Selfish

Selfish
Selfish : 30



"Eh ini bener gak sih ini jalan pulangnya?" Arin mengusap tengkuknya, sudah beberapa kali mereka jalan memutar dan tetap pusat perhentian mereka di penunjuk arah terakhir sebelum mereka masuk hutan lebih dalam lagi.


"Arin, gue takut," Rini sudah nemplok di lengan Arin sejak tadi, hari hampir sore tetapi mereka masih keliling untuk mencari jalan keluar dari hutan ini. Semakin mereka berusaha keluar semakin tersesat mereka ke dalam hutan, yang mereka lihat hanya pohon-pohon yanh menjulang tinggi dan berbagai jenis tanaman merambat yang membuat jalan mereka sedikit terhalangi.


Bastian si pemimpin jalan berusaha menerawang dan mengingat-ingat jalan mana saja yang sudah mereka lewati.


"Sial, gue bahkan lupa untuk membuat tanda sebelum masuk hutan lebih jauh," Bastian mengacak rambutnya frustasi, gara-gara ambisi nya yang terlalu kuat ingin menang bisa membuat 6 orang lainnya ikut terseret bersamanya.


Kekesalannya bertambah kala Amber mencolek lengannya dan tanpa permisi memeluk nya, tubuhnya bergetar karena takut.


"Lo apaan sih anjing, gak usah bercanda dalam keadaan begini, dan satu lagi, gue itu masih normal ya," Bastian mendorong tubuh Amber sampai terjerembab ke belakang dan bertubrukan dengan Fandi yang sibuk nyari sinyal di ponselnya hingga terjatuh.


"Gue iket juga lo lama-lama di sini, bantuin kek nyari jalan, gak ada gitu yang lo inget dari jalan ini?" Fandi protes seraya memungut benda pipih itu lalu menatap Amber dengan tajam.


"Ihh, aku gak inget apa-apa," Amber merengek, Fandi menautkan alisnya kesal.


"Ya udah, kalo gak bisa bantu, mending diem gak usaj banyak tingkah," Bastian lanjut jalan diikuti yang lain.


"Guru-guru semua gak ada niatan apa buat cari kita, kok gak ada tanda-tanda sama sekali, gak bertanggung jawab banget," setiap jalan Bastian ngoceh gak jelas nyalahin pihak guru.


"Apa mungkin, mereka udah pulang duluan ninggalin kita?" Rini si penambah beban pikiran malah ngomong kek gitu lagi, semuanya jadi ikutan khawatir.


"Gak mungkin, gue yakin mereka juga pasti panik dan berusaha buat cari kita," Arin menengahi dan mencoba mengajak yang lain untuk berpikir positif walaupun sebenarnya dia juga takut dan ragu.


.


.


"Baiklah semuanya, berhubung ada beberapa teman kalian yang belum kembali sampai sekarang, kami mengumpulkan kalian di sini untuk ikut mencari, tetapi sebagian diem di tenda dan sebagian lagi pergi mencari-- Zian, ehh belum selesai, kamu ini gak sabaran sekali," Pak Marwan selaku kepala sekolah memanggil Zian yang buru-buru ingin masuk hutan secepatnya, padahal beliau belum selesai memberikan pengumuman tapi dia sudah mau lari duluan. Zian berdecak kesal lalu kembali ke tempatnya semula, rasa kekhawatiran nya memuncak, jika Arin gak bisa dia temukan apa yang akan dia katakan nanti pada orang tua Arin. Tante Rima sudah menyerahkan tanggung jawab Arin pada Zian selama kegiatan, Rima memohon dengan sebesar-besarnya untuk menjaga Arin apa pun yang terjadi, karena kejadian seperti tersesat ini bukan pertama kali bagi Arin, tetapi sudah dua kali selama dia masih SMP dulu, dan penyebab utamanya ya, camping.


"Yang merasa dirinya perempuan diam di tenda, biar yang laki-laki bertugas mencari, tapi kalo ada yang mau ikut juga silahkan, asal jangan mencar aja, makin ribet nanti jadinya," selesai memberikan arahan, Pak Marwan memberikan space untuk Zian berjalan lebih dulu diikuti oleh semua teman dan guru yang lain.


