Selfish

Selfish
Selfish : 75



Banyak yang heboh mengenai kabar burung yang beredar hari ini. Berita Zian masuk rumah sakit membuat para penggemar berat Ketua Osis tersebut galau sekaligus sedih karena idola mereka kini masuk ICU. Agak lebay sih menurut Arin.


Rini berlari dari koridor sampai ke kelasnya dengan nafas tersenggal-senggal, menarik kasar buku yang sedang Arin baca dan menggenggam tangan Arin kuat.


Arin berdecak kesal, dengan kasar juga dia menghentak tangan Rini dan mengambil kembali buku novel miliknya.


"Lo udah denger kabar tentang kak Zian?" Akhirnya Rini bersuara setelah mengatur nafas selama bebera menit. Menatap sang lawan bicara lamat-lamat. Arin mengalihkan pandangannya ke Rini lalu mengangguk yakin. Arin mendengar dengusan kesal dari Rini, wajahnya tak bersemangat lagi seperti saat dia datang dengan ngos-ngosan.


"Kenapa emang?" Arin menutup novelnya dan fokus pada Rini.


"Kok lo duluan sih yang tau beritanya dibanding gue?" Rini memainkan ujung bajunya, menunduk dengan ekspresi kecewa. Arin berdehem, menatap Rini tak paham, memang Arin ada buat salah?


"Kenapa sih? Kabar gitu doang masa gue gak tau, banyak yang ngomong tadi di sepanjang jalan menuju kelas. Ya wajar gue tau," jelas Arin.


"Ya, iya juga. Tapi harusnya lo kasih reaksi berbeda agar kesannya gue yang tau duluan," Rini berdecih.


"Ya udah, ulang-ulang. Lo lari lagi dari luar," usul Arin tanpa dosa. Rini mendengus kesal, menyilangkan tangan di dada dan membuang muka. Arin menggelengkan kepalanya, sudah gak tau lagi mau hadepin Rini kayak gimana.


"Pulang sekolah nanti jenguk kak Zian yok," Rini kembali menoleh pada Arin setelah beberapa menit mengabaikan.


Arin memandang Rini dengan tatapan protes.


"Ngapain? Nggak ya," tolak Arin.


"Ehh gue denger-denger lo lumayan akrab sama nyoakp kak Zian, bener ya?"


"Denger di mana lo? Hoax itu mah, jangan percaya," Arin menggeleng kuat tanda tidak setuju.


"Halah ngeles, padahal tiap hari ketemu calon mertua," Rini memasang ekspresi mengejek, gak mau percaya ucapan Arin yang 80% bohong.


"Terserah, yang jelas gue gak menyetujui ajakan lo. Kita bukan siapa-siapanya Zian, buat apa jenguk dia, yang ada kita jadi beban di sana."


"Astagfirullah, Arin. Menjenguk orang sakit adalah salah satu amalan yang istimewa dalam islam. Huh, ketahuan nih suka bolos pelajaran Aqidah Akhlak," sindir Rini. Arin jadi bungkam kalo menyangkut ajaran islam, jelas dia gak bisa bantah karena memang benar adanya.


"Kasihan loh, kak Zian sampai masuk ICU. Pasti sakitnya gak main-main, masa lo tega sih," Rini mencoba memprovokasi pikiran Arin.


"Masalahnya dia masih punya orang tua yang bisa ngerawat dan jagain dia, dan gue bukan siapa-siapanya. Gue cuma takut jadi ngerepotin di sana. Satu hal yang perlu lo tau, gue gak sedekat itu sama Tante Riana, beliau orangnya tertutup meski iya memang gue pernah ke rumah Zian dan berjumpan dengan beliau. Tapi cuma satu kali doang, setelah itu gak lagi," penjelasan panjang lebar Arin hanya dibalas anggukan sok paham dari Rini, mengetuk-ngetuk dagunya berpikir.


"Dahlah, gue mau ke Perpustakaan dulu, mau ngembaliin novel," Arin beranjak pergi, jarak Perpustakaan dari kelas mereka cukup dekat, hanya berjarak tiga kelas, jadi gampang kalo disuruh nyari buku paket gak perlu repot jalan jauh-jauh.


