Selfish

Selfish
Selfish : 25



Arin berdiri mematung menatap dua laki-laki di depannya secara bergantian, sejak kapan mereka sudah ada di rumahnya? Ini lagi anak satu, kok tau rumah Arin?


"Widih, lo diapelin dua cowok sekaligus ya, bagus-bagus ada perkembangan. Ternyata judes begini ada juga yang naksir," Dion yang nyatanya belum balik dari kediaman Arin mendadak kaget juga karena dua lelaki sudah stay depan rumah Arin, malah raut wajah mereka tampak tak bersahabat.


"Diem lo kebo laut. K-kalian ngapain di sini?" Dua-duanya ga ada yang nyahut malah asik saling lempar tatapan tajam.


"Heh heh, ini bukan kontes tatap mata Ojan ya. Ditanya tuh, bukannya jawab," Dion menengahi malah dia yang ditatap.


"Santai, Bang. Kita damai, yang tadi hanya bercanda kok, suerr," ditatap tajem setajem silet begitu siapa yang gak ketar ketir coba.


"Arin, gue mau ajak lo ke pantai, kita lihat sunset," Bastian mengungkapkan maksudnya lebih dulu, Zian yang merasa keduluan oleh manusia ini gak mau kalah juga.


"Rin, kita pergi ke Mall, lo mau beli apa aja terserah gue yang traktir." Dahi Arin berkerut, dua orang ini kerasukan jin jenis apa kok tiba-tiba pada royal begini, Arin melirik Dion yang hanya ketawa gak jelas melihat persaingan dua lelaki ini.


"Lo gak usah ikut ikutan ya setan."


"Lo yang ikut ikutan taik." Tambah keras tawa ngakak Dion.


"Ketawa lagi gue sumpal mulut lo pake sendal legend gue." Dion seketika mengatup bibirnya rapat.


"Arin, kok temennya gak diajak masuk. Gak baik ngobrol sambil berdiri."


"Iya, Ma. Si-silahkan masuk, kita ngobrol di dalam saja." Ngerasa ajakan Arin gak digubris, Dion juga yang harus turun tangan. Dion mendorong tubuh tinggi kedua laki-laki ini untuk masuk ke dalam.


"Tenang, Bang. Tante Rima gak gigit kok, paling cuma di lahap doang."


"Lo pikir Mama gue buaya apa?" timpal Arin yang terganggu dengan ucapan ngasal si Dion.


"Nah kan begini enak, ngobrol sambil duduk jadi lebih fokus," Rima ikut nimbrung di perkumpulan anak remaja. Kalo Zian sih Rima sudah kenal banget tapi ada satu wajah baru yang asing, menagap lekat Bastian membuat lelaki itu peka dan langsung berdiri.


"Saya Bastian, Tante. Kakak kelas nya Arin," dengan sopan dia memperkenalkan diri pakai acara salam salaman biar lebih akrab sama calon mertua ya kan. Zian berdecih melihat tingkah sok akrab Bastian, padahal di sekolah guru pun dilawan mau tua ataupun muda, kok ini tiba-tiba jadi ramah. Dari singa jadi kucing sih ini istilahnya. Arin mengusap tengkuknya, entah apa tujuan mereka berdua datang kemari, Zian juga biasanya ngabarin kalo mau datang, walaupun telpon ataupun pesan dari Zian gak pernah dia hiraukan tapi setidaknya Arin tau bahwa Zian akan datang ke sini.


"Wahh, baru satu bulan sekolah Arin ternyata punya banyak kenalan ya," puji Rima seraya menatap putrinya dengan tatapan menggoda.


"Dua orang dikira banyak, Tante lawak ihhh," Dion menimpali. Memang ni anak satu hobinya ikut campur.


"Dia siapa sih, Tan? Kok mukanya kayak asbes karatan, mana hobi nyolot lagi." Jujur, kayaknya Bastian sudah muak dengan Dion. Rima terkekeh geli, bisa-bisanya Bastian asal ceplas ceplos kalo ngomong.


