
"Arin!!" Suara lembut nan cantik menyapa telinga Arin yang tengah berjalan santai di koridor. Merasa ada yang memanggil, Arin menoleh dan mendapati Agatha yang berlari tergesa-gesa ke arahnya dengan wajah gugup.
"Kenapa, kak?" Arin langsung to the point, gak mau lama-lama dengan Agahta karena dia juga harus bertemu Rini di kantin.
"Gue cuma mau tanya soal Dion, apa dia baik-baik saja? Gue lihat lukanya tampak serius," Agatha meremat kuat ujung seragamnya, perasaan bersalah masih bersarang dalam benaknya, bahkan menatap mata Arin saja tidak berani walau Arin bukan Dion tapi tetap saja sama.
Arin sudah menduga Agatha bakal bahas tentang Dion, jujur Arin muak dengan semua ini, tapi Arin juga tidak mau memperlihatkan perasaan sukanya pada Dion.
"Kak Agatha tenang, Dion baik-baik saja, bahkan tadi pagi gue lihat dia segar bugar saat pergi le sekolah," Arin tersenyum manis seraya menepuk bahu sempit Agatha.
"Sepulang sekolah gue ke rumah Dion, lo temenin gue ya?" Arin sontak kaget dong, Agatha terang-terangan bilang akan ke rumah Dion lagi setelah apa yang terjadi kemarin, bagaimana jika Zian ngamuk lagi, tuh anak kalo sudah marah kayak hilang kendali, Arin aja was-was saat baru pertama kali lihat Zian marah, iya tau niat nya hanya ingin melindungi kakak sepupunya tapi tetap saja di sini yang salah bukan Dion saja tapi Agatha juga terlibat, Arin bukan membela crush-nya tapi Arin hanya ingin bersikap adil.
Agatha paham dengan raut wajah Arin yang sepertinya keberatan, Arin memang bukan siapa-siapa nya Dion, tapi bagi Agatha, Arin begitu dekat dengan Dion layaknya adik kakak.
"Maaf, gue gak seharusnya dateng lagi setelah apa yang terjadi pada Dion," Agatha kembali menunduk membuat Arin jadi plin-plan.
"E-eh, bukan seperti itu. Kak Agatha kalo mau dateng ya dateng aja, asal jangan ketahuan Zian aja sih kalo saran gue," Arin terkekeh canggung, harap-harap bisa menghibur kakak kelas nya ini.
"Oke, nanti sepulang sekolah gue langsung ke sana, kabarin Dion ya biar dia gak kaget," Agatha kembali antusias, Arin jadi kesel sendiri. Apa ini ya waktunha untuk move on, oh tidak semudah itu.
"Lo kenapa lemes banget kayak kerupuk kena air? Kenapa sih, dari tadi gue perhatiin gak ada semangat lo sama sekali?" Rini yang paham dengan kondisi Arin langsung menanyakan agar semuanya jelas.
"Gak ada, gue cuma pengen pulang doang."
"Si anjir, waktu belajar masih panjang, lo mau bolos?"
"Sembarangan lo, gue gak kayak lo ya."
"Lah, emang gue pernah bolos?"
"Pernah, masa lo lupa?"
"Kapan? Kagak pernah deh, kak Bastian baru tuh rajin bolos."
"Oh iya lupa, lo bolos di mimpi gue, gue kira nyata."
"Ciee mimpiin gue lo ya, ketahuan banget lo tiap hari kangen sama gue sampai kebawa mimpi."
"Dih najis, mending gue mimpiin kambing pak Selamat, lebih indah dari pada lo."
"Halah, tinggal ngaku aja apa susahnya sih, gue rela kok nemenin lo tidur biar mimpi lo selalu dihiasi wajah cantik gue."
"Tolong, gue masih normal dan lurus, lo kalo mau belok ajak si Nayla aja sana!!"
"Astagfirullah Arin, gue ngomong bukam berarti gue juga belok ya, gue sebagai sahabat tentu harus mengerti keadaan lo yang kesepian setiap saat dan butuh seoranh teman di samping lo, pikiran lo negatif banget kayak tes kehamilan Bunda gue."
