
Bukan tersesat namanya kalo gak ada tantangan. Baru saja mereka hendak melanjutkan perjalanan, mereka semua dikejutkan oleh seekor biawak, ukurannya cukup besar dan panjang. Arin menelan ludahnya takut begitu juga dengan yang lain, biawak tersebut berjalan santai di depan mereka, tetapi sepertinya mereka sama sekali tidak terlihat karena ketutup dedaunan.
Amber hendak teriak, namun segera disadari oleh Fandi. Fandi meremas dedaunan dan menyongsongnya ke dalam mulut Amber agar tidak bersuara, karena biawak tadi merasakan kehadiran mereka.
Biawak umumnya tidak akan menyerang manusia, kecuali jika merasa diprovokasi. Cakar biawak yang panjang, gigi yang tajam dan tubuh yang kuat membuat mereka lebih berbahaya dari jenis kadal lainnya, jadi jangan coba-coba mendekat.
Bastian merentangkan tangannya mengisyaratkan untuk diam sebentar sebelum biawak ini pindah.
Mereka tidak selamat sepenuhnya, baru juga lepas dari biawak tuli itu malah ketemu ular, mana gede lagi, takdir baik selalu menemani mereka, ular besar tersebut sama sekali tidak merasakan kehadiran mereka. Baru melangkah satu meter, mereka bertemu seekor musang, dan kabar baiknya musanh tadi sama sekali tidak tertarik untuk menganggu mereka.
"Hewan-hewan di sini lagi pada kondangan ya, perasaan dari tadi ketemu mulu, apakah pak singa dan Bu singa sedang ada acara resepsi dan mengundang seluruh penghuni hutan, heran dari tadi ketemu mulu," ujar Fandi gak habis pikir.
"Beruntung kita gak ketemu hewan tadi waktu malam, entah apa yang akan terjadi andai saja hal tersebut terjadi, gue gak bisa bayangin," sahut Bastian seraya terus memimpin jalan, kali ini dia akan pastikan mereka semua harus bebas.
"Ehh tapi serius, gue penasaran. Kayaknya emang bener deh ada acara resepsi di sini, atau mungkin acara sunatan anaknya keluarga singa," Fandi masih kuat pada teori gilanga itu, candaannya membuat yang lain terhibur, kecuali Bastian tentunya, selera humornya rendah jadi lelucon Fandi gak akan mempan untuknya.
"Kenapa kita gak mencar aja jari jalan keluar."
"Gila lo, yang ada kita makin tersesat, kalo mau mencar sendiri sana, gue sih ogah," timpal Rini. Fandi mencebik kesal, padahal dia hanya ingin memberi saran yang baik, harap-harap bisa diterima rekannya ehh malah disemprot dengan kata-kata pedas.
"Jalannya kayak gak asing. Hey, lo semua inget gak jalan ini?" tanya Bastian yang dijawab anggukan oleh yang lain.
"Ini bukannya jalan terakhir sebelum kita tersesat?" tanya Ika. Semuanya saling tatap secara bersamaan, terlihat senyum mereka mengembang karena tau mereka akan selamat dan gak akan bermalam di dalam hutan lagi.
"Jangan seneng dulu, masih ada tantangan lain." Ucapan Bastian menbuat yang lainnya terdiam, padahak tadi udah seneng banget tapi kebahagiaannya dipatahkan oleh Bastian.
"Apa lagi kak? Kan ini sudah rute nya, sisanya kita tinggal ikuti penunjuk arah untuk kembali ke tempat camping."
"Lo yakin penunjuk arahnya bener? Lo liat aja noh, tanda panah mengarah kemana?"
Arin menghela nafas kasar, sudah paham sekarang akar permasalahan bagaimana mereka bisa tersesat, ternyata ada yang mengubah tanda panah menujur arah lain.
"Kalo gue tau siapa pelakunya, bakalan gue giling kepalanya di mesin penggiling biar tau rasa," Rini mengepalkan tangannya lalu menonjok angin.
