Selfish

Selfish
Selfish : 22



Arin berjalan tergesa-gesa di koridor, sambil mengeluarkan kekesalannya pada sang Mama yang tega membangunkannya tepat jam 7 pagi, bukan sama Rima juga sih, Arin saja yang kebo gak mai bangun, di gedor beberapa kali juga gak bergerak sama sekali.


"Tau begini gue ogah banget begadang nemenin si brengsek itu main game, lagian gue juga bodoh banget mau aja diperintah sama dia. Kalo nggak karena gue merasa hutang budi sama dia, gue gak bakalan mau," harapan Arin hanya satu yaitu masuk kelas tanpa diintrogasi.


Tanpa sengaja, indra pendengaran Arin yang tajam itu menangkap bunyi benturan keras, suaranya dari arah belakang kelasnya yang di mana di sana ada sebuah gudang lama yang tidak dipakai. Jiwa penasarannya menggebu-gebu, sejenak keinginannya untuk tidak dihukum hilang, rasa penasaran yang paling penting.


Mata Arin membola kala melihat aksi kekerasan yang sangat di luar nalar, salah seorang siswa yang Arin tau adalah teman seangkatannya bernama Rozi dihajar habis-habisan oleh laki-laki yang merupakan kakak kelasnya, Arin tau lelaki itu dari Rini katanya sih namanya Bastian, dia adalah biang kerok di sekolah ini, dia juga disebut langganan BK karena tiap hari kerjaannya keluar masuk ruangan menyeramkan itu, mungkin gak masuk BK sehari dia bisa demam kesumat kali ya. Namun, itu semua tidak berpengaruh apa-apa padanya, dia tetap mengulangi kesalahan yang sama, memukuli siswa yang sudah berani mengganggunya bahkan untuk masalah sepele saja bisa jadi besar jika sudah berurusan dengan Bastian. Sempat di skors juga selama satu bulan, tapi sama saja dia gak jera. Para guru kewalahan dan sudah angkat tangan jika ada kasus yang bersangkutan dengan Bastian lagi, capek juga karena harus mengurus masalah si biang kerok ini tiap hari, diberikan surat peringatan dan panggilan untuk orang tuanya malah disobek dan dia buang ke tong sampah. Kenapa tidak dikeluarkan saja dari sekolah, demi kebaikan dan keamanan bersama? Kalian pasti juga berpikir seperti itu kan, ya Author juga gak tau mungkin mereka punya alasan tersendiri untuk tidak mengeluarkan Bastian. Tapi kalo dilihat-lihat, Bastian ganteng juga, ngapain sih jadi berandal incaran BK, mending jadi pacar aku ya kan pasti cucok banget.


Arin meringis saat Rozi memuntahkan darah, ingin ia lerai tapi takut malah dia yang akan menjadi sasaran tangan keras Bastian. Arin jadi berpikir, kesalahan apa yang Rozi buat hingga Bastian semarah itu, lihat saja wajahnya yang memerah.


"Apa gue panggil guru BK aja ya?" Karena fokus mikir, Arin sampai gak sadar Bastian sudah berdiri di depannya.


"Ngapain lo di sini?" Arin hampir terjerembab ke belakang karena kaget. Arin menelan ludahnya dengan susah payah, jika sudah begini urusannya bisa gawat, lihat wajah Bastian sedekat ini dalam keadaan marah membuat tubuhnya panas dingin. Otaknya langsung nge-freeze, tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Lo lihat semuanya?" Nada suaranya begitu pelan namun terdengar menyeramkan di telinga Arin. Bibirnya Arin bergetar hebat, mau ngomong tapi susah keluar, lidahnya terasa kelu, matanya tidak fokus.


"JAWAB!!" Arin semakin tidak bisa berbicara karena Bastian membentaknya.


"Lo cepu ke guru, lo yang bakalan jadi sasaran gue selanjutnya, siap-siap ya cantik. Gue sebenarnya bukan tipe laki-laki yang kasar sama perempuan tapi kalo lo lancang dan nekat, tunggu aja tanggal mainnya," Bastian mengusap pipi Arin lembut, Arin memejamkan matanya takut.