Di sinilah mereka sekarang, di depan sebuah bangunan bertingkat yang diduga adalah rumah sakit tempat Zian dirawat. Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Arin kemakan rayuan Rini untuk ikut jenguk Zian yang baru dua hari masuk rumah sakit.


Sepulang sekolah mereka berdua langsung otw ke rumah sakit, tanpa ganti baju dulu. Dan untuk buah tangan, mereka hanya membawa buah-buahan beli di pinggir jalan.


Arin sempat heran karena kegentaran Rini pengen jenguk Zian, padahal akrab enggak, bahkan ngomong pun mereka berdua jarang, ini kenapa tiba-tiba Rini jadi paling semangat ya? Hmm, ada yang tidak beres.


Rini menarik paksa lengan Arin untuk masuk, tampaknya dia sudah tidak sabar.


"Sumpah, Rini. Gue gak tau maksud lo apaan, kenapa jadi lo yang paling bersemangat mau ke sini?" Arin kembali menarik tangannya, tak ingin menahan lagi rasa penasarannya. Rini jadi diam karena pertanyaan Arin, mau ngomong takut salah juga.


Merasa pertanyaan Arin gak penting-penting amat untuk dijawab, Rini berjalan ke belakang Arin, mendorong bahu sempit temannya agar segera masuk, gak enak di luar lama-lama nanti dikira bolos sekolah walaupun sudah jam pulang.


Di sepanjang koridor, tak henti-hentinya Arin melayangkan pertanyaan yang sama sampai membuat Rini pening mau jawab apa, pokoknya sebelum sampai ruang rawat Zian, Rini belum mau buka suara. Ini bukam berarti Rini suka Zian ya.


Karena ruang rawat Zian ada di lantai dua, mereka harus menaiki anak tangga yang gak terlalu banyak.


"Pake lift aja lah yok," saran Rini. Melihat anak tangga yang berbaris membuatnya enggan melangkah di sana, pikirannya sudah mengatakan bahwa ia akan kelelahan.


"Dih, kita cuma tamu di sini, gak usah ngawur mau pake lift. Lo gak baca tuh, lift hanya khusus untuk para pegawai rumah sakit ini, kecuali kalo keadaan darurat baru dibolehkan," jelas Arin karena melihat tanda silang di atas lift yang mengharapkan bagi pengunjung untuk tidak menghampiri lift. Rini berdecak malas, tau begini mending dia pulang aja.


"Ini bener gak sih? Perasaan daritadi kita jalan kok gak sampai-sampai, harus naik tangga segala lagi. Lo tau darimana Zian dirawat di lantai dua?" Arin yang sudah mulai capek akhirnya bertanya. Rini tampak fokus pada ponsel.


"Bener kok, kata kak Rangga tempatnya emang di sini. Di depan itu deh kayaknya."


"Ehh, kak Rangga juga ada di sana?"


"Ya iyalah, mereka kan best friend banget, masa iya temennya sakit mereka pesta, kan gak mungkin. Gue juga kalo lo besok sakit bakal gue jenguk dan temenin sampai lo sembuh," ucapnya.


"Lo berharap gue sakit?"


"Bukan gitu setan. Udah lah, males ngomong sama lo." Tak terasa mereka sudah semakin dekat, dapat Arin lihat banyak manusia di depan sebuah ruangan, mungkin ada Zian di dalamnya.


Arin mendapati semua orang tampak sedih, entah apa yang terjadi pada Zian sehingga semuanya memasang raut sedih, yang jelas Arin jadi ikutan diam. Terutama Bunda Riana, beliau kelihatan habis menangis semalaman, matanya sembab dan masih sesenggukan. Di samping Bunda Riana ada Laras yang mengusap bahunya untuk menenangkan Bunda Riana. Arin sontak buang pandangan kala Laras melirik ke arahnya.


Sementara Rini, dia berjalan menghampiri Rangga dan Rafi yang sedang main batu-gunting -kertas. Bukan berarti mereka senang dengan keadaan Zian, hanya saja mereka bosen dan gak mungkin main ponsel di saat kondisi sedang seperti ini.