"Terserah gue lah."
.
.
Hari yang menjengkelkan karena Arin akan menemani Agatha dan Dion di rumah agar terhindar dari kesalah pahaman, yang ada Arin bakalan jadi nyamuk demam berdarah kalo berada di antara mereka.
Arin menatap Agatha dari kepala sampai mata kaki, perempuan ini sungguh cantik dengan rok mini dan hoodie oversize warna pink, Arin saja yang perempuan takjub dengan kecantikan Agatha, gak heran sih lelaki di sekolah banyak yang kecantol padanya, yah Arin gak bisa menyangkal kalo soal itu.
Dari tadi, Arin memperhatikan gerak gerik Agatha yang tidak pernah lepas dari cermin yang ia bawa, padahal sudah cantik banget, riasan mana pula yang perlu diperbaiki, kak Agatha gak pake make up aja cantik, lah gue walaupun pake make up pun tetep burik kek pantat ayam.
"Arin, bagaimana? Gue cantik kan?" Agatha menyibak anak rambutnya.
"I-iya, udah cantik banget itu."
"Gak usah berlebihan, lo juga cantik malah lebih cantik dari gue." Arin merotasikan bola matanya malas. Merendah untuk meroket, bilang aja nyindir gue, iya tau gue gak secantik lo kak tapi dipikir-pikir dulu lah sebelum muji. Gue bukan merasa terpuji malah ngerasa terhina kalo yang muji wanita cantik kayak lo. Apalah daya, Arin hanya bisa mengeluarkan unek-unek nya dalam hati.
"Dion kok lama banget ya? Apa gue telpon aja? Ehh gak deh, nanti dia ke-PD an lagi bilang kalo gue kangen dia, tapi lama-lama nunggu bosen juga."
"Mungkin masih di jalan, atau nongki dulu bareng temen-temennya," sahut Arin yang paham akan keresahan Agatha, kayaknya sudah gak sabar pengen cepat-cepat ketemu pujaan hati.
Arin melirik jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 3 sore.
"Zian gak tau lo ke sini kak?" Sebenarnya sih gak peduli tapi untuk jaga-jaga aja, ntar Zian ngamuk lagi kayak kemarin.
"Kayaknya sih nggak, walaupun gue sepupu dia rumah kita gak deket-deket amat, kira-kira jaraknya 25 meter deh kalo gak salah. Tapi kalo dia tau gue ke sini kan ada lo yang bisa nenangin Zian," kekeh Agatha berniat menggoda Arin, mengingat sang adik sepupu lagi kepincut adik kelas judes satu ini.
"Ihh apaan sih kak, gue sama dia gak ada hubungan apa-apa ya, cuma sebatas teman, gak lebih," ujar Arin tegas, dia paling gak suka jika harus dicomblangin sama Zian yang playboy, kalo kata rumor sih begitu setau Arin.
"Teman apa teman nih," Agatha semakin suka menjahili Arin.
"Nah itu Dion!" Agatha sontak berbalik arah. Arin bersyukur, Dion datang tepat waktu, jadi dua gak perlu dengerin omongan Agatha yang baginya kurang bermanfaat.
"Hai!!" Sapa Agatha dengan senyum mengembang.
"Agatha? Kamu ngapain si sini, sayang?"
"What?? Sayang?? Seja kapan mereka jadian, anjing lahhh gue nyesek banget lama-lama di sini, ehh malah pelukan lagi, fiks gue harus keluar dari rumah jahannam ini. Sumpah sih, sakit banget lihat orang yang kita cintai bertahun-tahun kini sudah memiliki pasangan, iya gue tau gue bakal kalah saing sama kak Agatha, secara dia tuh cantik tapi apa boleh ya bikin gue sesakit ini? Udah lah Rin gak usah cengeng, yang penting lo harus bisa keluar dari sini."
"Arin, lo mau ke mana???"