
Masing-masing alarm berbunyi tanda waktu menunjukkan tengah malam. Meski masih mengantuk mereka harus tetap bangun karena sebentar lagi matahari akan terbit sementara mereka masih ada di posisi yang lumayan jauh dari puncak gunung, jadi untuk itu mereka harus bergegas naik lagi agar tidak ketinggalan momen berharga.
"Tunda lima menit bisa gak sih? Nanggung banget mata gue belum kebuka sempurna," Rini memberontak saat Arin menarik tangannya paksa. Bagian yang paling Rini benci yaitu dipaksa bangun saat lagi enak tidur, secara wakti tidur dia tadi hanya 4 jam karena Rini sibuk bolak-balik badan gak bisa merem, apalagi mereka di tempat terbuka dan hanya tidur di tenda. Gak kebayang kalo ada binatang melata atau hewan buas yang siap memangsa di sekitar mereka, tapi agak mustahil sih bagi hewan karnivora seperti singa atau harimau tinggal di gunung.
Semua sudah selesai, melipat tenda dan membereskan bekas makan mereka tadi malam.
Zian menatap arloji di tangannya, sudah jam satu dan mereka masih ada di posisi paling bawah, harap-harap masih sempat untuk sampai di atas sana dalam waktu sekitar 3 atau 4 jam.
Mereka terus menyusuri jalan yang sudah ditandai, untungnya gunung yang mereka daki tidak terlalu curam dan berbatu, jadi gak gampang tergelincir apalagi mereka hanya bermodalkan senter dan penerangan dari HP.
Dari atas mereka dapat melihat lampu rumah warga yang menyala dalam kegelapan, itu tampak indah bagi orang awam seperti Arin dan yang lainnya.
Mendaki saat malam hari ternyata lebih seru dibanding siang hari karena gak kerasa capeknya, ditambah gak ada matahari yang bisa membuat mereka kepanasan.
"Kapan sampai nya nih? Perasaan kita udah jalan selama dua jam," Rini merenggut, dari tadi udah jalan kok gak sampai-sampai, maklum baru pertama kali naik gunung. Padahal sebelum pergi dia yang paling bersemangat dan gak sabar, giliran begini juga dia yang paling cepat ngeluh.
"Mau gue gendong?" tawar Rangga, kasihan juga lihat pujaan hati ngos-ngosan sampai nafasnya gak beraturan gitu. Rini tersenyum kikuk, membayangkan Rangga menggendong dirinya sambil nanjak gunung, dijamin Rangga pingsan deh, percaya sama author.
"Idih, sok-sok an mau gendong-gendongan segala, gelinding berdua baru tau rasa lo," sambar Rafi yang tampaknya sudah sangat lelah dengan drama perbucinan alay sobatnya. Rangga menghentikan langkahnya, menatap Rafi kemusuhan.
"Lo bisa gak, sehari aja gak ngerusuh dalam kisah percintaan gue? Perasaan lo mulu yang nyambung kayak kabel listrik." Rafi mendecih pelan, memilih mengabaikan ucapan Rangga yang nantinya mengarah pada perdebatan hebat. Yang lain juga pada diem semua, sibuk dengan urusan dan pikiran masing-masing, dalam keadaan begini lebih baik tidak ikut campur nanti urusannya semakin panjang.
"Ehh, ini bener gak sih jalannya?" tanya Dion yang dari tadi diem kini buka suara karena ragu dengan jalan yang mereka tempuh. Zian memiringkan kepalanya, dia juga merasakan hal yang sama.
"Gak usah nakutin deh, kita udah berjalan jauh ini," sela Arin sambil memperhatikan sekitar dengan mengarahkan senter yang dia bawa.
"Masa iya kita harus puter balik lagi," Rini mengeluh, terduduk di atas tanah sambil memijat kakinya yang mulai kram.
"Please deh, gue gak mau hilang di gunung, gue belum nikah sama Agatha," Dion merengek dengan ekspresi yang dibuat semenyedihkan mungkin.
