
Tok! Tok! Tok!
Arin mengetuk pintu kayu itu pelan-pelan agar tidak mengganggu penghuni di dalamnya. Rafi dan Rangga kompak menoleh sementara Zian masih setia rebahan karena memang seluruh badannya sakit, mau bangun pun susah jadi Zian gak peduli siapa pun yang dateng asal dia bisa rebahan dengan nyaman.
"Pacar lo noh!" Ujar Rafi sembari menepuk lengan Zian. Hah? Zian sontak merubah posisinya yang semula tiduran jadi duduk manis di atas ranjang, sekarang dia tidak peduli dengan rasa sakit yang menyengat saat dia memaksa untuk bangun dari posisinya tadi, Zian hanya tidak maj terlihat lemah di depan Arin.
"Maaf mengganggu, apa saya boleh masuk?" tanya Arin ramah, sisi lain yang tidak pernah Zian lihat sebelumnya, biasanya tuh anak bakalan memasang tampang judes tapi sekarang berubah 180 derajat.
"Iya dek masuk saja pintunya gak dikunci kok," jawab Rangga sok lembut yang lasngsung mendapat geplakan mantap dari Rafi, jijik juga denger Rangga kek gitu.
"Apa sih anying?"
"Udah yok keluar, biarin mereka ngobrol berdua," Rafi menarik lengan seragam Rangga mengajaknya keluar.
"Ehh kalo cewek sama cowok berduaan pasti yang ketiganya setan," Rangga mengeluarkan jurus ceramahnya.
"Iya, lo setannya. Udah jangan banyak bacot, mereka perlu waktu berdua."
"Awas jangan macem-macem kalian berdua," Rangga menunjuk Zian yang menatap sinis ke arahnya, aneh banget dah temen gue batinnya.
Setelah dua berandal itu keluar, Arin membawa langkahnya menghampiri ranjang yang lebih mirip brankar itu. Zian menatap gerak gerik Arin yang terlihat kaku dan enggan menatap matanya.
Hening beberapa saat, sampai Zian yang membuka suara saking tidak tahannya berada di situasi seperti ini.
"Ngapain kesini? Jam kosong ya?" Pertanyaan Zian yang gak masuk akal, sudah jelas ini jam istirahat.
"Lo baik-baik aja kan?" tanya Arin, tersirat raut wajah khawatir yang dapat Zian lihat pada gadis itu. Zian menarik sudut bibirnya, mendapatkan simpati dari Arin membuatnya senang.
"Maaf!"
"Buat?"
"Gara-gara gue, lo berakhir di UKS."
"Santai, bukan salah lo. Lagipula gue baik-baik aja cuma tenaga gue doang yang habis," Zian masih bisa tersenyum kala sakit di badannya kembali terasa, beberapa kali dia meringis pelan membuat Arin jadi semakin bersalah. Bohong banget bilang gak apa-apa.
"Lo rebahan aja, gue yang ngilu liat lo duduk kek gitu," Arin membantu Zian untuk merebahkan tubuhnya. Di tengah rasa sakitnya, Zian masih sempat-sempatnya mencari kesempatan dalam kesempitan, dengan sengaja dia menarik lengan Arin hingga membuat gadis itu jatuh di atas tubuhnya. Arin jelas kaget dengan tingkah manusia satu ini, hendak memberontak tetapi Zian mengunci pergerakannya, orang ini sedang sakit tapi tenaganya gak bisa diragukan.
"Lo apa-apaan sih, lepas gak!" Bukannya nurut Zian malah semakin jahil dengan mendekatkan wajahnya, Arin refleks mundur sedikit dan masih berusaha untuk lepas.
"Kalo dilihat dari dekat begini ternyata lo cantik juga."
"Baru sadar lo, ya iyalah gue emang cantik. Lepasin gue setan, ntar kalo ada yang masuk gimana? Gue gak mau ya masuk ruang BK untuk kedua kalinya."
"Biarkan seperti ini sejenak. Lo tau, cara ini ampuh banget mengurangi rasa sakit di tubuh gue."
"Modus banget lo, dasar biawak."
"Ehh astagfirullah, maaf ganggu. Anggap aja gue gak liat tadi cuma ngintip dikit doang sumpah." Arin terpaku di tempat saat mengetahui Agatha dengan santainya menutup wajah seolah dia tidak melihat apa-apa, bisa Arin lihat Agatha membuka sedikit celah di antara jari jemarinya untuk melihat keadaan.