"Tunggu mereka cari kita aja deh, gue udah gak kuat jalan," Dela terduduk di atas akar pohon sambil berselonjor.
"Ide bagus, lo tunggu di sini sendiri, kita ber-enam lanjut jalan. Nanti kalo kita udah bebas gue teriak dari tenda suruh lo balik."
"Ogah, gak ada apa niat lo gendong gue? Kaki gue pegel."
"Gue laper, seharian gue belum makan," keluh Rini, suara perutanya sudah seperti gemuruh di langit. Arin pun sama, tubuhnya sudah lemas. Bastian melirik mereka berdua.
"Tenanglah, gue punya firasat baik kita akan segera keluar dari hutan ini."
"Iya, aku juga," sahut Amber sambil memainkan ujung rambutnya. Bastian bergidik ngeri seraya menjaga jarak dari Amber.
Sepertinya hutan ini tidak menghendaki mereka tersesat lebih lama, tanpa sengaja mereka bertemu dengan tim pencari yang merupakan teman sekolah mereka yang dibimbing oleh guru untuk mencari keberadaan mereka. Bukan maij senangnya, akhirnya setelah seharian menghilang kini sudah kembali. Zian tanpa pikir panjang langsung memeluk Arin tepat di depan mata Bastian, pemuda itu melotot kaget hendak memisahkan mereka namun tidak ada gunanya, Arin pun sama dia membalas pelukan Zian tak kalah erat, Bastian refleks membuang muka dan memilih untuk melangkah duluan seraya menarik Rini yang masih asik bercengkrama dengan Rangga setelah 24 jam tidak ada komunikasi antara mereka.
"Kak, apaan sih? Orang lagi ngomong juga main ditarik aja," setelah jauh dari kerumunan, Bastian melepaskan tangan Rini, dan tanpa menghiraukan panggilan adik sepupunya Bastian lebih memilih pergi ke tenda untuk segera beristirahat.
"Halo makanan, aku datang untuk menikmatimu. Uhh enak sekali," Rini berseru kala bisa makan mie dan sepiring nasi, dalam sekejap mata langsung ludes. Arin sampai geleng-geleng kepala karena tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Zian menghampiri Arin, menyodorkan segelas coklat hangat untuknya, Zian paham bagaimana rasa takut Arin saat traumanya kembali terulang, ini memang salahnya karena memilih kegiatan yang bisa saja menghilangkan nyawa seseorang. Jujur, Zian gak tau tentang trauma camping Arin.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Karena gue, lo jadi tersesat begini. Dan gue denger, lo trauma sama yang namanya camping." Arin menautkan alisnya heran, Zian menunduk lesu tak berani menatap manik mata Arin, padahal Arin gak gigit.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. By the way, lo tau darimana soal itu?" Zian mendongak sembari menarik nafas, belum sempat menjawab, Arin malah nanya lagi.
"Wajah lo kenapa lebam begitu?" Arin salah fokus pada sudut bibir Zian yang memerah dan pipi nya juga sedikit bengkak, seperti orang habis berantem.
"Yahh lo tau lah ulah siapa, dan gue denger semuanya juga dari Bastian, dia mukul gue habis-habisan, karena gara-gara gue bikin acara seperti ini, trauma lo terulang lagi. Dan ya, gue pantes kok dapet semua ini. Tapi asal dia tau aja, nyari kegiatan yang cocok di mata guru itu gak mudah, lo tau kan gimana kepala sekolah kita? Beliau sangat pemilih, gue harus bolak balik bikin proposal," Zian tersenyum kecut seraya mengusap lebamnya pelan. Perih? Tentu saja. Arin menggigit bibir bawahnya khawatir.
"Lo istirahat saja dulu, gue mau kesana. Kalo butuh apa-apa hubungi gue aja, nomor gue masih yang lama."
Arin baru saja merebahkan tubuhnya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh teriakan dari luar, namun Arin tidak peduli, karena badannya yang kelebihan capek jadi dia memilih acuh saja.
Rini berlari tergopoh-gopoh menghampiri Arin.
"Arin!!! Nayla sama genk nya hilang."
"Hah?"