"Mimpi lo. Udah jalan aja, masalah jalur ikutin aja feeling kalian," Bastian menengahi dan untungnya yang lain setuju.
Mereka semua lanjut jalan, keadaan masih gelap hanya lampu senter yang terang menemani langkah mereka. Di perjalanan tidak sengaja bertemu pendaki lain yang tampaknya baru selesai lipat tenda, jadi makin yakinlah mereka tidak salah jalan seperti yang Dion pikirkan.
Seusai saling menyapa dengan sesama pendaki, akhirnya mereka memutuskan untuk jalan bersama agar tidak mencar dan tersesat.
.
Tepat pukul 5, dibarengi dengan adzan subuh yang berkumandang, para pendaki tiba di puncak gunung, ada yang duluan ada juga yang belakangan, bahkan sisanya masih dalam perjalanan, mungkin kelebihan capek makanya istirahat mulu setiap nemu tanah lapang buat rebahan.
Lampu rumah warga satu persatu mati karena sudah siap menyambut sang mentari yang akan menyinari bumi.
Rini menunjuk salah satu rumah warga yang lampunya masih nyala tapi tidak terlalu terang.
Terdengar muadzin melantunkan iqamah, itu tandanya sholat subuh akan segera dilaksanakan. Arin dan yang lain memutuskan untuk sholat juga, untung saja mereka bawa air masing-masing satu botol besar, jadi mudah buat wudhu tanpa cari mata air terdekat yang sayangnya sangat mustahil ada di gunung.
Mendaki di malam hari membuat perut lapar. Setelah sholat subuh, mereka memutuskan untuk masak mie karena hanya itu saja yang mereka bawa dari rumah, dan katanya juga, makan mie sambil mantengin sunrise rasanya lebih nikmat.
"Lo mau kopi nggak? Biar gue buatin sekalian, mumpung gue baik hati," Rini menawarkan pada Arin sambil menumpahkan bubuk white coffee ke gelasnya. Arin mikir-mikir sebentar sebelum ngangguk mantap. Matanya sejak tadi berkunang-kunang karena kurang tidur.
Rini mengangkat jempolnya kemudian lanjut masak air.
Arin menghirup nafas dalam-dalam, suasana pagi hari terlalu menenangkan, hembusan angin bertiup pelan menerbangkan rambutnya. Rasanya Arin tak ingin beranjak dari sini. Tiba-tiba ada seseorang duduk di samping Arin, orang itu dengan lancang merangkul bahunya sampai tubuh Arin kegeser.
"Sendirian aja, Neng?. Gak baik ngelamun sendiri," ucap orang tersebut sambil tersenyum manis. Arin memicingkan mata, menatap sinis pada Bastian dan berusaha melepaskan rangkulannya.
"Udah makan lo?" tanya Bastian, gak peduli gimana usaha Arin menjaga jarak darinya, tangan kekarnya terus mencengkram bahu Arin, enggan untuk melepaskan.
"Ck, jawab doang apa susahnya sih? Gue nanya ini," Bastian berdecak kesal, Arin seolah menutup rapat bibirnya.
"Lepas gak?" Alih-alih menanggapi Bastian, Arin masih tetap berusaha menjauhkan tangan pemuda yang lebih tua dua tahun itu darinya. Bastian mendengus pelan, rangkulannya mulai melonggar dan akhirnya Arin bisa bebas, dia sedikit menggeser tubuhnya sehingga berjarak 50 cm dari Bastian.
"Lo beneran gak mau jawab?" Pertanyaan penuh intimidasi Bastian lontarkan, geram juga lama-lama diabaikan begini.
"Gak penting juga bagi lo gue udah makan atau belum," jawab Arin, terdengar ketus di telinga Bastian. Entah apa masalah adik kelasnya ini sehingga bersikap dingin padanya.
Bastian mendongak kala Arin berdiri dari duduknya, belum sempat bertanya Arin sudah pergi ke arah tenda di mana Rini sedang nuang air ke gelas kopi.