Arin merapikan seragamnya yang sedikit terangkat akibat perbuatan laknat Zian, Zian sendiri memasang senyum tanpa beban.
"Kenapa, Tha? Gak biasanya lo jenguk gue kek gini?" Zian masih dengan posisi rebahan santuynya, dia mengangkat sedikit tengkuknya agar bisa melihat Agatha.
"Kata Rafi tadi, sakit lo parah sampai pingsan di kelas, ya udah gue langsung kesini," jelas Agatha jujur, dia melemparkam senyum manis pada Arin lalu duduk di kursi yang ada di sebelah kiri Zian.
Zian merutuki Rafi serta Agatha, kenapa ngomongin masalah pingsan di depa Arin sih?, kan dia jadi semakin terlihat lemah. Zian menoleh ke arah Arin yang setia menunduk seolah tidak peduli dengan topik perbincangan mereka.
"Gue gak pingsan ya, sat!"
"Lah malah ngumpat ke gue, jujur aja kali kalo lo pingsan. Ehh by the way, setelah gue tau lo di UKS, gue bawain lo sesuatu nih."
"Wihh tumben lo baik, bawa apaan?"
"Surat dari kepala sekolah yang harus lo tanda tangani sebagai Ketua Osis, pasal acara kita minggu depan," Agatha memperlihatkan selembar kertas di hadapan Zian memintanya untuk membaca sebelum menandatangani.
"Anying, gue kira lo bawa buah atau apa kek yang bisa dimakan," Zian sedikit mengeluh.
"Ya udah nih lo telan aja suratnya, itu aja ribet. Lagian lo manja banget sakit diki pengen dibawain buah, tunggu lo masuk UGD dulu baru gue bawain buah, tapi buah jeruk doang satu biji," Agatha tertawa dengan leluconnya sendiri.
"Eh Arin, tadi lo dicariin sama temen lo," Agatha beralih menatap Arin, anak itu masih menunduk sepertinya masih malu karena ketangkap basah, mau bergerak pun kayaknya Arin gak nyaman.
"Siapa kak?" tanya Arin menatap Agatha sekilas setelah itu buang muka. Yang ditanya hanya mengedikkan bahu, karenan memang dia tidak tau namanya.
"Kalo begitu, saya duluan ya. Permisi!!" Arin mundur beberapa langkah ke arah pintu, setelah sampai di ambang pintu dia segera berbalik arah dan berlari setelah menutup pintu UKS itu.
"Zian anjing, awas aja kalo kak Agatha sebarin tentang insiden tadi gue geprek kepala lo," Arin ngedumel sepanjang lorong. Bel istirahat sepertinya sudah berbunyi daritadi. Sial banget, sekarang mata pelajaran guru killer itu, Arin mengusap wajahnya kasar, dia sama sekali tidak ingat.
"Masuk atau bolos aja ya? Ehh jangan-jangan, gak ada istilah seorang Arin bolos pelajaran. Gue tetep masuk walaupun harus dihukum berdiri depan papan, gak apa-apa gue ikhlas," Arin sudah membulatkan tekadnya, knop pintu dia tarik pelan-pelan ke bawah.
"Kenapa kamu terlambat masuk hah? Gak bisa baca jam kamu?" Arin meneguk salivanya susah payah, kini semua pasang mata mengarah padanya dengan tatapan sinis kecuali Rini yang memandang Arin dengan tampang merasa bersalah, karena sarannya lah Arin pergi menemui Zian.
"Maaf, Buk. Tadi saya habis jenguk temen di UKS."
"Ada teman kelas kalian yang sakit di sini?"
"Tidak, Buk!!" Jawaban yang sangat kompak seakan ingin Arin dihukum.
"Bukan temen kelas, tapi dari kelas lain."
"Halah alasan, hukum aja Bu biar kapok," teriakan Nayla mendapat sorakan setuju dari yang lainnya.
"Sudah-sudah, kalian ini ribut sekali, mau Ibu hukum kalian juga sekalian? Kamu, duduk sana! Kali ini saya maklumi tapi jika diulangi lagi berdiri tengah lapangan sampai jam pulang." Arin membungkuk berterima kasih lalu berlari ke mejanya. Murid yang lain tampak kecewa.