"Untuk gue sabar, kalo nggak udah gelud kita, Bang."


"Berani lo sama gue?" Sifat sangarnya mulai keluar, rahangnya mengeras persis mirip orang yang mau nerkam orang. Zian gak habis pikir sama manusia di sampingnya ini, kesabarannya tidak bisa dipertebal lagi apa?


"Jadi tujuan kalin ke sini ada apa?"


"Saya mau ajak Arin ke Pantai, Tante. Katanya dia suka lihat sunset." Arin menaikkan sebelah alisnya. Sejak kapan gue bilang kek gitu anjir, gue memang suka sunset tapi lebih ke sunrise sih, and gue gak pernah tuh koar-koar apalagi sama makhluk sangar satu ini, kenal aja baru sehari.


"Jangan izinin, Tante. Dia orangnya kasar, Arin biar sama saya aja dijamin aman dan tentram sepanjang masa," Zian menimpali. Dipikir dirinya bangunan apa bisa bikin orang nyaman dan tentram.


Mulut Dion sudah gatal pengen nyahut tapi sudah dicubit duluan oleh Arin agar tidak merusak suasana dengan congor kematiannya, takut Bastian ngamuk lagi bisa panjang urusan. Rima jadi bingung buat memutuskan. "Hmm, kalo itu sih terserah Arin saja mau pergi bareng siapa, tapi saran Tante lebih baik kalian semua pergi sama-sama biar gak ada yang iri."


"Saya juga ikut kan, Tante?"


"Iya, Dion. Kamu ikut serta jaga Arin."


Karena Arin tak kunjung memberi jawaban mereka terpaksa menerima saran Rima yang menurut mereka gak terlalu aneh, kecuali untuk Arin, dia merasa risih jika harus pergi dengan 3 laki-laki, entah apa kata orang nanti.


.


.


"Lo gak pernah cuci mobil ya, bau banget kek yang punya," sepanjang perjalanan, Bastian selalu mengeluh kala berada di dalam mobil Zian, karena Bastian bawa motor yang tentu saja gak muat untuk 4 orang terpaksa harus ikutan naik mobil milik Zian untuk lebih dekat dengan Arin. Sempat terjadi rebutan, Bastian minta Arin duduk di belakang bareng dia sementara Dion di depan dengan Zian.


"Gue takut lo macem-macem sama Arin di belakang, udah lo sama Dion aja noh biar Arin gue yang awasin di depan."


"Modus lo anjing." Zian tertawa puas melihat ekspresi Bastian, begitu jelas jika dia ogah bila harus dipasangkan dengan Dion.


"Lo jangan deket-deket, gue masih normal ya," Bastian menoyor kening Dion, padahal Dion hanya ingin memperbaiki posisi duduknya malah kena toyoran manis dari pemilik tangan keras itu.


"Apa sih, Bang. Ge-er banget, jadi orang jangan PD-PD amat lah, ntar malu sendiri gak baik untuk kesehatan mental Abang," Dion kesal lalu bersandar di jok mobil. Zian dan Arin memantau gerak gerik mereka dari spion.


Zian memilih ide Bastian untuk ke pantai, karena pada jam segini Mall lagi ramai pengunjung, pantai sebenarnya juga begitu sih.


Zian dan Arin jalan beriringan di depan sementara Bastian di belakang bareng Dion. "Bangshat, gue cuma jadi nyamuk doang di sini. Tau begini mending gue pulang aja tadi, padahal rencana awal gue mau manas manasin si kunyuk Zian kok sekarang malah gue yang panas ya?" Suara hati Bastian. Penyakit hati memang bahaya.


"Eh-eh kita selfi yuk, lumayan untuk insta story, udah lama juga gak ke pantai."


"Norak lo."


"Lah, yang ngajak situ siapa? Orang gue ajak Arin sama Zian."