampai membuat yang lain ikutan meringis, soalnya Arin namparnya pakai tenaga dalam. Nayla mengusal pipinya yang memerah bekas tamparan Arin, wajahnya merah padam dia tidak terima dipermalukan seperti ini.
Brakk...
Nayla menggebrak meja dan membalas tamparan yang dilakukan Arin kepadanya. Arin yang sudah dikuasai amarah tidak tau tempat langsung saja tuh dia jambak rambut Nayla sampai membuat empunya oleng hampir jatuh namun dia bisa menahan dirinya dengan bantuan kursi, tangannya juga gak bisa tinggal diam, Nayla meraih rambut Arin juga dan terjadilah aksi jambak menjambak. Bukan hanya kelas mereka saja yang menonton tapi dari kelas lain karena mendengar suara teriakan dari sama, tidak ada yang mau melerai mereka berdua, mereka asik sendiri melihatnya udah kayak menonton pertandingan adu jotos di atas ring. Tiba-tiba Kepala sekolah dan guru BK tampak buru-buru memasuki kelas tempat terjadinya pertengkaran ini, entah siapa yang melaporkannya mereka tidak ada yang mengaku.
"Cukup!!! Hentikann!!" Guru BK yang terkenal galaknya minta ampun itu langsung saja melerai keduanya.
"Kalian berdua, ikut saya ke Kantor!," Arin dan Nayla saling melempar tatapan tajam seiring perjalanan menuju ruang BK.
"Kalian semua masuk kelas masing-masing, bukannya melerai malah nontonin temennya."
Semuanya nurut dan segera masuk kelas masing-masing.
Di sisi lain, Zian berlari menuju ruang kelas Arin setelah mendengar berita dari adik kelasnya tentang Arin, Zian yang baru keluar dari ruang rapat langsung melesat pergi.
Zian mencari di kelasnya tapi kata temennya lagi Arin dibawa ke ruangan BK.
"Sial, urusannya bakalan panjang kalo begini," Zian ikutan frustasi, tanpa pikir panjang dia langsung menuju ruangan BK.
Ruangan BK tertutup rapat, bahkam tirai pun tanpak menutupi jendela, tidak ada siapa pun yang bisa mengintip kejadian apa yang sedang terjadi di dalam. Zian memilih untuk menunggu saja di luar sampai semuanya kelar. Lima menit kemudian pintu terbuka, menampilkan Nayla dengan rambut nya yang acak-acakan sampai ngangkat sebelah keluar dengan wajah memerah, saat melihat Zian yang duduk sendiri di depan ruang BK membuat rasa marahnya hilang seketika. Nayla keluar lebih dulu sementara Arin masih diceramahi oleh guru BK soalnya yang mulai menggunakan kekerasan adalah Arin.
"Ihh kok gitu?"
"Arin di mana?"
Mendengar nama Arin disebut membuat Nayla langsung badmood.
"Masih di dalam, kenapa cari dia sih kan masih ada aku?" Nayla memainkan ujung seragamnya sok imut. Zian bergidik ngeri, kok ada ya manusia kayak Nayla di dunia ini?
Gak tahan berlama-lama bersama Nayla, Zian lebih memilih ngacir lari menuju koridor, berharap perempuan itu tidak menempelinya lagi kayak tadi.
15 menit berlalu, Arin akhirnya keluar dari penjara dunia itu. Wajahnya tampak lega namun ada sedikit rasa kecewa dan amarah yang masih menggebu-gebu dalam hatinya. Saat membuka pintu, wajah Zian yang pertama muncul tepat di depannya. Lelaki itu sedang bersender di tembok sambil bersidekap dada.
Arin memutar bola matanya malas kemudian nyelonong pergi tanpa menghiraukan panggilan dari Zian.
"Arin, tunggu." Zian berhasil menarik pergelangan tangan Arin membuat gadis itu memberontak kaget. Dengan kasar Arin menepisnya kuat-kuat.
"Puas lo permalukan gue hah? PUAS???!!!" Arin meninggikan suaranya. Oh tidak, Arin tidak mau menunjukkan kelemahannya di depan orang asing, bisa-bisa nanti dia jadi bahan ejekan. Menangis adalah tanda orang lemah menurut Arin, jadi sebisa mungkin Arin selalu menahan air matanya agar tidak jatuh, tapi sekarang keadaannya berbeda dia begitu kecewa dan sakit hati. Bulir bening itu lolos begitu saja meluncur melewati pipi Arin yang memerah. Cepat-cepat dia menghapus air matanya. Akibat pertengkaran sengit tadi guru BK hampir memanggil kedua orang tua Arin ke sekolah, namun Arin memohon agar tidak melakukan hal itu karena dia tidak mau orang tuanya tau tentang hal ini, bisa-bisa dia akan diceramahi part dua di rumah.
"Maaf, semua ini salah gue," Zian menunduk lesu.
"Mulai sekarang jangan ganggu gue lagi, anggap saja kita gak pernah kenal sebelumnya, dan masalah tentang yang kemarin, lo tenang aja gue gak bakal sebarin asal lo gak muncul lagi di kehidupan gue," ujar Arin tegas.
"Kalo gue beneran suka sama lo, gimana?" Zian bertanya dengan lirih. Arin terdiam sejenak mencerna ucapan ngelantur Zian.
"Gue yakin rasa suka lo hanya angin lalu, jadi jangan terlalu dipikirkan."
"Gue serius Arin."
"Gue juga, kita selesai." Arin berlalu pergi meninggalkan Zian yang masih berdiri mematung menatap punggung Arin yang kian menjauh.
"Heh Zian!! Ngapain kamu berdiri kayak patung Liberty begitu? Bukannya masuk kelas," guru BK galak itu memergoki Zian yang keciduk masih berada di luar kelas. Zian membungkuk kecil kemudian berlari menuju kelasnya.
"Huh, anak-anak jaman sekarang tau nya cinta-cintaan saja, harusnya tuh di umur segini mereka fokus pada pelajaran dan masa depan bukannya malah pacaran, gak tau apa pada jaman saya mainnya jodoh-jodohan, sampai guling-guling di tanah karena gak mau nikah sama pilihan orang tua. Adik saya juga yang seumuran mereka masih main masak-masakan buat perkedel dari pasir yang isinya tai kucing. Bener kata orang, zaman sudah berubah tidak seperti dulu lagi," ujar guru BK tadi.