Selfish

Selfish
Selfish : 63



Zian melirik jam dinding yang bertengger di atas televisi, sudah menunjukkan jam 06:45 pagi itu tandanya sebentar lagi bel masuk sekolah akan berbunyi, tapi masalahnya ini Zian mau berangkat tapi ditahan mulu sama Laras, perempuan cantik itu maksa buat ikut ke sekolah dengan alasan menyapa guru sekaligus adek kelasnya yang lama, dengan tegas Zian menolak dan menyuruh Laras pulang saja ke rumahnya daripada bikin repot di sini, Laras ternyata semalam menginap di rumah Zian.


"Gak, aku mau ikut pokoknya," Laras tidak mau dibantah, ucapannya bersifat mutlak.


"Dengan pakaian seperti itu?" tanya Zian seraya menperhatikan dari atas sampai bawah pakaian yang Laras kenakan, hanya rok mini warna biru dongker dan atasan baju kaos setengah badan.


Laras ikut melihat penampilannya.


"Kenapa? Gak ada salahnya kok, banyak juga yang pakaiannya seperti aku di luar sana," ucap Laras tak peduli, yang penting di sisa waktu yang masih tersisa Laras harus bisa ikut sama Zian.


"Gak bisa, Laras. Aduhh gimana ya jelasinnya," Zian menggaruk tengkuknya kasar, bingung dia lama-lama. Waktu tetap berjalan, sepuluh menit lagi jam 7, Zian benar-benar telat hari ini, itu tandanya image Zian di sekolah bakalan jelek apalagi dia yang notabennya seorang ketos yang berdedikasi dan selalu jadi contoh teladan bagi murid-murid yang lain.


.


"Tumben cepet sampai, biasanya saat jam istirahat baru lo dateng," Rini menepuk bahu Arin yang menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan, hari ini Arin memang datang lebih awal dari biasanya.


"Lebay lo, gak ada ya gue dateng pas jam istirahat," sela Arin tidak terima.


"Ya, itu kan sebagai perumpamaan Arin, lo jangan nyolot dulu," kekeh Rini kemudian duduk di bangku depan, menghadap belakang dan berhadapan dengan Arin.


"Oh iya, gimana kemarin?"


"Gimana apanya?"


"Ck, itu loh masalah kalung yang pernah lo ceritain, udah lo balikin belum? Kalo belum gue mau lihat langsung, pinjem bentar buat selfie habis itu post di insta story," jelas Rini seraya memamerkan aplikasi instagram-nya.


Arin diam, males nanggepin masalah yang berkaitan dengan Zian, secara Arin tuh masih kesal dengan laki-laki itu, Arin berharap tidak bertemu dengannya hari ini, males banget lihat muka dia.


"Kok diem sih, jadi gimana? Masih ada gak?" Rini geregetan pengen cekik Arin, capek-capek ngomong panjang lebar kali tinggi malah didiemin, siapa yang nggak kesal coba. Belum sempat Arin buka suara, tiba-tiba suara riuh ditambah langkah kaki para siswa yang lain memenuhi koridor, Rini dan Arin menoleh ke luar pintu, di sana sudah banyak murid yang berlari ke arah selatan entah apa yang terjadi di sebelah sana.


Rini beranjak berdiri hendak ikut di antara kerumunan siswi itu, maklum anaknya kepo banget plus Rini tuh gak bisa ketinggalan berita sekolah. Tangannya langsung di tarik oleh Arin.


"Eits, mau kemana lo?" cegah Arin, kini tersisa mereka berdua di dalam kelas, yang lain sudah pada keluar melihat apa yang terjadi. Tak menjawab pertanyaan Arin, Rini langsung saja menarik lengan Arin biar ikut keluar juga, untung saja Arin punya refleks yang bagus sehingga dia tidak tersungkur saat Rini menariknya secara tiba-tiba.


