
Di saat jalannya rapat, Arin lebih banyak diam tanpa berkomentar apa yang diucapkan sang ketua membuat yang lain langsung menatap ke arahnya, biasanya Agatha selalu mengela jika kurang setuju lah Arin malah lanjut-lanjut aja.
"Gimana menurut kalian?" Kini Zian langsung bertanya saja pada anggotanya, daripada dia sendiri yang terus ngebacot, jadi harus meminta saran juga dari yang lain.
"Gue sih setuju banget kalo minggu depan sekolah kita bakal ngadain pensi, udah lama banget gak ada acara kayak begitu, gue tentu saja bersemangat," sahut Rangga yang selalu antusias dengan ide cemerlang Zian, emang gak salah Zian dipilih sebagai ketua, otaknya selalu encer.
"Kaliam berdua bagaimana?" Zian beralih pada Rafi dan Arin.
"Gue sependapat sama Rangga, jadi mari kita bekerja mulai sekarang," Rafi sama senangnya juga dengan Rangga. Zian mengangguk-angguk setuju, kemudian menatap Arin yang melamun dari tadi.
"Sepertinya gue gak perlu minta persetujuan dari wakil. Oke, rapat hari ini selesai kalian boleh kembali ke kelas, mumpung belum jam istirahat. Oh iya, nanti sepulang sekolah kita rapat lagi." Semuanya bubar termasuk Arin yang lega karena akhirnya semua kelar dan dia bisa belajar dengan tenang, tapi kalimat terakhir Zian sedikit mengganggunya, rapat setelah pulang sekolah? Sudah Arin duga semua itu baka terjadi, memang harus seperti itu tugas anggota osis.
"Wih, ada wakil ketua Osis kita nih di sini." Arin mengernyit kala menangkap suara seseorang yang tidak asing lagi bagi telinganya, Arin segera berbalik dan mendapati Nayla and the genk tengah menghampirinya. Arin mendesah pelan, gak habis-habis memang mereka cari masalah. Arin hendak mengabaikannya dan pergi ke kelas, tetapi tangannya segera ditahan oleh Nayla.
"Mau lo apa sih? Lepas gak!!" Arin berusaha berontak, tangan yang satunya dipegang oleh Karin.
"Simple aja sih, gue mau lo jauhin kak Zian itu saja, tapi kayaknya sampai sekarang lo gak mengindahkan kalimat gue, jadi terpaksa gue harus memberi lo sedikit pelajaran biar jera," Nayla tersenyum smirk. Arin sebenarnya bisa saja menghajar ketiga orang gak tau diri ini tapi Arin tahan karena mau lihat kemampuan Nayla seperti apa yang katanya mau memberinya pelajaran, cihh beraninya main keroyokan, lo pikir gue bakal takut?
"Lo denger gak apa kata gue? Gue rasa lo mau ketemu ajal lo sekarang ya," Nayla memandang Arin remeh, dia pikir Arin tidak berdaya melawan dirinya terlebih lagi kedua temannya.
"Emang Zian naksir sama lo? Nggak kan? Zian juga bukan siapa-siapa lo, jadi atas hak apa lo perintah gue buat jauhin dia?" Kalimat Arin membuat Nayla panas, tangannya mengepal kuat sudah siap menggampar mulut Arin yang terlalu jujur.
"Jaga mulut lo bangshattt, gue bisa aja dapetin Zian dengan mudah," ucap Nayla dengan penegasan dalam setiap kalimat. Arin tersenyum tipis namun terkesan meledek.
"Oh ya, coba buktiin kata-kata lo tadi," tantang Arin. Karena udah gak tahan dengan ejekan Arin, kesabaran Nayla sudah habis, dia mengangkat tangannha hendak menampar Arin namun tanpa diduga ada yang menahan pergelangan tangannga.
"Kak Zian??" Nayla membelalak kaget meiihat Zian tengah menatapnya nyalang. Kok tamparan Nayla gak ada rasanya, wihh apa itu artinya gue punya kekuatan super, pemikiran konyol Arin. Perlahan-lahan Arin membuka matanya, melihat Nayla kini berhadapan dengan Zian, Arin tampak kecewa padahal sudah bahagia banget kira dirinya punya kekuatan super.
