
Kejadian yang begitu Arin hindari kini sudah terjadi, Zian menarik nya menuju lapangan sepak bola, mumpung gak ada yang olahraga di sini.
Zian meminta Arin untuk lari keliling lapangan sepak bola 20 kali putaran.
"What? Lo gila, gue mana kuat lari sebanyak itu, lari dua putaran aja gue udah ngos-ngosan," Arin protes dan gak mau ngelakuin suruhan ketua Osis ganteng ini.
"Sorry, ini perintah guru BK, gue hanya bertugas untuk manjalankan," jawaban dari Zian cukup ketus sekali, maklum dia tuh kesal banget karene pergokin Arin berduaan dengan Bastian di belakang sekolah, apa gak panas tuh dada Zian lihatnya.
"Tunggu apa lagi? Ayo cepat! Masih ada hal lain yang harus gue urus lagi." Zian dengan raut datarnya hanya memantau Arin yang berlarian mengelilingi lapangan sambil mulutnya komat kamit mengeluarkan umpatan yang tentu saja ditujukan kepadanya. Arin gak terima dengan hukuman konyol Zian, masa iya hanya dua sendiri sedangkan Bastian dia suruh buat bersihin kamar mandi cowok, dan itu pun mustahil dia lakukan tanpa pantauan dari guru BK, pasti Bastian kabur ke kelasnya dan gak melalukan tugasnya sama sekali.
Ucapan Arin benar, baru saja dia habis dua putaran, nafasnya sudah ngos-ngosan, badannya berkeringat padahal baru saja selesai mandi. kakinya lemas, kepalanya pusing, namun oknum bernama Zian seolah tidak mempedulikan malah terus meniup peluit yang ia gunakan untuk menegur Arin kala berhenti di tengah-tengah hukumannya.
"Awas lo Zian, habis ini jangan harap lo ketemu gue lagi," tatapan Arin tajam, lurus ke arah Zian yang hanya diam sambil terus mendorong Arin untuk melanjutkan sesi hukuman darinya.
"Sorry, Arin. Sebenarnya hukuman dari guru BK hanya 10 kali putaran, tapi karena gue kesel dan cemburu lihat lo pegangan tangan sama berandal itu gue jadi emosi dan terpaksan melipat gandakan hukuman untuk lo. Coba aja lo dateng ke gue dan jujur kalo lo terlambat, pasti gue akan meringankan, atau bisa juga gue langsung suruh lo masuk kelas tanpa bilang dulu ke guru BK. Tapi, apa yang gue lihat sudah menguasai hati gue, mungkin setelah ini gue akan jujur dan minta maaf sama lo," Zian bergumam seraya terus menperhatikan Arin.
Sudah 10 kali putaran, Arin terlihat lemah, dia ambruk begitu saja di tengah lapangan, kebetulan Zian ada panggilan dari kepala sekolah untuk menuju ruangannya dan tepat pada jam istirahat.
Rini yang mendapat kabar bahwa Arin dihukum keliling lapangan segera mencari temannya. Matanya membola kala mendapati Arin sudah rebahan alias pingsan di tengah teriknya panas matahari. Rini panik dan memanggil petugas PMR untuk membawa Arin ke UKS, sementara Rini membahu tas milik Arin dan mengejarnya menuju UKS.
"Loh, tuh anak kemana? Padahal belum selesai main kabur aja," Zian kesal, kertas di tangannya ia remat dengan kuat.
"Heh, pacar lo noh dibawa ke UKS karena pingsan, lo kasih hukuman gak ngotak anjir, bisa-bisanya," Rangga muncul sehabis dari kantin beli cilok. Mendengar berita yang disampaikan Rangga membuat Zian melotot, dia hendak menyusul namun sebelum itu ia harus koreksi surat dari kepala sekolah, entah apa isinya yang jelas harus diperiksa sekarang.
"****!!!" Zian berjalan gontai menuju ruangan Osis untuk melakukan tugasnya, Rangga memandang bahu Zian yang kian menjauh dengan tatapan acuh.
Sementara itu di UKS, Rini udah mewek lihat keadaan Arin yang jauh dari kata baik-baik saja. Wajahnya memerah, dan kulitnya sedikit panas, mungkin efek panas-panasan.