"Ikut gak, Nay?" tanya Karin pada Nayla yang leha-leha di dalam tenda usai pengumuman tadi.


"Tapi kak Bastian juga ikutan kena, Nay. Kalo ucapan lo bener mereka dimakan binatang buas, terus gue besok nikah sama siapa?" Mila menangis histeris, untung saja gak ada yang denger dia setelah mulut nya dibungkam pake lap kompor sama Nayla.


"Diem bego, lo mau kita ketangkap basah?" Nayla menoyor kepala Mila pelan lalu kembali tidur setelah mengancam nya.


"Gue setuju sih sama Mila, kalo Arin dengan yang lain sih gue gak peduli, tapi kalo kak Bastian juga ikutan kena, parah banget sih lo, Nay. Orang gak bersalah ikut kena getah dari kebencian lo," timpal Karin gak habis pikir. Nayla jadi mikir dua kali sebelum bicara.


"Aishh, iya-iya gue salah. Ngapain juga kak Bastian gabung kelompok Arin, kan gue jadi ngerasa bersalah. Kalian berdua mau ikut gak?"


"Kemana?"


"Cari mereka lah."


"Tapi kita sudah tertinggal jauh sama rombongan yang lain, dan kalo ketahuan guru bisa-bisa kita kena hukum akibat pergi tanpa pamit."


"Banyak omong lo, mau tau kan gimana kabar kak Bastian?" Mila mengangguk antusias.


"Ya udah ayo ikut." Nayla mengintip dari dalam tenda, siapa saja yang berjaga di luar. Sepi, sepertinya yang lain lagi pada istirahat di tenda masing-masing, guru-guru juga begitu.


"Oke, aman. Ayo gas," Nayla menarik tangan Mila disusul Karin ngekor di belakang. Pergerakan mereka sama sekali tidak diketahui oleh siapa pun termasuk guru mereka, padahal sebagian ada yang berjaga di luar sambil ngopi dan mengobrol bersama, tapi letak tenda genk kunyuk ini memang sedikit jauh dari pandangan, mereka memang hobi mengasingkan diri dari keramaian, entah mereka yang gak mau bergaul atau memang gak ada yang mau berteman dengan mereka karena bisa dibilang Nayla and the genk pilih-pilih teman, dia hanya berteman dengan anak dari kalangan bangsawan yang tentu kaya raya.


.


.


"Arin, Bastian, Rini, Amber, Fandi, Ika, Dela!!!" Pak Marwan meneriaki nama muridnya satu persatu yang diketahui hilang tersesat di dalam hutan, yang lain pun sama, berteriak memanggil nama teman-teman mereka. Zian mengusap wajahnya kasar karena tak merasakan adanya tanda-tanda Arin di sekitar sini.


"Saya rasa mereka sudah jauh masuk ke dalam hutan, Pak," jelas Zian mengutarakan opininya, karena jika dilihat dari tanda panah penunjuk arah yang sudah ia pasang di setiap rute ada yang hilang. Ada yang menyita perhatian Zian, ada satu tanda panah menunjuk ke arah yang salah. Zian yakin sekali jika Arin dan yang lainnya mengikuti penunjuk arah yang salah.


"Siapa sih yang berbuah jahat, menyesatkan orang itu perbuatan yang sangat jahat, kalo gue tau siapa orangnya bakal gue jadiin adonan bakso," Rangga berujar kesal karena Rini sang pujaan hati ada di sana juga.


Mereka memutuskan untuk berpencar saja, ada yang ke utara dan ada yang menuju selatan, karena kemungkinan besar jalan itulah yang baru saja mereka lalui. Zian memimpin ke Utara sementara Rafi sebaliknya. Pak Marwan memberitahukan, jika sudah selesai balik lagi ke sini, dan diharuskan untuk menandai setiap pohon yang mereka lalui agar tidak ikut tersesat.