Selfish

Selfish
Selfish : 64



"Arin, Arin. Lihat deh, tuh cewek nempel banget kayak prangko," bisik Rini, kebetulan meja yang mereka duduki berseberangan langsung dengan meja Zian dkk plus Laras yang sedari tadi gelendotan manja di lengan Zian. Banyak kaum Adam terpesona dengan kecantikan Laras, tapi mereka sadar diri tidak setampan Zian yang bisa mendapat perempuan cantik, tapi tak jarang para lelaki mencuri-curi pandang dengan Laras, bahkan ada yang sengaja lewat depan dia agar di-notice, tapi nyatanya Laras gak peduli sekitar, mereka cukup kecewa. Oh iya, untuk Bastian dia gak masuk sekolah, gak ada alasan apa-apa memang dia jarang masuk akhir-akhir ini, makanya gak pernah kelihatan.


"Gak peduli," ketus Arin sambil memainkan kuah baksonya, selera makan Arin langsung hilang. Rini menatap Arin dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apa? Mau bilang kalo gue cemburu lagi? Jangan sampai nih kuah bakso gue jadiin skincare di wajah lo," Arin sudah ambil ancang-ancang mengangkat mangkuknya, geram dia tuh sama Rini yang selalu su'udzon padahal mah--bener.


"Santai Arin, napa sih? Belum juga gue ngomong udah lo translate aja, apa bener ya lo cembu--AAAKHHH IYA-IYA, GUE BERCANDA," teriak Rini saat Arin mencubit lengannya, suara Rini langsung mengundang tatapan aneh dari penghuni kantin karena acara makan mereka terganggu, tak terkecuali Zian yang memang sedari tadi menperhatikan Arin dari mejanya.


"Mampus, ngomong sekali lagi gue bacok lo," Arin menyuapkan baksonya sekali lahap lalu bergegas keluar dari kantin tanpa mempedulikan panggilan Rini.


Sementara itu di dalam gudang sekolah yang sudah lama tak terpakai, gank Nayla sedang duduk bersantai di saat jam istirahat, mereka gak ada selera buat ke kantin terlepas dari semua kejadian tadi pagi.


"Positif thinking aja Nay, bisa saja perempuan itu kakak sepupu atau nggak kakak kandungnya," jelas Karin menenangkan, Nayla sudah seperti mayat hidup gak ngomong sama sekali sejak kedatangan mereka di gudang, tatapannya kosong ke arah pintu.


BRAK.....


Nayla menggebrak meja membuat dua temannya berjengit kaget.


"Gue gak masalah kalo saingan gue si Arin itu, tapi yang ini spek bidadari anjir, gue dibanding dia mah hanya butiran debu," ujar Nayla, mengusap tangannya yang sakit akibat gebrak meja.


"Sebelum janur kuning melengkung, jangan pernah putus asa, Nay. Gue juga tengah berusaha buat dapetin kak Babas," tutur Mita memberi semangat.


"Mimpi lo, Jubaedah. Kak Bastian milik gue ya kalo lo lupa," sela Karin tak mau kalah.


"Ada bukti apa emang dia milik lo?" Mita membusungkan dada.


"Lo juga ada bukti apa hah?"


"Berisikk!! Bel udah bunyi, ayo masuk," lerai Nayla, berjalan gontai ke arah pintu diikuti dua minnions-nya. Jujur saja mereka bertiga enggan masuk kelas, tapi sekarang jam-nya Bu Sirli, guru MTK yang terkenal killer, jadi mereka gak mau absen dari kelasnya.


.


"Kak Laras mau ini nggak? Biar aku pesenin?" tanya Rafi dengan mata yang berkedip sebelah, gak peduli dia sama Zian yang hanya menatapnya datar tanpa ekspresi.


"Zian, kalo lo butuh nomor dukun, hubungi gue aja, gue punya banyak," ucap Rangga sambil tertawa nyindir Rafi yang masih tidak peduli, matanya tidak lepas memandang Laras yang udah jelas-jelas nempel sama Zian.


"Sayang, kamu gak ke kelas? Bel udah bunyi loh," Laras mendongak menatap Zian yang meminum es kelapa muda.


"Gimana mau masuk kelas kalo kamu pegangin kayak gini," kesal Zian, menggoyangkan lengannya. Laras terkekeh tapi tidak mau melepaskannya.


"Sini neng, gelendotan sama A'a aja," Rafi memamerkan lengannya yang kosong.