"Tenanglah Rini, Arin hanya pingsan biasa, mungkin karena kelelahan, sebentar lagi dia sadar." Dona, salah satu anggota PMR yang bisa dibilang senior berusaha menenangkan Rini yang sudah misuh-misuh gak jelas mengumpati Zian, berbagai macam nama hewan yang keluar.
Tak berselang lama, Arin akhirnya sadar. Objek pertama yang dia lihat adalah langit-langit dengan plafon warna putih dan tembok dengan cat kuning yang mendominasi. Arin tahu betul dia ada di mana sekarang, kepalanya mendadak pusing mengingat sedikit demi sedikit kejadian yang baru saja dia alami sehingga berakhir di sini. Rini menyadari pergerakan Arin sontak langsung berdiri dan membantu Arin untuk duduk.
Arin mencium bau minyak kayu putih di bawah hidungnya.
"Siapa yang naruh minyak kayu putih di hidung gue?" tanya Arin seraya menggosok agar baunya hilang.
"Kak Dona tadi bilang, katanya biar lo cepet siuman, ya udah gue tumpahin aja setengahnya di lubang hidung lo, alhamdulillah manjur ternyata," kekeh Rini sembari memperlihatkan botol minyak kayu putih ukuran sedang yanh tinggal setengah.
"Rini kamvrett, lo kan tau gue alergi baunya, aduh gimana cara ngilanginnya."
"Sini biar gue bantu."
"Ehh kenapa? Apa? Di mana?"
"Sakit bego, lo sentuh luka gue," Arin menepis tangan Rini.
"Ohh maaf banget, gue gak tau. Gue obatin ya, bentar mau ambil es batu dulu buat kompres," Rini melangkah keluar menuju kantin untuk membeli es batu. Tinggallah Arin sendirian di atas ranjang yang lumayan empuk.
"Enak juga ya di sini, kayak rebahan di rumah. Kalo begini gue mau deh sering-sering sakit biar diizinin bolos pelajaran, bodo amat sama nilai, gua badmood anjir gara-gara Zian setan anak dajjal," Arin merenggut kesal, tangannya meremat ujung seragamnya, mengingat wajah Zian yang datar saat menyuruhnya lari keliling lapangan membuat hati Arin panas.
"Arin, i'm coming." Suara menggelegar Rini berhasil menyadarkan lamunan Arin.
Rini datang membawa kain yang sudah ia isi dengan es batu.
"Sini, biar gue kompres sendiri, mending lo ambilin gue kotak P3K buat balut luka gue," Rini menyerahkan kain tersebut dan bergegas menuju lemari tempat penyimpanan obat-obatan.
"Gimana ceritanya lo bisa luka sih? Kan lo lari bukan ngesot?" tanya Rini di sela-sela kegiatan mencarinya.
"Gue lompat dari tembok anjir karena berpikir dengan melakukan itu gue bebas dari hukuman, ehh tapi nyatanya sama saja. Ibarat, sudah jatuh ketimpa tangga pula." Arin mendengus kesal memperhatikan lukanya yang sedikit bengkak. Arin selesai mengompres, dan menaruh kain isi es itu ke atas meja, tiba-tiba pintu terbuka lebar menampilkan sosok Zian berdiri dengan raut wajah khawatir, menatap Arin intens, namun yang ditatap membuang muka, seolah tidak menerima orang itu untuk mendatanginya.
"Arin, lo gak apa-apa kan?" Zian langsung menghampiri ranjang Arin dan menanyakan keadaan.
"Gak usah sok baik deh lo, puas kan lo lihat gue terbaring lemah di sini?"
"Bukan gitu Arin, gue beneran khawatir. Astaga, tangan lo kok dingin banget?"
"Ya iyalah bangshattt, gue habis pegang es batu," ketusnya.
"Ohh iya kah? Gue kira lo--"
"Apa? Lo berharap gue meninggal, begitu?"
"Bu-bukan, sumpah gue gak ada pikiran kayak gitu."
"Halah, alasan lo. Mending keluar sebelum gue pingsan lagi gara-gara lihat wajah lo."
"Gak mau, gue mau temenin lo di sini."
Rini yang berdiri di seberang hanya bisa diam menyaksikan drama pagi menjelang siang yang tayang secara live di depannya. Lumayan drama gratis.