Selfish

Selfish
Selfish : 27



"Arin, ikut ya biar gue ada temen?" Rini gelendotan terus di lengan Arin.


"Kalo camping gue ogah, Rini. Lagian mereka gak ada acara lain apa selain camping, dari jaman purba itu-itu aja kegiatannya, nyesel gue sekolah di sini, padahal tujuan gue sekolah di tempat lain buat nyari suasana baru dan kegiatan baru, lah ternyata sama saja," Arin menarik ujung rambut Rini agar berhenti bergelantung di lengannya, bajunya udah merong sebelah akibat ulahnya.


Kemarin para anggota Osis dengan segala persiapan yang ada dengan santai mengumumkan bahwa tiga hari lagi sekolah ini akan mengadakan camping, dan lokasinya di sekitar hutan kalo di dalam hutan bahaya nanti di-ngap serigala kan gak lucu, udah style bagus tujuan mau camping plus tebar pesona malah berakhir mengerikan. Arin dengan segala tingkah dan jurusnya menolak ikut, karena memang gak ada unsur keterpaksaam dalam kegiatan ini, bagi yang bersedia ikut akan menandatangani surat persetujuan oleh wali mereka dan tentu saja harus ada izin dari orang tua juga.


Arin menolak bukan tanpa alasan, dia mengalami masa yang kelam dulu saat ikut camping di sekolah lamanya, niat hati mau happy malah berujung emergency, kan tidak estetik sekali untuk di kenang.


Di balik semua itu, ada Zian yang sudah capek nentuin kegiatan apa yang cocok untuk merayakan ulang tahun sekolah mereka, rekan kamvretnya malah pada nurut doang gak ada usulan sama sekali, giliran Zian mutusin malah pada protes dengan alasan gak jaman lah, kurang diminati siswa lah, bermacam-macam alasan Zian terima dari rekan Osisnya yang tau nya hanya protes gak mau kerja sama. Sampai akhirnya, kegiatan camping ini lah yang berhasil memikat hati ketiganya, Zian dapat bernafas lega setidaknya banyak siswa yang suka camping. Belum lagi Zian harus mengajukan hasil rapatnya ini ke kepala sekolah untuk mendapat izin dan menyerahkan proposal kepada beliau. Sebelum dapat persetujuan harus diomelin dulu sampai mampus membuat Zian pusing, dan sebagian murid dengan enak nya bilang gak setuju, terlebih Arin yang membantah secara terang terangan. Untung gue sayang sama lo, Rin. Batin Zian merenggut.


Zian tentu gak akan membiarkan ada siswa yang tidak ikut, tentu karena Arin dia seperti ini, semua harus ikut jadi Zian membuat kebijakan baru untuk mengharuskan semuanya ikut.


"Ayolah, Rin. Kita pake bis bukan jalan kaki," Rini masih merengek membuat telinga Arin panas.


"Mau pake onta sekalipun gue gak mau, Rini. Gue harus jelasin pake gaya apa lagi, gue paling anti yang namanya camping," Arin menyendok baksonya dengan kesal.


"Tapi, kata kak Zian semua harus ikut, jadi lo ikut kan?"


"Nggak, gue bakal sembunyi, atau kabur ke luar negeri boleh juga." Rini mencebik kesal, Arin sungguh keras kepala, dipaksa pun gak mempan sama tuh anak.


"Ehh, Arin. Lo ikut kan camping lusa ini?" Arin memutar bola matanya malas, muncul lagi nih preman sekolah kurang belaian. Bastian dengan senyum tengilnya duduk di depan Arin tepat di samping Rini yang menelungkupkan wajahnya di atas meja.


"Kenapa dia?" Bastian menunjuk Rini yang seperti kehilangan kesadaran. Arin hanya mengedikkan bahunya sambil menggeleng.


"Lo belum jawab pertanyaan gue, ikut atau nggak?" Masih saja dibahas, lagi-lagi Arin mengedikkan bahu, masih belum pasti juga. Padahal sudah seneng banget waktu Zian bilang dalam kegiatannya gak ada unsur paksaan, ehh malah diubah untuk mengharuskan semua siswa ikut tanpa terkecuali.