Di luar sudah banyak sekali siswa di sepanjang koridor, mereka berdiri di dinding pembatas yang tingginya setengah dari badan mereka, melihat ke arah bawah yang kebetulan tertuju langsung ke parkiran sekolah.


"Lah itu bukannya kak Zian ya? Hadeuh, gue kira apaan yang ribut banget, padahal mereka setiap hari lihat kak Zian, gak heran sih mereka semua pada histeris, gue akui kak Zian memang terlihat lebih tampan hari ini," ujar Rini dengan raut wajah kecewa, tapi kembali tersenyum mendengar omongannya sendiri yang baru saja memuji Zian. Netranya membulat sempurna kala melihat sosok perempuan cantik turun dari mobil milik Zian, /hari ini absen dulu bawa motor karena bawa Laras jadinya pake mobil.


Laras sedari tadi sudah keluar mobil makanya anak lain pada teriak histeris, tapi karena pakaian Laras terlalu pendek, Zian suruh dia masuk lagi mengenakan cardigan atau jaket agar sedikit menutupi tubuh indahnya.


"Itu guru baru ya? Kok bareng kak Zian?" Rini bertanya-tanya, pertama kali lihat Laras ekspektasi Rini adalah seorang guru baru karena pakaiannya yang agak mirip.


Arin yang berdiri di sampingnya gak nyahut sama sekali, fokus menatap kosong ke arah Zian yang kini jalan beriringan dengan Laras, gak tanggung-tanggung tuh perempuan menggandeng kuat lengan Zian dan sesekali menyenderkan kepalanya di bahu lebar Zian membuat teriakan siswa perempuan semakin kencang, ada yang cemburu ada juga yang baper.


Zian mendongak ke atas, melihat sudah banyak sekali yang memperhatikannya dari atas sana, Zian kan jadi malu. Tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Arin yang balas menatapnya datar, kebetulan Arin dan Rini berada di posisi paling pojok jadi sangat mudah bagi Zian untuk menemukannya.


Terjadi kontak mata selama beberapa detik, Arin orang pertama yang memutus kontak mata mereka.


"Ayo, balik ke kelas. Gue lupa belum kerjain PR Geografi," Arin tarik lengan baju Rini bahkan orangnya belum puas lihat adegan mesra di bawah sana.


Arin duduk denga kasar di bangkunya, kembali ke posisi semula menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangan, Rini menautkan alis bingung. Oke, Rini paham sekarang dengan situasinya. Tiba-tiba saja terpancar senyum menggoda di wajah Rini, mencolek bahu Arin sehingga empunya berdehem pelan.


"Gak usah cemburu, positif thinking mungkin saja itu kakaknya kak Zian yang baru pulang dari luar negri," jelas Rini, Arin mengangkat kepalanya, menatap jengkel ke arah Rini.


"Cemburu pala lo tujuh, gue gak cemburu ya, apaan dah. Gue malah bersyukur banget dia gak deketin gue lagi, jadi gue aman dan tentram," jawab Arin acuh, padahal hati berkata lain.


"Halah, bibir sama wajah gak sinkron, jelas banget kelihatan kalo wajah lo asem banget setelah lihat adegan di parkiran tadi, apalagi kalo bukan cemburu kan?" Rini puas banget lihat wajah Arin yang kini memerah, antara malu atau menahan amarah.


"Gue timpuk juga lo lama-lama," Arin siap ambil ancang-ancang buat mukul Rini pake tas.


"Ehh tunggu dulu, tadi kak Zian nengok ke arah lo, atau mungkin gue salah lihat ya?" Arin menurunkan tas yang sudah ia angkat, merenung dan kembali mengingat kejadian tadi.


"Ahh masa bodoh, yang penting lo mampus dulu."


BRUGH...


Satu pukulan mendarat di kepala Rini, tidak keras kok palingan cuma bikin pingsan doang. G.Canda.


"Anjing, sakit babi!!!"