"Kasar banget sih lo jadi cewek," Zian menghempas tangan Nayla sehingga membuatnya sedikit terhuyung ke belakang karena tenaga Zian yang cukup kuat.
"Bu-bukan seperti itu kak, aku hanya tidak mau kamu deket sama perempuan gatel ini." Gak sadar diri, batin Arin saat dikira gatel.
"Gak usah sok manis depan gue, selama ini gue gak pernah suka ataupun tertarik sama lo, inget itu baik-baik." Arin tertawa puas dalam hati karena Nayla dipermalukan habis-habisan oleh lelaki yang selama ini dia kagumi. Mata Nayla mengembun, ucapan Zian setajam pedang yang menusuk jantungnya bertubi-tubi, ini seperti perasaan ditolak sebelum bertindak.
Nayla berlari menyusuri koridor sepi sambil menahan isak tangisnya, Karin dan Mila yang melihat Nayla seperti itu hanya menatap Arin dan Zian bergantian lalu menyusul ketua mereka.
"Lo gak apa-apa kan?" Zian hanya ingin memastikan keadaan Arin karena sempat ditampar oleh Nayla.
"Gue baik-baik saja, tapi jujur sih perkataan lo ngena banget, gue yakin pasti Nayla bakalan overthingking dan sakit hati," walaupun sudah dijahatin tetapi Arin masih punya hati nurani, bagaimanapun Nayla lah orang pertama yang dia kenal saat pertama kali menapaki sekolah ini.
"Bagaimanapun juga, thanks ya udah lindungin gue walau gue gak butuh. Gue duluan," Arin berlari kecil tanpa menghadap ke belakang. Zian memandangi punggung Arin yang kian menjauh.
.
.
Untuk yang kedua kalinya, Arin bertemu dengan Dion yang menunggu di tempat yang sama seperti saat dia menjumpainya pertama kali. Dih, paling mau ketemu kak Agatha, dah lah abaikan saja kalo dia manggil. Arin berusaha acuh saat lewat di depan Dion, namun langkahnya segera disadari.
"Arin woy, anjir lo mau kemana??" Dion meneriaki namanya namun Arin tetap pada pendiriannya tidak ingin menghiraukan panggilan Dion, gak mau malu untuk yang kesekian kalinya.
Karena tak kunjung mendapat sahutan dari yang punya nama, Diom turun dari motornya dan menepuk bahu sempit Arin.
"Apaan sih goblok, gak lihat apa orang lagi jalan," Arin menepis kasar tangan Dion.
"Lo mau kemana?"
"Sungai Amazon, tangkap anaconda, kenapa? Mau ikut? Gas lah biar lo yang jadi mangsanya."
"Sadis banget lu setan, ayo ikut gue."
"Lepasin ******, lo mau tarik gue kemana?"
"Ya pulang atuh Arin, Mama suruh jemput lo katanya Papa lo lagi ke luar kota makanya gue disuruh buat jemput anak kesayangannya yang mirip kuda ini." Alis Arin menukik mendengar penuturan manusia di depannya ini.
"Gue gak salah denger? Bukannya lo mau jemput kak Agatha?"
"Agatha udah pulang duluan, katanya mau shopping bareng temen-temennya."
"Alah bacot, gue bisa pulang sendiri."
"Yakin mau jalan kaki? Jauh loh, ntar kalo lo gosong terus Zian gak suka lagi sama lo gimana?"
"Apa peduli gue, lagipula gue juga gak suka sama dia."
"Lain di mulut lain di hati, gak usah ngeles gue tau lo ada rasa sama si Zian galak itu. Daripada kita berdiri doang kayak patung di sini mending pulang, gue laper." Mau tidak mau, Arin mengikuti langkah panjang Dion lalu naik ke motor tinggi tersebut. Jujur, baru pertama kali ini Arin merasakan dibonceng oleh orang yang dia suka, tapi sayangnya bukan Arin perempuan pertama yang duduk di jok belakang melainkan Agatha, tapi gak apa-apa yang penting bisa merasakan sensasinya.
"Pegangan yang kuat, gue mau ngebut biar cepat sampai!" Arin menarik ujung baju seragam Dion.
"Udah!!"
"Kalo lo jatuh jangan salahin gue ya," Dion sudah siap gas motornya dengan cepat Arin memeluknya erat. Dion tertawa renyah dari balik helmnya.