"Singkirkan tangan busuk lo!" Arin membuka mata dan melihat sudah ada Zian berdiri di depannya mencoba menghalangi Bastian, Arin akhirnya bisa bernafas lega walaupun tidak sepenuhnya karena suasana semakin tegang, interaksi mereka tampak tidak baik-baik saja. Arin khawatir Zian ikutan kena tonjok karena belain dia tentunya, kayaknya Arin hutang budi lagi sama Zian.


"Zian, nice to meet you, how are you bro?" Terdengar seperti sapaan kepada teman lama yang jarang bertemu tetapi ekspresi Bastian tidak bisa bohong, dia seperti menatap Zian remeh. Zian menepis kasar lengan Bastian saat akan merangkul nya bak sahabat lama.


"Gak usah sok akrab," Arin memejamkan matanya, Zian berani sekali berurusan dengan banteng merah yang mood nya gampang berubah seperti Bastian, tadi dia tersenyum dan sekarang raut wajahnya kembali sangar. Arin tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi tetapi yang jelas dia harus siapkan ambulance untuk berjaga-jaga.


"Wahh ternyata lo sudah berani ya sekarang, hahaha bagus-bagus gue suka," Bastian bertepuk tangan.


"Lo jangan pernah ganggu dia lagi!!"


"Kenapa? Dia korban lo yang keberapa? Kalo dilihat-lihat ternyata dia cantik juga ya, bisa lah bagi-bagi."


"Jangan mimpi."


"Hey, lo harus hati-hati sama Zian karena dia sama brengseknya dengan gue, namun cara main kita saja yang berbeda. Zian mainnya pakai perasaan sementara gue pakai kekerasan," Bastian tersenyum miring kala kedua belah bibirnya mengungkapkan sebuah fakta yang tidak pernah Arin duga sebelumnya, tetapi dalam keadaan begini otaknya belum mampu merespon apapun jadi dia hanya diam saja mendengar penjelasan Bastian yang lebih mirip bualan.


"Siap-siap aja lo jadi korban dia yang selanjutnya."


Bughhh!!!


Satu pukulan Zian berikan untuk sekedar menyapa pipi mulus Bastian. Amarah sudah menguasai dirinya, Arin menutup mulutnya karena kaget dengan apa yang dilihatnya. Pukulannya cukup keras karena bisa membuat seorang Bastian tumbang mungkin karena tidak adanya persiapan sama sekali makanya oleng.


Zian menarik pergelangan tangan Arin menjauhi Bastian yang sudah siap gelud tapi malah ditinggal lari.


"Lo kenapa bisa sampai ke sana sih?" Setelah dirasa aman dari jangkauan Bastian, Zian mengutarakan pertanyaannya.


"Gue tadi denger suara benturan keras ditambah erangan manusia, ya gue kan orangnya kepo jadi gue samperin," jelas Arin tanpa dosa.


"Jangan berurusan sama dia lagi, lo bisa saja bakal jadi incaran dia," Zian mengusap wajahnya kasar, dia tampak gusar apa karena takut Bastian akan membalas atas perbuatannya tadi?


"Gue mau tanya sesu--"


"Masuk kelas! Guru lo udah dateng," Zian berlalu pergi tanpa memberikan Arin kesempatan untuk melanjutkan kata-katanya.


"Dari mana aja sih Rin? Untung guru belum ada yang masuk," Rini tampak khawatir.


"Gue tadi telat bangun, untung satpamnya lagi berak di semak-semak dan gue gunain kesempatan itu untuk nyelinap masuk gerbang."


"Licik banget lo, tapi gue suka," Rini memberikan dua jempolnya.


"Eh by the way, tugas dari Pak Rahmat udah siap belum? Kalo udah, liat dong gue sendiri belom jadi."


"Tugas yang mana?"


"Itu loh tugas Ekonomi, katanya sih disuruh cari jawaban di Perpustakaan."


"Astaga, kenapa lo gak bilang dari kemarin gue juga belum jadi. Jadwal beliau jam berapa?"


"Nanti setelah jam istirahat."


"Kita ke Perpustakaan habis ini."


Cuma bisa up segini dulu