"Kuntilanak aja gak mau nyender di pundak lo apalagi kak Laras," sahut Rangga.


"Yeeuu, itu mah lo kali."


"Sorry, gue udah ada gebetan."


"Makhluk mana yang mau sama lo?"


"Ganteng dari mana, mirip landak penyakitan gini."


"Hey ahlil kubur, jaga mulut anda ya."


"Jangan hiraukan, sudah biasa terjadi," gumam Zian.


.


Entah kenapa hari ini terasa melelahkan bagi Arin, lelah hati, jiwa dan raga begitulah sekiranya perasaan Arin. Saat jam pelajaran Arin bahkan kurang fokus, pikiranya melanglang buana, tak jarang dia ditegur oleh guru karena ketidak fokusannya tersebut.


Pelajaran terakhir untung saja jamkos, jadi mereka bebas berkeliaran kayak setan asal jangan keluar kelas. Ada yang bergosip, ada yang buka warung, ada yang makan, ada yang tidur, ada yang jahilin temennya sendiri dan banyak lagi kegiatan unfaedah dari siswa kelas 10 IPS ini.


"Arin, lo tau gak--?"


"Gak tau."


"Gue belum selesai ******, main terobos aja."


"Hng??" Arin menatap wajah Rini menahan kesal.


"Gak jadi, lo tidur aja, pucet banget kayak mayat. Ke UKS lah yokkk, mumpung jamkos, bentar lagi juga bel pulang," ajak Rini.


"Gak, gue gak sakit. Gue ngantuk." Rini gak ngegubris, memilih menarik tubuh Arin yang beratnya melebihi besi 10 ton.


"Dela, izin ke UKS, temen gue sakit," teriak Rini pada Dela yang merupakan ketua kelas. Dela mengacungkan dua jempolnya lalu lanjut main bola bekel sama temennya.


"Fyuhh, untung belum dikunci. Sana tiduran di ranjang," Rini mendorong tubuh Arin, sementara dia santai duduk di kursi, melirik sekeliling apakah ada makanan yang bisa dia makan, karena gak mungkin kalo Rini pergi ke kantin, bisa-bisa nanti ketangkap basah sama guru karena jalan ke kantin harus lewatin ruang guru.


"Arin, lo bawa makanan gak?"


"Ada nih, dalam kaos kaki gue."


"Anjing, jorok banget sih lo, gue serius."


"Lagian lo kalo mau nanya mikir dulu lah, udah narik paksa gue ke sini terus nanyain makanan, lo pikir gue kantong Doraemon bisa ngeluarin apa saja." Rini mengetuk dagunya berpikir. Sampai, suara pintu dibuka mengalihkan atensi mereka berdua.


Arin serta Rini diam membisu melihat Laras masuk UKS, sendirian. Laras sama kagetnya dengan mereka berdua. Arin dan Rini saling pandang, mencoba berkomunikasi lewat bahasa batin.


"Ehh, kamu yang kemarin di rumah Zian ya?" tanya Laras tiba-tiba sudah ada di samping ranjang Arin atau di seberang Rini. Arin mengangguk malas, bukannya terpesona atau kagum dengan visual Laras, tapi Arin malah lebih ke kesal lihat perempuan ini entah kenapa, jiwa insecure nya meronta-ronta.


"Astaga, dunia memang sempit ya. Ternyata benar yang dikatakan Zian, kamu cuma adik kelas-nya, syukurlah," Laras tersenyum bahagia pengen Arin tampol sampai pingsan.


"Hmm. Mohon maaf, kalo boleh tau kakak ini siapanya kak Zian ya?" Rini tiba-tiba menyela, membuat Laras gantian menoleh ke arahnya. Arin menatap Rini jengah, dari sekian banyak pertanyaan kenapa harus tentang hubungan sih, rasanya Arin tuh belum siap mendengarnya. Eh tunggu, ini kenapa Arin jadi galau begini?


Laras melirik Arin dan Rini bergantian, menurutnya pertanyaan dari Rini tadi sedikit tidak sopan karena berani menanyakan tentang hubungannya dengan Zian, mereka bahkan baru bertemu, kenal aja belum, bukannya sudah jelas ya dari tingkah laku Laras yang manja pada Zian, apa masih kurang buktinya untuk mereka? Oh tidak, Laras menyimpulkan sebuah Fakta yang mengejutkan.


"Apa jangan-jangan, mereka berdua suka sama Zian? Makanya ingin memperjelas kedekatanku dengannya?" Laras menutup mulutnya tak percaya.