"Masih belum jelas, kak. Antara ikut atau nggak."


"Bukannya diharuskan ikut ya? Lo kenapa tiba-tiba gak minat?" Bastian menaikkan satu alisnya.


"Bukan gak minat, hanya saja ada trauma yang gak bisa gue lupain, tapi gue bakal usahakan untuk gak mengenangnga lagi," Arin tersenyum tipis lalu lanjut makan. Bastian tak mau terlalu cerewet dan kepo dengan masalah Arin, karena Bastian bukan tipe orang yang seperti itu, menurutnya lelaki yang cerewet itu bencong, jadi dia berusaha stay cool walaupun sebenarnya penasaran juga.


Dari kejauhan, Zian melirik ke arah meja Arin, sejenak dia kesal karena telat, niat hati nya ke kantin ingin makan siang bareng Arin tapi malah keduluan sama cecunguk itu.


"Entah apa rencana manusia setengah jadi itu, padahal selama ini dia benci yang namanya perempuan, tapi tiba-tiba saja deketin Arin. Hmm, gue rasa ada yang aneh," Zian bergumam pelan namun bisa didengar oleh ketiga teman spek tuyul itu.


"Lo ngapain sih kek orang baca mantra?" Rafi menggigit pentol kesukaannya. Zian mendelik kesal, tak menghiraukan pertanyaan demi pertanyaan menyerangnya satu persatu.


"Apaan?" tanya Zian penasaran, siapa tau menyangkut Arin. Soalnya Rafi kalo bawa gosip gak pernah gagal, ada aja yang menarik untuk didengar.


"Gosip mulu lo kek emak-emak," sindir Agatha yang dari tadi kerjaannya hanya nyimak.


"Diem, Tha. Gue yakin lo juga pasti kaget," Rafi melirik Rangga yang sudah pasrah, tau banget apa yang akan Rafi omongin.


"Ya udah cepetan apa? Gak usah sok bikin orang tegang begini," Agatha jadi mendesak, padahal dia sama sekali tidak tertarik.


"Si Rangga suka sama Rini, anak kelas 10 temennya Arin," Rafi berbisik agar suaranya hanya bisa didengar oleh mereka saja. Sudah Rangga duga, sekarang tinggal menunggu reaksi teman-temannya. Tapi kok mereka cuma diam, dan anehnya malah lanjut makan. Ini beneran gak ada sesi menghujat atau komplain gitu kalo temennya punya gebetan?


"Kok reaksi kalian b aja?" Rafi sebagai pembawa berita merasa kecewa terlebih Rangga yang merasa tidak dipedulikan.


"Terus, kita harus reaksi kayak gimana? Jingkrak heboh sambil porak porandakan warung di kantin ini?" sahut Agatha.


"Ya gak gitu juga, harusnya kalian teriak heboh gitu karena tumben Rangga suka perempuan."


"Maksud lo selama ini gue suka sama lelaki, gitu?" giliran Rangga yang protes dengan mata yang membola.


"Bukan kek gitu juga. Aiishh, mending gue diam aja tadi," Rafi merutuki dirinya sendiri.


"Lagian lo, kirain berita penting. Ya gak masalah dong Rangga punya gebegan, setidaknya dia gak belok dan semua orang berhak menyukai seseorang," jelas Agatha dibalas anggukan setuju dari Zian.


"Lo aja yang jomblo gak punya gebetan," sindir Zian.


"Masih mending, daripada lo hubungan tanpa status." Zian melotot tajam, Rafi tersenyum bangga karena telah berhasil mengulti Zian.


"Sialan, tau apa lo tentang hubungan gue?" Zian menggeplak kening Rafi dengan penuh cinta disertai bumbu kemarahan sedikit agar lebih sempurna.


"Sorry, gue bercanda Zian. Anjing lahh, kepala gue satu-satunya lo pukulin kek gini, woyy asuu otak gue kegeser."


Rangga dan Agatha tertawa ngakak melihat Ragi ternistakan.


...Sorry for the typo. Jangan lupa like dan komen ya, karena support dari kalian sangat author butuhkan. 🤗...