Selfish

Selfish
Selfish : 26



Bastian melirik dari sudut matanya bagaimana Zian yang sok romantis menyelipkan anak rambut Arin ke belakang telinganya. Dih, si anyink gak ada faedah banget dia ngelakuin hal kek gitu, bukannya romantis gue malah jijik lihatnya.


"Lo mau es krim?" tawar Zian karena pandangan Arin terfokus pada penjual es krim keliling di pinggir pantai. Arin mengangguk antusias, Zian segera berlari mengejar mas-mas penjualnya demi Arin apa sih yang nggak, ya kan?


"Bang, mau es krim juga dong," Dion bergelayut manja di lengan Bastian sambil menampilkan puppy eyes andalannya.


"Ihhh geli bangsat, enyah lo dari hadapan gue!" Bastian mendorong kuat tubuh Dion hingga hampir terjerembab ke belakang, untung saja kepalanya tidak masuk ke bawah kursi, dia masih bisa menahan diri dengan berpegangan pada meja. Arin sampai berteriak karena khawatir crush nya cedera gara-gara Bastian.


"Jahat banget, gue sumpahin lo nikah ama nenek gue, mampus," Dion membenarkan posisi duduknya yang kini pindah di kursi yang semula Zian tempati, mumpung anak itu gak lagi ada di sini, lumayan untuk menghindar dari Bastian si tangan batu.


"Bagus, menjauh lo sana. Bila perlu duduk noh di dasar laut biar gue gak muntah liat muka lo," Bastian tampak kesal, Arin paham itu, dia menyalahkan Dion karena sudah membuat lelaki itu marah.


"Gue bercanda, Rin, sumpah. Lo tau kan gue selalu bertingkah seperti itu jika ingin akrab dengan orang asing," seakan paham dengan tatapan Arin, Dion menjelaskan alasannya.


"Ya tapi jangan kek gitu juga kali, lo udah bikin dia jijik tau gak? Kalo lo perempuan mungkin kak Bastian bisa maklum, lah ini sama-sama berbatang apa gak geli dia," Arin menyenggol bahu Dion.


"Ya maaf, gue khilaf. Abis, Bastian ganteng sih, lihat tuh kulitnya juga cerah."


Arin mengusap wajahnya kasar, agak lain memang gebetannya yang satu ini, sumpah Arin nyesel pernah suka sama manusia purba jenis Homo Sapiens macam Dion.


"Heh kutu kambing, Minggir gak lo! Itu kursi gue!" Zian langsung menarik ujung baju Dion untuk pindah.


"Noh, duduk di lantai! Asal ngusir orang aja, memangnya ini kursi buatan emak lo?"


"Ya itu kan kursi gue ******."


"Ini kursi punya mbak-nya woy, malah ngaku-ngaku."


"Arin, lo nemu monyet ini di mana sih?"


"Sembarangan bilang gue monyet," Dion hendak melayangkan pukulan ke wajah tampan Zian.


"Terus kalo bukan monyet, apa dong? Beruang?" Zian tertawa lepas.


"Oke fine, gue monyet. Tapi lo babi."


"Sialan, minggir gak lo!!" Zian menarik kaki kursi sehingga membuat Dion oleng dan akhirnya sukses mencium lantai dengan sempurna.


Arin sudah gak peduli, dia memilih fokus memakan es krim nya dengan santai, sementara ketiga lelaki kurang kerjaan itu malah adu jotos di depannya. Arin mengedikkan bahunya, terserah mereka saja.


.


.


Di sekolah, Rini makin heran aja tingkah kakak sepupunya yang kian makin nempel pada Arin, semua itu juga tak lepas dari perhatian yang lain terlebih Nayla, masalah orang ganteng dia maju paling depan, gak Zian gak Bastia dia masukkan dalam lisy lelaki pujaan menurut versi nya padahal satu di antara mereka tidak ada yang suka dengannya, kadang kita juga tidak boleh terlalu berharap pada manusia.


Kemana pun Arin pergi pasti Bastian ikut, Zian yang menyadari itu hanya bisa mantau dari jauh karena dia gak sebebas Bastian, masih banyak sekali rapat yang harus dia urus terlebih acara dua hari lagi di sekolah ini, membuatnya sampai harus lembur untuk ikut rapat dengan guru juga.


"Kalo lo mau duduk di rantai nya sih oke-oke aja," jawab Bastian dengan santai.


"Ihh kak, gue serius. Lo tau sendiri kan Mama sama Papa lagi ke luar kota, lo tega gitu liat gue pulang sendirian?" Rini mengerucutkan bibirnya kesal.


"Gue udah ada janji sama Arin, jadi untuk hari ini lo pulang sendiri dulu," Bastian menstarter motor nya yang bersuara gede itu. Oke, kalo soal Arin, Rini gak masalah.


Arin sudah stay nunggu di luar gerbang, sebenarnya sudah ia tolak berkali-kali tawaran baik Bastian hanya saja tuh orang maksa banget, gak mau berhenti bicara sebelum Arin bilang "iya". Akhirnya, terpaksa Arin kabarin sang Papa yang sudah siap untuk menjemputnya agar lanjut kerja saja, karena Arin sudah ada temen pulang.


Zian tiba-tiba meghampiri Arin di sisi gerbang, lelaki itu tampak ngos-ngosan seperti habis dikejar t-rex.


"Kenapa?" tanya Arin, Zian masih meraup oksigen sebanyak banyaknya.


"Lo pulang sekarang?"


"Kagak, tahun depan mungkin."


"Lo bercanda?"


"Iya, gue bercanda. Lagian pertanyaannya lo gak ada yang lebih estetik apa, kalo lo lihat gue di sini ya gue mau pulang, mending gue masih di kelas baru tuh lo tanya gue," Arin kebiasaan kalo sama Zian suka sewot, padahal anaknya nanya baik-baik malah di kerasin haeduhh, sini Zian sama author aja.


"Gue cuma minta maaf doang karena gak bisa nganter lo pulang."


"Halah, biasanya juga lo gak pernah anter gue. Perasaan tiap hari gue dijemput Papa deh."


Suara mesin motor yang begitu Zian kenal membuat nya menoleh ke belakang. Bastian dengan wajah songongnya berhenti tepat depan mereka. Kesempatan bagus untuk membuat Zian uring uringan.


"Rin, ayo naik!" Bastian menyerahkan helm motif Doraemon ke Arin.


"Ini gak ada helm motif lain ya?"


"Lo gak suka Doraemon? Wahh parah, bisa-bisa lo diserang fans berat tuh kartun."


"Bukan gak suka, tapi kayak bocah anjir."


"Ya udah sih tinggal pake, itu juga helm gue curi di parkiran, entah siapa yang punya," nada bicaranya sungguh santai.


"Ihh gak-gak, gue gak mau pakai barang hasil nyuri," Arin menyerahkan paksa helm itu.


"Bercanda, njing. Helm punya temen gue, sini gue pakein." Zian mendelik sebal saat Bastian memakaikan Arin helm. Manik Baatian menatap Zian seolah mengatakan Cemburu kan lo, haha.


"Gue duluan," Arin pamit pada Zian yang masih menatap Bastian sinis.


"Bye, pecundang," teriak Bastian membuat telinga Zian panas, hampir saja sepatu mahalnya melayang ke wajah Bastian.